Telegram Rodja Official

Tafsir Al-Quran

Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 83 (Ustadz Badrusalam, Lc.)

By  | 

Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 83 adalah kajian tafsir Al-Quran yang disampaikan oleh: Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan RodjaTV. 

Download juga kajian sebelumnya: “Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 80 – 83

Kajian Tafsir Al-Quran: Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 83

Dalam ayat ke 83 ini Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّـهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِّنكُمْ وَأَنتُم مُّعْرِضُونَ ﴿٨٣﴾

Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu beribadah kecuali kepada Allah, dan kepada kedua orang tuamu berbuat ihsanlah, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.” (Q.S Al-Baqarah [2]: 83)

Faidah Ayat

Syaikh Utsaimin rahimahullah berkata tentang faidah ayat ini. Yaitu:

Pertama, penjelasan tentang keagungan Allah. Dalam bahasa Indonesia, kata “kami” menunjukkan makna banyak. Namun bahasa Arab, kata “kami” tidak hanya untuk menunjukkan makna banyak. Kata “kami” ketika ditujukan kepada satu orang, maka artinya adalah pengagungan. Pun dalam ayat ini, kata “kami” adalah dalam rangka mengagungkan Allah.

Baca Juga:
Mengajarkan Ilmu kepada Budak Wanita dan Keluarganya

Kedua, bahwa tauhid adalah ajaran yang diajarkan oleh semua Rasul. Bahkan tauhid adalah hal pertama yang mereka dakwahkan. Dalam ayat ini disebutkan bahwa perjanjian pertama kali yang diambil dari Bani Israil adalah “Janganlah kamu beribadah kecuali kepada Allah“. Inilah hal terpenting dan pondasi segala amal. Tanpa tauhid, amal kita tidak akan diterima oleh Allah dan bahkan seseorang tidak mungkin beramal jika didalam hatinya tidak ada tauhid.

Maka dari itu Allah memulai dengan tauhid. Para Nabi dan Rasul memulai dakwah mereka dengan tauhid. Rasulullah ketika mengirim para sahabat sebagai da’i, yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan pertama kali adalah tauhid. Oleh karena itu setiap dakwah yang tidak memulai dari tauhid adalah dakwah yang tidak sesuai dengan dakwah para Nabi dan Rasul.

Ada dakwah yang fokus kepada akhlak. Padahal, kalau berbicara masalah akhlak semua sepakat. Ada juga yang berdakwah fokus kepada politik. Ada yang fokus dakwahnya hanya kepada khilafah. Semua Nabi dan Rasul mendakwahkan tauhid agar manusia meninggal diatas لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ.

Ketiga, ibadah hanya khusus untuk Allah. Selain Allah tidak berhak untuk diibadahi. Dan ini hak Allah yang paling besar. Siapa yang memalingkan ibadah kepada selain Allah, sungguh dia telah berbuah syirik yang besar. Orang yang tawakalnya kepada jimat, orang yang berdo’a kepada kuburan, orang yang menggantungkan pengharapannya kepada makhluk, ini semua orang-orang yang jatuh kepada syirik besar.

Baca Juga:
Syirik Perkara Yang Merusak Ubudiyah - Kitab Al-'Ubudiyah (Ustadz Abdullah Taslim, M.A.)

Keempat, wajibnya berbuat ihsan kepada orang tua. Syariat ini disepakati dan dianjurkan oleh seluruh para Nabi dan Rasul. Allah wajibkan itu karena nikmat dua orang tua kepada anak setelah nikmat Allah kepada dia. Allah yang menciptakan kita sedangkan orang tua sebagai sebab adanya kita. Orang tua yang memelihara kita. Maka nikmat orang tua adalah setelah nikmat Allah menciptakan kita.

Pada ayat ini tidak disebutkan bentuk dari berbuat ihsan itu. Allah mengatakan, “kepada kedua orang tuamu berbuat ihsanlah“. Hal ini dikarenakan agar masuk padanya semua makna ihsan. Allah juga tidak menentukan bahwa ihsan itu harus mengikuti kebiasaan bangsa tertentu. Dalam sebuah kaidah dikatakan bahwa “setiap dalil yang tidak ada batasannya dalam syariat, maka batasannya dikembalikan kepada adat istiadat selama tidak bertabrakan dengan syariat”. Maka semua yang sifatnya perbuatan ihsan kepada kedua orang tua menurut adat kita orang Indonesia selama tidak bertabrakan dengan syariat, maka hal itu diperbolehkan.

Bagaiaman Penjelasan Lengkapnya? Simak dan Download MP3 Kajian Tafsir Al-Quran: Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 83


Jangan lupa untuk ikut membagikan link download kajian ini ke Facebook, Twitter, dan Google+. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi orang lain.

 

Baca Juga:
Jika Suami Tidak Mencintai Istrinya

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: Rodja Official
Facebook Page: Radio Rodja 756 AM
Twitter: @radiorodja
Instagram: @radiorodja
Website: radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook Page: Rodja TV
Twitter: rodjatv
Instagram: rodjatv
Website: rodja.tv

Lihat Juga: Radio Streaming, Khutbah Jumat, Ceramah Agama, Ceramah Lucu, Khutbah Idul Adha, Kultum, Ceramah Singkat, Shalawat, Shalat JenazahRukun IslamRukun Iman, Ziarah Kubur, Shalat Berjamaah, Amar Ma’ruf Nahi Munkar, Belajar Bahasa Arab,

Telegram Rodja Official

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.