Perbedaan Akal dengan Fikiran

By  |  pukul 3:20 pm

Terakhir diperbaharui: Selasa, 08 Muharram 1440 / 18 September 2018 pukul 8:09 am

Tautan: https://rodja.id/1za

Perbedaan Akal dengan Fikiran merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh: Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. dalam pembahasan Kitab Raudhatul Uqala wa Nuzhatul Fudhala (tamannya orang-orang yang berakal dan tamasyanya orang-orang yang mempunyai keutamaan) karya Abu Hatim Muhammad ibnu Hibban al Busty rahimahullah. Kajian ini disampaikan pada 19 Dzul Qa’idah 1439 H / 01 Agustus 2018 M

Download mp3 kajian sebelumnya: Mukaddimah Kitab Raudhatul Uqala wa Nuzhatul Fudhala

Kajian Tentang Perbedaan Akal dengan Fikiran – Kitab Raudhatul Uqala wa Nuzhatul Fudhala

Pada pertemuan yang pertama kita sudah membahas tentang keutamaan akal. Dan bahwasannya akal itu adalah sesuatu yang Allah berikan kepada kita untuk berfikir dan mencermati dengan seksama. Dimana tujuan dari pada akal adalah:

  • untuk mencerna segala sesuatu
  • untuk membedakan mana yang baik dan yang buruk
  • untuk mencegah kita dari perbuatan-perbuatan yang sifatnya buruk.

Maka akal dengan kecerdasan memiliki sisi persamaan dan sisi perbedaan. Kecerdasan adalah sesuatu yang lebih dari akal. Orang yang cerdas belum tentu menggunakan akalnya. Banyak orang yang cerdas namun dia tenggelam kedalam hawa nafsu. Banyak orang yang pintar, tapi ternyata ia tertipu oleh kepintarannya.

Baca Juga:  Mentaati Suami dan Keharaman Mendurhakainya

Seseorang disebut orang yang berakal jika dia menggunakan akal fikirannya dengan benar. Dan akal harus diberikan makan berupa ilmu yang bermanfaat. Yaitu Al-Qur’an dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Disaat ilmu dan akal dipadukan, maka ini merupakan sesuatu yang sangat bermanfaat sekali.

Siapa yang akalnya bagus namun wajahnya jelek, maka keutamaan yang dimiliki oleh dia berupa akal yang bagus yang melahirkan amal perbuatan yang indah akan menghilangkan keburukan wajahnya. Orang yang wajahnya jelek namun akhlaknya bagus, ucapannya santun dan dia betul-betul bersikap dengan sikap yang luar biasa, maka orang lain akan memuliakan dia. Sebaliknya, orang yang tampan namun dia tidak menggunakan akal fikirannya dan bahkan akal fikirannya dia letakkan pada kemaluannya, lisannya penuh dengan cacian, tentu orang lain akan menjelekkan dan memburukkannya.

Oleh karena itu saudara-saudaraku sekalian, penting sekali agar kita menggunakan akal fikiran kita didalam kehidupan ini. Diantara sifat orang yang berakal adalah bahwa dia tidak akan galau jika dia ditimpa kesusahan berupa harta. Karena orang yang berakal itu diharapkan padanya kekayaan yang berupa kekayaan hati. Dimana kita mengetahui bahwa kekayaan hati merupakan segala-galanya. Orang yang berakal berfikir dengan lurus dan benar. Dan orang yang akalnya paling lurus adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Baca Juga:  Sifat Kasar - Bab 221 - Hadits 475-477 - Kitab Al-Adab Al-Mufrad (Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A.)

عَنْ مَحْمُودِ بْنِ لَبِيدٍ أَنَّ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: اثْنَتَانِ يَكْرَهُهُمَا ابْنُ آدَمَ الْمَوْتُ وَالْمَوْتُ خَيْرٌ لِلْمُؤْمِنِ مِنَ الْفِتْنَةِ وَيَكْرَهُ قِلَّةَ الْمَالِ وَقِلَّةُ الْمَالِ أَقُلُّ لِلْحِسَابِ.

Dari Mahmud bin Labid bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dua perkara yang dibenci anak Adam, (pertama) kematian, padahal kematian itu lebih baik bagi seorang mukmin daripada fitnah (kesesatan di dalam agama). (Kedua) dia membenci sedikit harta, padahal sedikit harta itu lebih menyedikitkan hisab (perhitungan amal)“. (HR. Ahmad, dan lain-lain, dishahihkan oleh al-Albâni di dalam ash-Shahîhah, no. 813)

Lihatlah ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tentunya berasal dari wahyu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membimbing kita. Ketika kita dihadapkan kepada dua pilihan antara meninggal dunia dengan terfitnahnya agama kita, tentu meninggal lebih baik dari pada rusaknya agama kita. Rusaknya agama kita, merugikan dunia dan akhirat kita. Kefakiran adalah sesuatu yang sepertinya menghinakan. Tapi padahal hakikatnya kefakiran lebih ringan untuk hisab kita.

Baca Juga:  Qanaah, Kekayaan yang Tak Akan Sirna - Aktualisasi Akhlak Muslim (Ustadz Abu Ihsan Al-Atsary, M.A.)

Simak Penjelasan Lengkap dan Download Kajian Tentang Perbedaan Akal dengan Fikiran – Kitab Raudhatul Uqala wa Nuzhatul Fudhala


Mari raih pahala dan kebaikan dengan membagikan tautan ceramah agama ini ke Jejaring Sosial yang Anda miliki seperti Facebook, Twitter, Google+ dan yang lainnya. Semoga Allah Ta’ala membalas kebaikan Anda.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: Rodja Official
Facebook Page: Radio Rodja 756 AM
Twitter: @radiorodja
Instagram: @radiorodja
Website: radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook Page: Rodja TV
Twitter: rodjatv
Instagram: rodjatv
Website: rodja.tv

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.