Telegram Rodja Official

Hukum Menggambar Dalam Islam

By  |  pukul 11:49 am

Terakhir diperbaharui: Selasa, 09 Jumadil awal 1440 / 15 Januari 2019 pukul 5:27 pm

Tautan: https://rodja.id/294

Hukum Menggambar Dalam Islam merupakan rekaman ceramah agama dan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Haidar As-Sundawy dalam pembahasan Kitab Al-Irsyad Ila Shahihil I’tiqad karya Syaikh Shalih Fauzan hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada 6 Rabbi’ul Tsani 1440 H / 14 Desember 2018 M.

Status Program Kajian Kitab Al-Irsyad Ila Shahihil I'tiqad

Status program kajian Kitab Al-Irsyad Ila Shahihil I'tiqad: AKTIF. Mari simak program kajian ilmiah ini di Radio Rodja 756AM dan Rodja TV setiap Jum'at, pukul 16:30 - 18:00 WIB.

Download mp3 kajian sebelumnya: Bahaya Ghuluw dan Mengkultuskan Individu

Kajian Tentang Hukum Menggambar Dalam Islam – Kitab Al-Irsyad Ila Shahihil I’tiqad

Kita sedang membahas beberapa usaha syariat untuk menutup jalan-jalan menuju perbuatan syirik dengan terlarangnya beberapa perkara yang umumnya dilakukan oleh manusia. Termasuk poin terakhir, ghuluw terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ghuluw terhadap orang-orang yang shalih. Itu point ke-9.

Poin ke-10 Dilarang Menggambar Makhluk Hidup

Diantara usaha syariat menutup jalan-jalan atau pintu-pintu menuju perbuatan syirik adalah dilarangnya menggambar makhluk hidup. Karena وسيلة إلى الشرك menggambar makhluk hidup itu termasuk wasilah, batu loncatan, perantara menuju terjadinya perbuatan syirik. Oleh karena itu para ulama membahas bab menggambar didalam Bab aqidah, bukan lagi dalam masalah fiqih. Karena menggambar makhluk hidup termasuk salah satu diantara wasilah menuju syirik. Didalamnya terkandung penyerupaan dengan Allah dalam hal menciptakan atau minimal berupaya untuk itu.

Perbuatan pertama terjadinya syirik di muka bumi bermula dari menggambar makhluk hidup, terlebih makhluk hidup yang digambar itu orang-orang shalih yang sudah wafat. Ini yang dilakukan oleh kaum Nabi Nuh. Mereka memiliki panutan, ketika para panutan itu masih hidup, orang-orang shalih. Ketika orang-orang shalih ini mati, mereka kehilangan dan selalu mengingat-ingat jasa-jasa para ulama mereka yang shalih. Sampai muncul inisiatif menggambar sketsa wajah orang shalih tersebut. Tidak untuk disembah pada awal dibuatnya gambar itu. Hanya untuk mengingatkan, begitu melihat gambarnya, teringat wejangannya, ajarannya, tuntunannya, lama-lama dibuat patung. Juga bukan untuk disembah pada awalnya. Setelah generasi pembuat patung itu musnah, meninggal karena waktu sudah berlalu bagi mereka, maka digenerasi berikutnya yang tak tahu apa-apa baru setan membisikan ayahmu, kakekmu dulu menyembah patung ini. Lalu disembahlah dan terjadilah perbuatan syirik.

Jadi, pertama berawal dari menggambar. Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari menggambar dengan berbagai macam cara larangan. Ada yang secara langsung melarang jangan kamu menggambar, ada hadits yang bernada ancaman yang keras bagi orang yang menggambar, ada juga hadits yang berupa perintah kalau menemukan gambar, menemukan patung makhluk hidup, dirubah. Kalau umpanya itu gambar orang, dirubah ditambah coretan-coretan sehingga tidak lagi berbentuk gambar orang. Kalau berupa patung, ditambah atau dikurangi atau dihancurkan.

Hadits yang seperti itu banyak. Seperti yang nanti insya Allah akan kita bahas. Jadi, cara Nabi mencegah dan melarang menggambar makhluk hidup berbagai macam cara. Ada yang dengan nada langsung melarang, ada yang dengan nada mengancam dengan ancaman adzab yang pedih bagi orang yang melakukannya, ada yang berupa perintah untuk merubah gambar makhluk hidup menjadi tidak seperti makhluk hidup. Kenapa demikian? Karena didalam menggambar terkandung penyerupaan dengan salah satu perbuatan Allah yaitu menciptakan. Dan menciptakan itu merupakan wewenang dan tanggung jawab Allah. Allah tidak boleh disaingi dalam hal menciptakan. Allah satu-satunya yang menciptakan. Maka ketika disaingi dalam hal itu, Allah subhanahu wa ta’ala murka. Terlebih menciptakan dalam bentuk menggambar itu termasuk salah satu wasilah, perantara, batu loncatan atau penyebab lahirnya perbuatan syirik. Dan itu telah terbukti di muka bumi ini.

