Telegram Rodja Official

Apa itu Syirik?

By  |  pukul 8:08 am

Terakhir diperbaharui: Jumat, 29 Rabiul awwal 1440 / 07 Desember 2018 pukul 2:03 pm

Tautan: https://rodja.id/258

Apa itu Syirik? Ini merupakan rekaman ceramah agama dan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh: Ustadz Abu Haidar As-Sundawy dalam pembahasan Kitab Al-Irsyad Ila Shahihil I’tiqad karya Syaikh Shalih Fauzan hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada 24 Shafar 1440 H / 02 November 2018 M.

Status Program Kajian Kitab Al-Irsyad Ila Shahihil I'tiqad

Status program kajian Kitab Al-Irsyad Ila Shahihil I'tiqad: AKTIF. Mari simak program kajian ilmiah ini di Radio Rodja 756AM dan Rodja TV setiap Jum'at, pukul 16:30 - 18:00 WIB.

Download mp3 kajian sebelumnya: Metode Al-Qur’an Dalam Mendakwahkan Tauhid Uluhiyah

Kajian Tentang Apa itu Syirik? – Kitab Al-Irsyad Ila Shahihil I’tiqad

Pada asalnya tidak terdapat syirik. Semua manusia berada diatas tauhid, diatas fitrah. Lalu perbuatan syirik muncul terkemudian. Jadi perbuatan syirik adalah perbuatan yang baru. Adapun hal yang pokok, yang asal bagi manusia adalah tauhid. Salah satu penyebabnya adalah karena kebodohan, karena ketidaktahuan, karena kurangnya ilmu. Oleh karena itu setelah seorang muslim mengenal kebenaran, mengetahui tauhid, yang terutama tauhid uluhiyah, maka setiap muslim wajib megenal, memahami, mengetahui musuh dari tauhid. Yaitu syirik. Hal ini agar seorang muslim bisa menjauhinya. Bukan untuk diyakini, diamalkan atau dipraktekkan. Kalau tidak faham, bisa jadi diamalkan tanpa disadari.

Seorang penyair menyatakan, “Aku mengenal keburukan bukan untuk mengamalkan keburukan itu, tapi untuk menjaga diri dari hal itu.”

عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَان رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ : كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُوْنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْخَيْرِ وَ كُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي

Dari Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyalahu ‘anhu beliau berkata : “Dahulu manusia bertanya kepada Rasulullah tentang hal-hal yang baik tapi aku bertanya kepada beliau tentang hal-hal yang buruk agar jangan sampai menimpaku” (HR. Bukhari & Muslim)

Berkata Amirul Mukminin, ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, “Hampir-hampir ikatan Islam ini terputus seutas demi seutas apabila sudah banyak menyebar ditengah-tengah kaum muslimin orang-orang yang tidak mengenal nilai-nilai jahiliyah.” Kaum muslimin tidak lagi mengenal kemungkaran. Akhirnya tanpa disadari mereka terjerumus kedalam keburukan itu karena kebodohan.

Jauh-jauh hari sebelum itu, Nabi Ibrahim yang disebut bapaknya para Nabi, ahli tauhid dan pemberantas kesyirikan. Tapi kekhawatiran beliau tentang kesyirikan amat sangat kuat. Beliau khawatir dirinya dan juga anak keturunannya terjerumus kedalam perbuatan syirik. Maka beliau berdo’a:

…رَبِّ اجْعَلْ هَـٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الْأَصْنَامَ ﴿٣٥﴾ رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِّنَ النَّاسِ ۖ فَمَن تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي ۖ وَمَنْ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ ﴿٣٦﴾

“…Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala. Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ibrahim[14]: 36)

Berdasarkan hal itulah, wajib bagi setiap muslim merasa takut yang luar biasa terhadap perbuatan syirik. Takut terjerumus tanpa disadari karena kekurangan ilmu. Baik syirik besar maupun syirik kecil dan wajib juga mengetahui perbuatan-perbuatan syirik untuk dijauhi dalam kehidupan kita.

Baca Juga:  Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah: Hadits 1082-1086 - TPP: Sifat Telaga Haudh Nabi, Sifat Kasih Sayang dan Tolong Menolong di Antara Kaum Mukminin, dan Seterusnya (Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.)

Apa itu Syirik?

