Masjid Al-Barkah

Khutbah Jumat

Hukum Merayakan Tahun Baru – Khutbah Jumat (Ustadz Badrusalam, Lc.)

By  |  pukul 1:55 pm

Terakhir diperbaharui: Senin, 26 Desember 2022 pukul 4:26 pm

Tautan: http://rodja.id/ql

Khutbah Jumat: Hukum Merayakan Tahun Baru ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jumat, 1 Rabiul Akhir 1438 H / 30 Desember 2016 M.

Khutbah Pertama: Hukum Merayakan Tahun Baru

Senantiasa kita memuji Allah yang senantiasa melimpahkan karunia dan rahmatNya kepada kita semuanya. Tak lupa kita bershalawat untuk Rasulillah, demikian pula para keluarganya dan para sahabatnya.

Sebentar lagi akan ada yang disebut dengan tahun baru. Banyak sekali kaum muslimin yang ikut-ikutan merayakan tahun baru tersebut. Padahal sesungguhnya apabila kita melihat perayaan tahun baru dari sisi syariat, sungguh ini perkara yang membahayakan aqidah seorang hamba. Mengapa demikian? Karena sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud)

Nabi mengatakan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang hasan, bahwasannya orang yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka.

Merayakan tahun baru bukanlah dari Islam sama sekali. Ia adalah merupakan perayaan kaum Nashara. Akan tetapi kaum muslimin ikut bergembira di malam itu, bahkan jatuh kedalam tasyabbuh-tasyabbuh yang lainnya.

Kita melihat kaum muslimin meniup terompet. Padahal terompet adalah merupakan ciri khas daripada orang-orang Yahudi. Imam Abu Dawud meriwayatkan dalam Sunannya, bahwasannya ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkumpul dengan para sahabatnya untuk bermusyawarah dengan apa mereka memanggil kaum muslimin untuk shalat. Di antara para sahabat ada yang berkata: “Bagaimana kalau kita gunakan terompet wahai Rasulullah?” Maka Rasulullah tidak suka, karena itu merupakan perbuatan orang-orang Yahudi.

Baca Juga:
Akhlak Muslim kepada Sesama Manusia: Amanah - Aktualisasi Akhlak Muslim (Ustadz Abu Ihsan Al-Atsary, M.A.)

Demikian pula kaum muslimin kita lihat membakar petasan, bahkan petasan tersebut sampai jutaan atau ratusan juta rupiah. Dan sesungguhnya perkara ini tidak diperkenankan dalam syariat Islam. Karena yang pertama, bahwa sesungguhnya api adalah merupakan simbol orang-orang Majusi, dan itu perkara yang dilarang kita untuk melakukannya. Yang kedua, karena itu adalah termasuk perbuatan orang-orang mubadzir. Allah berfirman:

إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ…

“Sesungguhnya orang-orang yang mubadzir itu adalah merupakan teman-teman setan.” (QS. Al-Isra'[17]: 27)

Saudaraku.. Sesungguhnya Allah dan RasulNya tidak pernah mensyariatkan kepada kita perayaan-perayaan, kecuali dua hari raya saja; yaitu idul fitr dan idul adha. Sesungguhnya menambahkan perayaan yang tidak pernah dirayakan oleh Allah dan RasulNya, berarti kita sudah membuat-buat syariat dalam agama ini yang tidak pernah diizinkan oleh Allah dan RasulNya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُم مِّنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَن بِهِ اللَّهُ ۚ…

“Apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu yang membuat syariat untuk mereka dari agama ini sesuatu yang tidak pernah diizinkan oleh Allah?” (QS. Asy-Syura[42]: 21)

Saudaraku.. Sesungguhnya datangnya tahun yang baru tidak ada bedanya dengan datangnya bulan yang baru, tidak ada bedanya dengan datangnya hari yang baru. Itu adalah merupakan hari-hari yang Allah silih-bergantikan. Akan tetapi seharusnya orang yang berakal dan berpikir, dia melihat bahwa datangnya tahun yang baru itu adalah berarti berkurangnya umur dia, dekatnya ajal dia.