Baca Juga:  Anjuran Memperbanyak Laa Haula Wa Laa Quwwata Illa Billah - Hadits 1528-1530 - Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah

Awalnya menggambar orang-orang yang shalih, lama-lama dibuat patungnya sampai patung atau gambar itu disimpan dalam majelis-majelis mereka, menjelaskan, menerangkan, mengungkit jasa-jasa dan kebaikan mereka, terus dengan motivasi agar mereka termotivasi untuk ibadah. Lama-lama sampai kepada menyembah dan meyakini bahwa gambar dan patung itu bisa memberi mudzarat atau memberi maslahat.

Berdasarkan hal itu, maka menggambar merupakan bibit-bibit lahirnya paganisme (penyembahan terhadap berhala, terhadap selain Allah ‘azza wa jalla). Karena ketika seseorang menggambar makhluk, terlebih makhluk itu orang shalih, didalam i’tiqad (keyakinan) ada pengagungan terhadap orang yang digambar tersebut. Didalam hatinya ada keterkaitan hati fikiran orang itu terhadap orang yang digambar. Khususnya bila yang digambar orang yang shalih, orang yang berilmu, orang yang menjadi panutan seluruh manusia. Ini merupakan sesuatu yang berbahaya.

Hadits-hadis yang melarang menggambar makhluk hidup

Pertama, hadits yang diterima dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذَهَبَ يَخْلُقُ خَلْقًا كَخَلْقِي فَلْيَخْلُقُوا ذَرَّةً أَوْ لِيَخْلُقُوا حَبَّةً أَوْ لِيَخْلُقُوا شَعِيرَةً

“Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: ‘Siapa lagi orang yang lebih zhalim dari pada orang yang mencoba membuat ciptaan seperti makhluk-Ku? Cobalah jika bisa mereka membuat atom, atau menciptakan biji-bijian, ataupun menciptakan jelai.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Makna hadits ini:

Perkataan وَمَنْ أَظْلَمُ (siapa yang lebih dzalim?), مَنْ disana dengan makna nafi (tidak ada lagi orang yang lebih dzalim daripada orang yang berbuat demikian). Jadi, orang yang paling dzalim adalah orang yang menyerupai ciptaan Allah ‘azza wa jalla, menciptakan seperti ciptaan Allah ‘azza wa jalla, dan maksudnya adalah menggambar makhluk hidup. Itu redaksi, susunan kalimat dari Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau menyatakan bahwa ini firman Allah. Maka disebutnya hadits Qudsi.

Itulah manusia yang paling dzalim, kata Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan ini menyatakan bahwa ketika orang itu menggambar dengan gambar yang bentuknya persis sama dengan ciptaan Allah yang memiliki ruh, baik manusia menggambar manusia atau menggambar hewan atau menggambar benda lain yang tidak memiliki ruh walaupun benda itu fiktif. Fiktif itu artinya tidak ada dalam realita, tidak ada dalam kenyataan, tapi dia menggambar yang apabila gambar itu real nyata dalam kehidupan, itu hidup. Seperti contoh umpamanya apa yang banyak beredar dikalangan kehidupan manusia tapi fiktif, seperti kuntilanak, seperti genderuwo, seperti hantu, realitanya kan tidak ada. Tapi kalau digambar, itu terkesan hidup, memiliki ruh, maka itu juga sama, itu tidak boleh. Karena dianggap yang memiliki ruh.

Jadilah perbuatan menggambar makhluk hidup itu menandingi Allah dalam hal menciptakan. Padahal Allah adalah satu-satunya pencipta, pencipta segala sesuatu. Dialah yang membentuk seluruh makhluk, setelah dibentuk kemudian Allah memasukkan ruh, dari ruh yang dimasukkan lahirlah kehidupan. Termasuk manusia,  Allah terbentuk manusia dalam sebaik-baik bentuk.
Allah berfirman:

خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ وَصَوَّرَكُمْ فَأَحْسَنَ صُوَرَكُمْ ۖ وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ ﴿٣﴾

Dia menciptakan langit dan bumi dengan haq. Dia membentuk rupamu dan dibaguskan-Nya rupamu itu dan hanya kepada Allah-lah kembali(mu).” (QS. At-Taghabun[64]: 3)

Makanya salah satu diantara nama sekaligus sifat Allah adalah Al-Musawwir, Al-Bari, Al-Khalik, itu satu paket, itu adalah sifat-sifat dan nama-nama yang maknanya berdekatan. Allah berfirman:

Baca Juga:  Cara Untuk Meraih Akhlak Mulia Bagian 4 - Aktualisasi Akhlak Muslim (Ustadz Abu Ihsan Al-Atsary, M.A.)

