Masjid Al-Barkah

Al-Adabul Mufrad

Menghiasi Bangunan – Bab 216 – Hadits 461 – Kitab Al-Adab Al-Mufrad (Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A.)

By  |  pukul 11:05 am

Terakhir diperbaharui: Rabu, 13 Desember 2017 pukul 10:16 am

Tautan: http://rodja.id/1mh

Kajian Kitab Adabul Mufrad oleh: Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A.

Berikut ini merupakan rekaman kajian kitab Adabul Mufrad karya Imam Bukhari rahimahullah, yang disampaikan oleh Ustadz Syafiq Basalamah. Kajian ini beliau sampaikan secara live di Radio Rodja dan Rodja TV pada Senin malam, 15 Rabbi’ul Awwal 1439 H / 04 Desember 2017, pukul 20:00-21:30 WIB.

Pada kajian kali ini Ustadz Syafiq akan membahas tentang “Mengukir Bangunan – Bab 216 – Hadits 461“. Semoga bermanfaat.

Download juga kajian sebelumnya: “Tempat Tinggal yang Luas – Bab 214 – Hadits 457 – Kitab Al-Adab Al-Mufrad (Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A.)

[sc:status-adabul-mufrad-ustadz-syafiq-riza-basalamah-2014]

Ringkasan Kajian Kitab Adabul Mufrad: Menghiasi Bangunan

Bab 216. Menghiasi Bangunan

Hadits 461:

Adam menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Abi Dzi’b menceritakan kepada kami dari Sa’id al-Maqburi:

عن ابي هريرة قال: قال النبي صلى ا لله عليه وسلم: لن ينجي احدامنكم عمل، قالوا: ولاانت يا رسول الله؟  قال: ولاانا، الاان يتغمد ني الله منه برحمة، فسد دواوقا ربوا واغدوا وروحوا، وشي .ء من ا لدلجة، والقصد، والقصد تبلغوا

Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabada, “Suatu amal tidak akan menyelamatkan di antara kalian.’Lalu sahabat berkata, ‘Tidak juga engkau wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Ya, tidak juga aku, akan tetapi Allah menutupiku dariku dengan rahmat, maka hendaknya kalian mengambil jalan tengah, dekatkanlah serta berjalanlah kalian di awal siang dan sore dan dirikanlah shalat di waktu malam serat arahkanlah pada tujuan, arahkanlah pada tujuan, niscaya kalian akan sampai.

Baca Juga:
Upaya Rasulullah dalam Menjaga Tauhid dan Menutup Jalan yang Menuju kepada Kesyirikan - Kitab Tauhid (Syaikh Prof. Dr. ‘Abdur Razzaq Al-Badr)

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini merenangkan tentang karunia Allah yang Allah berikan kepada hambaNya. Allah mengatakan,

… وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّـهِ

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya),..” (Q.S An-Nahl [16]: 53)

Imam Muslim ketika menyebutkan hadits ini didalam shahihnya, Imam An-Nawawi mengatakan, “Dzahir hadits-hadits ini, disana ada penjelasan untuk para pengikut kebenaran, bahwa tidak ada seorang pun yang berhak mendapatkan pahala dan masuk surga dengan ketaatannya.”

Adapun tentang firman Allah didalam surat Al-Ahqaf Ayat 14,

أُولَـٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ ﴿١٤﴾

“Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S Al-Ahqaf [46]: 14)

dan di surat Az-Zukhruf Allah juga berfirman,

وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ ﴿٧٢﴾

“Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan.”(Q.S Az-Zukhruf[43]: 72)

Sekilas, seakan ayat-ayat tersebut bertentangan dengan hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Akan tetapi ayat-ayat itu menjelaskan bahwa orang-orang yang masuk surga disebabkan amalan. Amalan tersebut menjadi penyebab. Kemudian, bagaimana orang ini bisa beramal? Bagaimana seseorang dibimbing untuk ikhlas? Bagaimana amalan seseorang bisa diterima oleh Allah? Itulah rahmat Allah.

Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa, “seseorang masuk surga disebabkan amalannya dan itu dari rahmat Allah”. Hal ini memberikan pelajaran bagi seorang muslim agar tidak bangga dengan amalannya. Seorang muslim tidak boleh sok dengan perbuatannya. Apalagi sampai merendahkan orang lain karena merasa amalannya lebih banyak, lebih shalih dan lebih suci. Karena hal itu semua adalah atas karunia Allah.

Baca Juga:
Berlebih-lebihan terhadap Kuburan Orang-Orang Shalih Menjadi Penyebab Dijadikannya Sesembahan selain Allah - Kitab Tauhid (Syaikh Prof. Dr. ‘Abdur Razzaq Al-Badr)

Kandungan Hadits:

  1. Anjuran agar mengambil jalan tengah dalam beribadah (tidak berlebihan dan tidak menyepelekan)
  2. Dalam hadits ini terdapat isyarat agar berpuasa di siang hari dan shalat pada sebagian malam.
  3. Ketika seseorang mengharapkan keselamatan dan derajat yang tinggi di akhirat, hendaknya ia tidak mengandalkan amalnya semata, karena hal tersebut diperoleh dengan karunia dan rahmat Allah. Kemampuan manusia untuk beramal dan menjauhi maksiat adalah dengan taufiq dan penjagaan dari Allah dan diterimanya amal dan keikhlasannya juga dengan rahmat dan karunia-Nya.

Dengarkan penjelasan lengkapnya dan download MP3 kajian Kitab Adabul Mufrad: Menghiasi Bangunan – Bab 216 – Hadits 461 – Kitab Al-Adab Al-Mufrad


Jangan lupa untuk membagikan rekaman kajian ini ke saudara-saudara kita atau teman-teman kita baik itu melalui Facebook, Twitter, Google+, atau media yang lainnya agar kebaikan ini tidak berhenti begitu saja. Jazakumullahu khairan
[stumble]

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.