Mukadimah dan Kitab Al-Iman – Al-Jam’u Baina As-Sahihain

By  |  pukul 9:32 am

Terakhir diperbaharui: Rabu, 26 Dzulqa'dah 1439 / 08 Agustus 2018 pukul 10:16 am

Tautan: https://rodja.id/1z7

Mukadimah dan Kitab Al-Iman – Al-Jam’u Baina As-Sahihain adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan الجمع بين صحيحين (Al-Jam’u Baina As-Sahihain), sebuah kitab yang berisi Kumpulan shahih Bukhari dan Muslim karya Syaikh Yahya bin Abdul Aziz Al-Yahya. Pembahasan ini disampaikan oleh: Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. pada 17 Syawwal 1439 H / 01 Juli 2018 M.

Mukadimah dan Kitab Al-Iman – Al-Jam’u Baina As-Sahihain

Kitab yang paling shahih setelah Al-Qur’an adalah kitab shahih Bukhari dan Muslim. Perhatian para ulama kepada kitab ini sangat besar sekali. Hal ini karena dua kitab ini adalah kitab yang disepakati oleh seluruh ulama Islam akan keshahihan dan keagungannya. Maka dari itu kita lebih layah mempelajari kitab Bukhari dan Muslim ini. Demikian pula wasiat para ulama untuk betul-betul mengkaji dua kitab ini.

Baca Juga:  Urgensi Dzikir dan Syukur - Kitab Fawaidul Fawaid (Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.)

Kitab shahih Bukhari dan Muslim adalah merupakan kitab rujukan seluruh umat Islam. Kemudian Syaikh Yahya bin Abdul Aziz Al-Yahya berinisiatif untuk mengumpulkan shahih Bukhari dan Muslim. Dalam kitab beliau yang berjudul Al-Jam’u Baina As-Sahihain (Kumpulan shahih Bukhari dan Muslim). Beliau membagi kitab menjadi tiga. Bagian pertama adalah hadits yang disepakati oleh Bukhari dan Muslim. Bagian kedua adalah hadits yang bersendirian padanya Imam Bukhari tanpa Imam Muslim. Bagian yang ketiga yaitu hadits-hadits yang bersendirian padanya Imam Muslim tanpa Imam Bukhari.

Kitab Al-Iman

Iman secara bahasa yaitu pembenaran dan penetapan. Diantara dalil yang menunjukkan kepada makna adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya.

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Amalan apa yang paling afdhol?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Ada yang bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jihad di jalan Allah.” Ada yang bertanya kembali, “Kemudian apa lagi?” “Haji mabrur”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Ibnu Hibban)

Baca Juga:  Tabligh Akbar: Mencintai Wali-Wali Allah (Syaikh Prof. Dr. 'Abdur Razzaq Al-Badr)

Ibnu Hajar menjelaskan bahwa makna iman pada hadits di atas adalah keyakinan kepada iman yang berupa pembenaran. Pengertian iman secara istilah dikenal oleh para ulama dengan “lima nun”.

  1. اليقين بالجنا ن

    Al-Yaqinu bil jinan
    (Diyakini dalam hati)

  2. القول باللسا ن

    Alqoulu bil lisan
    (Diucapkan dengan lisan)

  3. العمل بالأركا ن

    Al’Amalu bil arkan
    (Dilakukan dengan perbuatan)

  4. يزيد بطاعة الرحما ن

    Yazidu bito’atir rohman
    (Iman bertambah karena taat kepada ar-Rahman)

  5. ينقص بالعصيا ن

    Yanqusu bil ishyan
    (Iman berkurang karena kemaksiatan)

Keyakinan dengan hati namun tidak mau mengucapkan dengan lisan, maka Islamnya tidak diterima. Ada orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat tapi hatinya tidak beriman, maka imannya tidak diterima. Ada yang meyakini bahwa Islam benar, dia mengucapkan dua kalimat syahadat, tapi tidak mau beramal, tentu imannya juga tidak diterima. Maka dari itu, tiga perkara itu harus ada pada keimanan seseorang.

Simak Penjelasan Lengkapnya dan Download MP3 Kajian Mukadimah dan Kitab Al-Iman – Al-Jam’u Baina As-Sahihain



Jangan lupa untuk turut membagikan link download kajian ini ke akun media sosial yang Anda miliki, baik Facebook, Twitter, Google+, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahufiikum

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.