Telegram Rodja Official

Mentaati Allah dan RasulNya – Khutbah Jumat (Ustadz Badrusalam, Lc.)

By  |  pukul 7:02 am

Terakhir diperbaharui: Selasa, 29 Rabiul akhir 1439 / 16 Januari 2018 pukul 9:18 am

Tautan: http://rodja.id/1ow

Mentaati Allah dan RasulNya – Khutbah Jumat (Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.). Khutbah Jumat ini disampaikan di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor. Mari kita simak dan download khutbah Jumat ini, semoga bermanfaat.


Ringkasan Mentaati Allah dan RasulNya – Khutbah Jumat (Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.)

Sesungguhnya umat Islam, Allah subhanahu wa ta’ala menganjurkan kita untuk mentadabburi ayat-ayatNya. Allah berfirman:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا ﴿٢٤﴾

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad [47]: 24)

Allah subhanahu wa ta’ala memudahkan Al-Qur’an untuk kita pelajari dan kita hafalkan. Allah berfirman:

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ ﴿٢٢﴾

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar [54]: 22)

Ketahuilah saudaraku, Al-Qur’an memberikan kepada kita bimbingan. Siapapun yang mempelajarinya, ia pasti bahagia. Siapapun yang mengamalkannya ia pasti terbimbing. Siapapun yang mentadabburi akan mendapatkan banyak sekali rahasia-rahasia ilmu yang Allah berikan keapadanya.

Ada sebuah surat dalam Al-Qur’an yang disebut dengan surat Al-Hujurat [49]. Sebuah surat yang mengajarkan tentang adab-adab. Oleh karena itu para ulama menamai surat ini dengan surat adab. Hal ini karena adab-adabnya yang sangat luhur dan luar biasa. Allah subhanahu wa ta’ala memulai adab yang paling tinggi, yaitu adab kepada Allah dan RasulNya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّـهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّـهَ ۚ إِنَّ اللَّـهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ ﴿١﴾

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan RasulNya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Hujurat [49]: 1)

Ayat pertama yang Allah subhanahu wa ta’ala sebutkan dalam surat ini adalah tentang bagaimana seorang hamba Allah yang mengaku beriman kepada Allah dan RasulNya, bagaimana adab dia kepada Allah dan RasulNya. Allah mengatakan, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan RasulNya“. Mendahului Allah dan RasulNya dengan apa? Yaitu dengan ucapan, demikian pula dengan kata-kata.

Maka jangan sampai kita mendahului Allah dengan ucapan. Kita mengucapkan sesuatu dalam agama, dalam perkara yang Allah dan RasulNya tidak pernah mengucapkannya. Jangan pula kita mengamalkan sesuatu dalam agama yang tidak pernah Allah dan RasulNya memerintahkannya. Karena agama ini milik Allah semata.

Baca Juga:  Penaklukan Kota Mekkah / Fathu Makkah - Bagian ke-2 - Faidah Sirah Nabawiyah (Ustadz Dr. Ali Musri Semjan Putra, M.A.)

Sungguh sangat tidak memiliki adab orang yang mendahului Allah subhanahu wa ta’ala dengan ucapan atau perbuatan lalu dia mengatakan bahwa ini termasuk agama. Orang seperti ini masuk kedalam firmanNya:

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُم مِّنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَن بِهِ اللَّـهُ ۚ وَلَوْلَا كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ ۗ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ ﴿٢١﴾

Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih.” (QS. Ash-Shura [42]: 21)

Saudaraku sekalian, ayat di atas menunjukkan bahwa membuat syariat harus mendapatkan izin dari Allah dan RasulNya. Dan dalam hal ini Allah tidak pernah mengizinkan siapapun hamba-hambaNya untuk membuat syariat. Karena sesungguhnya syariat itu hanya milik Allah subhanahu wa ta’ala. Rasulullah pun tidak berani mensyariatkan sesuatu sampai ada dalil, sampai ada wahyu dari Allah subhanahu wa ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berani menjawab jawaban sampai ada wahyu dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan dia berihram dan berkata, “aku sedang berihram, sementara kutuku sangat banyak di rambutku dan dia berjatuhan dan itu sangat menggangguku ya Rasulullah, sementara orang yang sedang berihram tidak boleh mencukur rambutnya. Bagiamana ya Rasulullah?” Maka Rasulullah pun diam. Kemudian diturunkan kepadanya wahyu. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “siapa tadi yang bertanya, hendaklah kamu mencukur rambutmu dan menyembelih seekor kambing.

Lihatlah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berani menjawab sampai ada wahyu dari Allah subhanahu wa ta’ala. Apatah kita sebagai pengikut Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kalau Rasulullah saja tidak berani membuat syariat kecuali setelah mendapatkan wahyu dan izin dari Allah subhanahu wa ta’ala. Maka kitapun sebagai pengikut Rasulullah, tidak boleh berucap sesuatu dalam agama, tidak pula mengamalkan suatu amalan kecuali setelah ada dalil dari Allah dan RasulNya.

