Masjid Al-Barkah

Al-Ishbah

Ahlussunnah Tidak Berlebih-Lebihan dalam Beramal dan Berpegang pada Sunnah Nabi (Ustadz Kurnaedi, Lc.)

By  |  pukul 8:45 am

Terakhir diperbaharui: Jumat, 15 Desember 2017 pukul 9:49 am

Tautan: http://rodja.id/1mx

Kajian Islam oleh: Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc.

Berikut ini merupakan rekaman kajian kitab “الإصباح في بيان منهج السلف في التربية والإصلاح” atau biasa disebut dengan “Al-Ishbah fi Bayani Manhajis Salaf fi Tarbiyah wal Ishlah” karya Syaikh Abdullah bin Shalih Al-‘Ubailan hafidzahullah, yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. Kitab ini berisi penjelasan tentang kaidah-kaidah Manhaj Salaf dalam tarbiyah dan islah (perbaikan). Kajian ini disampaikan di Radio Rodja dan RodjaTV, pada Kamis pagi, 3 Dzul Qa’idah 1438 H / 27 Juli 2017 M.

Pada kajian kali ini Ustadz Kurnaedi akan menyampaikan pembahasan tentang “Ahlussunnah Tidak Berlebih-Lebihan dalam Beramal dan Berpegang pada Sunnah Nabi“. Semoga bermanfaat.

Download juga kajian sebelumnya: Kaidah bahwa Ahlussunnah Mengimani Sunnah Kauniyah Allah – Faidah ke-20

Ringkasan Kajian Kaidah manhaj Salaf dalam Tarbiyah dan Islah: Ahlussunnah Tidak Berlebih-Lebihan dalam Beramal dan Berpegang pada Sunnah Nabi

Pada MP3 kajian kali ini dibahas tentang salah satu kaidah bahwa Ahlussunnah tidak berlebih-lebihan dalam beramal dan mereka memegang sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Diatas keduanyalah agama Islam ini ada.

Baca Juga:
Ahlussunnah wal Jamaah Memperingatkan Bahayanya Menyerupai Orang Kafir - Kitab Al-Ishbah

Allah berfirman dalam Q.S Al-Maidah ayat ke-77:

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِن قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَن سَوَاءِ السَّبِيلِ ﴿٧٧﴾

“Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus” (Q.S Al-Maidah[5]: 77)

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diperintahkan untuk berkata kepada manusia agar dalam berlebihan dalam agama.

Dalam surat Al-An’am ayat ke-141 Allah berfirman:

وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ ﴿١٤١﴾

“dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (Q.S Al-An’am[6]: 141)

Ayat-ayat di atas adalah gambaran bahwa agama Islam memiliki batasan-batasan, aturan-aturan dan tidak boleh seorang muslim berlebihan (ghuluw) dalam beramal. Oleh karena itu, kaidah dan aturan inilah yang harus diperhatikan oleh seorang muslim. Karena barang siapa yang ghuluw, dia akan binasa, sengsara dan hancur.

Didalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan An-Nasa’i, dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma, beliau berkata bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada pagi hari aqobah dan beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berada di atas untanya. Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepada Ibnu Abbas, “pungutlah kerikil-kerikil untukku”. Maka kata Abdullah bin Abbas, “aku memungut tujuh kerikil”. Setelah kerikil tersebut diberikan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata, “Dengan batu-batu seperti ini, maka hendaknya kalian melempar jumroh”. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Wahai sekalian manusia, janganlah kalian berlebih-lebihan dalam agama. Sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah berlebih-lebihan dalam agama.”

Baca Juga:
Pengaruh Bid'ah Pada Wajah Pelakunya - Kitab Al-Ishbah (Ustadz Kurnaedi, Lc.)

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang untuk berlebih-lebihan dan berberat-berat dalam agama. Yakni melebihi dari yang disyariatkan. Jadi jangan menambah-nambah syariat yang datang dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sebab apabila memberatkan diri dengan beramal secara berlebihan dan menyimpang dari sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam maka akan binasa. Seperti kata ulama, “pemberatan diri yang dilakukan oleh seorang hamba, maka akan mendatangkan musibah. Memberatkan diri bisa dengan dua hal, dengan kadar dan dengan syariat”.

Dizaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dalam sebuah hadits dari Ibnu Abbas dijelaskan ada seseorang bernama Abu Israil. Ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkhutbah, ada seseorang yang berdiri. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya tentangnya. Sahabat menjawab, “dia adalah Abu Israil, dia bernadzar berdiri diatas terik matahari, tidak bicara dan dia berpuasa”. Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “perintahkan dia untuk berbicara, hendaknya dia bernaung dan duduklah dan hendaknya dia menyempurnakan puasanya”.

Dari kejadian ini, bisa diambil pelajaran sebagaimana yang dikatan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani, “Bahwa di dalam hadits ini, segala sesuatu yang manusia bisa tersakiti dengannya walaupun nanti, yang mana tidak ada keterangan dasar pensyariatannya didalam Al-Qur’an dan sunnah seperti berjalan tanpa alas kaki, duduk dibawah terik matahari, maka itu bukan termasuk ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala”

Baca Juga:
Bahaya Ghuluw dan Mengkultuskan Individu

Download Kajian Kaidah manhaj Salaf dalam Tarbiyah dan Islah: Ahlussunnah Tidak Berlebih-Lebihan dalam Beramal dan Berpegang pada Sunnah Nabi


Mari raih pahala dan kebaikan dengan membagikan tautan ceramah agama ini ke Jejaring Sosial yang Anda miliki seperti Facebook, Twitter, Google+ dan yang lainnya. Semoga Allah Ta’ala membalas kebaikan Anda.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.