Sifat Kasar – Bab 221 – Hadits 475-477 – Kitab Al-Adab Al-Mufrad (Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A.)

By  |  pukul 10:44 am

Terakhir diperbaharui: Selasa, 18 Jumadil akhir 1439 / 06 Maret 2018 pukul 12:53 pm

Tautan: https://www.radiorodja.com/?p=30243

Sifat Kasar – Bab 221 merupakan bagian dari kajian kitab Adabul Mufrad yang disampaikan oleh: Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A. Kajian kitab Adabul Mufrad karya Imam Bukhari rahimahullah ini disampaikan secara live di Radio Rodja dan Rodja TV pada Senin malam, 03 Jumadil akhir 1439 / 19 Februari 2018 M, pukul 20:00-21:30 WIB.

Download juga kajian sebelumnya: “Berlemah Lembut – Bab 217 – Hadits 466 – Kitab Al-Adab Al-Mufrad (Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A.)

Program Kajian Kitab Adabul Mufrad - Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A. di Radio Rodja

Simak program ini di Radio Rodja dan Rodja TV setiap:

Senin malam, 20:00-21:30 WIB



Status program Kajian Kitab Adabul Mufrad: AKTIF

 

Kajian Sifat Kasar – Bab 221 – Kitab Al-Adab Al-Mufrad

Hadits 475

Abul Walid menceritakan kepada kami, ia berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami:

عَنِ الْمِقْدَامِ بْنِ شُرَيْح قَالَ: سَمِعْتُ أَبِي قَالَ: سَمِعْتُ عَائِشَةَ تَقُوْلُ: كُنْتُ عَلَى بَعِيْر فِيْهِ صُعُوْبَةٌ، فَجَعَلْتُ أَضْرِبُهُ، فَقَالَ النَّبِيُّﷺ: عَلَيْكِ بِالرِّفْقِ، فَإِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُوْن فِي شَيْ ءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَه

Baca Juga:  Kisah Sahabat Nabi dalam Berinfaq Bagian 1- Kitab Ahsanul Bayan (Ustadz Kurnaedi, Lc.)

“Dari al-Miqdam bin Syuraih, ia berkata: Aku mendengar ayahku berkata: Aku mendengar ‘Aisyah berkata,”Aku pernah berada di atas unta yang padanya ada satu kesulitan, sehingga aku mencambuknya. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Engkau harus berlemah lembut, karena tidaklah kelembahlembutan ada pada sesuatu melainkan itu akan mempereloknya, dan tidaklah kelemahlembutan dicabut dari sesuatu melainkan itu akan memburukkannya‘”

Dari hadits di atas, dapat kita lihat bagaimana rahmatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sampai kepada binatang. Kecintaan beliau kepada ‘Aisyah tidak diragukan. Tapi tatkala beliau melihat istrinya yang dia cintai melakukan tindakan yang tidak seharusnya dilakukan, cinta seorang suami akan mendorong dia untuk memperbaiki istrinya. Jadi kalau ada suami yang mengatakan cinta kepada istrinya kemudian membiarkan istrinya melakukan dosa, membiarkan istrinya melakukan hal-hal yang dimurkai oleh Allah dengan dalih cinta, maka bisa dipastikan bahwa suami itu berdusta. Bila seorang suami benar-benar mencintai istrinya, maka sejatinya dia akan melakukan segala sesuatu demi menyelamatkan istri dari api neraka.

Baca Juga:  Kajian Kitab Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah - Hadits 1347-1352 (Ustadz Badrusalam, Lc.)

Hadits 476

Shadaqah menceritakan kepada kami, Ibnu ‘Ulayyah mengabarkan kepada kami dari al-Jurairi:

Dari Abu Nadhrah: Seorang lelaki di antara kami yang sering dipanggil dengan Jabir atau Juwaibir, berkata, “Aku pernah memohon sesuatu kepada ‘Umar ketika ia menjadi khalifah. Lalu aku sampai di kota Madinah pada malam hari. lalu paginya aku menemuinya. Sementara aku telah dikaruniai kecerdasan dan ketajaman lisan atau ia berkat, ‘Cerdik berfikir.’ Lalu aku merenungi dunia. Aku pun memandangnya kecil, maka aku meninggalkannya, tidak setara apa pun. Di sampingnya ada seseorang yang berambut putih dan berbaju putih. Ia lalu berkata ketika aku telah selesai, ‘Semua ucapanmu satu sama lain berdekatan kecuali celaanmu pada dunia, apakah engkau tahu apa itu dunia?’ Sesungguhnya di dunia ini terdapat penyampaian kita-atau ia mengatakan, ‘Bekal kita ke akhirat,’-. Dan di sanalah amal-amal kita yang kita akan dibalas di akhirat.’ Ia berkata, ‘Lalu ada seseorang yang lebih tahu daripada aku yang merenungi duni.’ Lalu aku berkata, ‘Wahai Amirul Mukminin, siapa orang yang ada disampingmu itu?’ Ia menjawab, ‘Tuan kaum muslimin, Ubay bin Ka’b'”

Baca Juga:  Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 89 - 91 (Ustadz Badrusalam, Lc.)

Hadits di atas menggambarkan bahwa ketika seorang muslim mensikapi sesuatu hendaklah dia objektif. Tidak suka mencela dan mencaci. Bahwa urusan di dunia ini memang akan kita tinggalkan. Tapi ingat didunia inilah kita bekerja dan beramal untuk mendapatkan bekal dikehidupan akhirat.

Inilah Islam, Islam tidak mengajak untuk meninggalkan dunia. Seorang muslim diperintahkan untuk bekerja untuk akhiratnya. Oleh karena itu ketika dunia dicari dengan niat yang benar dengan menggunakan sarana-sarana yang syar’i disertai dengan penjagaan terhadap hak-hak yang ada merupakan sarana dan pintu untuk mendapatkan kebaikan dan pahala, bahkan ia merupakan kebanggaan dan kemuliaan.

Dengarkan penjelasan lengkapnya dan download MP3 kajian tentang Sifat Kasar – Bab 221 – Kitab Al-Adab Al-Mufrad


Jangan lupa untuk membagikan rekaman kajian ini ke saudara-saudara kita atau teman-teman kita baik itu melalui Facebook, Twitter, Google+, atau media yang lainnya agar kebaikan ini tidak berhenti begitu saja. Jazakumullahu khairan
[stumble]

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

0:00
0:00