Telegram Rodja Official

Islam Agama Damai dan Kasih Sayang – Tabligh Akbar Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaili

By  |  pukul 12:39 pm

Terakhir diperbaharui: Selasa, 09 Jumadil awal 1440 / 15 Januari 2019 pukul 8:41 pm

Tautan: https://rodja.id/296

Islam Agama Damai dan Kasih Sayang adalah tabligh akbar yang disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. Ibrahim bin ‘Amir Ar-Ruhaili dan diterjemahkan oleh Ustadz Anas Burhanuddin, M.A. pada Ahad, 22 Rabbi’ul Tsani 1440 H  / 30 Desember 2018 M. Disiarkan secara langsung dari Masjid Raya Darul Amal, Alun-Alun Lapangan Pancasila Jl. Tentara Pelajar No. 2, Salatiga.

Tabligh Akbar Tentang Islam Agama Damai dan Kasih Sayang – Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaily

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Kita memujinya dengan pujian yang banyak. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala melimpahkan shalawat, salam dan barokah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan para sahabat beliau semuanya. Alhamdulillah pada kesempatan pagi hari ini, Allah subhanahu wa ta’ala mengumpulkan kita semua dalam sebuah pertemuan yang diberkahi InsyaAllah. Di salah satu rumah Allah subhanahu wa ta’ala, untuk saling mengingatkan ilmu, saling berwasiat diantara kita, berusaha semampunya untuk menjelaskan apa yang diminta untuk dijelaskan, untuk kemudian berusaha mengamalkan ilmu yang kita pelajari itu.

Sebuah judul yang bagus untuk kajian pagi hari ini. Yakni Islam adalah agama damai dan kasih sayang. Topik ini adalah topik yang sangat agung dan mengandung pembahasan dua hakikat. yang pertama hakikat bahwasannya Islam adalah agama kasih sayang atau rahmat. Dan yang kedua adalah Islam agama damai. Dua hakikat ini adalah dua hakikat yang sangat jelas, gamblang dan disepakati. Dan pembahasan kita akan dibatasi pada beberapa sisi saja. Kita akan menyebutkan beberapa contoh saja sebagai bentuk pengingat untuk kita semua karena untuk bisa memberikan hak yang sepenuhnya untuk dua bab ini atau dua hakikat ini, kita butuh waktu yang panjang. Dan kalau seandainya dua topik ini ditulis dalam buku, maka itu membutuhkan beberapa jilid untuk membahasnya.

Islam sebagai agama rahmat, Islam sebagai agama kasih sayang

Sebelum kita membahas tentang Islam agama rahmat, perlu kita ketahui bersama dahulu apa itu rahmat? Apa definisi rahmat? Dan para ulama telah menyebutkan banyak definisi dengan redaksi yang berbeda-beda namun seperti dikatakan oleh Ibnul Qayyim rahimahullahu ta’ala, rahmat itu tidak perlu ditafsirkan dengan lebih dari dari apa yang dikenal oleh banyak orang. Karena kata rahmat dan kasih sayang adalah sebuah kata yang sudah dikenal oleh masyarakat umum. Seperti pohon, hewan dan semacamnya. Yang kalau kita ingin mendefinisikan sebuah definisi khusus justru itu menjadi semacam takalluf (membebani dirinya sesuatu yang tidak perlu).

Para ulama menjelaskan yang sudah diketahui tidak perlu dikenalkan, yang sudah jelas tidak perlu dijelaskan dan yang sudah gamblang tidak perlu ditafsirkan lagi. Sebagian ulama menyamakan antara kasih sayang dan kelemahlembutan. Namun ini tidak pas. Karena Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam disifati sebagai yang lemah lembut dan berkasih sayang. Demikian juga Allah subhanahu wa ta’ala disifati dengan dua sifat ini. Dan penyebutkan dua sifat ini secara berbeda menunjukkan bahwa keduanya memiliki makna yang berbeda meskipun berdekatan.

Sebelum kita membahas tentang contoh-contoh fenomena rahmat dalam Islam, perlu kita ketahui bahwasanya rahmat itu membawa kepada semua kebaikan. Dan kasih sayang menghalangi kita dari semua keburukan. Diantara pengaruh rahmat dalam kehidupan kita adalah sifat memaafkan. Kemudian juga sifat berbuat baik kepada orang lain sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berbuat baik kepada hamba-hambaNya.

