Buah Manis Beriman Kepada Takdir

By  |  pukul 10:25 am

Terakhir diperbaharui: Kamis, 28 Rabiul awwal 1440 / 06 Desember 2018 pukul 8:59 am

Tautan: https://rodja.id/26l

Buah Manis Beriman Kepada Takdir adalah ceramah agama dan kajian Islam ilmiah yang  disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. langsung dari lapangan bola desa Lompio, belakang kantor desa Lompio, kec. Sirenja, kab. Donggala pada hari Kamis, 22 Robiul Awwal 1440 H / 30 November 2018 M.

Kajian Tentang Buah Manis Beriman Kepada Takdir – Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc.

Tema ini penting dilihat dari beberapa sisi. Yang pertama, keimanan seseorang tidak akan sempurna, tidak akan baik, tidak akan sah tanpa beriman kepada takdir Allah subhanahu wa ta’ala. Karena beriman kepada takdir adalah salah satu dari rukun iman yang enam. Apabila salah satu rukun tersebut tidak ada, maka keimanan didalam hati tidak akan sah. Disinilah letak pentingnya membicarakan buah manis beriman kepada takdir.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya oleh Jibril ‘alaihissalam dalam Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim:

فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِيْمَانِ, قَالَ : أَنْ بِاللهِ, وَمَلاَئِكَتِهِ, وَكُتُبِهِ, وَرُسُلِهِ, وَالْيَوْمِ الآخِرِ, وَ تُؤْمِنَ بِالْقَدْرِ خَيْرِهِ وَ شَرِّهِ.

“Beritahukan kepadaku tentang Iman”. Nabi menjawab,”Iman adalah, engkau beriman kepada Allah; malaikatNya; kitab-kitabNya; para RasulNya; hari Akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk,” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ini menunjukkan bahwasannya keimanan kepada takdir adalah rukun iman yang mana iman kita tidak akan sah, tidak akan diterima, tanpa beriman kepada takdir. Kalau imam yang tidak sah, maka amalnya tidak akan diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Ini letak pentingnya membicarakan buah manis beriman kepada takdir.

Kedua, pentingnya membicarakan buah manis beriman kepada takdir adalah yaitu berkenaan dengan kejadian sekitar dua bulan yang lalu kita dapat di semua. Tanggal 28 September 2018 datang ujian dari Allah untuk Kabupaten Palu, Sigi dan Donggala dengan desa-desa yang ada didalamnya, kecamatan-kecamatan yang ada didalamnya, kabupaten-kabupaten yang ada didalamnya. Yaitu berupa gempa, tsunami, likuifaksi, maka ini adalah musibah yang mana seorang muslim wajib menghadapinya dengan kesabaran. Akan tetapi tidak akan mungkin kita menghadapi musibah ini dengan kesabaran kecuali dengan mengimani takdir.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman didalam Al-Quran Surat Al Baqarah ayat 155-156:

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ﴿١٥٥﴾ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّـهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ﴿١٥٦﴾

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”.” (QS. Al-Baqarah[2]: 156)

Seseorang tidak akan bisa menghadapi musibah kesulitan yang menimpa saat gempa, tsunami, likuifaksi yang tanpa ada perkiraan sebelumnya. Seseorang tidak akan bisa bersabar menghadapi itu semua kecuali ketika dia beriman kepada takdir. Inilah Takdir yang Allah telah Tuliskan 50.000 tahun sebelum penciptakan langit dan bumi. Bahwa tanggal 28 September 2018 M, di Kabupaten Palu, Sigi dan Donggala akan terjadigempa, tsunami, likuifaksi . Itu sudah tercatat 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.

Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits riwayat Imam Muslim:

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

Baca Juga:  Dzikir Yang Diajarkan dalam Islam

Allah telah mencatat takdir setiap makhluk sebelum 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (HR. Muslim no. 2653)

Maka disini letak pentingnya mempelajari buah manis beriman kepada takdir. Agar kita bisa bersabar, agar kita bisa menerima apa yang Allah subhanahu wa ta’ala ujikan kepada kita.

