Telegram Rodja Official

Kajian Keluarga

Fiqih Pendidikan Anak (ke-18): Rumah adalah Sekolah Istimewa untuk Anak (Ustadz Abdullah Zaen, M.A.)

By  | 

Ceramah agama islam oleh: Ustadz Abdullah Zaen, M.A.

Kajian Fiqih Pendidikan Anak, melanjutkan pertemuan sebelumnya, alhamdulillah pada Senin pagi, 21 Muharram 1435 / 25 November 2013, pukul 10:00-11:00 WIB dapat melanjutkan kepada Silsilah Fiqih Pendidikan Anak ke-18 tentang Rumah adalah Sekolah Istimewa untuk Anak. Silakan download rekaman kajiannya.

NB: Terjadi gangguan teknis, rekaman kajian sedikit terputus beberapa detik karena koneksi teleconference terputus, yaitu pada menit ke-30 (30:29).

[sc:status-kajian-keluarga-ustadz-abdullah-zaen-2013]

Ringkasan Ceramah Agama Islam: Fiqih Pendidikan Anak ke-18

Rumah adalah Sekolah Istimewa untuk Anak

Pada kesempatan yang berbahagia kali ini, kita akan melanjutkan pembahasan tentang Silsilah Fiqih Pendidikan Anak, yang saat ini memasuki silsilah ke-18, yaitu mengangkat sebuah tema yang insyaAllah bermanfaat bagi kita semua. Tema tersebut berjudul “Rumah adalah Sekolah Istimewa untuk Anak“.

Kenakalan remaja di zaman kita ini, bukan saja sudah sangat mengkhawatirkan, tapi kenakalan remaja di zaman kita ini sudah luar biasa mengerikan. Mulai dari pergaulan bebas, pemakaian obat-obatan terlarang, tawuran / perkelahian, bahkan hingga taraf pembunuhan pun sekarang bisa dilakukan oleh anak yang masih duduk di bangku sekolah.

Ini tentunya sesuatu yang membuat hati setiap mukmin merasa miris, merasa takut, “Jangan-jangan anak kita terjerumus kepada kenakalan tersebut,” ini bagi orang tua yang anaknya “masih selamat”. Sedangkan orang tua yang anaknya sudah terlanjur terjerumus pada kenakalan, sering kali di dalam kesehariannya, dia hanya bisa meratap, mencela, mencaci, memaki, dan dia berusaha melemparkan kesalahan itu kepada orang lain, bukan kepada dirinya sendiri. Sering kali, orang tua yang anaknya nakal yang mereka tuduh adalah pihak sekolah, “Ini guru di sekolah ngapain aja sih, kok anak saya jadi nakal seperti ini?” “Sebenarnya kamu di sekolah diajari apa, nak, kok kamu bisa seperti ini?” Pihak yang dijadikan kambing hitam oleh orang tua, biasanya pertama adalah sekolah, “Di sekolah belajar apa saja,” “Guru ngapain saja,” “kok anak saya seperti ini?”

Baca Juga:
Memahami Makna Belajar

Atau sebagian orang tua, tidak menyalakan sekolah, tapi menyalahkan teman-teman (sang anak). “Wah gara-gara temannya nggak baik-baik, gara-gara teman-temannya nakal, akhirnya anak saya jadi ketularan nakal.”

Inilah dua alasan yang biasanya sering dilontarkan oleh banyak orang, mana kala anaknya menjadi anak yang nakal. Apakah benar alasan tersebut? Apakah yang dijadikan kambing hitam itu selalu orang lain? Kenapa kita tidak introspeksi di dalam diri kita pribadi?

Jangan pernah menyalahkan kegelapan, tapi sudah berapa lilin yang kita nyalakan untuk mengatasi kegelapan tersebut.. Jangan kita hanya setiap hari meratap tentang kenakalan anak kita. Sudah berapa cara dan solusi untuk mengatasi kenakalan tersebut?

