Hukuman yang Paling Berat – Kitab Shaidul Khathir (Ustadz Badrusalam, Lc.)

By  |  pukul 9:52 am

Terakhir diperbaharui: Rabu, 25 Rabiul awwal 1439 / 13 Desember 2017 pukul 10:33 am

Tautan: http://rodja.id/1k6

Ceramah Agama Islam oleh: Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.

Kajian kitab ini disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam pada Senin pagi, 3 Shafar 1439 H/ 23 Oktober 2017, pukul 05:30-07:05 WIB di Radio Rodja dan Rodja TV. Pada kajian kali ini beliau menjelaskan tentang fikiran-fikiran yang melintas dibenak Ibnul Jauzi yang lahir pada 509 atau 510 H. Poin yang dibahas adalah “Hukuman yang Paling Berat ” dari kitab Shaidul Khathir.

Kajian Kitab Shaidul Khathir: Hukuman yang Paling Berat

Hukuman yang paling besar adalah ketika seseorang tidak merasakan sedang dihukum. Sehingga akhirnya dia terus-menerus berbuat dosa dan maksiat. Akibatnya seseorang akan semakin tertipu dan jauh dari bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini adalah sesuatu yang sangat mengerikan.

Baca Juga:  Bersihkan Hati Dari Hasad

Allah memberikan sanksi kepada kaum munafiqin dengan cara diperpanjang waktunya agar mereka terus bergelimang diatas kesesatan. Sehingga adzabnya sangat keras. Juga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ

“Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah.”

Dan yang lebih berat dari itu ketika seseorang bergembira dengan perkara yang sebetulnya adalah hukuman dari Allah yang diberikan kepadanya. Salah satu contoh adalah ketika seseorang gembira ketika mendapatkan harta yang haram. Padahal harta haram itu menambah siksa dalam api neraka. Orang yang keadaannya seperti ini tidak akan pernah sukses mendapatkan ketaatan.

Baca Juga:  Prinsip-Prinsip Aqidah Ahlussunnah Bagian 1 - Kitab Al-Ibanah (Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan, M.A.)

Ketika seseorang sudah mendapatkan manisnya kemaksiatan maka dia akan merasakan bahwa ketaatan adalah sesuatu yang pahit dan getir. Sebaliknya orang yang sudah merasakan nikmatnya ketaatan pada saat itu artinya tidak akan pernah mau melakukan perbuatan maksiat. Kalaupun dia terjatuh ke dalam maksiat maka hatinya menjadi sedih. Hatinya akan menyesal.

Di antara siksa yang tersembunyi dan banyak sekali orang yang tidak menyadarinya adalah dicabutnya kenikmatan ketika bermunajat. Dicabut lezatnya beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketika berdzikir seseorang tidak merasakan kenikmatan, ketika shalat seseorang tidak merasakan kekhusuan, ketika membaca Al-Quran tidak merasakan apa-apa dihati dan justru yang ada adalah ingin segera selesai. Ini semua adalah sanksi yang Allah berikan kepada hamba akibat maksiatnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Baca Juga:  Kisah Abu Sufyan Bertemu dengan Raja Heraklius - Kitab Permulaan Wahyu - Hadits 7 - Kitab Shahih Bukhari (Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.)

Oleh karena itu jika didalam hati seorang muslim mulai terasa berat untuk melakukan ketaatan, maka sudah sepantasnya seorang muslim segera bertaubat dan memohon ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Simak Penjelasan Lengkapnya dan Download MP3 Kajian Kitab Shaidul Khathir: Hukuman yang Paling Berat


Jangan lupa untuk turut membagikan link download kajian ini ke akun media sosial yang Anda miliki, baik Facebook, Twitter, Google+, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahufiikum

Telegram Rodja Official

1 Comment

    Tinggalkan Balasan

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.