Baca Juga:  Penaklukan Kota Mekkah / Fathu Makkah - Bagian ke-3 - Faidah Sirah Nabawiyah (Ustadz Dr. Ali Musri Semjan Putra, M.A.)

Lalu kemudian Allah menyebutkan adab didalam ayat itu,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَن تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنتُمْ لَا تَشْعُرُونَ ﴿٢﴾

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari.” (QS. Al-Hujurat [49]: 2)

Perhatikanlah ayat ini wahai kaum muslimin. Allah melarang para sahabat mengangkat suara melebihi suara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan Allah mengabarkan bahwa itu bisa membatalkan amal. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata, “Apabila mengangkat suara melebihi suara Rasulullah sudah bisa membatalkan amal, apatah jadinya jika kita mengangkat pendapat seseorang diatas pendapat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Apatah jadinya kalau kita mengangkat akal dan fikiran kita dan pendapat kita diatas pendapat Allah dan RasulNya?

Maka saudaraku, janganlah kita lebih mendahulukan pendapat fulan wa allan walaupun dia ulama besar sekalipun juga diatas pendapat Allah dan RasulNya. Karena sesungguhnya hal seperti itu bisa membatalkan amal.

Ayat di atas tegas mengatakan hal tersebut. Namun sayang, banyak kaum muslimin yang lebih mengangkat adat-istiadar dibandingkan dari syariat. Banyak kaum muslimin yang lebih mengangkat pendapat kiayi, ajengan, atau orang-orang yang dianggap mempunyai ilmu agama dibandingkan dengan Allah dan RasulNya. Sehingga yang terjadi mereka lebih mengangkat pendapat manusia dari pada pendapat Allah dan RasulNya.

Padahal Imam Syafi’i rahimahullah, beliau mengucapkan kata-kata yang bisa menjadi sebuah pelajaran untuk kita. Beliau mengatakan, “Kaum muslimin semuanya sepakat, bahwa siapa saja yang sudah jelas kepadanya sunnah Rasulullah, tidak boleh ia tinggalkan sunnah Rasulullah hanya karena mengikuti pendapat seseorang.

Itulah ucapan seorang imam yang berhak ditulis dengan tinta emas. Dia mengajarkan kepada kita agar fanatik hanya kepada Allah dan RasulNya. Agar kita tidak mengangkat pendapat siapapun diatas pendapat Allah dan RasulNya.

Baca Juga:  Perang Tabuk - Bagian ke-2 - Faidah Sirah Nabawiyah (Ustadz Dr. Ali Musri Semjan Putra, M.A.)

Khutbah Kedua Mentaati Allah dan RasulNya – Khutbah Jumat (Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.) Menit ke – 10:39

Ummatal Islam..

Adab yang sangat mulia yang Allah sebutkan dalam ayat ini. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi“. Ayat ini menunjukan akan kewajiban kaum mukminin untuk menghormati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, untuk senantiasa menjadi pengikut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, senantiasa berusaha menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Untuk itulah, mukmin manapun yang tidak mau menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai suri tauladan dan hakim dalam perkara yang diperselisihkan, maka mukmin seperti ini telah kehilangan kesempurnaan iman. Bahkan bisa jadi telah hilang keimanannya. Allah berfirman:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ﴿٦٥﴾

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 65)

Allah subhanahu wa ta’ala dalam ayat ini bersumpah bahwa tidak sempurna keimanan seorang hamba sampai terpenuhi tiga syarat, yaitu:

  • Menjadikan Allah dan RasulNya sebagai hakim dalam perkara yang diperselisihkan diantara kita.
  • Tidak mendapatkan rasa besar dalam menerima keputusan Allah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  • Kita menerimanya dengan sebenar-benarnya penerimaan.

Semoga kita termasuk orang-orang yang bisa merealisasikan ayat ini. Sehingga kita senantiasa tunduk dan patuh kepada Allah dan RasulNya dan senantiasa berkata sami’na wa atha’na, serta kita tidak mendahului Allah dan RasulNya dengan ucapan dan perbuatan. Tidak pula mengangkat pendapat siapapun diatas Allah dan RasulNya.

Dengarkan dan Download MP3 Mentaati Allah dan RasulNya – Khutbah Jumat (Ustadz Badrusalam, Lc.)

Jangan lupa untuk ikut membagikan link download khutbah Jum’at ini, kepada saudara Muslimin kita baik itu melalui Facebook, Twitter, atau Google+ Anda. Semoga Allah membalas kebaikan Anda.

Telegram Rodja Official

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.