Telegram Rodja Official

Al-Qaulul Mufiid

Bab Larangan Menjadikan Sekutu bagi Allah – Bagian ke-4 – Kitab Al-Qaulul Mufid (Ustadz Abu Haidar As-Sundawy)

By  |  pukul 7:17 pm

Terakhir diperbaharui: Senin, 12 Oktober 2015 pukul 8:08 am

Tautan: https://www.radiorodja.com/?p=16370

Ceramah agama Islam oleh: Ustadz Abu Haidar As-Sundawy

Berikut ini merupakan rekaman ceramah agama dari pembahasan kitab Al-Qaulul Mufiid, yang disampaikan oleh Ustadz Abu Haidar. Pada pertemuan sebelumnya beliau menjelaskan tentang Bab Larangan Menjadikan Sekutu bagi Allah (Bagian ke-3), dan pada ceramah agama ini, beliau akan menjelaskan tentang Bab Larangan Menjadikan Sekutu bagi Allah (Bagian ke-4). Ini adalah rekaman dari siaran live yang berlangsung di Radio Rodja dan RodjaTV pada Jumat sore, 25 Dzulhijjah 1436 / 9 Oktober 2015. Semoga bermanfaat.

[sc:status-al-qaulul-mufid-ustadz-abu-haidar-2013]

Ringkasan Kajian Kitab Qaulul Mufid

Di antara bentuk tandingan bagi Allah adalah dalam hal bersumpah. Sumpah merupakan ibadah, sumpah berarti menguatkan sesuatu dengan menyebut nama yang diagungkan oleh orang yang bersumpah. Sehingga di dalam sumpah terdapat pengagungan. Maka dari itu seorang muslim harus bersumpah hanya dengan menyebut nama Allah saja. Tidak boleh baginya bersumpah dengan menyebut nama selain Allah.

Di dalam suatu hadits shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam besabda:

لا تَقُولُوا: مَا شَاءَ اللَّهُ وَشَاءَ فُلانٌ، وَلَكِنْ قُولُوا: مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ شَاءَ فُلانٌ

“Janganlah kalian katakan: “Terserah kehendak Allah dan kehendak fulan”. Akan tetapi katakanlah: “Terserah kehendak Allah kemudian kehendak terserah fulan”.” (HR Abu Dawud dengan sanad shahih)

Baca Juga:
DITIUPNYA SANGKAKALA PERTAMA – AQIDAH PRIORITAS UTAMA (USTADZ ARMAN AMRI, LC.)

Dari hadits tersebut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa ucapan “Terserah kehendak Allah dan kehendak fulan” adalah terlarang karena unsur menyamkan antara kehendak Allah dengan makhlukNya. Maka dari itu, ucapan tersebut hendaknya diganti dengan “Terserah kehendak Allah kemudian kehendak terserah fulan”.

Perkataan tersebut terlihat sepele, padahal mengandung unsur kesyirikan. Maka dari itu kita harus hati-hati dalam mengucapkan sesuatu. Jangan sampai mengucapkan hal-hal yang mengandung kesyirikan yang akan mengundang murka Allah Ta’ala.

Simak selengkapnya penjelasan tentang “Bab Larangan Menjadikan Sekutu bagi Allah” di dalam kajian berikut ini yang disampaikan oleh Ustadz Abu Haidar hafidzahulllah melalui rekaman audio yang kami sediakan. Semoga bermanfaat.

Download Kajian Kitab Qaulul Mufid

Jangan lupa untuk turut berbagi link donwload ceramah ini ke Facebook, Twitter, dan Google+, semoga bermanfaat bagi amal kita dan saudara Muslimin kita.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× 1 = 10

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.