Tata Cara Pengambilan Dalil Bagian 1 – Syarah ‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Ustadz Yazid ‘Abdul Qadir Jawas)

By  |  pukul 3:29 pm

Terakhir diperbaharui: Sabtu, 15 Jumadil akhir 1439 / 03 Maret 2018 pukul 2:03 pm

Tautan: http://rodja.id/1kn

Tata Cara Pengambilan Dalil Bagian 1 merupakan ceramah agama dengan pembahasan masalah aqidah, disampaikan oleh Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas di Radio Rodja dan RodjaTV, pada Sabtu pagi, 12 Dzul Qa’idah 1438 H / 05 Agustus 2017 M.

Pada pertemuan sebelumnya, Ustadz Yazid Jawas telah menyampaikan penjelasan tentang “Keutamaan Dakwah Tauhid – Poin 83“.

Ringkasan Ceramah Agama Islam – Kitab Syarah ‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah

Sebenarnya kajian tentang kitab ini telah selesai. Namun Ustadz Yazid ‘Abdul Qadir Jawas menegaskan kembali bahwa ada beberapa hal mendasar yang harus diulang. Salah satunya adalah yang ada pada mp3 kajian kali ini. Beliau membahas kaidah dan prinsip ahlus sunnah wal jama’ah dalam mengambil dan menggunakan dalil.

Baca Juga:  Bab Bilangan Dalam Berwudhu - Kitab Shahih Bukhari (Ustadz Badrusalam, Lc.)

1. Sumber ‘aqidah adalah Kitabullah (Al-Qur’an), Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih dan ijma’ Salafush Shalih.

2. Setiap sunnah yang shahih, yang berasal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wajib diterima, walaupun sifatnya ahad.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

…وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا ۚ …

“…Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarang bagimu, maka tinggalkanlah…” (QS. Al-Hasyr [59]: 7)

3. Yang menjadi rujukan dalam memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah nash-nash (teks Al-Qur’an maupun hadits) yang menjelaskannya, pemahaman Salafush Shalih dan para Imam yang mengikuti jejak mereka, serta dilihat arti yang benar dari bahasa Arab. Jika hal tersebut sudah benar, maka tidak dipertentangkan menurut bahasa.

Baca Juga:  Kecintaan Ahlussunnah kepada Sahabat Nabi - Kitab Al-Ibanah (Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan, M.A.)

4. Prinsip-prinsip utama dalam agama (Ushuluddin), semua telah dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Siapapun tidak berhak untuk mengadakan sesuatu yang baru, yang tidak ada contoh sebelumnya, apalagi sampai mengatakan hal tersebut bagian dari agama. Allah telah menyempurnakan agama-Nya, wahyu telah terput s dan kenabian pun telah ditutup, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

…الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا ۚ …

“…Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu…” (QS. Al-Maidah [5]: 3)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Baca Juga:  Tawassul Yang Disyariatkan

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هٰذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

Barang siapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini, sesuatu yang bukan bagian darinya, maka amalannya tertolak.” (HR. Bukhari & Muslim)

Dengarkan dan Download MP3 Kajian Kitab Syarah ‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah – Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas


Jangan lupa untuk membagikan link download kajian ini melalui Facebook, Twitter, dan Google+ atau yang lainnya. Jazakumullahu khoiron.

1 Comment

    Tinggalkan Balasan

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

    0:00
    0:00