Ciri-Ciri Ahlul Bid’ah

By  |  pukul 9:08 am

Terakhir diperbaharui: Rabu, 25 Dzulhijjah 1439 / 05 September 2018 pukul 12:33 pm

Tautan: https://rodja.id/1vt

Ciri-Ciri Ahlul Bid’ah yang disampaikan oleh: Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. dalam pembahasan Kitab “Al-Ishbah fi Bayani Manhajis Salaf fi Tarbiyah wal Ishlah” karya Syaikh Abdullah bin Shalih Al-‘Ubailan rahimahullah. Kajian ini disampaikan pada 8 Ramadhan 1439 H / 24 Mei 2018 M.

Download juga kajian sebelumnya: Jenis-Jenis Fitnah

Kajian Islam Tentang Ciri-Ciri Ahlul Bid’ah – Kitab Al-Ishbah

Diantara ciri yang paling tampak bagi ahlul bid’ah adalah mereka suka berpindah-pindah dan berubah-rubah warna seperti bunglon. Dan sedikit sekali mereka diberi taufik untuk bertaubat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَقَالَت طَّائِفَةٌ مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ آمِنُوا بِالَّذِي أُنزِلَ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَجْهَ النَّهَارِ وَاكْفُرُوا آخِرَهُ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ ﴿٧٢﴾

Segolongan (lain) dari Ahli Kitab berkata (kepada sesamanya): “Perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang mukmin) kembali (kepada kekafiran).” (QS. Ali-Imron[3]: 72)

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman:

هُوَ الَّذِي أَنزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُّحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّـهُ ۗ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ ﴿٧﴾

Baca Juga:  Konsekuensi dari Sahnya Akad - Kitab Zadul Mustaqni (Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, M.A.)

Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.” (QS. Ali-Imron[3]: 7)

Dalam ayat di atas dijelaskan bahwa orang-orang yang sesat dan menyimpang menggunakan ayat-ayat yang mutasyaabihaat untuk menyesatkan manusia. Mereka mencari-cari fitnah dan mencari-cari takwilnya. Padahal ayat-ayat mutasyaabihaat yang kita jumpai dalam Al-Qur’an hendaknya dikembalikan kepada ayat-ayat yang muhkamat. Tetapi mereka tidak mengembalikan ayat-ayat yang mutasyaabihat kepada ayat-ayat yang muhkamat.

Ketika ada orang yang membuat-buat dan mencari-cari fitnah untuk menyesatkan kaum muslimin dengan menggunakan ayat-ayat Allah subhanahu wa ta’ala maka mereka adalah orang-orang yang Allah sebutkan dalam ayat ini. Yaitu orang-orang yang didalam hatinya terdapat kesesatan. Dan kita diperintahkan untuk berhati-hati.

Baca Juga:  Bolehkah Menanyakan Dimanan Allah? - Kitab Al-Ibanah (Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan, M.A.)

Bid’ah Lebih Dicintai Iblis

Sesungghunya bid’ah lebih dicintai oleh iblis dari pada kemaksiatan. Karena pelaku bid’ah lebih susah untuk bertaubat. Orang yang melakukan bid’ah menganggap bahwa dirinya berada diatas kebenaran. Sedangkan orang yang melakukan perbuatan maksiat, mereka tahu sejak awal bahwa yang dia lakukan adalah salah dan mereka ingin melepaskan diri dari kesalahan. Sehingga dengan itu ada kemungkinan bagi pelaku kemaksiatan untuk bertaubat. Adapun bagi pelaku bid’ah yang menganggap bahwa dirinya berada diatas kebenaran. Pelaku bid’ah tidak tahu kalau dirinya melakukan kesalahan. Oleh karena itu mereka sulit untuk bertaubat kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Ahlul bid’ah yang menjadikan agama dengan sesuatu yang tidak Allah subhanahu wa ta’ala syariatkan. Mereka memandang perbuatan yang buruk tersebut dengan sesuatu yang baik. Mereka tidak akan bertaubat selama mereka memandang perbuatan buruknya adalah perbuatan yang baik. Karena awal dari taubat adalah pengetahuan bahwa perbuatan yang dia lakukan adalah buruk.

Baca Juga:  Bab Tawakal - Bagian ke-1 - Kitab Al-Qaulul Mufid (Ustadz Abu Haidar As-Sundawy)

Simak Kajian Lengkapnya dan Download MP3 Ceramah Agama Tentang Ciri-Ciri Ahlul Bid’ah – Kitab Al-Ishbah

Mari raih pahala dan kebaikan dengan membagikan tautan ceramah agama ini. Semoga Allah Ta’ala membalas kebaikan Anda dan bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi yang lain.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Facebook Page: Radio Rodja 756 AM
Twitter: @radiorodja
Instagram: @radiorodja
Website: radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook Page: Rodja TV
Twitter: rodjatv
Instagram: rodjatv
Website: rodja.tv

 

Hukum berdakwah dengan musik, Musik untuk berdakwah

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

0:00
0:00