Buah Manis Beriman Kepada Takdir

Kita akan mempelajari apa saja manfaat-manfaat saat seseorang beriman kepada takdir. Sebelum kita mempelajari manfaat-manfaatnya, Apa itu takdir? Bagaimana cara beriman kepada takdir dengan baik dan benar? Siapa saja yang keliru dalam memahami takdir? Kemudian baru kita pelajari apa saja keutamaan-keutamaan beriman kepada takdir? dan Apa saja buah manis beriman kepada takdir?

Apa Itu Takdir

At-Takdir (تقدير) diambil dari kata arab, qaddara (قدر، يقدر، تقديرا) yang artinya adalah usaha. Dan At-Takdir, maksudnya adalah segala sesuatu yang telah Allah subhanahu wa ta’ala tuliskan didalam kitab Lauhul Mahfudz dengan ilmuNya yang Azali. Sebelum penciptaan langit dan bumi, itu namanya takdir.

Jadi kalau kita pelajari, ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya Jibril, wahai Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Apa itu Iman? Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

أَنْ بِاللهِ, وَمَلاَئِكَتِهِ, وَكُتُبِهِ, وَرُسُلِهِ, وَالْيَوْمِ الآخِرِ, وَ تُؤْمِنَ بِالْقَدْرِ خَيْرِهِ وَ شَرِّهِ

Iman adalah, engkau beriman kepada Allah; malaikatNya; kitab-kitabNya; para RasulNya; hari Akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk,” (HR. Bukhari dan Muslim)

Qadar adalah segala sesuatu yang telah Allah tuliskan di dalam Kitab Lauhul Mahfudz dengan ilmuNya yang terdahulu sebelum penciptaan langit dan bumi. Itu namanya takdir. Takdir itu kalau sudah terjadi namanya qadha.

Seperti penjahit baju, sebelum dia menjahit, dia mengukur leher, mengukur lebar dada, mengukur lengan, mengukur panjang badan, itu namanya takdir. Kalau sudah dijahit bajunya jadi itu namanya qadha.

Kalau kita sering dengar beriman kepada qadha dan qadar. Qadar artinya adalah segala sesuatu yang ditulis oleh Allah di dalam kitab Lauhul Mahfudz dengan ilmuNya yang terdahulu. Semuanya ditulis oleh Allah subhanahu wa ta’ala di dalam kitab Allah sebelum penciptaan langit dan bumi 50.000 tahun. Ini namanya qadar atau takdir.  Kalau yang ditulis itu sudah terjadi, maka itu namanya qadha.

Contoh, dituliskan di dalam Kitab Lauh Mahfudz, 50.000 sebelum penciptaan langit dan bumi bahwa tanggal 28 September 2018 M, akan terjadi gempa, tsunami likuifaksi di Sulawesi Tengah, terkhusus di Palu, Sigi dan Donggala. Itu namanya adalah qadar. Kalau sudah terjadi namanya qadha.

Maka ketika kita membahas buah manis beriman kepada takdir maksudnya adalah apa saja yang merupakan kebaikan kita dapati apabila kita mengimani bahwa semuanya sudah ditulis di dalam Kitab Lauhul Mahfudz. Seperti sekarang ini tanggal 21 Robiul Awal 1440 H, hari Kamis sore bapak ibu dan saya ditakdirkan bertemu di halaman masjid Al-Ikhlas. Ini sudah tertulis di dalam Kitab Lauhul Mahfudz 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi. Ini namanya takdir atau qadar. Kalau sudah terjadi, nanti kalau sudah selesai, maka itu namanya qadha.

Bagaimana Beriman Kepada Takdir Baik dan Buruknya Dengan Benar?

Sebagian orang ada yang keliru, salah, menyimpang, sesat dalam beriman kepada takdir. Maka beriman kepada takdir dengan baik dan benar adalah:

Baca Juga:  Hukum Mengeluarkan Mani di Luar Kemaluan Istri - Kajian Hadits 1462 - 1468 (Ustadz Badrusalam, Lc.)