Perlu kita catat juga bahwasanya rahmat dan kasih sayang harus dibingkai dengan bingkai syariat. Orang yang ingin menyampaikan rahmat kepada umat Islam atau kepada umat yang lain, maka dia harus membingkainya dengan bingkai syariat.

Jangan mengaku mendakwahkan kasih sayang atau rahmat kalau dia melanggar aturan-aturan Allah subhanahu wa ta’ala. Itu adalah rahmat yang semu, kasih sayang yang tidak sesungguhnya. Demikian juga kalau ada orang yang meninggalkan syariat-syariat Allah subhanahu wa ta’ala, ketika dia sedang berusaha menjelaskan rahmat dan kasih sayang dalam Islam, ingin menunjukkan kasih sayang terdapat dalam Islam, maka ini adalah termasuk pemahaman yang salah untuk makna rahmat.

Contoh Rahmat dalam Agama Islam

Diantara contoh rahmat dalam agama kita adalah bahwasannya Allah subhanahu wa ta’ala yang merupakan Tuhan yang kita sembah memiliki sifat rahmat. Dan diantara nama Allah subhanahu wa ta’ala yang diambil dari kata rahmat dan kasih sayang adalah الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ yang disebutkan dalam surat Al-Fatihah, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

الْحَمْدُ لِلَّـهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴿٢﴾ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ ﴿٣﴾

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Fatihah[1]: 2-3)

Ayat ini kita selalu membacanya dalam setiap shalat kita. Bahkan dalam setiap rakaat shalat kita baik yang wajib maupun yang sunnah. Dan shalat kita dimulai dengan surat yang agung ini dan dengan mengandung nama Rahman dan Rahim ini, agar kita senantiasa ingat bahwasannya Tuhan kita adalah Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Baca Juga:  Kautamaan Menjenguk Orang Sakit dan Hadits Tentang Sakit

Perintah dan Larangan Mengandung Rahmat Allah

Fakta bahwasannya Allah subhanahu wa ta’ala yang merupakan Tuhan kita telah mensyariatkan agama ini, mensyariatkan agama Islam, menurunkan Al-Qur’an, mengutus para Rasul, ini adalah salah satu contoh yang paling besar dari contoh-contoh rahmat yang ada dalam agama kita. Tuhan kita adalah Tuhan yang Maha Pengasih kepada hamba-hambaNya dan telah mewajibkan rahmat atas diriNya.

Kalau Allah subhanahu wa ta’ala adalah Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, maka seluruh perintah dariNya mengandung unsur rahmat. Baik perintah yang sifatnya perintah kauni, yakni saat memerintahkan penciptaan langit dan bumi dan yang lain, maupun perintah yang sifatnya syar’i, yakni saat Allah subhanahu wa ta’ala mensyariatkan agama Islam, menurut Al-Qur’an atau mengutus para Rasul. Seluruh perintahNya mengandung unsur rahmat. Ketika Allah memerintahkan sesuatu, maka disana ada rahmat. Dan ketika Allah melarang sesuatu, maka itu berarti bahwasannya pada larangan itu ada rahmat. Ketika Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kebaikan, maka itu karena rahmat ada pada kebaikan itu. Dan ketika Allah subhanahu wa ta’ala melarang kemungkaran-kemungkaran, maka itu adalah karena pada meninggalkan kemungkaran-kemungkaran itu terwujud dan terjadi kasih sayang sesama hamba Allah subhanahu wa ta’ala.

Allah Menurunkan Al-Qur’an

Rahmat dalam agama kita yang lain adalah bahwasanya Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan Al-Qur’an sebagai bentuk rahmatNya kepada hamba-hambaNya. Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا ﴿٨٢﴾

Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS. Al-Isra'[17]: 82)

Al-Qur’an dijadikan oleh Allah sebagai jalan yang harus diikuti oleh umat Islam. Dimana kalau mereka mengikutinya, maka InsyaAllah kasih sayang akan terwujud dan orang-orang akan terhindar dari kedzaliman yang telah dilarang oleh Al-Qur’an. Jadi, Al-Qur’an turun dengan rahmat dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Sesungguhnya itu sudah cukup untuk menjelaskan adanya rahmat dalam Islam dan bahwasannya seluruh agama ini adalah rahmat. Karena hal ini menunjukkan bahwasannya seluruh agama kita adalah rahmat. Karena Al-Qur’an diturunkan sebagai rahmat untuk umat manusia.