Syirik adalah menujukan perbuatan-perbuatan ibadah kepada selain Allah seperti berdo’a. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ

”Doa adalah ibadah.” (HR. Tirmidzi)

Ibadah kepada siapa do’a itu ditujukan. Jika kita berdo’a kepada Allah, berarti kita sedang beribadah kepada Allah dengan cara berdo’a. Maka apabila seseorang berdo’a kepada malaikat, berarti dia beribadah kepada malaikat. Jika seseorang berdo’a kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sudah meninggal, maka berarti dia beribadah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kalau seseorang berdo’anya kepada ruh-ruh orang yang sudah mati, orang-orang yang sudah mati itu diyakini shalihnya, berarti beribadah kepada mereka. Dan ini terlarang. Ini syirik. Tidak boleh. Karena ibadah hanya boleh ditujukan kepada Allah azza wa jalla. Maka jangan sekali-kali berdo’a kepada selain Allah.

Contoh lain adalah menyembelih. Menyembelih adalah ibadah. Tidak boleh ditujukan kecuali kepada Allah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّـهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴿١٦٢﴾ لَا شَرِيكَ لَهُ ۖ…

Katakanlah: sesungguhnya shalatku, sesembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya;” (QS. Al-An’am[6]: 162)

Kalau kita shalat, ruku, sujud kepada selain Allah berarti kita melakukan kesyirikan. Demikian juga menyembelih bukan untuk Allah, itu juga syirik.

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ ﴿٢﴾

Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu; dan berkorbanlah.” (QS. Al-Kautsar[108]: 2)

Allah menyandingkan shalat dengan menyembelih. Menunjukkan bahwa menyembelih adalah salah satu jenis ibadah yang tidak boleh ditujukan kecuali kepada Allah azza wa jalla. Demikian juga nadzar, istighatsah kepada selain Allah dalam perkara-perkara yang hanya Allah yang mampu. Makna istighatsah adalah meminta bantuan, meminta pertolongan agar dilepaskan dan dijaga dari hal-hal yang mudarat. Sedangkan istianah adalah meminta bantuan untuk meraih hal-hal yang manfaat.

Kalau seseorang berdo’a, “Ya Allah, limpahkan kepada saya rezeki yang halal dan barokah.” Ini adalah istianah. Kalau seseorang berdo’a, “Ya Allah, lepaskanlah kami dari penderitaan ini.” Ini adalah istighastah. Istianah ataupun istighatsah tidak boleh ditujukan kecuali kepada Allah dalam perkara-perkara yang hanya Allah yang mampu melakukan apa yang kita minta. Contoh yang lain, “Ya Allah, hindarkan kami dari bencana alam.” Do’a ini harus ditujukan kepada Allah. Karena manusia tidak ada yang bisa. Adapun istighatsah kepada manusia dalam perkara yang manusia itu mampu memberikan pertolongan yang kita minta, maka dibolehkan. Misalnya ada orang yang sakit lalu datang ke dokter dan meminta tolong kepada dokter untuk disembuhkan penyakitnya dengan cara yang logis, rasional, ilmiah, yang mengandung hubungan sebab akibat antara penyakit dengan cara pengobatan itu, maka ini diperbolehkan.

Baca Juga:  Pengaruh Lingkungan terhadap Perkembangan Anak - Bimbingan Islam (Ustadz Jazuli, Lc.)

Yang dianggap syirik adalah dalam perkara yang orang manapun tidak mampu memberikan pertolongan yang diminta. Seperti dalam masalah kekeringan, hujan sudah tidak bertahun-tahun tidak turun. Lalu kita meminta kepada Allah agar kita dilepaskan dengan segera dari kesulitan itu. Hanya Allah yang mampu. Jangan cari dukun kemudian meminta agar hujan diturunkan. Itu adalah perbuatan syirik.

Mengesakan Allah

Tauhid yang berupa mengesakan Allah dalam hal ibadah, inilah sesuatu yang asal dalam kehidupan manusia. Manusia diciptakan diatas fitrah, diatas tauhid, diatas agama yang hanif dari sejak Nabi Adam sampai manusia yang lahir diakhir zaman nanti. Begitu dia lahir, dia lahir diatas Islam, diatas tauhid. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

…فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّـهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu….“(QS. Ar-Rum[30]: 30)

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ كَمَا تُنْتَجُ الْبَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعَاءَ هَلْ تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ؟ ثُمَّ يَقُولُ أَبُوْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْه: فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لاَ تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ (متفق عليه)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Semua anak yang lahir kecuali dia lahir diatas fitrah. Maka, kedua orang tuanya itulah yang menjadikannya menganut Yahudi, Nashrani, atau Majusi. Seperti halnya binatang yang lahir sempurna, apakah kamu menemukan ada anggota badannya yang terpotong, kecuali jika kamu yang memotongnya?” Kemudian Abu Hurairah ra membaca (al-Qur’an Surat Ar-Rum[30]: 30), “…Tepatilah fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Fitrah) itu adalah agama yang lurus..” (HR. Bukhari dan Muslim)
Jadi semua bayi lahir diatas Islam walaupun orang tuanya Yahudi, Nasrani atau apapun agamanya atau bahkan tak beragama. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa kedua orang tuanyalah yang menjadikannya menganut Yahudi, Nashrani, atau Majusi.

