Filed Under (Kajian Subuh, Madzhab) by Abu Farhan on April-8-2008

Tema : Haruskah kita bermadzhab ?

 

Pembicara : Ustadz Badrusalam   

 

Kajian Ketiga

 

Dalam kajian ini, al-Ustadz membicarakan buku tulisan Abu Abdul Karim dan Abu Abdul Rahman Muhammad Sultan bin Abi Abdillah Muhammad ‘Urun al-Maksumi Akhujandi al-Makki, yang intinya membahas tentang apakah perlu untuk seseorang berpegang kepada satu madzhab dari madzhab yang empat.  

Pembahasan mengenai madzhab tidak akan terlepas dari menyentuh tentang taqlid dan  ijtihad dan orang-orang yang bagaimana yang dibolehkan bertaqlid dan berijtihad.   Al-Ustadz telah membawakan pendapat beberapa ulama untuk membedakan antara ilmu dan taqlid, dengan rujukan khusus kepada pendapat Imam Syafie dalam kitabnya ar-Risalah m/s 39 bahwa ilmu itu adalah kabar dari al-Quran atau Sunnah atau Ijma’ atau Qiyas.  Selain dari yang bersumber dari yang empat itu bukanlah ilmu. 

Menurut pembagian ulama, ada 3 macam taqlid yang masing-masing jatuh pada  Hukum Haram, Hukum Wajib dan Hukum Mubah.  Dihukumkan haram jika seseorang itu mengikut satu pendapat yang jelas sekali lemah tapi masih berpegang kepada pendapat tersebut.   Dihukumkan wajib bertaqlid kepda ulama apabila seseorang yang tidak faham tentang Islam, tentang tatacara shalat, tidak faham dalil al-Quran dan hadits, tidak ada ilmu dan alatnya, tidak faham mutlak dan muqayyad, am dan khas serta tidak faham bahasa Arab.    Dibolehkan orang alim berijtihad namun ketika darurat dia harus bertaqlid kepada ulama yang mendahuluinya karena keadaannya ketika itu

Hakikat Islam adalah apa-apa yang terkandung di dalam Rukun Islam, Rukun Iman dan Ihsan.   Islam sebagaimana yang ditafsirkan Rasulullah sallallahu ‘alayhi wasallam adalah sesuatu yang zhohir dan tampak, sementara Iman pula sebagai sesuatu yang bersifat bathin dan keyakinan serta tesembunyi di dalam hati.  Rasulullah sallallahu ‘alayhi wasallam mentafsirkan Ihsan apabila seseorang itu menyembah Allah seakan-akan dia melihat-Nya.  Kata Imam Ahmad, muslim itu adalah orang-orang yang berbuat dosa besar sementara seorang muslim yang disebut mukmin apabila dia menjauhi larangan Allah dan melaksanakan suruhan Allah.

Yang dikatakan ijtihad  adalah usaha untuk mencari dalil dari al-Quran dan sunnah dalam rangka mencari hukum suatu masalah yang sifatnya kontemporer atau yang tidak ada nasnya di dalam al-Quran maupun hadits.  Ijtihad dibolehkan bagi mereka yang menguasai ilmu dan alatnya.  Alat yang dimaksudkan adalah al-Quran, asbab nuzul, balaghah, nasikh mansukh, muhkam mutasyabihat, shahih atau dhoifnya, qiyas, ijma’ dan ikhtilafnya.  

Menurut Syeikh Utsaimin ada 3 macam ijtihad:

1)   Ijtihad yang jelas terlihat kebenarannya

2)   Ijtihad yang jelas terlihat kesalahannya

3)   Ijtihad yang di tengah-tengah, yang masih samar benar atau salahnya

Al-Ustadz menarik perhatian dengan menekankan bahwa untuk mendapatkan kefahaman yang benar, haruslah diperhatikan 3 perkara yang berikut:

1     Bagi yang diberikan kemampuan untuk mentarjih dan menguasai ilmu-ilmu tarjih, wajib baginya mencari dalil yang kuat dan sandarannya serta wajah pendalilannya tanpa berfanatik kepada satu madzhab.  Fanatiknya hanya pada Allah dan Rasul-Nya sahaja.  Tetapi orang-orang awak berkewajiban mengikut pendapat ulama yang diyakini amanah keilmiahannya tanpa ada fanatik.  Ketika mana dia melihat pendapat itu lemah, maka kewajibannya untuk berpegang kepada pendapat yang shahih itu.

2      Pendapat beliau (penulis) bahwa madzhab itu merupakan pendapat atau ijtihad ulama yang tidak pernah Allah dan Rasul-Nya mewajibkan untuk diikut, bukan berarti kita dibolehkan memilih yang sesuai dengan selera atau karena Allah memberi kemudahan kita dalam beragama. 

3      Perlunya berhati-hati dalam menanggapi perkataan penulis yang terkadang  boleh dijadikan alat untuk menolak madzhab dan pendapat ulama, lalu mensejajarkan dirinya (orang awam dan kurang berilmu) dengan ulama dan akhirnya dia berani mengatakan halal-haramnya sesuatu dengan ra’yunya. 

Akhir sekali, al-Ustadz menyebutkan peringatan Allah tentang asal muasal dari perpecahan adalah karena lebih membanggakan madzhabnya atau organisasinya daripada kebenaran yang berasal dari al-Quran dan as-Sunnah.  Bahwa Allah mengikat persatuan dengan tali Allah dan tali Allah berasal dari al-Quran dan as-Sunnah Rasulullah sallallahu ‘alayhi wasallam

 

File Kajian lengkap dalam bentuk PDF

 

File Kajian MP3 dalam bentuk ZIP

 
icon for podpress  Haruskah Kita Bermadzhab ? (Materi) : Play Now | Play in Popup | Download

 
icon for podpress  Haruskah Kita Bermadzhab ? (Tanya Jawab) : Play Now | Play in Popup | Download

Popularity: 82% [?]


Post a comment
Name: 
Email: 
URL: 
Comments: 

Bad Behavior has blocked 346 access attempts in the last 7 days.