Pertama, meyakini bahwasannya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu yang sudah terjadi, yang sedang terjadi, yang akan terjadi, bagaimana terjadinya, Allah subhanahu wa ta’ala mengetahuinya jikalau terjadi. Ini adalah tahapan pertama beriman kepada takdir. Meyakini dalam hati Bahwasanya Allah subhanahu wa ta’ala mengetahui yang sudah terjadi, yang sedang terjadi, seperti sekarang ini saya sedang ceramah, saya sedang begini-begini, saya sedang memandang bapak ibu, bapak ibu mengandung saya, itu Allah mengetahui. Dan yang akan terjadi. Seperti sekarang ada wanita yang hamil, nanti anaknya bisa dilahirkan dengan selamat atau tidak bisa dilahirkan dengan selamat. Kalau seandainya terlahir anaknya, apakah dia jadi agak beragama Islam, orang shalih atau beragama Nasrani, Allah mengetahuinya.

Kemudian yang akan terjadi, Allah mengetahuinya. Misalkan ibu keluar dari lapangan Masjid al-Ikhlas ini selamat sampai ke rumah kembali, mengetahui jalan kemana, singgah di mana, Allah tahu.

Ini harus diyakini didalam hati. Tidak boleh ada keraguan didalamnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman di dalam surat al-Hasyr ayat 22:

هُوَ اللَّـهُ الَّذِي لَا إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ ۖ هُوَ الرَّحْمَـٰنُ الرَّحِيمُ ﴿٢٢﴾

Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hasyr[59]: 22)

Didalam ayat yang lain Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

…وَأَنَّ اللَّـهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا ﴿١٢﴾

“…dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS. At-Talaq[65]: 12)

Kalau Allah mengetahui, maka pada saat itu kita sabar. Berarti apa yang terjadi dengan segala macam dahsyatnya, bahwa orang sampai tidak bisa jalan karena dahsyatnya goncangan, maka ingat masalah takdir. Seberapapun dekatnya goncangan tersebut, Allah tahu hambanya sanggup atau tidak menghadapi itu. Allah tahu. Itu yang akhirnyamembuat kita sabar menghadapi ujian ini. Allah tahu seberapa besar gempa yang menimpa, kemudian berapa kekuatan kita yang bisa kita gunakan untuk menahan gempa tersebut, Allah tahu. Itu yang membuat kita akhirnya bersabar dengan musibah, dengan ujian yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan.

Contoh yang lain lagi, seorang suami mempunyai tanggungan banyak, anak banyak, tapi pekerjaan tidak banyak, maka yakini baik-baik Allah Maha Tahu. Dia harus tetap berusaha, tidak boleh putus asa, tidak boleh menganggur, berusaha yang halal, tidak boleh berusaha yang haram, karena Allah tahu rezeki dia di mana? Kapan dia ambil? Di mana dia simpan? Allah tahu. Ini yang akhirnya membuat seseorang teguh, tegar, sabar, kokoh, tidak mudah menghalalkan segala cara untuk mendapatkan duit. Karena dia tahu Allah Maha Tahu di mana rezekinya. Yang penting dia berusaha.

Coba sekarang perhatikan burung. Dalam sebuah hadits, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ﻟَﻮْ ﺃَﻧَّﻜُﻢْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺗَﻮَﻛَّﻠُﻮﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺣَﻖَّ ﺗَﻮَﻛُّﻠِﻪِ ﻟَﺮُﺯِﻗْﺘُﻢْ ﻛَﻤَﺎ ﻳُﺮْﺯَﻕُ ﺍﻟﻄَّﻴْﺮُ ﺗَﻐْﺪُﻭ ﺧِﻤَﺎﺻًﺎ ﻭَﺗَﺮُﻭﺡُ ﺑِﻄَﺎﻧًﺎ

Seandainya kalian sungguh-sungguh bertawakal kepada Allah, sungguh Allah akan memberi kalian rezeki sebagaimana Allah memberi rezeki kepada seekor burung yang pergi dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang “ (HR.Tirmidzi)

Baca Juga:  Tunjukilah Kami Jalan Yang Lurus (Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.)