هُوَ اللَّـهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ ۖ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ ۚ …

Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asmaaul Husna. ..” (QS. Al-Hasyr[59]: 24)

Kemudian Allah menentang orang-orang yang menggambar dan mencoba-coba menyerupai perbuatan Allah dalam hal mencipta. Allah tentang di akhirat orang itu mengadakan apa yang digambarnya. Allah paksa orang itu untuk meniupkan ruh dan menghidupkan apa yang diciptakannya tersebut. Tapi mereka tidak mampu, tidak bisa meniupkan ruh karena mereka tidak diberikan kemampuan untuk itu. Dan paksaan Allah kepada mereka merupakan siksaan.

Ini merupakan celaan kepada orang yang tukang gambar. Oleh Allah dikatakan sedzalim-dzalim manusia. Kedua, bernada ancaman. Ancamannya tidak main-main, bersabda Rasul shallallahu ‘aalaihi wa sallam dalam hadits shahih riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, kata ‘Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الَّذِينَ يُضَاهُونَ بِخَلْقِ اللَّهِ

“Orang-orang yang paling keras siksanya pada hari kiamat adalah orang-orang yang membuat sesuatu yang menyamai ciptaan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maknanya orang yang menggambar makhluk hidup dan ini hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim. Hadits ini merupakan informasi, bukan do’a. Lebih kuat mana antara informasi atau do’a? Informasi, berita. Karena berita itu menginformasikan hal yang sudah pasti. Kalau do’a, kadang-kadang do’a itu dikabulkan, kadang-kadang tidak dikabulkan walaupun yang berdo’anya Nabi kita Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam. Ada banyak kasus do’a Nabi tidak dikabul. Padahal faktor pendukung dikabulkannya do’a ada pada diri Nabi saat itu. Dalam perang uhud, sampai beliau terluka, berdarah, empat gigi depannya tanggal, lalu dalam kondisi beliau menderita setelah didzalimi oleh orang kafir, didalam shalat beliau berdo’a mendo’akan laknat bagi beberapa orang kafir yang disebut namanya.

Itu disebut dalam shalat, dalam keadaan beliau bercucuran darah, menyebut nama dido’akan keburukan dan laknat. Apa yang terjadi? Turun ayat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditegur bahwa itu bukan wewenang Muhammad. Tidak ada sedikitpun wewenang dalam hal ini. Dan ternyata empat orang yang namanya disebut dalam do’a Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk Islam dan bagus keIslamannya. Saat itu do’a Nabi tidak dikabul karena hikmah tertentu dari Allah.

Do’a terkadang tidak dikabulkan. Tapi kalau Nabi memberitakan, “Manusia yang paling hebat siksanya pada hari kiamat adalah tukang gambar.” Ini berita, bukan do’a. Kalau berita, berarti menyampaikan sesuatu yang sudah pasti dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui hal itu berdasarkan wahyu. Ini yang dimaksud dengan menyerupai ciptaan Allah. Maknanya adalah bahwa mereka menyerupai dengan cara membuat-buat gambar yang menyerupai makhluk hidup ciptaan Allah. Padahal Allah harus diesakan dalam hal sifat menciptakan.

Satu-satunya pencipta adalah Allah. Baik Menciptakan makhluk ataupun menciptakan perbuatan makhluk. Kita makhluk ciptaan Allah, perbuatan kita, ucapan kita, semua aktivitas kita juga ciptaan Allah.

وَاللَّـهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ ﴿٩٦﴾

Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu”.” (QS. Ash-Shaffat[37]: 96)

Kalian ciptaan Allah, amal-amal kalian juga ciptaan Allah. Kalian itu makhluk, amal-amal kalian juga makhluk. Sedangkan yang menciptakan kita adalah Allah, yang menciptakan perbuatan kita juga Allah. Itu pernyataan Allah dalam Al-Qur’an.

