Islam Agama Tauhid

By  |  pukul 7:06 pm

Terakhir diperbaharui: Kamis, 28 Rabiul awwal 1440 / 06 Desember 2018 pukul 8:27 am

Tautan: https://rodja.id/26i

Islam Agama Tauhid adalah Tabligh Akbar yang disampaikan oleh Ustadz Yazid Abdul Qadir Jawas. Tabligh akbar bersama Ustadz Yazid Abdul Qadir Jawas ini diselenggarakan di Camp pengungsian Lero Induk, Trans Palu Toli-Toli, Kab. Donggala, Sulteng pada hari Kamis, 14 Rabi’ul Awwal 1440 H /22 November 2018 M.

Ceramah Agama Tentang Islam Agama Tauhid – Tabligh Akbar

Kita bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala diberikan nikmat Islam. Kita dijadikan oleh Allah sebagai orang-orang Islam. Ini adalah nikmat yang paling besar yang Allah subhanahu wa ta’ala karuniakan kepada kita. Karena nikmat yang paling besar adalah nikmat Islam. Ketika seseorang tidak masuk kedalam agama Islam dan dia tetap dengan agamanya kemudian dia mati dalam keadaan kafir, maka Allah menyebutkan didalam Al-Quran bahwa tempat tinggalnya adalah di neraka dan kekal didalam neraka selama-lamanya.

Maka dari itu kita bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala diberikan hidayah diatas Islam. Nikmat ini lebih nikmat dari semua nikmat yang Allah karuniakan kepada kita. Sebab orang-orang kafir yang mereka mati dalam keadaan kafir, Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan didalam Al-Quran bahwa mereka berusaha ingin menebus dengan sepenuh bumi emas supaya mereka bisa keluar dari api neraka. Tapi tidak bisa. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surat Ali-Imran ayat 91:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَن يُقْبَلَ مِنْ أَحَدِهِم مِّلْءُ الْأَرْضِ ذَهَبًا وَلَوِ افْتَدَىٰ بِهِ ۗ أُولَـٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ وَمَا لَهُم مِّن نَّاصِرِينَ ﴿٩١﴾

Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang diantara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu. Bagi mereka itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong.” (QS. Ali-Imran[3]: 91)

Allah menyebutkan juga dalam surat Al-Maidah ayat 36-37:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ أَنَّ لَهُم مَّا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا وَمِثْلَهُ مَعَهُ لِيَفْتَدُوا بِهِ مِنْ عَذَابِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَا تُقُبِّلَ مِنْهُمْ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ ﴿٣٦﴾ يُرِيدُونَ أَن يَخْرُجُوا مِنَ النَّارِ وَمَا هُم بِخَارِجِينَ مِنْهَا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُّقِيمٌ ﴿٣٧﴾

Baca Juga:  Konsekuensi Cinta kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam (Ustadz Yazid Abdul Qadir Jawas)

Sesungguhnya orang-orang yang kafir sekiranya mereka mempunyai apa yang dibumi ini seluruhnya dan mempunyai yang sebanyak itu (pula) untuk menebusi diri mereka dengan itu dari azab hari kiamat, niscaya (tebusan itu) tidak akan diterima dari mereka, dan mereka beroleh azab yang pedih.Mereka ingin keluar dari neraka, padahal mereka sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya, dan mereka beroleh azab yang kekal.” (QS. Al-Maidah[5]: 36-37)

Jadi, orang kafir yang mati dalam keadaan kafir, menurut Allah didalam Al-Quran tempat tinggalnya didalam neraka dan kekal didalamnya selama-lamanya. Maka orang Islam itu adalah orang yang sukses, orang yang bahagia, orang yang menang selama dia bersyukur dengan nikmat itu, selamat dia betul betul mengimani, mempelajari dan mengamalkan agama ini.

Soal masalah rejeki meskipun sedikit, dia adalah orang yang bahagia. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ, ورُزِقَ كَفَافًا, وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ”

Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan diberikan oleh Allah sikap qana’ah (rasa cukup) terhadap pemberian-Nya‘” (HR. Tirmidzi, dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani)

Artinya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan disini bahwa orang Islam adalah orang yang bahagia meskipun dia diberikan rezeki sedikit tapi dia bersyukur kepada Allah dan dia puas dengan rezeki yang Allah berikan kepada dia. Maka dari itu kita bersyukur kepada Allah atas nikmat Islam ini.

