Telegram Rodja Official

Al-Qaulul Mufiid

Bab Kufur Nikmat – Bagian ke-2 – Kitab Al-Qaulul Mufid (Ustadz Abu Haidar As-Sundawy)

By  | 

Notice: Undefined variable: PodpressSettings in /home/radiorod/public_html/wp-content/plugins/powerpress/powerpress.php on line 3565

Ceramah agama Islam oleh: Ustadz Abu Haidar As-Sundawy

Berikut ini merupakan rekaman ceramah agama dari pembahasan kitab Al-Qaulul Mufiid, yang disampaikan oleh Ustadz Abu Haidar. Pada pertemuan sebelumnya beliau menjelaskan tentang Bab Kufur Nikmat (Bagian ke-1), dan pada ceramah agama ini, beliau akan menjelaskan tentang Bab Kufur Nikmat (Bagian ke-2). Ini adalah rekaman dari siaran live yang berlangsung di Radio Rodja dan RodjaTV pada Jumat sore, 20 Dzulqa’dah 1436 / 4 September 2015. Semoga bermanfaat.

Program Kajian Kitab Al-Qaulul Mufid 'ala Kitabit Tauhid - Ustadz Abu Haidar As-Sundawy di Radio Rodja dan RodjaTV

Status program Kajian Kitab Al-Qaulul Mufid: Telah Selesai

Untuk memperoleh keutamaan menuntut ilmu, silakan Anda dapat turut hadir langsung pada kajian ini di: Masjid Darul Ihsan Telkom, Gegerkalong, Bandung

Ringkasan Kajian Kitab Qaulul Mufid

Aun bin Abdullah menyatakan bahwa contoh orang yang kufur nikamt adalah orang-orang yang mengatakan:

لولا فلان لم يكن كذا

“Seandainya tidak ada si fulan maka tidak akan terjadi begini.”

Jadi kejadian terebut dia nisbatkan kepada si fulan. Dan si fulan yang dimaksud bisa beragam. Bisa orang yang sudah mati, bisa orang yang masih hidup. Dan ini hukumnya berbeda.

Baca Juga:
Penjelasan tentang Nusyrah - Kitab Tauhid (Syaikh Prof. Dr. ‘Abdur Razzaq Al-Badr)

Kalau si fulan tersebut sudah mati, tapi kejadian ini karena karomah si fulan yang sudah mati, walaupun sudah mati masih bisa memberikan manfaat kepada orang yang masih hidup, kalau keyakinan orangyang berkata tadi adalah demikian, maka ia terjerumus ke dalam syirik besar. Hal itu karena dia meyakini ada yang memberi manfaat atau mudhorot selain Allah.

Kalau dinisbatkan kepada orang yang masih hidup, dah orang yang masih hidup itu mempunyai kemampuan untuk melakukan peristiwa yang terjadi yang diberitakan oleh orang itu, maka hal ini pun dirinci.

Contoh, ada orang yang tenggelam di danau, kemudian ada orang yang menyelamatkannya. Kemudian ada yang mengatakan: “Seandainya tidak ada dia niscaya orang itu mati.” Bolehkah perkataan itu?

Jika dia mengatakan hal itu dengan menisbatkan bahwa kejadian itu murni kepada orang yang menolong itu, maka hal ini terlarang dan termasuk syirik kecil. Tapi kalau dia hanya memberitahukan kepada orang lain bahwa orang yang tenggelam itu selamat karena diselamatkan oleh orang itu dan dia meyakini kekuasaaan dan takdir Allah atas semua kejadian itu, maka hal ini boleh.

Simak selengkapnya penjelasan tentang “Bab Kufur Nikmat” dari hadits ini, oleh Ustadz Abu Haidar hafidzahulllah melalui rekaman audio yang kami sediakan. Semoga bermanfaat.

Download Kajian Kitab Qaulul Mufid

Baca Juga:
Penjelasan tentang Perkataan Orang-Orang yang Menyimpang - Bagian ke-1 - Kitab Al-Ibanah (Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan, M.A.)

Jangan lupa untuk turut berbagi link donwload ceramah ini ke Facebook, Twitter, dan Google+, semoga bermanfaat bagi amal kita dan saudara Muslimin kita.

Telegram Rodja Official

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.