Ketika seseorang meyakini bahwa perbuatan manusia adalah ciptaan manusia itu sendiri seperti orang-orang Qadariyah, orang Qadariyah adalah orang yang mengingkari takdir. Mereka tidak meyakini adanya takdir. Apa yang terjadi besok adalah bagaimana usaha dan ikhtiar kita sekarang, bukan karena takdir Allah. Mereka mengatakan bahwa kita ciptaan Allah, amalan kita adalah ciptaan kita, kreasi kita. Itu orang-orang Qadariyah. Jadi mereka menyakini ada dua pencipta. Allah menciptakan makhluk dan makhluk menciptakan perbuatannya sendiri. Oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, orang Qadariyah itu disebut dengan sebutan Majusinya umat ini. Beliau berkata:

Baca Juga:  Pentingnya Ta'awun dalam Dakwah

الْقَدَرِيَّةُ مَجُوسُ هَذِهِ الأُمَّةِ

“Qadariyah itu majusinya umat ini.” (HR. Hakim)

Karena memiliki keyakinan sama dengan orang Majusi dalam hal ada pencipta selain Allah di alam jagat raya ini. Allah menciptakan kebaikan, adapun keburukan itu ciptaan setan, kata mereka. Mereka meyakini begitu dengan niat baik, mensucikan Allah. Allah yang suci, Allah yang baik, tidak mungkin menciptakan keburukan. Konsepnya ini sepertinya baik. Kalau seperti baik, berarti tidak baik.

Baik yang baik ataupun yang buruk, semuanya ciptaan Allah. Takdir yang baik atau yang buruk ditetapkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

وَ تُؤْمِنَ بِالْقَدْرِ خَيْرِهِ وَ شَرِّهِ

“Dan kalian wajib beriman kepada takdir Allah baik yang baiknya ataupun yang buruknya.” (HR Muslim, no. 8)

Keburukan juga ketetapan Allah dan Allah menetapkan keburukan dengan hikmah yang luar biasa hebatnya bagi manusia. Keburukan adalah ujian, cobaan bagi kita. Kalau tidak ada keburukan tidak ada ujian, kalau tidak ada ujian nilai dari ibadah dan perjuangan kita kurang. Tapi kalau ada ujian, cobaan, penghalang, rintangan, kendala, tapi kita masih mampu mengatasi semua itu, nilai dari perjuangan kita hebat dan luar biasa. Tapi kalau tidak ada halangan, tidak ada perjuangan. Maka nilai dari sebuah amalan berkurang. Jadi adanya keburukan ujian dan cobaan. Tergoda atau tidak kita dengan keburukan itu. Simbol keburukan yang nyata adalah iblis laknatullah ‘alaihim. Iblis menggoda kita. Kalau kita tidak tergoda dengan goda’an iblis, hebat luar biasa. Berbeda dengan yang tanpa godaan.

Selain itu, keburukan melahirkan banyak kebaikan. Kebaikan ini tidak akan lahir tanpa keburukan tadi. Adanya keburukan melahirkan adanya dakwah, ‘amar ma’ruf nahi munkar, nasihat. Kalau tidak ada keburukan, akan adakah dakwah? Tidak ada. Semua orang shalih, semua orang baik, tidak akan ada nasihat. Karena ada keburukan, lahir jihad, lahir mati syahid.

Simak penjelasannya pada menit ke – 27:01

Simak Kajian Lengkapnya, Download dan Sebarkan mp3 Ceramah Agama Islam Tentang Hukum Menggambar Dalam Islam – Kitab Al-Irsyad Ila Shahihil I’tiqad

Mari raih pahala dan kebaikan dengan membagikan tautan ceramah agama ini ke Jejaring Sosial yang Anda miliki seperti Facebook, Twitter, Google+ dan yang lainnya. Semoga Allah Ta’ala membalas kebaikan Anda.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: Rodja Official
Facebook Page: Radio Rodja 756 AM
Twitter: @radiorodja
Instagram: @radiorodja
Website: radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook Page: Rodja TV
Twitter: rodjatv
Instagram: rodjatv
Website: rodja.tv

Pencarian: hukum menggambar dalam islam, hukum menggambar, hukum menggambar makhluk hidup dalam islam, hukum menggambar dalam islam, hukum menggambar dalam islam, hukum menggambar dalam islam, hukum menggambar dalam islam, hukum menggambar dalam islam, hukum menggambar, hukum menggambar makhluk hidup dalam islam, hukum menggambar dalam islam, hukum menggambar dalam islam, hukum menggambar dalam islam, hukum menggambar dalam islam, hukum menggambar dalam islam, hukum menggambar, hukum menggambar makhluk hidup dalam islam, hukum menggambar dalam islam, hukum menggambar dalam islam, hukum menggambar dalam islam, hukum menggambar dalam islam, hukum menggambar dalam islam, hukum menggambar dalam islam, hukum menggambar dalam islam

Telegram Rodja Official

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.