Telegram Rodja Official

Al-Waabilush Shayyib

Al-Wabilush Shayyib: Keutamaan Berdzikir kepada Allah yang ke-36 – Bagian ke-1 (Ustadz Abdullah Taslim, M.A.)

By  |  pukul 8:10 am

Terakhir diperbaharui: Kamis, 12 Desember 2013 pukul 7:41 am

Tautan: https://www.radiorodja.com/?p=4142

Ceramah agama Islam oleh: Ustadz Abdullah Taslim, M.A.

Berikut, adalah rekaman dari siaran live pada Kamis pagi, 3 Muharram 1435 / 7 November 2013, pukul 07:00-08:00 WIB, alhamdulillah dapat melanjutkan pembahasan kitab Al-Wabilush Shayyib (الوابل الصيب), membahas poin baru, setelah selesai kita simak poin ke-35 dari Keutamaan Berdzikir kepada Allah, yaitu Keutamaan Berdzikir kepada Allah yang ke-36.

[sc:status-al-wabilush-shayyib-ustadz-abdullah-taslim-2013]

Ringkasan Kajian Kitab Ini: Al-Wabilush Shayyib

Keutamaan Berdzikir kepada Allah (ذكر الله وفوائده) yang ke-36 (السادسة والثلاثون) – Bagian ke-1

Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu Ta’ala berkata:

أن الذكر نور للذاكر في الدنيا ونور له في قبره ونور له في معاده يسعى بين يديه على
الصراط

Bahwasanya berdzikir kepada Allah memberikan cahaya bagi orang yang melakukan dzikir tersebut, yaitu akan menjadi cahaya baginya di dunia, kuburnya, dan akhirat nanti, yaitu ketika cahaya itu menerangi di hadapannya sewaktu dia melintasi ash-shirat, jembatan yang diletakkan di permukaan neraka Jahannam (untuk menerangi langkahnya menuju ke surga). Ini keutamaan dzikir yang sangat besar menyangkut fungsinya sebagai cahaya yang menerangi langkah manusia di dunia maupun di akhirat nanti.

Baca Juga:
Hak Ilmu - Bagian ke-2 - Tabshiratul Anam (Ustadz Kurnaedi, Lc.)

فما استنارت القلوب والقبور بمثل ذكر الله تعالى

Maka hati manusia tidak akan mendapatkan cahaya penerangan / sinar, juga kuburan manusia tidak akan mendapatkan cahaya, seperti cahaya yang dihasilkan dengan berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jadi, dia tidak mendapatkan sinar seperti sinar/cahaya yang didapatkannya ketika berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini merupakan keutamaan dzikir yang sangat besar, menjadi penerang bagi manusia yang tentu cahaya ini sangat dibutuhkan di dunia, untuk menerangi hatinya agar dia bisa menyinari kegelapan yang akan membinasakan dirinya, memudahkan dia untuk membedakan mana yang benar dan yang salah, menerangi langkahnya di tengah syubuhat dan syahwat, yang Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan berdzikir kepadaNya untuk menerangi semua ini; kemudian di kuburannya nanti, kuburan yang gelap, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan penyinarnya adalah dengan berdzikir, yaitu dzikir yang dipahami dan diamalkan dengan benar; kemudian di akhirat nanti ketika manusia melewati tahapan-tahapan peristiwa dahsyat pada hari kiamat, maka dzikir yang menemaninya dan meneranginya dalam kegelapan-kegelapan tersebut. Inilah keutamaan berdzikir kepada Allah.

Allah Ta’ala berfirman:

أَوَ مَن كَانَ مَيْتاً فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُوراً يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَن مَّثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِّنْهَا … (١٢٢)

“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? …” (Q.S. Al-An’am [6]: 122)

Baca Juga:
Sirah Nabawiyah - Bagian ke-3 (Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.)

Simak lebih lanjut dengan mendengarkan kajian kitab ini secara langsung atau download rekamannya.

Download Ceramah Kajian Kitab Al-Wabilush Shayyib: Keutamaan Berdzikir kepada Allah, Poin ke-36, Bagian ke-1

Mari kita bagi-bagikan ke saudara-saudara kita di Facebook, Twitter, dan Google+. Jazakumullahu khoiron.

1 Comment

    Leave a Reply

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    32 ÷ 16 =

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.