Telegram Rodja Official

Panduan Amal Sehari Semalam

Kala Kesedihan Melanda Hati Bagian 2 – Panduan Amal Sehari Semalam (Ustadz Abu Ihsan Al-Atsary, M.A.)

By  | 

Notice: Undefined variable: PodpressSettings in /home/radiorod/public_html/wp-content/plugins/powerpress/powerpress.php on line 3565

Kala Kesedihan Melanda Hati Bagian 2 – Panduan Amal Sehari Semalam adalah ceramah agama Islam oleh: Ustadz Abu Ihsan Al-Atsary, M.A. Ceramah agama ini membahas buku “Panduan Amal Sehari Semalam” yang berisi amalan-amalan yang semestinya dilakukan oleh seorang muslim dalam kesehariannya.

Download juga kajian sebelumnya: Kala Kesedihan Melanda Hati Bagian 1 – Panduan Amal Sehari Semalam

Ringkasan Ceramah Agama: Kala Kesedihan Melanda Hati Bagian 2

Kesedihan adalah salah satu perkara yang mungkin akan dialami oleh setiap muslim. Begitulah kehidupan. Terkadang ada tawa, ada tangis, ada suka, ada kegembiraan dan kesedihan. Terkdang terjadi sesuatu yang tidak kita kehendaki, namun kita tidak bisa menolaknya. Terkadang juga, Allah memberikan ujian kepada kita. Pertama, hal itu adalah untuk menghapus dosa-dosa kita. Kedua, Allah memberi peluang bagi kita untuk bisa mengerti arti sebuah kesabaran karena pahalanya tanpa hisab. Ketiga, untuk menaikkan tingkatan dan derajat kita dengan ujian yang Allah berikan kepada kita. Maka hendaknya kita tidak terburu-buru untuk berburuk sangka atas takdir yang buruk yang menimpa kita.

Begitulah, takdir ada dua macam. Ada takdir yang baik, ada juga takdir yang buruk. Ada yang manis, ada pula yang pahit. Tapi tidak ada yang sia-sia. Apalagi bagi orang yang beriman yang semua perkara itu baik baginya. Mendapatkan musibah dia sabar, mendapatkan nikmat dia bersyukur.

Baca Juga:
Kedudukan Amalan Seorang Hamba - Kitab Aqidah As-Salaf Ashabul Hadits (Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan, M.A.)

Ada beberapa perkara yang disebutkan agar kita bisa melewati dan mengatasi kesedihan-kesedihan tersebut. Ada tiga poin yang telah kita bahas sebelumnya. Yaitu:

  • Pertama adalah kita berkhusnudzon kepada Allah bahwa Allah sedang memilih kita menjadi orang yang sabar.
  • Kedua, berharap pahala atas musibah yang menimpa. Bahwa dibalik muslibah ada pahala yang tersedia.
  • Ketiga, mengucapkan kalimat istirja’ dan membaca do’a-do’a musibah. Diantaranya adalah “إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ “.

Ucapan-ucpaan ini sangatlah penting untuk dibaca agar kita tidak kehilangan hubungan dengan Allah subhanahu wa ta’ala. Karena pada saat-saat seperti itu setan datang dan membisikkan was-was didalam hati kita. Membisikkan agar kita menggerutu, mengeluh, mengadukan Allah kepada makhluk, atau melakukan hal-hal yang sia-sia.

Ingat, hati itu lemah. Terlebih ketika kita tertimpa musibah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “apabila kamu tertimpa musibah, maka jangan katakan seandainya aku tidak melakukan ini tidak akan terjadi seperti ini“. Ucapan “seandainya” ini akan membuka pintu-pintu syaitan terhadap manusia. Mungkin dia akan keluar dari zona kesabaran, gelap mata, buruk sangka kepada Allah. Hal itu semua adalah awal petaka ketika seorang hamba sudah tidak percaya lagi kepada sifat-sifat agung dan mulia Allah, bahwa Allah subhanahu wa ta’ala penyayang, pengasih kepada hamba-hambaNya. Tidak mungkin Allah subhanahu wa ta’ala mendzalimi hamba-hambaNya. Karena pada dasarnya hamba itu yang mendzalimi dirinya sendiri apabila seorang hamba sudah kehilangan kepercayaan seperti ini.

Baca Juga:
Akibat Lisan Yang Tidak Dijaga Bagian 3

Poin yang selanjutnya agar seorang hamba dapat melewati dan mengatasi kesedihan tersebut adalah:

  • Keempat, Menjauhi ucapan-ucapan yang dimurkai oleh Allah. Perbuan dan ucapan yang dimurkai Allah itu misalnya dengan menampar-nampar pipi, mengoyak pakaian, meratap, meraung, mengeluh kepada manusia, merintih, mengumpat dan bahkan menyalahkan takdir, berkata Allah tidak adil, Allah kejam dan lain sebagainya. Itu semua adalah ucapan-ucapan yang dimurkai oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
  • Kelima[16:27] Mengadu kepada Allah dan jangan mengeluh kepada mahkluk. Mengeluh kepada makhluk itu adalah sesuatu yang hina dina. Kita mngeluhkan Allah yang Maha Penyayang, yang lebih sayang terhadap makhluk dari pada diri dan ibunya sendiri. Lantas mengapa kita mengeluh kepada makhluk terhadap musibah yang menimpa. Adakah manusia yang lebih sayang terhadap diri kita selain Allah subhanahu wa ta’ala? Lalu mengapa kita mengadu dan mengeluhkan Allah kepada makhluk?
    Dalam hal ini Nabi Ya’qub telah memberikan teladan yang baik bagi kita. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

    قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّـهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّـهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ ﴿٨٦﴾

    “Ya’qub menjawab: ‘Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya‘.” (QS. Yusuf [12]: 86)

  • Keenam, meringankan musibah dengan mengingat kematian dan mengingat wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam[20:27]

Simak penjelasan lengkapnya dan download MP3 ceramah agama: Kala Kesedihan Melanda Hati Bagian 2


Mari turut membagikan hasil rekaman ataupun link ceramah agama yang bermanfaat ini, melalui jejaring sosial Facebook, Twitter, dan Google+ yang Anda miliki, agar orang lain bisa turut mengambil manfaatnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.

Telegram Rodja Official

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.