Allah Mengutus Para Rasul

Diantara perkara yang melambangkan dan menunjukkan rahmat dalam Islam adalah bahwasanya Allah subhanahu wa ta’ala mengutus Rasul kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rahmat untuk seluruh alam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ ﴿١٠٧﴾

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya'[21]: 107)

Ini adalah sebuah perkara yang agung. Allah berbicara kepada beliau yang telah diutus untuk alam jin dan manusia,  Arab maupun non Arab dan untuk seluruh bangsa. Allah katakan kepada beliau, “Sungguh kami tidak mengutusmu kecuali sebagai bentuk rahmat kepada seluruh alam.

Untuk apa beliau diutus? Disini dijelaskan beliau diutus hanya sebagai bentuk rahmat atau semata-mata sebagai bentuk rahmat kepada seluruh alam. Beliau tidak diutus untuk menyerang atau mendzalimi manusia. Tapi sebagai bentuk rahmat kepada mereka semuanya.

Karenanya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengamalkan ayat yang tersebut di atas, beliau mempraktekkan apa yang diminta oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Yakni pengutusan beliau sebagai bentuk rahmat kepada seluruh alam. Maka Allah subhanahu wa ta’ala memuji Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah ayat:

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ ﴿١٢٨﴾

“Telah datang kepada kalian seorang Rasul yang berat atas dirinya perkara yang memberati kalian. Beliau menginginkan kebaikan untuk kalian dan beliau lemah lembut dan kasih sayang kepada orang-orang yang beriman.” (QS. At-Taubah[9]: 128)

Pada ayat yang pertama Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan bahwasanya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus semata-mata sebagai bentuk rahmat untuk seluruh alam. Dan di ayat yang kedua Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan bahwasanya Nabi yang diutus tersebut benar-benar memiliki sifat lemah lembut dan rahmat serta kasih sayang kepada seluruh manusia. Dan bukti kasih sayang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat banyak. Tidak mungkin kita menyebutkan semuanya. Namun ada satu yang pantas untuk kita catat bersama, yakni apa yang disebutkan dalam berbagai riwayat. Bahwasanya ketika suatu ketika shalat, Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam membaca Al-Qur’an menikmati tilawah. Kemudian tiba-tiba beliau mendengar tangis seorang bayi. Maka beliau memperpendek shalat beliau sebagai bentuk kasih sayang beliau kepada si bayi dan ibunya. Saat itu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang beribadah. Sebuah perkara yang penting. Namun ini beliau kalahkan untuk mewujudkan kasih sayang beliau dan rahmat beliau kepada ibu dan bayinya.

Baca Juga:  Hak-Hak Para Sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam - Tabshiratul Anam bil Huquqi fil Islam (Ustadz Abu Ya'la Kurnaedi, Lc.)

Kasih Sayang Orang Tua dengan Anak

Diantara perkara yang melambangkan adanya rahmat dan kasih sayang dalam Islam adalah apa yang kita saksikan berupa saling menyayangi antara orang tua dengan anak. Para ayah dan ibu menyayangi anak mereka. Dan sebaliknya anak-anak mereka menyayangi ayah dan bunda. Ini adalah rahmat yang sifatnya fitri dan merupakan perintah Allah subhanahu wa ta’ala yang sifatnya kauni. Tidak ada seorang ayah kecuali dia menyayangi anaknya. Bahkan ini terjadi pada binatang pula. Dalam sebuah hadits shahih Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan:

إِنَّ لِلَّهِ مِائَةَ رَحْمَةٍ أَنْزَلَ مِنْهَا رَحْمَةً وَاحِدَةً بَيْنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ وَالْبَهَائِمِ وَالْهَوَامِّ فَبِهَا يَتَعَاطَفُونَ وَبِهَا يَتَرَاحَمُونَ وَبِهَا تَعْطِفُ الْوَحْشُ عَلَى وَلَدِهَا وَأَخَّرَ اللَّهُ تِسْعًا وَتِسْعِينَ رَحْمَةً يَرْحَمُ بِهَا عِبَادَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Sesungguhnya Allah memiliki seratus rahmat. Dari seratus rahmat tersebut, hanya satu yang di turunkan Allah kepada jin, manusia, hewan jinak dan buas. Dengan rahmat tersebut mereka saling mengasihi dan menyayangi, dan dengan rahmat itu pula binatang buas dapat menyayangi anaknya. Adapun Sembilan puluh sembilan rahmat Allah yang lain, maka hal itu ditangguhkan Allah. Karena Allah hanya akan memberikannya kepada para hamba-Nya yang shalih pada hari kiamat kelak.” (HR. Muslim)