Baca Juga:
Akhlak Muslim kepada Rabbnya: Takut / Khauf (Bagian ke-1) - Aktualisasi Akhlak Muslim (Ustadz Abu Ihsan Al-Atsary, M.A.)

Bayangkan apabila ia berumur 50 tahun, kemudian datang tahun yang baru, maka semakin dekat ajalnya. Seharusnya dia berpikir, apa yang harus dia persiapkan menuju kematiannya, berupa amalan shalih, berupa ia berusaha untuk ittiba’ (mengikuti perintah) Allah dan RasulNya. Bukan kemudian dia berhura-hura, kemudian dia semakin menentang Allah dan RasulNya, memperbanyak maksiat-maksiat kepada Allah dan RasulNya.

Saudaraku.. Namun bukan berarti dimalam tahun baru kemudian kita membuat ritual-ritual tersendiri, sebagaimana dilakukan oleh sebagian kaum muslimin. Ketika mereka melihat sebagian kaum muslimin membakar petasan dan meniup terompet, kemudian mereka membuat ritual yang lain. Misalnya membuat sebuah ibadah baru di malam tahun baru. Walaupun isinya terlihat dzikir, akan tetapi bukankah kita menghadapi sesuatu yang tidak disyariatkan dengan membuat syariat-syariat yang baru.

Malam tahun baru tidak ada bedanya dengan malam-malam yang lainnya. Sebagaimana di malam yang biasa kita shalat tahajud, sebagaimana malam yang biasa kita membaca Al-Qur’an, demikian pula tidak ada keistimewaan sama sekali di malam pergantian tahun tersebut. Kewajiban kita adalah berusaha mempergunakan waktu semaksimal mungkin untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mendekatkan diri kita kepada Allah sesuai dengan syariat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Khutbah Kedua: Hukum Merayakan Tahun Baru

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud)

Baca Juga:
Khutbah Jumat Tentang Shirathal Mustaqim

Para ulama mengatakan bahwa orang yang menyerupai suatu kaum bertingkat-tingkat derajat dosanya. Apabila ia menyerupai suatu kaum karena keridhaan dia terhadap agama tersebut, maka ini menyebabkan pelakunya murtad dari agama Islam. Karena seorang muslim tak akan pernah ridha selama-lamanya kepada agama kecuali agama Islam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ…

“Sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah Islam…” (QS. Ali ‘Imran[3]: 19)

Allah berfirman:

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa yang mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima oleh Allah. Dan ia termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 85)

Akan tetapi apabila ia menyerupai mereka bukan karena keridhaan terhadap agama mereka, tapi karena ia mengikuti hawa nafsunya. Maka kata para ulama ia termasuk pelaku dosa besar. Karena ia telah menyerupai orang-orang yang tidak diridhai oleh Allah, karena ia telah berusaha mengikuti millah-millah mereka. Padahal orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah ridha kepada kita sampai kita mengikuti millah mereka. Allah berfirman:

وَلَن تَرْضَىٰ عَنكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ…

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan ridha kepada kalian sampai kalian mengikuti millah-millah mereka…” (QS. Al-Baqarah[2]: 120)

Allah mengatakan:

وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُم بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِن وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

Baca Juga:
Penyakit Para Suami - Bagian ke-1 (Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc.)

“Kalau kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang kepada kamu ilmunya, maka kamu sekali-kali tidak akan pernah mendapatkan penolong, tidak pula mendapatkan wali.” (QS. Al-Baqarah[2]: 120)

Lihatlah ayat ini, saudaraku.. Allah mengatakan bahwa kalau kita mengikuti hawa nafsu orang Yahudi dan Nasrani, maka Allah tidak akan lagi menolong kita, Allah tidak akan lagi membela kita. Bahkan bisa jadi Allah menurunkan adzabNya kepada kita.

Download mp3 Hukum Merayakan Tahun Baru

Jangan lupa untuk ikut membagikan link download “Khutbah Jumat: Hukum Merayakan Tahun Baru” ini kepada saudara Muslimin kita baik itu melalui Facebook, Twitter, atau yang lainnya. Semoga menjadi pembukan pintu kebaikan bagi kita semua.

1 Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.