Telegram Rodja Official

Tematik

Penjagaan Sunnah dan Kedudukan Sunnah terhadap Al-Qur’an (Ustadz Abu Qatadah)

By  | 

Ceramah agama Islam oleh: Ustadz Abu Qatadah

Bagaimana kedudukan Sunnah (hadits) dalam Islam? Apakah As-Sunnah ini terjaga sebagaimana Al-Qur’an ini terjaga? Adakah hadits shahih yang bertentangan dengan Al-Qur’an? Sebagian pertanyaan-pertanyaan tadi mungkin sempat terlintas di benak sebagian kita atau bahkan mungkin banyak dari kaum Muslimin. Maka, Insya Allah pertanyaan-pertanyaan tersebut akan dapat terjawab dengan menyimak ceramah agama ini, “Penjagaan Sunnah dan Kedudukan Sunnah terhadap Al-Qur’an. Adalah sebuah ceramah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Qatadah pada Sabtu pagi, 5 Sya’ban 1436 / 23 Mei 2015, pukul 09:00-11:30 WIB di Radio Rodja dan Rodja TV.

Rekaman video: Ustadz Abu Qatadah – Penjagaan Sunnah dan Kedudukan Sunnah terhadap Al-Qur’an

Ringkasan Ceramah Agama: Penjagaan Sunnah dan Kedudukan Sunnah terhadap Al-Qur’an

Pada kesempatan yang berbahagia ini, kita akan membahas suatu pembahasan yang sangat penting. Di antara pokok-pokok aqidah Ahlus Sunnah, yaitu tentang penjagaan Allah terhadap Sunnah dan bagaimana kedudukan Sunnah bersama Al-Qur’an.

Kita mengetahui, sebagaimana telah disebutkan oleh ahli sejarah, ulama hadits, ulama aqidah, dan para ulama Ahlus Sunnah (tentang) telah munculnya firqah-firqah, kelompok-kelompok, dan pemahaman-pemahaman yang mereka itu menjauhkan kaum Muslimin dari Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kelompok-kelompok yang menyimpang dalam menempatkan Sunnah Rasulullah (hadits).

Baca Juga:
Mati di Atas Aqidah yang Benar (Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc.)

Pembahasan kita ada 4 pembahasan penting: Pertama, kedudukan Sunnah di dalam syariat Islam. Kedua, apakah Sunnah terjaga sebagaimana Al-Qur’an terjaga dari tangan-tangan kotor yang akan mencoba merusak sumber hukum Islam; ataukah Sunnah tidak seperti Qur’an, tidak terjaga, yang masuk di dalamnya tangan-tangan kotor (?). Ketiga, kedudukan Sunnah bersama Al-Quran, bagaimana kita menempatkan Sunnah bersama Al-Qur’an. Dan yang keempat, adakah hadits shahih yang bertentangan dengan Al-Quran (?).

Kedudukan Sunnah di dalam Syariat Islam

Sumber hukum yang disepakati Ahlus Sunnah ada 4: Al-Quran, Sunnah, ijma’, kemudian qiyas. Yang dimaksud (qiyas) adalah qiyas yang berkumpul padanya syarat-syarat qiyas, qiyas yang dibangun di atas dalil [Quran, Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan ijma’], qiyas yang tidak bertentangan dengan dalil.)

Adapun tentang Sunnah, kita telah mengetahui, bahwa di dalam ayat Al-Qur’an, Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk mengikuti Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ … (النساء: ٥٩)

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya), dan ulil amri di antara kamu. …” (QS An-Nisa’ [4]: 59)

Dan yang dimaksud taat kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam adalah mengikuti Sunnahnya dan mengambil Sunnah dari beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan ayat yang berkaitan dengan perintah untuk taat kepada Allah dan taat kepada RasulNya sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ahmad rahimahullahu Ta’ala tidak kurang dari 40 ayat Allah Ta’ala mengulanginya. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan sahnya dan benarnya keimanan seseorang apabila seseorang itu berhukum kepada Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah berfirman:

Baca Juga:
Prinsip-Prinsip Aqidah Ahlussunnah Bagian 1 - Kitab Al-Ibanah (Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan, M.A.)

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّىَ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ … (النساء: ٦٥)

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam) hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, …” (QS An-Nisa’ [4]: 65)

Di dalam ayat yang mulia ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menafikan / meniadakan hakikat iman, tidak mengakui keimanan seseorang, mana kala seseorang itu ketika terjadi perselisihan tidak berhukum kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Bahkan merupakan satu syarat, hakikat iman dan mahabbah (cinta) kepada Allah dan Rasul, buktinya adalah dengan mengikuti Sunnahnya. Allah telah berfirman:

Share juga yuk ceramah ini ke Facebook, Twitter, dan Google+.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.