Hadits Arbain Ke 3 – Rukun Islam dan Meninggalkan Shalat

By  |  pukul 1:54 pm

Terakhir diperbaharui: Kamis, 28 Rabiul awwal 1440 / 06 Desember 2018 pukul 2:20 pm

Tautan: https://rodja.id/26t

Hadits Arbain Ke 3 – Rukun Islam dan Meninggalkan Shalat merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh: Ustadz Anas Burhanuddin, M.A. dalam pembahasan Al-Arba’in An-Nawawiyah (الأربعون النووية) atau kitab Hadits Arbain Nawawi Karya Imam Nawawi rahimahullahu ta’ala. Kajian ini disampaikan pada 19 Rabbi’ul Awwal 1440 H / 27 November 2018 M.

Status Program Kajian Kitab Hadits Arbain Nawawi

Status program kajian Hadits Arbain Nawawi: AKTIF. Mari simak program kajian ilmiah ini di Radio Rodja 756AM dan Rodja TV setiap Selasa sore pekan ke-2 dan pekan ke-4, pukul 16:30 - 18:00 WIB.

Download juga kajian sebelumnya: Hadits Arbain Ke 2 – Pengertian Islam, Iman dan Ihsan

Ceramah Agama Islam Tentang Hadits Arbain Ke 3 – Rukun Islam dan Meninggalkan Shalat

Kajian kali ini membahas hadits arbain ke 3.

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ ” رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ “

Dari Abu  ‘Abdurrahman ‘Abdullah bin ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhuma, ia mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah melainkan Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah; menunaikan shalat; menunaikan zakat; menunaikan haji ke Baitullah; dan berpuasa Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini adalah riwayat Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma. Imam Nawawi rahimahullahu ta’ala menyebut radhiyallahu anhuma karena perawi hadits ini dan ayahanda beliau, keduanya sama-sama sahabat. Umar disini adalah Umar bin Khattab radhiyallahu anhuma. Umar bin Khattab radhiallahu anhu yang meriwayatkan hadits yang pertama dan kedua dari Arbain Nawawi ini. Hadits yang pertama riwayat Umar, hadits yang kedua juga riwayat Umar bin Khattab, kemudian hadits yang ketiga adalah riwayat dari putra beliau Abdullah yang merupakan salah satu sahabat junior. Dahulu dikenal ada empat orang Abdullah yang sebaya yang dikenal sebagai Al Abadillah al-Arba’ah (Empat orang yang bernama Abdullah), yaitu: Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Zubair, Abdullah bin Amr bin Al-Ash.

Beliau termasuk salah satu sahabat yang dikenal sangat mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengikuti sunnah beliau dengan sangat hati-hati. Abdullah bin Umar juga merupakan salah satu perawi hadits utama dengan riwayat hadits paling banyak dan beliau meninggal pada tahun 73 Hijriyah.

Dalam hadits ini beliau menyampaikan bahwasanya beliau mendengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda bahwa Islam itu dibangun diatas lima perkara:

  • Bersyahadat Lailahaillallah dan bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya
  • Menegakkan shalat
  • Menunaikan zakat
  • Haji ke Baitullah
  • Puasa pada bulan ramadhan.
Baca Juga:  Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 93 - 96 (Ustadz Badrusalam, Lc.)

Kalau kita melihat kandungan hadits ini, kita ingat sebagian kandungan hadits yang kedua ketika kita membahas tentang Islam, iman dan ihsan. Di sana sudah kita masih bersama bahwasanya Islam itu adalah bersyahadat. Bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali hanya Allah dan bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Kemudian menegakkan shalat, menunaikan zakat, berpuasa ramadhan dan haji ke Baitullah jika engkau mampu. Demikian disebutkan dalam hadits yang kedua dahulu.

Sekilas, ini sama dengan apa yang sudah kita pelajari pada hadits yang kedua, namun Imam Nawawi rahimahullahu ta’ala tetap menyebutkan hadits yang ketiga ini karena kandungannya tidak sama persis dengan hadits yang kedua.

Ada beberapa perbedaan yang kita dapatkan dari hadits yang ketiga ini dibandingkan potongan hadits yang kedua dahulu. Yaitu yang pertama kalau pada hadits yang kedua disebutkan Islam itu adalah lima ini, dalam hadits yang ketiga ini Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwasanya kelima perkara ini adalah rukun Islam, kelima perkara ini adalah pokok dari bangunan Islam.