Maka Allah berfirman:

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّـهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ وَأَنزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ ۚ …

“Dulunya manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan…”

Berkata Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhum bahwa jarak waktu antara Adam dan Nuh adalah sepuluh generasi. Semua generasi itu diatas Islam, diatas tauhid, tidak ada kesyirikan. Setelah dizaman Nabi Nuh, baru ada beberapa penyimpangan. Setelah penyimpangan itu terjadi, diutuslah Nuh alaihish shalatu was salam untuk mendakwahi mereka.

Berkata Imam Ibnu Qayyim ketika menerangkan ayat ini, bahwa penjelasan yang mengatakan bahwa manusia itu tadinya diatas tauhid adalah penjelasan yang benar. Dan ini juga pendapat yang dibenarkan oleh Imam Ibnu Katsir rahimahullahu ta’ala dalam kitab al bidayah wan nihayah. Dan perbuatan syirik yang pertama kali muncul di muka bumi terjadi ditengah kaum Nuh.

Baca Juga:  Kewajiban Menetapkan Ketentuan Takdir Allah dalam Segala Sesuatu - Kitab Al-'Ubudiyah (Ustadz Abdullah Taslim, M.A.)

Sejarah Terjadinya Kesyirikan

Penyebab awal munculnya perbuatasn syirik adalah dari asumsi atau keyakinan yang dianggap baik. Karena setan, iblis, tidak akan menggoda manusia untuk langsung mengajak kepada keburukan. Pada asalnya mereka semangat dalam bertauhid tapi minim ilmu. Iblis tidak mengajak untuk berjudi, mabuk, ataupun berzina. Tetapi bertitik tolak dari semangat yang tinggi diatas kebaikan. Mereka sangat menghormati orang-orang shalih dikalangan mereka. Sudah menjadi naluri bagi setiap manusia ketika ada orang shalih pasti dihormati dan diagungkan. Dari sanalah setan memulai langkah menggoda manusia untuk menjerumuskan mereka kedalam perbuatan syirik. Sampai berlebih-lebihan dalam mengagung-agungkan orang-orang yang shalih. Allah berfirman:

وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا ﴿٢٣﴾

Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr”.” (QS. Nuh[71]: 23)

Berkata Imam Bukhari dalam kitab shahihnya, menukil sebuah hadits dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa kelima nama itu adalah nama-nama orang yang shalih dikalangan kaum Nabi Nuh. Ketika kelima orang shalih itu meninggal, semua orang bersedih. Maka setan membisikkan kepada orang-orang yang ditinggalkan untuk mengingat jasa keshalihan mereka dengan cara membuat patung di majelis-majelis tempat mereka biasa memberi pelajaran dan nasihat. Begitu melihat patung itu, teringat harus ibadah, harus berbuat baik dan seterusnya. Mereka mengikuti bisikan iblis tersebut. Mereka tidak menyembah patung-patung tersebut. Karena mereka tahu bahwa patung itu tidak berhak disembah.

Sehingga setelah generasi tersebut sudah mati semua, muncul generasi berikutnya yang kurang ilmu. Maka baru setan membisikkan bahwa dahulu ayah dan kakek mereka menyembah patung ini. Lalu mereka menyembah patung-patung tersebut disamping menyembah Allah azza wa jalla.

Bagaimana kelanjutan kisahnya?

Simak Kajian Lengkapnya, Download dan Sebarkan mp3 Ceramah Agama Islam Tentang Apa itu Syirik? – Kitab Al-Irsyad Ila Shahihil I’tiqad

Mari raih pahala dan kebaikan dengan membagikan tautan ceramah agama ini ke Jejaring Sosial yang Anda miliki seperti Facebook, Twitter, Google+ dan yang lainnya. Semoga Allah Ta’ala membalas kebaikan Anda.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: Rodja Official
Facebook Page: Radio Rodja 756 AM
Twitter: @radiorodja
Instagram: @radiorodja
Website: radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook Page: Rodja TV
Twitter: rodjatv
Instagram: rodjatv
Website: rodja.tv

Pencarian: contoh syirik, jenis syirik, pengertian syirik, pengertian syirik dan contohnya, maksud syirik dalam islam, dalil syirik, bahaya syirik

Telegram Rodja Official

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.