Kalau misal, alasannya adalah sekolah yang salah, bukan orang tuanya, maka kita tanya kepada orang tua tersebut, “Anak itu lebih lama di sekolah, atau lebih lama di rumah?”

Simak penjelasan Ustadz Abdullah Zaen, M.A., dengan mendengarkan rekaman langsung atau download MP3 kajiannya.

Download Fiqih Pendidikan Anak: Rumah adalah Sekolah Istimewa untuk Anak

Silakan didownload MP3 kajiannya. Mari bagi-bagikan rekaman kajian ini ke saudara-saudara kita.

Telegram Rodja Official

8 Comments

  1. ummu sarroh

    Minggu, 06 September 2015 at 5:59 AM

    Boleh tolong diberikan penjelasan poin ke lima dari kriteria rumah Islami (karena poin ke lima sepertinya disebutkan pas di bagian yang terputus di dalam rekaman karena ada gangguan)

    • Radio Rodja

      Jumat, 09 Oktober 2015 at 8:46 AM

      Mohon maaf, untuk poin tersebut belum ada link downloadnya. Syukran

  2. mamacharel

    Rabu, 17 September 2014 at 12:25 PM

    Assalammualaikum wr wb
    Ustadz, saya mau bertanya. Bagaimana dengan hukum seorang Ibu yang bekerja di luar rumah. Setiap hari anak dititipkan kepada PRT, sementara si Ibu ini harus bekerja dari Senin sd Jumat, berangkat pagi dan pulang malam.

    Mohon arahannya Ustadz.

    • Radio Rodja

      Kamis, 18 September 2014 at 2:37 PM

      Wa’alaikumussalam warohmatullah wabarokatuh. Mohon maaf, untuk sementara ini, pertanyaan hanya bisa disampaikan pada saat sesi akhir dari tiap kajian / ceramah live di Radio Rodja dan RodjaTV, yaitu pada sesi interaktif / tanya-jawab. Pertanyaan bisa disampaikan via SMS maupun telepon.

      Silakan simak program kami di Radio Rodja 756 AM atau RodjaTV, pada saat sesi tanya-jawab, Anda dapat menyampaikan pertanyaan melalui: SMS: 08131 777 6543 Telp: 021 823 6543

      Sekali lagi, mohon maaf, pertanyaan seputar syari’at belum bisa disampaikan ke media sosial, email, atau lainnya, selain jalur yang ditentukan di atas tadi. Barokallahu fikum.

  3. zainuri

    Jumat, 10 Januari 2014 at 10:00 AM

    mohon di sharekan kajian yang lain (1-12) dan setelah 19. jazakumulloh.

  4. Ummu Muhammad

    Rabu, 27 November 2013 at 3:44 AM

    Mencarikan lingkungan sekolah yang baik, lingkungan bermain yang baik juga kewajiban orang tua,mencari nafkah juga kewajiban orang tua, membuat sekolah yang baik juga kewajiban orang tua. Sekolah bukan hanya tanggung jawab kepala sekolah, sebagaimana pasangan suami istri harus saling mendukung dan bekerjasama dalam mendidik anak2.

  5. Ummu Muhammad

    Rabu, 27 November 2013 at 3:35 AM

    Orang tua juga membutuhkan pendidikan, dan bekerjasama menutupi kekurangan guru di hadapan anak2. Karena kalau tidak, anak akan menjadi pembangkang, kalo sudah begini, siapa yang rugi?…

  6. Ummu Hanif

    Selasa, 26 November 2013 at 8:08 PM

    Saya tdk menyalahkan siapapun ustadz, dengan segala kekurangan pada keluarga saya, tapi sebaliknya sebagai orang tua juga sering mendapatkan teguran dengan kekurangan2 kami, orang tua dan sekolah seharusnya kompak dan bekerja sama dengan saling menghargai, karena masing2 mendapatkan pahala sesuai keikhlasannya masing2, baik mendidik anak sendiri maupun anak orang lain.Wawlohualam.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.