Dalam riwayat yang lain:

فَمِنْ ذَلِكَ الْجُزْءِ يَتَرَاحَمُ الْخَلْقُ حَتَّى تَرْفَعَ الْفَرَسُ حَافِرَهَا عَنْ وَلَدِهَا خَشْيَةَ أَنْ تُصِيبَهُ

Dari yang satu bagian inilah seluruh makhluk berkasih sayang sesamanya, sehingga seekor kuda mengangkat kakinya karena takut anaknya akan terinjak olehnya.” (HR. Bukhari)

Subhanallah, seekor kuda mengangkat kakinya agar anaknya tidak mati dan terinjak adalah bentuk rahmat dari Allah subhanahu wa ta’ala. Demikian juga seluruh manusia, seluruh jin dan seluruh makhluk hidup memiliki sifat rahmat dan kasih sayang kepada anak-anak mereka. Ini adalah sebuah contoh yang agung dan itu semuanya diciptakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala agar nasab mereka bertahan, agar jenis mereka tidak punah dari atas muka bumi.

Kasih Sayang Anak-Anak Kepada Orang Tuanya

Anak-anak juga memiliki kasih sayang kepada orang tuanya. Dan ini tidak hanya terjadi diantara umat Islam. Namun umat-umat selain Islam pun juga kita dapatkan memiliki sifat ini. Seorang anak mengasihi kedua orang tuanya. Juga ini terjadi pada binatang-binatang. Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala mengisyaratkan rahmat ini dalam agamaNya. Allah mensyariatkan kasih sayang kepada orang tua dalam sebuah ayat yang agung. Dalam konteks yang mengagumkan. Yaitu ketika Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا ﴿٢٤﴾

Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah menyayangi aku waktu kecil”.” (QS. Al-Isra'[17]: 24)

Dalam ayat ini ada rahmat dalam berbagai bentuknya. Diantaranya adalah:
Yang pertama, bahwasanya Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kepada anak untuk merendahkan diri dihadapan kedua orang tuanya sebagai perwujudan rahmat untuk keduanya. Disini Allah subhanahu wa ta’ala mengumpamakan seorang anak seperti burung yang terbang. Dan kita mengetahui seekor burung kalau sudah mengembangkan sayapnya, maka dia akan bisa terbang dengan tingginya. Seorang anak bisa jadi lebih kuat kedudukannya daripada kedua orang tuanya. Bisa jadi mereka mencapai kedudukan yang tinggi dalam urusan dunia. Menjadi raja, menteri, gubernur, bupati, walikota atau yang lain. Namun Allah subhanahu wa ta’ala tidak ingin mereka terus terbang tinggi dihadapan kedua orang tuanya. Tapi Allah memerintahkan mereka untuk merendah kepada kedua orang tua mereka. Yang bisa jadi ketika sudah tua badan mereka sudah lemah, fisik mereka tidak seperti dulu lagi dan juga kedudukan mereka tidak sama lagi dengan kedudukan mereka saat masih muda dulu.

Yang kedua, dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan anak-anak untuk berdo’a untuk kedua orang tuanya dengan mengatakan, “رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا ” (Ya Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangi aku saat masih kecil). Disini si anak diperintahkan untuk meminta kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar Allah subhanahu wa ta’ala menyayangi kedua orang tuanya sebagaimana mereka telah menyayangi dia saat masih kecil. Kita meminta kepada Allah subhanahu wa ta’ala, menghadap kepadaNya agar Dia mengampuni dosa-dosa kedua orang tua kita, mengampuni kesalahan-kesalahan mereka dan mengangkat derajat mereka di surga dan kalau Allah subhanahu wa ta’ala sudah merahmati seseorang, maka Dia akan memasukkan ke dalam surga. Jadi, seorang anak bisa menjadi penyebab kedua orang tuanya masuk ke dalam surga.

Baca Juga:  Hak Rumah - Bagian ke-3 - Tabshiratul Anam (Ustadz Kurnaedi, Lc.)

