Select Page

Apa Itu Bid’ah? – Khutbah Jumat (Ustadz Badrusalam, Lc.)

Radio RodjaDownloadKajianUstadz Abu Yahya BadrusalamKhutbah JumatApa Itu Bid’ah? – Khutbah Jumat (Ustadz Badrusalam, Lc.)

Apa Itu Bid’ah? – Khutbah Jumat (Ustadz Badrusalam, Lc.)

Terakhir diperbaharui: Jumat, 25 Rabiul akhir 1439 / 12 Januari 2018 pukul 11:37
Tautan: http://rodja.id/1oq

Khutbah Jumat oleh: Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.

Download khutbah Jumat yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor. Pada khutbah jumat ini, beliau menyampaikan tema tentang “Apa Itu Bid’ah“. Mari kita simak dan download khutbah Jumat ini, semoga bermanfaat.


Khutbah Pertama – Apa Itu Bid’ah? – Khutbah Jumat (Ustadz Badrusalam, Lc.)

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala telah menyempurnakan agamaNya. Didalam firmanNya:

..الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا ۚ ..

“Pada hari ini telah Ku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah [5]: 3)

Allah menyatakan bahwasannya Islam telah sempurna. Ia tidak lagi membutuhkan tambahan. Ia tidak lagi membutuhkan Rasul selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak pula membutuhkan pemikiran-pemikiran selain apa yang berasal dari Allah dan RasulNya. Maka kewajiban kita adalah meyakini akan kesempurnaan Islam dan bahwasannya Islam telah sempurna disaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup diakhir hayatnya. Maka siapapun yang mengklaim sesuatu itu berasal dari agama padahal tidak ada dalil dari kitabullah, tidak pula sunnaturrasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam berarti dia telah menganggap seakan-akan Islam belum sempurna.

Imam Malik rahimahullah berkata, “Siapa yang membuat-buat satu bid’ah didalam agama ini, sama saja dia telah menuduh bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menuduh bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menghianati risalah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap kali khutbah jum’at, senantiasa mengingatkan tentang bahaya bid’ah tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berkata didalam khutbahnya ketika dihari jum’at:

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan” (HR. Muslim no. 867)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terus menerus mengingatkan para sahabat tentang bahaya perkara-perkara yang baru dalam dien, mengada-ngada sesuatu yang bukan dari agama ini. Karena agama telah sempurna. Maka dari itu jika ada seseorang yang mengatakan ada sesuatu ibadah yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pula para sahabatnya, kemudian dia mengatakan ini dari agama, kita katakan agama kita telah sempurna semenjak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup.

Apabila Anda mengatakan agama telah sempurna, maka kita tidak butuh ibadah kecuali apa yang telah disyariatkan oleh Allah dan RasulNya. Apabila Anda berkata agama baru sempurna dengan bid’ah saya, berarti Anda sudah menuduh bahwa Al-Qur’an tidak benar.

Kaum muslimin, Apa itu Bid’ah?

Bid’ah secara bahasa adalah segala sesuatu yang baru ada yang sebelumnya tidak ada. Mobil, bid’ah secara bahasa. Demikian pula pesawat, hanphone dan segala sesuatu yang baru ada. Namun apakah sesuatu yang bid’ah secara bahasa juga bid’ah secara syariat?

Jawabnya adalah TIDAK. Karena masalah-masalah dunia, pada asalnya halal. Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 29:

..هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا

“Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu” (QS. Al-Baqarah [2]: 29)

Para ulama  ushul fiqh mengambil kaidah dari ayat ini bahwasannya segala sesuatu yang berhubungan dengan masalah dunia, pada asalnya halal dan suci. Tidak boleh kita haramkan atau kita najiskan kecuali dengan dalil dari syariat kita. Masalah dunia, pada asalnya halal. Maka dari itu para ulama ketika mendefinisikan bid’ah secara istilah syariat, mereka menyebutkan bahwa ia adalah tata cara dalam beragama. Jadi bid’ah secara istilah hanya ada dalam agama. Dalam tata cara ibadah yang dibuat-buat yang menyerupai syariat yang diinginkan darinya bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Jika ada yang berbicara apakah pesawat bid’ah? Maka kita katakan iya. Pesawat bid’ah secara bahasa, tapi secara istilah tidak. Karena itu masalah dunia dan urusan dunia pada asalnya halal.