Antara Sabar dan Syukur

Seandainya ada orang-orang yang diberikan oleh Allah sedikit musibah, dia wajib untuk bersabar. Orang yang beriman hidup antara dua ibadah. yaitu syukur dan sabar. Sampai Nabi bersabda dalam hadits yang shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ

Baca Juga:  Nasihat Jiwa Yang Tertimpa Musibah

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim, no. 2999)

Syukur

Imam Ibnu Qayyim di dalam kitab Ad Daa’ Wad Dawaa’ menyebutkan bahwa pokok atau pangkal syukur adalah mentauhidkan Allah. Jadi seseorang dikatakan bersyukur kepada Allah adalah apabila dia mentauhidkan Allah subhanahu wa ta’ala dan tidak berbuat syirik. Dia harus mengesakan Allah, beribadah hanya kepada Allah, mentauhidkan Allah. Itulah orang yang bersyukur.

Maka dari itu orang-orang yang berbuat syirik adalah orang yang tidak bersyukur kepada Allah. Orang yang memalingkan ibadah kepada selain Allah adalah orang yang tidak bersyukur. Karena semua nikmat ini Allah berikan untuk manusia. Para Nabi dan Rasul ‘alaihimussalam adalah orang-orang yang bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Syukur artinya melaksanakan ketaatan kepada Allah dan menjauhkan maksiat. Ketaatan yang paling besar, ketaatan yang paling tinggi yaitu tauhid kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Setelah itu, melaksanakan shalat yang lima waktu, berbuat baik kepada orang tua dan yang lainnya. Inilah syukur.

Ketika seseorang mendapatkan rezeki yang meskipun sedikit tetapi dia beribadah kepada Allah, maka pasti rezekinya barokah dan pasti akan ditambah oleh Allah dengan syarat dia bersyukur dengan nikmat itu. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surat Ibrahim ayat 7:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ ﴿٧﴾

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.” (QS. Ibrahim[14]: 7)

Orang-orang yang berbuat dosa, orang-orang yang berbuat maksiat, pada hakikatnya mereka tidak bersyukur kepada Allah. Ketika tidak bersyukur kepada Allah, Allah akan menurunkan adzab karena mereka berbuat dosa dan maksiat. Maka dari itu kita harus bersyukur kepada Allah dengan ikhlas dan beribadah hanya kepada Allah, melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhkan laranganNya.

Baca Juga:  Kesalahan Ahlul Filsafat Memahami Al-Qur'an

Sabar

Kata para ulama, ada tiga macam sabar. Yaitu:

Pertama, sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Kedua, sabar dalam menjauhkan dosa dan maksiat. Terkadang kita dapati seseorang yang sudah bertaubat lalu kemudian dia ingin berbuat maksiat lagi, maka dia harus sabar.

Ketiga, sabar dalam menghadapi cobaan, ujian, musibah. Namanya hidup pasti ada cobaan dan ujian, tapi kita wajib sabar. Ujian dan cobaan akan menghapuskan dosa-dosa dan mengangkat derajat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

Sesungguhnya besarnya pahala tergantung dengan besarnya ujian. Sesungguhnya, apabila Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan mengujinya. Siapa yang ridha dengan ujian itu, maka ia akan mendapat keridhaan-Nya. Siapa yang membencinya maka ia akan mendapatkan kemurkaan-Nya” (HR. Tirmidzi no. 2396)

Maka dari itu orang yang beriman harus syukur atas semua nikmat dan sabar atas semua cobaan dan ujian. Bahkan seorang ulama mengatakan bahwa musibah adalah nikmat. Hal ini karena apabila dengan musibah kemudian seseorang sabar terhadap musibah dan cobaan itu, maka hal itu akan menghapuskan dosa-dosanya, dia akan mendapatkan ganjaran dan pahala, Allah akan angkat derajatnya, lalu Allah akan memasukkan dia ke dalam surga.

Simak penjelasannya pada menit ke – 17:50

Simak Penjelasan Lengkap dan Download MP3 Ceramah Agama Islam Tentang Islam Agama Tauhid – Tabligh Akbar

Mari raih pahala dan kebaikan dengan membagikan tautan ceramah agama ini ke Jejaring Sosial yang Anda miliki seperti Facebook, Twitter, Google+ dan yang lainnya. Semoga Allah Ta’ala membalas kebaikan Anda.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: Rodja Official
Facebook Page: Radio Rodja 756 AM
Twitter: @radiorodja
Instagram: @radiorodja
Website: radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook Page: Rodja TV
Twitter: rodjatv
Instagram: rodjatv
Website: rodja.tv

Telegram Rodja Official

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.