Yang ketiga, bahwasanya si anak diperintahkan untuk berdo’a dengan bertawassul. Tawassul adalah dengan menyebut kasih sayang kedua orang tuanya kepada dia saat dia masih kecil. Jadi meminta kepada Allah subhanahu wa ta’ala, plus tawassul. Dalam do’a itu kita diperintahkan untuk meminta menyebutkan kasih sayang orang tua kita kepada kita saat kita masih kecil dengan mengatakan, “رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا ” (Ya Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangi aku saat masih kecil).

Jadi, ada tiga sisi dalam ayat yang agung ini yang menunjukkan rahmat dalam Islam. Khususnya rahmat antara anak dengan kedua orang tuanya. Yaitu:

  • Pertama, Allah memerintahkan si anak untuk merendahkan sayap dan tidak sombong dihadapan kedua orang tuanya.
  • Yang kedua, dia diperintahkan untuk berdo’a kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar dia merahmati kedua orang tuanya.
  • Yang ketiga, dalam do’a itu dia bertawassul. Yakni dengan menyebutkan kasih sayang kedua orang tuanya dahulu, sehingga dengan begitu do’anya bisa lebih mudah dikabulkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Kasih Sayang Pasangan Suami Istri

Diantara perkara yang melambangkan atau menunjukkan kasih sayang dalam Islam adalah saling menyayangi dan mengasihi antara pasangan suami istri. Karena keduanya adalah pilar keluarga. Kalau kedua pilar keluarga ini sudah baik Insyaallah keluarganya akan menjadi baik. Kalau kedua pilar keluarga ini sudah saling menyayangi, maka akan tercipta keluarga-keluarga yang saling menyayangi. Dalam sebuah ayat Al-Qur’an, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ

Dan diantara tanda-tanda kekuasaan Allah, Dia menciptakan untuk kalian dari diri kalian istri-istri. Agar kalian bisa tenang kepadanya dan menjadikan diantara mereka rasa cinta atau mawaddah dan rahmah atau kasih sayang.” (QS. Ar-Rum[30]: 21)

Tanda dalam ayat ini adalah ayat kauniyah, bukan ayat syariyah. Kita bisa melihat bahwasanya seorang wanita adalah orang yang sangat asing kepada suami barunya. Bisa jadi dia tumbuh dalam lingkungan yang sama sekali berbeda atau bahkan bahasanya pun tidak sama. Namun dalam hubungan suami istri ini mereka bisa menyatu. Dan kita bisa melihat terkadang ada sebagian saudara kita yang memiliki temperamen yang tinggi, keras, namun begitu dia menikah kita bisa melihat tabi’atnya berubah menjadi lebih lembut, dia lebih menyayangi istrinya, lebih menyayangi anak-anaknya, demikian kalau suami dan istri sudah baik dan lemah lembut, maka akan tercipta keluarga-keluarga yang lemah lembut pula. Sebaliknya kalau kedua suami istri teledor, tidak memiliki sifat rahmat, tidak saling kasih sayang, maka keluarga-keluarga akan menjadi hancur dan tercerai berai.

Simak penjelasannya pada menit ke – 52:46

Dengarkan dan Download Kajian Tabligh Akbar Tentang Islam Agama Damai dan Kasih Sayang


Jangan lupa untuk turut menyebarkan kebaikan dengan membagikan link download tabligh akbar ini ke Facebook, Twitter, dan Google+ Anda. Semoga Allah Ta’ala membalas kebaikan Anda semua.

Pencarian: agama islam, agama islam, agama islam, agama islam, agama islam, agama islam, agama islam, agama islam, agama islam, agama islam, agama islam, agama islam, agama islam, agama islam, agama islam, agama islam, agama islam, agama islam, agama islam, agama islam, ceramah agama islam, ceramah agama islam singkat, ceramah agama islam mp3, kumpulan ceramah agama islam, artikel agama islam, pidato agama islam, video ceramah agama islam, islam agama sesat, tausiah agama islam, ajaran agama islam, dakwah agama islam, islam agama, kebenaran agama islam, ceramah singkat agama islam, pengajian agama islam, tausiyah agama islam, kumpulan pidato agama islam, video agama islam, ilmu agama islam, pelajaran agama islam, contoh ceramah agama islam, kumpulan ceramah agama islam singkat, ceramah agama islam terbaru, makna agama islam, info agama islam, kepercayaan agama islam, pengetahuan agama islam

Telegram Rodja Official

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.