Rodja Peduli

Syarh 'Umdatul Ahkaam

Haji (Bagian ke-2: Miqat Haji – Waktu dan Tempat Pelaksanaan Haji) – Kitab Umdatul Ahkam (Ustadz Abu Qatadah)

By  |  pukul 11:10 am

Terakhir diperbaharui: Jumat, 17 April 2015 pukul 8:27 pm

Tautan: https://www.radiorodja.com/?p=11550

Ceramah agama Islam oleh: Ustadz Abu Qatadah

Sebuah ceramah agama Islam yang diangkat dari kitab ‘Umdatul Ahkam, yaitu seri pembahasan Haji yang diangkat dari Kitabul Hajj. Pada kesempatan sebelumnya, telah selesai dibahas tentang Haji (Bagian ke-1: Definisi, Hukum, Syarat, Keutamaan, dan Hikmah Haji). Dan pada Sabtu pagi, 17 Rabi’uts Tsani 1436 / 7 Februari 2015, alhamdulillah, kita dapat melanjutkan kepada “Haji (Bagian ke-2: Miqat Haji – Waktu dan Tempat Pelaksanaan Haji)“.

Rekaman video: Ustadz Abu Qatadah – Haji (Bagian ke-2: Miqat Haji – Waktu dan Tempat Pelaksanaan Haji) dari Kitab Umdatul Ahkam

Ringkasan Ceramah Agama Islam – Kajian Kitab Umdatul Ahkam: Kitab Haji (كتابُ الحجِّ) – Bagian ke-2

Miqat Haji (بابُ المواقيتِ)

Berkaitan dengan mawaqit (miqat), maka ada dua:
1. Miqat zamani
2. Miqat makani

Miqat Zamani

[27:15]
Miqat zamani ini yaitu waktu-waktu yang telah ditetapkan oleh syariat yang merupakan waktu-waktu kita menunaikan ibadah haji, yang memiliki makna apabila orang menunaikan ibadah haji belum pada waktu-waktu yang telah ditetapkan Allah Subhanahu wa Ta’ala atau setelah / keluar dari waktu yang telah ditetapkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka ibadahnya itu adalah tertolak karena masuk kepada hadits:

Baca Juga:
Hukum-Hukum Khusus Tentang Haji dan Umrah Wanita - Bagian 3 - Tuntunan Praktis Fiqih Wanita (Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc.)

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang melakukan amalan yang amalan tersebut bukan berasal dari urusan kami, maka amalan tersebut tertolak.”

Dan penetapan waktu dalam ibadah haji ini, maka berdasarkan 2 ayat:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الأهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ … (البقرة: ١٨٩)

“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; …” (QS Al-Baqarah [2]: 189)

Kemudian Allah Ta’ala berfirman masih dalam Surat Al-Baqarah:

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ … (البقرة: ١٩٧)

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, …” (QS Al-Baqarah [2]: 197)

Dan para ulama ijma’, bahwa bulan-bulan haji adalah Syawwal, Dzulqa’dah, dan Dzulhijja. Walaupun untuk Dzulhijjah ada perbedaan di kalangan para ulama; sebagian para ulama mengatakan 10 hari dari bulan Dzulhijjah, sebagian para ulama (lainnya) ada yang mengatakan sebulan penuh dari bulan Dzulhijjah dan ini yang termasuk dikuatkan oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘UTsaimin, yang beliau mengatakan bahwa bulan-bulan untuk menenauikan ibadah haji adalah 3 bulan: Syawwal, Dzulqa’dah, dan Dzulhijjah, dan Dzulhijjah adalah utuh.

Miqat Makani

[29:39]
Miqat makani yang dimaksud adalah tempat-tempat di mana setiap orang yang akan menunaikan ibadah manasik haji / umrah, maka wajib baginya untuk berihram dari tempat-tempat yang ditetapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam; dia (orang yang menunaikan haji / umrah) tidak boleh melampaui miqat-miqat / tempat-tempat yang telah ditetapkan Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut, kecuali dia telah berihram di situ.

Baca Juga:
Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail - Faidah Sirah Nabawiyah (Ustadz Dr. Ali Musri Semjan Putra, M.A.)

Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma:

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَّتَ لأَهْلِ الْمَدِينَةِ : ذَا الْحُلَيْفَةِ ، وَلأَهْلِ الشَّـامِ : الْجُحْفَةَ ، وَلأَهْلِ نَجْـدٍ : قَرْنَ الْمَنَازِلِ ، وَلأَهْلِ الْيَمَـنِ : يَلَمْلَمَ . هُنَّ لَهُنَّ وَلِمَنْ أَتَى عَلَيْهِنَّ مِنْ غَيْرِهِنَّ , مِمَّنْ أَرَادَ الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ ، وَمَنْ كَانَ دُونَ ذَلِكَ : فَمِنْ حَيْثُ أَنْشَأَ , حَتَّى أَهْلُ مَكَّةَ مِنْ مَكَّةَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menetapkan miqat untuk penduduk Madinah adalah Dzul Hulaifah (yang sekarang dinamakan Abyar ‘Ali atau Bir ‘Ali), untuk penduduk Syam adalah Al-Juhfah, untuk penduduk Najd adalah Qarnul Manazil (yang sekarang dinamakan As-Sail Al-Kabir), dan untuk penduduk Yaman adalah Yalamlam (atau dikenal dengan As-Sa’diyah). Tempat-tempat yang 4 itu adalah bagi setiap orang yang merupakan penduduk tempat tersebut dan untuk setiap orang yang melalui miqat tersebut walaupun dia bukan dari tempat tersebut bagi orang yang menunaikan haji dan umrah. Dan barangsiapa yang tinggal di dalam miqat, maka dia menunaikan ihram dari mana dia berada, sehingga penduduk Mekkah miqat dari Mekkah.”

Mari simak pembahasan berseri tentang Haji yang masuk pembahasan tentang Miqat Haji, yang diambil dari Kitab Haji, dari ‘Umdatul Ahkam. Download ceramah agama Islam ini sekarang juga.

Download Ceramah Agama Seri Kajian Kitab Umdatul Ahkam – Ustadz Abu Qatadah: Haji (Bagian ke-2: Miqat Haji – Waktu dan Tempat Haji)

Baca Juga:
Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 127 - 129

Tunggu apa lagi, mari share ceramah seputar haji dan umrah ini ke Facebook, Twitter, dan Google+. Semoga banyak Muslimin yang dapat memperoleh manfaat darinya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.