Select Page

Hakikat Radikalisme (Ustadz Abu Qatadah)

Radio RodjaDownloadKajianUstadz Abu QatadahTematikHakikat Radikalisme (Ustadz Abu Qatadah)

Hakikat Radikalisme (Ustadz Abu Qatadah)

Terakhir diperbaharui: Rabu, 01 Jumadil awal 1437 / 10 Februari 2016 pukul 18:59
Tautan: http://www.radiorodja.com/?p=12893

Ceramah agama Islam oleh: Ustadz Abu Qatadah

Ceramah tentang Hakikat Radikalisme ini adalah ceramah tematik yang terselenggara live pada Sabtu pagi, 21 Jumadal Akhirah 1436 / 11 April 2015, pukul 09:07-11:30 WIB sebagai pengganti jadwal rutin kajian kitab Umdatul Ahkam. Merupakan sebuah bahasan yang tidak kalah pentingnya untuk kita ketahui bersama, di mana kata “radikalisme” acap kali kita temui perbincangannya belakangan ini, terutama dari media massa nasional. Lalu bagaimana Islam, agama yang sempurna ini memandang tentang radikalisme? Mari simak pemaparan Ustadz Abu Qatadah berikut.

Ringkasan Ceramah Agama: Hakikat Radikalisme

Di akhir-akhir ini muncul fitnah yang menimpa kepada kaum Muslimin secara menyeluruh, dan secara khusus kepada Ahlus sunnah, yaitu ketika muncul istilah radikalisme. Kemudian timbullah istilah-istilah dalam Islam yang “diidentikkan” dengan radikalisme, yang sesungguhnya istilah-istilah itu ada dalam agama ini, agama Islam, dan istilah itu telah dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an dan di dalam Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, juga dalam kitab-kitab para ulama yang dikarang dari para tabi’in, tabi’ut tabi’in, sampai (zaman) kita hari ini.

Ketika dimunculkan istilah-istilah yang sesungguhnya istilah benar dan syar’i, seperti istilah jihad, istilah daulah Islam, istilah syari’ah, istilah bid’ah, dan istilah kafir, menjadi sesuatu yang dianggap berindikasi ataupun yang melatarbelakangi radikalisme / kekerasan. Maka kita melihat 2 fenomena yang sangat berbahaya di tengah-tengah umat Islam, terutama tentunya kaum Muslimin yang awam terhadap agamanya sendiri, di mana 2 bahaya ini adalah berikut.

Pertama, akan menjadikan semakin jauhnya orang-orang yang lemah terhadap agamanya untuk mengetahui dan menelaah agamanya. Misalnya: Ketika diindikasikan bahwa jihad identik dengan kekerasan, maka mereka tidak mau belajar apa itu jihad dan mereka juga antipati dengan istilah jihad dan hakikatnya. Demikian juga istilah “daulah Islam”, “khalifah”, “khilafah”, ataupun “negara Islam”, karena diidentikkan bahwa orang yang ingin menegakkan daulah Islam adalah radikal, dst. Demikian juga istilah “bid’ah”, di mana apabila seseorang berbicara tentang definisi bid’ah dan pembagian bid’ah, identik dengan yang akan memecah-belah umat, diidentikkan bahwa ini adalah orang yang radikal, maka tentunya kaum Muslimin akan semakin jauh, tidak akan mempelajari, dan antipati ketika mendengar pembahasan apa itu bid’ah, definisi bid’ah, dst. Demikian juga dengan istilah “takfir” atau “pengkafiran”, maka semakin jauh orang-orang awam mempelajari agama ini dan menelaah agama ini, karena mereka merasa takut ketika mempelajari apa-apa yang merupakan bagian dari agamanya, kemudian diidentikkan dengan istilah radikalisme / terorisme.

Sedangkan yang kedua, akan menjadikan lemah dan akan menimbulkan rasa takut dari orang-orang yang kepada agama ini, di mana mereka mungkin orang-orang yang tidak istiqamah, orang-orang yang beragama tetapi mungkin terkadang lemah dengan timbulnya fitnah, tuduhan, dan cacian, maka menimbulkan mereka merasa takut kalau ingin menjelaskan agama ini. Misalnya, kalau dia berbicara tentang istilah-istilah agama ini, dia merasa takut nanti akan tertuduh ini terlibat A, B, atau C, dst.

Dalam kesempatan yang singkat ini, saya (Ustadz Abu Qatadah–Red) ingin memaparkan sekilas, bahwa sesungguhnya istilah-istilah yang ada di dalam Al-Quran ataupun Sunnah dan istilah para ulama itu tidak identik dengan radikal. Di sini ada tiga pembahasan utama.

Pembahasan yang pertama dan utama, sesuatu yang wajib diyakini oleh setiap mukmin-mukminah, muslim-muslimah, baik ulamanya, orang awamnya, ataupun cendekianya, semuanya, bahwa dia harus meyakini bahwa Islam itu adalah agama yang menciptakan kedamaian-ketentraman, agama yang membawa kebaikan. Seorang Muslim, dia harus meyakini bahwa tidak ada kebaikan yang sesungguhnya, yang hakiki, kecuali dengan dinul Islam. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan tegas menjelaskan dalam Surat Al-Anbiya’, ayat ke-107, yaitu ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan salah satu hikmah Allah mengutus Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bahkan mengutus para Nabi sebelumnya.

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ (الأنبياء: ١٠٧)

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS Al-Anbiya’ [21]: 107)

Lalu bagaimana penjelasan selengkapnya mengenai radikalisme sekaligus pelurusan terhadap kesalahkaprahan terhadap istilah-istilah Islam yang secara tidak bertanggung jawab “dinilai” radikal.

Download Ceramah Agama: Ustadz Abu Qatadah – Hakikat Radikalisme

Share yuk ke Facebook, Twitter, dan Google+ agar semakin banyak Muslimin menjadi tidak asing dengan agamanya sendiri, agama Islam yang mulia ini.

, , , , , , , , , , , ,

Tentang Penulis

Menebar Cahaya Sunnah

Menambahkan Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Waktu

Jakarta:
Mekkah:

Rodja Streaming

Server Internasional High Quality
Status: ONLINE | Bitrate: 128 kbps | Pendengar: 673 | Maksimal: 3072

Server Internasional Low Quality
Status: ONLINE | Bitrate: 24 kbps | Pendengar: 11 | Maksimal: 3072

Server Indonesia High Quality
Status: ONLINE | Bitrate: 128 kbps | Pendengar: 165 | Maksimal: 2000

Server Indonesia Low Quality
Status: ONLINE | Bitrate: 24 kbps | Pendengar: 15 | Maksimal: 1000

Audio RodjaTV High Quality
Status: ONLINE | Bitrate: 128 kbps | Pendengar: 6 | Maksimal: 1000

Arsip

Shares
Share This