Jika Suami Tidak Mencintai Istrinya

By  |  pukul 3:42 pm

Terakhir diperbaharui: Selasa, 08 Muharram 1440 / 18 September 2018 pukul 3:42 pm

Tautan: https://rodja.id/210

Jika Suami Tidak Mencintai Istrinya adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan “تنبيهات على أحكام تختص بالمؤمنات”(Tuntunan Praktis Fiqih Wanita), sebuah kitab buah karya Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafidzahullah. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. pada 26 Dzul Qa’idah 1439 H / 08 Agustus 2018 M.

Download kajian sebelumnya: Seorang Istri Harus Meminta Izin Suami

Kajian Tentang Jika Suami Tidak Mencintai Istrinya – Tuntunan Praktis Fiqih Wanita

Bagaimana jika istri mengetahui bahwa suaminya tidak menyukainya? Maksudnya adalah apabila terjadi pernikahan, sang istri tahu bahwa suaminya menikah dengannya tetapi tidak terlalu suka dengannya. Karena kalau seandainya suaminya tidak suka atau tidak rela, pada saat itu dia diancam dengan neraka. Maka pada saat itu dia harus memperjuangkan bagaimana bisa mendapatkan cinta dan kerelaan dari suami. Kalau suaminya tidak rela dan menganggap istrinya tidak taat kepada suaminya lalu sang suami tidak senang dengan istrinya, maka dikhawatirkan istri berdosa akan hal ini.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَإِنِ امْرَأَةٌ خَافَتْ مِن بَعْلِهَا نُشُوزًا أَوْ إِعْرَاضًا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَن يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا ۚ وَالصُّلْحُ خَيْرٌ ۗ وَأُحْضِرَتِ الْأَنفُسُ الشُّحَّ ۚ وَإِن تُحْسِنُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّـهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا ﴿١٢٨﴾

Baca Juga:  Perbaikan dalam Rumah Tangga: Memilih Istri yang Shalihah - 31 Agustus 2013 (Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.)

Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. Dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Nisa'[4]: 128)

Imam Ibnu Katsir rahimahullahu ta’ala menafsiri ayat ini, Allah subhanahu wa ta’ala memberitahukan dan mensyariatkan tentang keadaan suami istri. Terkadang ada keadaan suami membenci istrinya. Terkadang suami dan istri saling menyayangi. Terkadang suami mencerai istrinya. Keadaan yang pertama, seorang istri khawatir seorang suami menjauh darinya atau berpaling darinya. Maka sang istri boleh menggugurkan haknya atau sebagiannya. Baik berupa nafkah atau pakaian atau giliran tempat tidur atau hal yang lain dari hak-hak atasnya. Dan sang suami hendaknya berhak untuk menerima hal tersebut darinya. Maka tidak ada dosa atasnya didalam pengorbanannya tersebut untuk suaminya. Dan tidak ada dosa juga atasnya jika sang suami menerima hal itu darinya.

Baca Juga:  Apa itu Syirik?

Jadi berdasarkan ayat ini, apabila seorang suami sudah tidak ada keinginan dengan istrinya, sudah tidak merasa nyaman dengan istrinya, maka pada asalnya sang suami berhak untuk menceraikan istrinya. Tetapi jika sang istri mengetahui bahwa sang suami sudah mulai tidak suka kepadanya, maka pada saat itu sang istri boleh meminta kepada suami untuk jangan sampai dia diceraikan tetapi dia mau menggugurkan beberapa hak yang saya miliki. Contohnya adalah Saudah binti Zam’ah, salah satu istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika melihat Saudah binti Zam’ah terlalu tua, maka kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin menceraikan Saudah binti Zam’ah. Lalu Saudah ingin tetap menjadi istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Saudah binti Zam’ah melakukan perdamaian. Cara perdamainnya dengan menggugurkan hak-hak yang dimiliki oleh Saudah. Misalnya dengan tidak digilir oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  dan beliau membiarkan hari gilirannya diberikan kepada Aisyah radhiyallahu anha. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima itu dan membiarkan Saudah tetap menjadi istrinya.

Abdullah bin Abbas berkata tentang ayat ini. Bahwa apa saja yang dijadikan sebagai cara untuk berdamai diatas sesuatu apapun, maka hal ini diperbolehkan. Jadi tidak mesti istri menggugurkan haknya dari digilir atau nafkah. Tetapi apa saja yang bisa membuat suami rela selama tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan hadits Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Inilah solusi jika seorang suami sudah tidak mempunyai hasrat terhadap istrinya. Tetapi jangan sampai hal ini membuat istri merasa terdzalimi. Karena kedzaliman tidak diperbolehkan.

Baca Juga:  Di Balik Keramat Wali Allah - Bagian ke-2 (Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc.)

Simak Penjelasan Lengkap dan Download mp3 Kajian Tentang Jika Suami Tidak Mencintai Istrinya – Tuntunan Praktis Fiqih Wanita

Mari turut membagikan hasil rekaman ataupun link ceramah agama ini melalui jejaring sosial Facebook, TwitterGoogle+ dan yang lainnya agar orang lain bisa turut mengambil manfaatnya. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala membalas kebaikan Anda.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: Rodja Official
Facebook Page: Radio Rodja 756 AM
Twitter: @radiorodja
Instagram: @radiorodja
Website: radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook Page: Rodja TV
Twitter: rodjatv
Instagram: rodjatv
Website: rodja.tv

Telegram Rodja Official

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.