Apakah Musibah dan Kesengsaraan Menghapuskan Dosa?

By  |  pukul 8:28 am

Terakhir diperbaharui: Sabtu, 15 Dzulqa'dah 1439 / 28 Juli 2018 pukul 8:30 am

Tautan: https://rodja.id/1yf

Pertanyaan tentang “Apakah Musibah dan Kesengsaraan Menghapuskan Dosa?” ini ditanyakan oleh pemirsa Rodja TV dan pendengar Radio Rodja 756AM pada

Pertanyaan:

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Apakah musibah dan ujian atau keadaan-keadaan yang tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan dari musibah dan penderitaan akan membawa penghapusan dosa terhadap diri kita dan hati ini?

Jazakallah khoir. 

Jawaban:

Betul. Musibah-musibah yang menimpa akan menjadi penghapus dari dosa-dosa yang kita lakukan. Bahkan seandainya musibah tersebut adalah musibah yang sangat ringan. Karena Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ ؛ وَلَا نَصَبٍ ؛ وَلَا هَمٍّ ؛ وَلَا حَزَنٍ ؛ وَلَا غَمٍّ ؛ وَلَا أَذًى – حَتَّى الشَّوْكَةُ يَشَاكُهَا – إلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

Baca Juga:  Berlemah Lembut - Bab 217 - Hadits 470 - Bagian 2 - Kitab Al-Adab Al-Mufrad (Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A.)

Tidaklah menimpa seorang mukmin berupa rasa sakit (yang terus menerus), rasa capek, kekhawatiran (pada pikiran), sedih (karena sesuatu yang hilang), kesusahan hati atau sesuatu yang menyakiti sampai pun duri yang menusuknya melainkan akan dihapuskan dosa-dosanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Juga ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguk orang sakit. Beliau selalu mengatakan:

طَهُورٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

ia (penyakit ini) menjadi pembersih (dosa) insya Allah.” (HR. Bukhari)

Ini adalah penhapus dosa, dengan izin Allah. Maka tentunya segala musibah yang menimpa kita akan menjadi penghapus dari dosa-dosa dan maksiat yang kita lakukan. Juga musibah ini mempunyai pengaruh yang besar ketika seseorang bersabar dalam menghadapi musibah tersebut. Seyogyanya bagi seorang muslim ketika mendapatkan musibah, bersabar dan mengharapkan pahala dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Dijawab oleh: Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr dan diterjemahkan oleh Ustadz Iqbal Gunawan, M.A.

Baca Juga:  Tanya-Jawab: Ramadhan: Niat puasa Ramadhan harus dengan lafadz atau dalam hati dan awal-akhir puasa Ramadhan ikut ulil amri atau organisasi tertentu?

Simak kajian lengkapnya di Kiat-Kiat Untuk Meraih Kabahagiaan Al Wasaail Mufiidah Lil Hayaatis Sa’iidah

 

Simak mp3 jawaban pertanyaan “Apakah Musibah dan Kesengsaraan Menghapuskan Dosa?”

Jangan lupa untuk turut menyebarkan link download kajian ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, google+, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahu fiikum

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Facebook Page: Radio Rodja 756 AM
Twitter: @radiorodja
Instagram: @radiorodja
Website: radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook Page: Rodja TV
Twitter: rodjatv
Instagram: rodjatv
Website: rodja.tv

Baca Juga:  Adat Kebiasaan Bisa Dijadikan Sandaran Hukum

 

 

2 Comments

  1. Abu nafiis

    Selasa, 25 Dzulqa'dah 1439 / 07 Agustus 2018 at 22:25

    Assalaamu ‘alaikum….!!!
    Afwan akhi,,kajian al jam’u baina ash shahihain oleh ust.badru belum di upload ya…?? Makasih!

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

0:00
0:00