Telegram Rodja Official

Nikmat Mengenal Allah – Khutbah Jumat (Ustadz Badrusalam, Lc.)

By  |  pukul 9:26 am

Terakhir diperbaharui: Selasa, 29 Rabiul akhir 1439 / 16 Januari 2018 pukul 11:52 am

Tautan: http://rodja.id/1ox

Nikmat Mengenal Allah – Khutbah Jumat (Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.). Khutbah Jumat ini disampaikan di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor. Mari kita simak dan download khutbah Jumat ini, semoga bermanfaat.


Khutbah Pertama Nikmat Mengenal Allah – Khutbah Jumat (Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.)

Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala mensyariatkan agama yang mulia ini yaitu Islam, tiada tujuan lain agar hamba-hambaNya bisa bahagia di dunia dan akhirat. Allah menurunkan agama ini sebagai bimbingan hidup untuk manusia. Mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju terang benderang. Membimbing mereka kepada kehidupan yang lebih baik. Kepada ketaatan untuk kebahagiaan hati mereka. Karena sesungguhnya hati manusia tidak akan pernah merasa bahagia kecuali dengan mengenal penciptanya. Hati manusia tidak akan pernah merasa tenang dan tentram kecuali dengan mengingat penciptanya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّـهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّـهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ﴿٢٨﴾

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 28)

Cobalah anda bayangkan dan renungkan, ketika kita mengingat tentang harta, atau kita mengingat tentang tahta, apalagi mengingat tentang wanita, semua itu tidak akan memberikan ketentraman hati. Ketentraman yang paling tentram adalah ketika hati kita betul-betul hanya berdzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan hanyut dalam mencintaiNya. Kemudian kita hanyut dan merasa asyik dengan bermunajat kepadaNya. Maka itulah kenikmatan yang hakiki yang dirasakan oleh seorang hamba.

Ummatal Islam..

Maka sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan hambaNya untuk banyak bertaqarrub kepadaNya dengan shalat, puasa, berdzikir, shadaqah, tiada lain adalah untuk keuntungan dirinya sendiri. Karena itu semua akan menentramkan hatinya. Semua itu akan memberikan kepada jiwanya sesuatu yang luar biasa dahsyat. Berupa kedermawanan dan ketakwaan. Dengan ketakwaan itu dia menjadi seorang yang tegar dalam menghadapi kehidupan di dunia ini.

Baca Juga:  Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 125

Saudara-saudaraku sekalian,

Karena manusia memang Allah ciptakan harus berhubungan dengan penciptanya. Tanpa itu, ia akan jauh seperti binatang ternak, tanpa itu, bahkan seseorang bisa lebih rendah dari binatang ternak.

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ ﴿٤﴾ ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ ﴿٥﴾ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ ﴿٦﴾ فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِالدِّينِ ﴿٧﴾

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.” (QS. At-Tin [95]: 4-7)

Ketika seorang hamba berfikir tentang dirinya, harta tidak akan memberikan kebahagiaan untuknya, tahta pun tidak akan memberikan kebahagiaan untuk dirinya. Bahkan ketika seseorang mengejar harta, hatinya tersiksa oleh harta. Ketika ia telah meraihnya, ia disiksa dengan harta karena takut kehilangan. Ketika ia belum meraihnya, hatinya bahkan badannya pun lelah. Ia bekerja keras untuk mendapatkan harta tersebut sehingga dia selalu berada dalam kesedihan, kegalauan, dan berada dalam sesuatu yang tidak memberikan kebahagiaan dalam hidupnya. Demikian pula ketika seseorang sibuk mencari tahta dan kedudukan. Ia tidak akan pernah bahagia. Kebahagiaan ketika dia mendapatkan kedudukan pun sementara saja. Tak lama kemudian ia menjadi galau, gelisa dan khawatir apabila kedudukannya lepas dan lengser darinya.

Maka dari itulah saudaraku, semua itu tidak akan memberikan kebahagiaan yang abadi bagi seorang hamba. Kebahagiaan yang abadi dan hakiki adalah dengan mengenal, bertaqarrub dan terus mendekatkan diri kepada Allah. Karena Allah lah yang Maha Mulia. Kemuliaan itu milik Allah, maka Allah akan muliakan siapa yang Allah kehendaki dari hambaNya. Tentu kemuliaan itu diraih dengan iman dan takwa. Kemulian itu diraih dengan ketaatan dan amal shalih, bukan dengan kemaksiatan atau bahkan lari dari perintah-perintah Allah.

Inilah ya ummat Islam..