Perhatikan perumpamaan ini, burung keluar dipagi hari, dia berusaha. Dia tahu Allah Maha Mengetahui dirinya, dia tahu Allah subhanahu wa ta’ala mengetahui dimana rezekinya, dia berusaha. Padahal burung yang keluar dalam keadaan perut kosong, keluar dalam keadaan tidak tahu mau mencari makan di mana, tidak terdaftar sebagai Pegawai Negeri Sipil, burung tidak terdaftar sebagai orang yang mempunyai warung makan, burung tidak terdaftar sebagai orang yang mempunyai perusahaan, burung tidak terdaftar sebagai orang yang mempunyai perahu nelayan, burung keluar begitu saja, yang penting usaha. Apa yang terjadi ketika dia mengetahui Allah Maha Mengetahui rezekinya? Dia akan pulang dalam keadaan perut kenyang.

Semestinya kita lebih lagi tawakalnya dibandingkan burung. Burung hanya memiliki dua kaki, tidak punya tangan. Burung tidak bisa makan apa saja, kita manusia bisa makan apa saja. Semestinya kita lebih bertawakal lagi dibandingkan burung-burung. Makanannya terbatas biji-bijian dan ulat, itupun tidak bisa besar-besar.

Manusia semua dimakan. Semestinya kita lebih bertawakal kepada Allah, lebih mengetahui Allah Maha Mengetahui dimana rezeki kita. Maka dari itu jangan sampai kita menghalalkan segala cara untuk mendapatkan harta, tahta, wanita. Karena Allah mengetahui di mana rezeki kita.

Disini pentingnya tahapan pertama beriman kepada takdir. Menyakini dengan seyakin-yakinnya didalam hati bahwa Allah Maha Mengetahui.

Kedua, kita harus yakin bahwa Allah menuliskan dengan ilmuNya seluruh takdir makhluk 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi di dalam kitab Lauhul Mahfudz. Semua takdir kita, mati kita, rezeki kita, jodoh kita, istri pertama kita, istri kedua kita, sudah ada takdirnya 50.000 tahun sebelum menciptakan langit dan bumi. Semua itu dituliskan oleh Allah di dalam kitab Lauhul Mahfudz.

Dalil yang menunjukkan hal ini adalah Surat Al-An’am ayat 38. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

…مَّا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِن شَيْءٍ ۚ …

“…Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam kitab Lauhul Mahfudz…” (QS. Al-An’am[6]: 38)

Bapak sekarang duduk di hadapan saya, melihat saya, sudah tertulis 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi di dalam sebuah kitab Lauhul Mahfudz. Bapak Bulan depan mendapat tambahan gaji, sudah tertulis di kitab Lauhul Mahfudz. Kita mendapati gempa, tsunami, bulan september yang lalu sudah tertulis di dalam kitab Lauhul Mahfudz. Kalau sudah tertulis seperti ini, maka kita Akhirnya bisa bersabar. Itulah takdir.

Simak penjelasannya pada menit ke – 30.57

Simak dan Download mp3 Kajian Tentang Buah Manis Beriman Kepada Takdir – Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc.

Mari turut membagikan hasil rekaman ataupun link ceramah agama ini melalui jejaring sosial Facebook, TwitterGoogle+ dan yang lainnya agar orang lain bisa turut mengambil manfaatnya. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala membalas kebaikan Anda.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: Rodja Official
Facebook Page: Radio Rodja 756 AM
Twitter: @radiorodja
Instagram: @radiorodja
Website: radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook Page: Rodja TV
Twitter: rodjatv
Instagram: rodjatv
Website: rodja.tv


apakah manfaat beriman kepada takdir allah,

Telegram Rodja Official

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.