Telegram Rodja Official

Shaidul Khathir

Perbedaan Ulama Dunia dengan Ulama Akhirat – Kitab Shaidul Khathir (Ustadz Badrusalam, Lc.)

By  |  pukul 3:14 pm

Terakhir diperbaharui: Jumat, 23 Februari 2018 pukul 1:56 pm

Tautan: http://rodja.id/1ls

Ceramah Agama Islam oleh: Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.

Kajian kitab ini disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam pada Senin pagi, 1 Rabbi’ul Awwal 1439 H/ 20 November 2017, pukul 05:30-07:05 WIB di Radio Rodja dan Rodja TV. Pada kajian kali ini beliau menjelaskan tentang fikiran-fikiran yang melintas dibenak Ibnul Jauzi yang lahir pada 509 atau 510 H. Poin yang dibahas adalah “Perbedaan Ulama Dunia dengan Ulama Akhirat” dari kitab Shaidul Khathir.

Kajian Kitab Shaidul Khathir: Perbedaan Ulama Dunia dengan Ulama Akhirat

Ada ulama, dia berilmu yang ternyata keinginan dan tujuannya adalah untuk mendapatkan dunia. Namun ada juga ulama yang betul-betul mengharapkan kehidupan akhirat semata. Siapa ulama dunia dan siapa ulama akhirat?

Ibnul Jauzi memperhatikan bahwa ada saling iri dan dengki diantara para ulama dan sebab terjadinya adalah cinta dunia. Mengharapkan kehormatan manusia, pengikut yang banyak atau yang lainnya. Karena itulah ada diantara mereka rasa iri dan dengki. Ketika melihat ustadz lain jama’ahnya banyak, panas hatinya. Berbeda dengan ulama akhirat. Ulama akhirat justru saling mencintai dan tidak saling benci. Ulama akhirat ketika melihat saudaranya yang diberikan oleh Allah keutamaan banyaknya orang yang duduk dimajelisnya dia justru mendo’akan mudah-mudahan dia diberi keikhlasan. Karena hakikatnya jumlah yang banyak adalah ujian yang menyebabkan sering kali seseorang tertipu dengan banyaknya pengikut.

Baca Juga:
Wajib Berlaku Adil Terhadap Yang Menyelisihi Kita - Al-Ishbah (Ustadz Kurnaedi, Lc.)

Sebagaimana Allah berfirman:

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ ﴿١٠﴾

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang” (Q.S Al-Hashr [59]: 10)

Abu Darda senantiasa mendo’akan teman-temannya. Imam Ahmad bin Hambal juga pernah berkata kepada anaknya Imam Syafi’i, “Ayahmu, termasuk enam orang yang terus menerus aku do’akan setiap akhir malam”

Perbedaan Ulama Dunia dan Ulama Akhirat

Ulama dunia melihat kepada kedudukan. Mereka suka dengan banyaknya pengikut, pujian-pujian. Sementara ulama akhirat lari dari kedudukan. Mereka memandang banyaknya pengikut adalah ujian. Mereka juga tidak suka terhadap pujian-pujian manusia. Bahkan mereka sangat khawatir ketika ditimpa ketenaran. Mereka takut dan mereka sayang (selalu mengingatkan agar tidak tertipu) dengan ulama yang diberi ujian dengan banyaknya pengikut.

Dulu, ada seorang ulama yang berkata kepada gurunya, “hai guruku, aku mempunyai majelis setiap jum’at pagi. Apabila yang hadir banyak, aku merasa gembira. Apabila yang hadir sedikit, hatiku menjadi ciut. Bagaimana guruku?” Lalu gurunya menjawab, “Hai anakku, itu majelis yang tidak baik, lebih baik kamu tinggalkan saja.” Maka semenjak itu, dia tidak lagi mengajar di tempat itu.

Baca Juga:
Berdakwah Dalam Yang Haq dan Bersabar Didalamnya

Lihatlah bagaimana keikhlasan para ulama terdahulu yang mereka memandang ketenaran, pujian, banyaknya pengikut adalah ujian yang sangat berat bagi mereka. Ibnu Mas’ud pernah berjalan dan diikuti oleh dua orang maka Ibnu Mas’ud langsung berbalik dan bertanya, “ada keperluan apa? jika kalian tidak ada perlu apa-apa, pergilah kalian”. Beliau tidak suka jika seakan-akan ada orang yang mengikutinya dan melihat dirinya lebih dari yang lain.

Sebagian ulama terdahulu, apabila duduk diantaranya empat orang saja langsung berdiri. Mereka saling mempersilahkan teman-temannya untuk berfatwa atau menjawab pertanyaan. Muhammad bin Sirin pernah bertanya kepada seorang sahabat. Lalu sahabat yang ditanya itu menjawab, “coba kamu tanya si Fulan” kemudian Muhammad bin Sirin datang ke si Fulan lalu si Fulan itu berkata lagi tanya lagi si Fulan. Muhammad bin Sirin terus mendapatkan hal demikian hingga kembali ke sahabat yang pertama kali ditanya. Hal ini terjadi karena mereka khawatir dan takut untuk berfatwa. Sementara kaum muslimin abad ini, betapa mudahnya berfatwa. Dahulu para ulama yang kokoh keilmuannya, mereka orang yang sangat khawatir dan takut sekali berfatwa.

Mereka juga suka khumul. Apa itu khumul? Khumul berarti tidak ada orang yang mengenalnya. Mereka tidak suka menjadi terkenal dan tenar. Dimana menjadi tenar adalah suatu ujian yang sangat berat sekali. Oleh karena itu sudah menjadi kewajiban seorang muslim untuk tidak mencintai ketenaran.

Baca Juga:
Pahala Kebaikan Ditulis 10 sampai 700 Kali Lipat

Juga jangan sampai seorang muslim sengaja menunjukkan keahlian sehingga orang lain menjadi kagum yang mengakibatkan kurangnya keikhlasan dan sering kali tertimpa ujub. Imam Ahmad Bin Hambal hafal satu juta hadits. Tapi kalau beliau membawakan hadits dari buku. Karena yang demikian lebih jauh dari Riya‘ dan menjaga kehati-hatian menyampaikan hadits.

Simak Penjelasan Lengkapnya dan Download MP3 Kajian Kitab Shaidul Khathir: Perbedaan Ulama Dunia dengan Ulama Akhirat


Jangan lupa untuk turut membagikan link download kajian ini ke akun media sosial yang Anda miliki, baik Facebook, Twitter, Google+, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahufiikum

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

19 − = 18

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.