Setiap kita hendaknya berfikir untuk inilah kita diciptakan oleh Allah.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ ﴿٥٦﴾

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adh-Dhariyat [51]: 56)

Seorang hamba yang hatinya benar-benar merealisasikan ibadah dan mengharapkan akhirat semata, ketika ia mencari dunia, pastilah juga karena ingin mencari ridho Allah subhanahu wa ta’ala. Sehingga ketika dia meraih harta, maka diapun akan infaqkan dijalan Allah. Dia ingin agar hartanya menambah pahalanya. Tapi ketika seorang hamba yang hatinya penuh dengan cinta dunia, sedangkan dunia itu adalah suatu harapan yang terbesar dihatinya. Ketika ia mencari dunia, niat dia hanya sebatas ingin mendapatkan harta. Dia ingin berbangga-bangga dengannya. Ketika ia mendapatkan harta, ternyata harta itu tidak bermanfaat baginya. Hanya menimbulkan kesombongan, rasa ujub dan bahkan menyeret dia kepada kemaksiatan. Berfoya-foya dan melakukan hal-hal yang dimurkai oleh Allah. Hal itu semua terjadi karena ketika ia mencari harta, ia tidak menginginkan kehidupan akhirat. Yang dia inginkan hanyalah kepuasan dunia.

Baca Juga:  Ciri-Ciri Ahlussunnah wal Jama'ah (Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.)

Seperti ini apakah anda kira dia akan bahagia? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ ، فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ ، وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّـتَهُ ، جَمَعَ اللهُ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِيْ قَلْبِهِ ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ.

Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allâh akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allâh akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.

Lihatlah saudaraku,

Orang yang mengharapkan akhirat dalam aktivitas hidupnya. Dalam ibadahnya, ia hanya mengharapkan pahala akhirat saja, didalam mencari dunianya, bekerjanya, bahkan didalam rumah tangganya, yang dia harapkan hanya keridhaan Allah semata, maka Allah berikan kepadanya tiga perkara. Yaitu:

  • Hatinya akan dikayakan oleh Allah penuh dengan qana’ah.
  • Ia tidak akan rakus terhadap kehidupan dunia. Urusannya bisa kokoh sehingga dia bisa istiqomah diatas agamanya.
  • Dunia akan mendatanginya dengan keadaan dunia hina dimatanya. Karena ia sadar bahwa dunia itu hanya menipu. Ia menginginkan kehidupan akhirat saja.

Maka orang seperti di atas, walaupun Allah berikan kepadanya kekayaan, harta dan kekayaan itu akan menjadi pahala bagi dia karena ia gunakan untuk membela agama Allah, untuk membantu faqir miskin, sedekah dan yang lainnya. Sebaliknya, orang yang hatinya hanya menginginkan dunia, Allah akan cerai-beraikan urusannya. Dia tidak akan bisa istiqomah dan kokoh diatas agamanya. Dan Allah akan jadikan kefaqiran dimatanya. Orang yang seperti ini hatinya akan selalu merasa miskin dan terus merasa miskin. Hal ini dikarenakan yang diinginkan hanya dunia saja. Ia tidak menginginkan kehidupan akhirat kecuali sedikit saja.

Baca Juga:  Disyariatkannya Wali Dalam Pernikahan Wanita - Tuntunan Praktis Fiqih Wanita

Saudaraku, maka dari itulah, setiap kita hendaknya berfikir kemana kita akan melangkahkan kaki kita. Kebahagiaan apa yang kita inginkan. Apakah kebahagiaan akhirat yang kekal abadi atau kebahagiaan dunia yang fana dan segera hancur?

Khutbah Kedua Mentaati Allah dan RasulNya – Khutbah Jumat (Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.) Menit ke – 11:35

Ummatal Islam.. 

Orang yang cerdas dan berakal serta dia beriman kepada Allah dan kehidupan akhirat memandang dunia hanyalah wasilah untuk mendapatkan pahala. Ia sadar bahwasannya dunia itu sesuatu yang fana dan hina. Ia sadar bahwa kelak akan meninggalkan dunia, maka ia tidak ingin menjadikan keinginan terbesarnya adalah dunia. Ia tidak ingin menjadikan dunia sebagai puncak keilmuan dan pengetahuannya. Oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a kepada Allah subhanahu wa ta’ala:

وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا ، وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا ، وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا ،

Dan jangan engkau jadikan musibah itu menimpa agama kami. Dan jangan Engkau jadikan dunia sebagai harapan kami dan puncak pengetahuan kami.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta kepada Allah jangan sampai harapan terbesar adalah dunia. Karena mukmin itu harapan terbesar adalah akhirat dan ridho Allah semata. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta kepada Allah jangan sampai puncak keilmuannya sebatas dunia. Banyak tahu tentang dunia tapi kurang tahu tentang hakikat kehidupan akhirat dan agamanya. Tentu ini sifat orang-orang yang dibenci oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Maka marilah kita menjadi hamba-hamba Allah, marilah kita menjadi anak-anak akhirat. Jangan sampai kita menjadi anak-anak dunia.

Dengarkan dan Download MP3 Nikmat Mengenal Allah – Khutbah Jumat (Ustadz Badrusalam, Lc.)

Jangan lupa untuk ikut membagikan link download khutbah Jum’at ini, kepada saudara Muslimin kita baik itu melalui Facebook, Twitter, atau Google+ Anda. Semoga Allah membalas kebaikan Anda.

Telegram Rodja Official

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.