Beliau mengumpamakan bahwa Islam adalah sebuah bangunan. Islam itu laksana bangunan yang memiliki bagian yang banyak. Dan bagian-bagian ini tidak sama kedudukannya, tidak sama fungsi dan perannya dalam bangunan itu. Ada yang memiliki fungsi yang vital (pokok), ada yang fungsinya sekunder (tetap penting tapi dia tidak primer seperti yang pertama). Kemudian ada juga bagian dari bangunan yang sifatnya adalah hiasan.

Di sini beliau menyebutkan bahwasannya diantara rukun atau pilar atau bagian utama dari bangunan Islam adalah lima rukun Islam ini. Maka beliau mengatakan Islam itu dibangun di atas lima perkara. Hadits ini menjelaskan bahwasanya lima rukun ini adalah lima hal yang paling penting dalam bangunan Islam. Lima hal yang kalau ditinggalkan maka hukumnya tidak sama dengan meninggalkan bagian-bagian Islam yang lain.

Kemudian yang kedua adalah perbedaan urutan. Dihadits yang kedua urutannya adalah syahadat, shalat, zakat, puasa ramadhan dan kemudian haji. Sedangkan dihadits yang ketiga ini Ibnu Umar meriwayatkan bahasanya urutannya adalahsyahadat, shalat, zakat, haji, baru kemudian puasa ramadhan.

Ada perbedaan urutan di sini dan ketika dirujuk oleh sebagian perawi, Ibnu Umar menjelaskan bahwasanya yang beliau dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mendahulukan puasa sebelum Haji. Yakni seperti yang disebutkan dalam hadits yang kedua. Jadi urutannya adalah:

  • Syahadat Laa Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah
  • Menegakkan shalat,
  • Menunaikan zakat
  • Puasa Ramadhan
  • Haji ke Baitullah

Yang terjadi pada hadits yang ketiga ini adalah redaksi dari sebagian rawi. Kita mengetahui bahwasanya hadits itu boleh diriwayatkan secara makna. Tidak seperti Al-Qur’an yang harus persis, tidak boleh ada perubahan sama sekali. Adapun hadits-hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam boleh diriwayatkan secara arti, secara makna saja. Secara redaksinya mungkin berbeda-beda tapi maknanya sama. Selagi tidak memberikan perubahan yang besar kepada hadits yang diriwayatkan.

Baca Juga:  Hak dan Kewajiban Pekerja dan Pemimpin dalam Islam (Ustadz Abu Ihsan Al-Atsary, M.A.)

Di sini Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwasanya rukun Islam atau pilar Islam itu ada lima. Yaitu:

Syahadat

شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ

bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah melainkan Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah

Ini adalah pintu gerbang Islam. Ini adalah sesuatu yang mutlak dalam Islam yang tanpanya kita tidak dianggap Islam. Dalam hadits yang lainnya, yaitu hadits yang ke-29 dari Arbain Nawawi ini, Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa ssalam menyebutkan, ‘رَأْسُ اْلأَمْرِ اْلإِسْلاَمُ‘ (pokok perkara adalah Islam). Yang ditafsirkan oleh riwayat yang lain, pokok perkaranya adalah dua syahadat.

Jadi, dalam hadits itu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwasannya syahadat ini adalah pokok perkara dalam Islam. Lebih penting dari rukun Islam yang lain karena ini adalah gerbang kita menuju Islam, gerbang kita menuju pengakuan bahwa kita adalah bagian dari umat yang besar ini. Bagaimana kita masuk ke sana? Kita masuk ke sana dengan bersyahadat bahwasanya Lailahaillallah, tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali hanya Allah subhanahu wa ta’ala saja.

Jadi kita menafikan seluruh peribadatan untuk selain Allah subhanahu wa ta’ala dan menetapkan ibadah semata-mata hanya untuk Allah subhanahu wa ta’ala.

Jangan kita hanya mengucapkan Lailahaillallah tapi tidak memahami kandungannya. Jangan kita seperti sebagian orang yang mudah mengatakan Lailahaillallah tapi tidak paham kandungannya, tidak paham konsekuensinya, sehingga meskipun sudah Lailahaillallah tapi masih jatuh dalam kesalahan-kesalahan fatal dalam agama ini.