Jika ada orang yang berkata apakah bid’ah secara istilah artinya sesuatu yang tidak ada dizaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka saya katakan bahwa itu definisi yang salah. Sesuatu yang Rasulullah tidak lakukan belum tentu bid’ah. Karena sesuatu yang tidak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan, tidak lepas dari tiga keadaan. Yakni:

  • Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukan karena dizaman beliau belum ada pendorongnya. Seperti ilmu nahwu, ilmu sharaf, ilmu hadits, tidak ada dizaman Rasulullah. Karena hal ini tidak ada pendorongnya dizaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
    Para sahabat semua ahli bahasa, mereka semua paling paham tentang Al-Qur’an dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat, banyak orang-orang masuk Islam dan mereka tidak memahami tentang bahasa arab. Terjadilah kesalahan yang fatal dalam memahami Al-Qur’an dan hadits dalam membacanya. Maka kemudian dibuatlah ilmu bahasa arab. Ilmu nahwu dan sharaf dalam rangka membela Al-Qur’an dan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka ilmu-ilmu tersebut tidak dianggap bid’ah secara istilah syariat. Namun hal itu tidak dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena dizaman beliau belum ada pendorongnya. Adapun ketika beliau telah wafat dan pendorongnya telah muncul dan maslahatnya sangat besar, itu tidak disebut bid’ah secara istilah syariat.
  • Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukan karena dizaman beliau masih ada penghalangnya. Seperti misalnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya shalat tarawih secara berjamaah tiga malam saja. Hal ini dikarenakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam khawatir diwajibkan atas umatnya.
    Ketika dizaman Umar, kekhawatiran ini tidak mungkin terjadi karena wahyu sudah terputus sementera berjamaah dalam shalat tarawih itu sangat besar manfaatnya. Maka Umar pun mengadakan shalat tarawih berjama’ah setiap malamnya. Maka Umar berkata, “sebaik-baik bid’ah adalah ini”. Ibnu Rajab mengatakan bahwa yang dimaksud adalah bid’ah secara bahasa dan bukan secara istilah syariat.Dizaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Al-Qur’an belum dibukukan. Hal ini karena masih ada penghalangnya. Yaitu wahyu terus menerus turun. Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, banyak penghafal Al-Qur’an banyak yang meninggal dunia di medan peperangan. Sehingga dikhawatirkan Al-Qur’an akan hilang. Maka kemudian Abu Bakar dan para sahabat mengumpulkan dan menjadikan Al-Qur’an menjadi satu mushaf.
  • Keadaan yang ketiga, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak lakukan padahal pendorongnya ada dan penghalangnya tidak ada. Maka ini tanda bahwa suatu amalan tidak disyariatkan.
    Sebuah contoh, dizaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat Idul Fitri dan Idul Adha tanpa adzan dan tanpa iqomah. Padahal untuk adzan dan iqomah ada, penghalangnya pun tidak ada. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mampu menyuruh Bilal untuk adzan. Tapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak lakukan. Karena itu menunjukkan bahwa adzan sebelum shalat Idul Fitri dan Idul Adha tidak disyariatkan.

Inilah kaidah yang telah disebutkan oleh para ulama seperti Ibnu Taimiyah, Imam Asy-Syatibi dan yang lainnya. Bahwa tidak setiap perkara yang tidak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan disebut bid’ah. Maka salah sekali jika ada orang yang berkata bahwa bid’ah adalah sesuatu yang tidak dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kewajiban seorang muslim adalah meninggalkan apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  tinggalkan disaaat pendorong dizaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ada dan penghalangnya tidak ada. Para sahabat mampu merayakan kelahiran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan pendorongnya sangat kuat yaitu cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adakah generasi yang paling cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari para sahabat? Siapa yang lebih cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? kita atau para sahabat? Jawabnya adlah para sahabat yang lebih cinta. Tapi kenapa mereka tidak merayakannya? Padahal mereka mampu, pendorongnya pun ada, penghalangnya tidak ada. Itu menunjukkan bahwa hal tersebut tidak disyariatkan.

Imam Syafi’ai, Imam Ahmad, Imam Malik, Imam Abu Hanifah, tidak pula mereka merayakannya. Itu baru muncul dizaman Bani Fatimiyyah diabad ke-4 Hijriyah. Mereka orang-orang Syiah yang ekstream sebagaimana disebutkan oleh Imam Al-Maqrizi dalam kita al-Khuthut al-Aridhah.

Pahamilah hakikat ini. Sehingga kita tidak membuka bid’ah selebar-lebarnya. Setiap orang yang memandang baik, dianggap baiklah dalam syariat. Akhirnya ditambahkanlah kedalam syariat setiap yang dipandang baik oleh manusia. Demi Allah kalaulah setiap yang dianggap baik oleh manusia jadi baik, padahal belum tentu jadi baik dimata Allah subhanahu wa ta’ala tentu akan rusak agama ini.

Saudaraku, sesungguhnya Islam telah sempurna. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan umatnya tentang masalah bid’ah karena hal itu merusak kemurnian Islam. Merusak kemurnian aqidah, ibadah dan bahkan merusak pondasi-pondasi Islam.

Lihatlah bagaimana pemikiran Khawarij muncul mengatakan bahwa orang yang melakukan dosa besar adalah kafir dan murtad dari agama Islam. Lihatlah bagaimana orang-orang Murjiah muncul dan mengatakan bahwa amal tidak termasuk iman. Sehingga mereka menyamakan iman antara iman Abu Bakar dan tokoh munafiqin.

Demikianlah jika kita pelajari tentang hakikatnya. Sungguh bid’ah bisa merusak dan meluluhlantahkan agama kita.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ

Khutbah Kedua – Apa Itu Bid’ah? – Khutbah Jumat (Ustadz Badrusalam, Lc.)

الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

Ummatal Islam…

Bila ada orang yang berkata dan bertanya, “bukankan sebagian sahabat dizaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membuat-buat ibadah?”. Kita katakan, “saudaraku, kalaupun itu benar, maka ingatlah bahwa itu dizaman wahyu masih turun, dizaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dizaman pensyariatan, yang membenarkan adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenarkan berdasarkan wahyu dari Allah subhanhu wa ta’ala. Sementara dizaman sekarang, siapa yang mendapatkan wahyu dari Allah? Maka tidak bisa mengkiaskan zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan dizaman setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan wahyupun terputus. Kalau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu menyetujui ibadah yang dilakukan sebagian sahabat, itu semua berdasarkan wahyu dari Allah subhanahu wa ta’ala. Allah berfirman:

وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ ﴿٣﴾ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ ﴿٤﴾

“dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An Najm [53]: 3-4)

Ummatal Islam…

Kewajiban kita menganggap baik itu dengan kaca mata Allah dan RasulNya. Sesuatu yang baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah dan RasulNya. Allah berfirman:

وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّـهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ ﴿٢١٦..﴾

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 216)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّـهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّـهَ ۚ إِنَّ اللَّـهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ ﴿١﴾

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Hujurat [49]: 1)

Jangan sampai seorang muslim mendahului Allah dan RasulNya dengan ucapan dan perbuatannya. Dan jangan sampai kita mengunggulkan pendapat siapapun diatas pendapat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَن تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنتُمْ لَا تَشْعُرُونَ ﴿٢﴾

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari.”(QS. Al-Hujurat [49]: 2)

Bayangkan kata para ulama, mengangkat dan mengeraskan suara diatas suara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa membatalkan amal. Bagaimana jika kita mengangkat akal dan pendapat seseorang diatas pendapat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Tentu itu lebih layak untuk membatalkan amal.

atkan doa pada Allah, moga doa kita benar-benar diperkenankan oleh Allah di hari penuh berkah dan diijabahinya doa.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ

رَبَّنَاوَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Dengarkan dan Download Khutbah Jumat Masjid Al-Barkah: Apa Itu Bid’ah? – Khutbah Jumat (Ustadz Badrusalam, Lc.)

Jangan lupa untuk ikut membagikan link download khutbah Jum’at ini, kepada saudara Muslimin kita baik itu melalui Facebook, Twitter, atau Google+ Anda. Semoga Allah membalas kebaikan Anda.

, , ,

About The Author

Menebar Cahaya Sunnah

Tinggalkan Balasan

Tanggal

Radio Streaming

Server Internasional High Quality

Status: ONLINE | Bitrate: 128 kbps | Pendengar: 471 | Maksimal: 3072

Server Internasional Low Quality

Status: ONLINE | Bitrate: 24 kbps | Pendengar: 51 | Maksimal: 3072

Server Indonesia High Quality

Status: ONLINE | Bitrate: 128 kbps | Pendengar: 175 | Maksimal: 2000

Server Indonesia Low Quality

Status: ONLINE | Bitrate: 24 kbps | Pendengar: 14 | Maksimal: 2000

Audio RodjaTV High Quality

Status: ONLINE | Bitrate: 130 kbps | Pendengar: 78 | Maksimal: 2000

Jadwal Acara

Jadwal Hari Rabu

01:00 — 02:00 AsatidzKajian TematikRekaman

02:00 — 05:30 Murottal, Bumper, Mutiara Nasihat

07:00 — 07:30 Murottal, Bumper, Mutiara Nasihat

07:30 — 08:00 Resensi Buku

08:00 — 10:00 Ustadz Ahmad Zainuddin, LcKajian TematikLIVE dari Banjarmasin

10:00 — 11:30 Sinshe Abu MuhammadSehat dengan Thibbun NabawiLIVE dari Studio Rodja TV

11:30 — 12:30 Murottal, Bumper, Mutiara Nasihat

12:30 — 13:00 Penerjemah: Ustadz JunaediFatawa UlamaLIVE dari Tegal

13:00 — 14:30 Ustadz Hamzah AbbasBimbingan Bahasa Arab Jilid 1Rekaman

14:30 — 16:30 Murottal, Bumper, Mutiara Nasihat

16:30 — 18:00 Ustadz Jazuli, LcBimbingan Islam untuk Pribadi dan MasyarakatLIVE dari Jakarta

18:00 — 19:00 Ustadz Abdullah Zain, Lc, M.A.Tafsir Al Qur'an - Juz AmmaLIVE dari Masjid Agung Darussalam, Purbalingga

19:00 — 20:00 Resensi Buku

20:00 — 21:30 Ustadz Zainal Abidin SyamsuddinSyarah Bulughul MaramLIVE dari Studio Rodja TV

21:30 — 22:00 Murottal, Bumper, Mutiara Nasihat

22:00 — 23:30 Ustadz Mubarok Bamualim, Lc., M.H.IRiyadhus ShalihinRekaman

23:30 — 01:00 Murottal, Bumper, Mutiara Nasihat

23:30 — 00:00 Murottal, Bumper, Mutiara Nasihat

Arsip