Dahulu, orang-orang musyrikin pada zaman Jahiliyah merasa berat untuk mengucapkan Lailahaillallah. Kenapa? Karena mereka tahu maknanya. Mereka adalah orang-orang Arab yang asli. Mereka adalah orang-orang yang paham apa yang dimaksud dengan kata yang agung ini. Maka banyak dari mereka enggan karena tahu konsekuensinya yang berat. Sementara ada sebagian orang dizaman kita yang yang mudah untuk mengucapkan Lailahaillallah tapi kemudian mereka masih jatuh dalam kesalahan-kesalahan yang menunjukkan bahwasannya mereka tidak tahu apa yang mereka ucapkan tersebut.

Lailahaillallah menuntut kita untuk meninggalkan ibadah kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala dan hanya memberikan ibadah untuk Allah subhanahu wa ta’ala saja. Maka ini punya konsekuensi. Menuntut dari kita untuk meninggalkan segala bentuk syirik. Baik yang berupa syirik besar. Misalnya berdoa kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala, menyembah kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala, menyembelih untuk selain Allahsubhanahu wa ta’ala, meminta kesembuhan, kemudahan rezeki kepada selain Allahsubhanahu wa ta’ala. Ini semuanya adalah termasuk Syirik Akbar. Atau takut dengan rasa takut yang tidak boleh diberikan kecuali hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala saja. Yakni rasa takut yang diiringi dengan cinta dan pengagungan. Adapun kalau kita memiliki rasa takut kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala tapi tidak diiringi dengan cinta dan pengagungan seperti rasa takut kita kepada binatang buas, pada ular, kegelapan malam, atau jin atau perampok, maka ini adalah rasa takut yang alami yang jika kita jatuh kepadanya kita tidak musyrik. Dan tidak masalah kita jatuh dalam rasa takut yang alami seperti itu selagi tidak menghalangi kita dari kewajiban kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Adapun rasa takut yang tidak boleh diberikan kecuali hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala saja adalah rasa takut yang diiringi dengan cinta dan penggagungan. Seperti rasa takut yang dimiliki oleh sebagian orang kepada orang yang sudah meninggal. Dia takut, mengagungkan dan mencintai orang tersebut pada saat yang sama. Maka ini adalah rasa takut yang tidak boleh diberikan kecuali hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala saja. Dan kalau kita jatuh disana maka kita jatuh dalam kemusyrikan.

Baca Juga:  Arti Tuma'ninah Dalam Shalat

Kalimat yang agung ini menuntut kita untuk meninggalkan semua bentuk syirik. Baik yang besar maupun syirik kecil seperti riya’, kemudian juga bersumpah dengan nama selain Allah subhanahu wa ta’ala, kemudian mengatakan, ‘masya Allahu wa si’ta.’ (terserah kepada kehendak Allah subhanahu wa ta’ala dan kehendakmu). Yang benar adalah mengatakan, ‘masya Allahu tsumma si’ta.’ (terserah kepada kehendak Allah subhanahu wa ta’ala dan kehendakmu).

Simak pada menit ke – 14:10

Simak Penjelasan Lengkapnya dan Download mp3 Ceramah Agama Islam Tentang Hadits Arbain Ke 3 – Rukun Islam dan Meninggalkan Shalat

Mari raih pahala dan kebaikan dengan membagikan tautan ceramah agama ini ke Jejaring Sosial yang Anda miliki seperti Facebook, Twitter, Google+ dan yang lainnya. Semoga Allah Ta’ala membalas kebaikan Anda.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: Rodja Official
Facebook Page: Radio Rodja 756 AM
Twitter: @radiorodja
Instagram: @radiorodja
Website: radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook Page: Rodja TV
Twitter: rodjatv
Instagram: rodjatv
Website: rodja.tv

Pencarian: penjelasan hadits arbain nawawi ke 3, syarah hadits arbain nawawi ke 3, hadits arbain nawawi ke 3 latin, hadits arbain ke 3 arab, ihsan hadits arbain ke 3, iman hadits arbain ke 3, islam arbain ke 3 latin, jelas arbain ke 3 arab, penjelasan hadits arbain ke 3, syarah hadits arbain ke 3, hadits arbain ke 3 latin

Telegram Rodja Official

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.