Telegram Rodja Official

Kejujuran dalam Mengikuti Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

By  |  pukul 8:07 am

Terakhir diperbaharui: Selasa, 16 Jumadil awal 1440 / 22 Januari 2019 pukul 8:13 am

Tautan: https://rodja.id/29f

Kejujuran dalam Mengikuti Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. dalam pembahasan Kitab Ahsanul Bayan min Mawaqifi Ahlil Iman karya Syaikh Abu Islam Shalih bin Thaha Abdul Wahid rahimahullah. Kajian ini disampaikan pada 16 Rabbi’ul Tsani 1440 H / 24 Desember 2018 M.

Download juga kajian sebelumnya: Nasihat Para Salafush Shalih Untuk Berpegang Teguh Kepada Sunnah

Download kitab أحسن البيان من مواقف أهل الإيمان” versi PDF di sini

Kajian Tentang Kejujuran dalam Mengikuti Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam – Kitab Ahsanul Bayan

Kita belajar dari generasi yang terbaik, dari generasi yang telah dipuji oleh Allah dalam Al-Qur’an dan telah dipuji oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Yakni generasi para Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Contoh 1: Abu Bakar Ash-Shiddiq

Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘Anhu berkata bahwa tidaklah aku meninggalkan sesuatu dari apa yang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah amalkan, artinya aku tidak pernah meninggalkan sesuatu yang pernah diamalkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melainkan aku contoh, melainkan aku amalkan. Sesungguhnya aku khawatir, aku takut apabila meninggalkan sesuatu dari perkara Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam akan tersesat.

Abu Bakar Ash-Shiddiq beliau manusia yang terbaik setelah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan setelah para Nabi dan Rasul. Dia mengatakan di sini bahwa kalau dia menyelisihi sesuatu dari sunnah Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka dia khawatir akan tersesat.

Dan penulis disini berkata bahwa berapa banyak diantara kita wahai hamba-hamba Allah yang menyelisihi perkara Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Baik dari individu-individu, jama’ah-jama’ah, bangsa-bangsa atau beberapa negeri. Dan beliau berkata bahwa banyak manusia yang terlepas dari sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Kata beliau, banyak manusia yang meninggalkan sunah Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Tetapi masalahnya seandainya cukup sampai batas itu saja yakni meninggalkan sunnah, karena sebagiannya lebih melampaui batas lagi. Ada sebagian mereka justru malah mencela sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, mengolok-olok sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Dan Dia berkata, demi Allah tidaklah kita melihat seorangpun, atau suatu jama’ah manapun, atau kelompok manapun yang tersesat melainkan dia telah meninggalkan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Jadi siapa saja yang meninggalkan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dia akan tersesat dengan ketersesatan yang nyata.

Baca Juga:  Pentingnya Akhlak Mulia - Bagian ke-1 - Bimbingan Islam (Ustadz Jazuli, Lc.)

Contoh 2: Umar bin Khattab

Beliau contohkan perkataan Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu. Dalam atsar yang shahih, Umar bin Khattab pernah berkata ketika mencium Hajar Aswad:

إني أعلم أنك حجر لا تضر ولا تنفع ، ولولا أني رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم قبلك ما قبلتك

“Sungguh aku tahu bahwa engkau hanyalah batu, tidak memberi mudharat dan tidak pula memberikan manfaat. Andaikan saya tidak melihat Nabi Shallallahu ’Alaihi wa Sallam melakukannya, saya tidak akan menciummu.”

Coba kita bandingkan dengan sebagian dari manusia atau orang-orang yang mempunyai batu cincin, kemudian dia katakan batu ini bisa mendatangkan manfaat atau menolak mudharat. Kalau misalkan dagangan tidak laris, dengan batu ini jadi laku. Ada laki-laki yang tidak kunjung menikah misalkan, dengan batu ini menjadi cepat menikah. Ini sebuah kesyirikan.

Batu tidak bisa memberikan manfaat dan tidak bisa memberikan mudzarat sedikitpun. Ini merupakan aqidah, iman, tauhid dan ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Berapa banyak dari kalangan kaum muslimin karena kebodohan mereka, mereka bertabarruk dengan Hajar Aswad dan mereka mencari kesembuhan dari penyakit mereka dengan Hajar Aswad. Padahal Hajar Aswad kata Umar bin Khattab tidak bisa memberikan manfaat dan mudharat.

Sebagian kaum muslimin berobat atau mencari kesembuhan dari penyakit mereka dengan kiswah Ka’bah. Bahkan ada kejadian yang sangat memalukan, kiswah Ka’bah digunting dan dibawa pulang. Padahal tidak bisa memberikan manfaat dan mudzarat sedikitpun.

Kita saksikan sebagaian saudara kita kaum Muslimin, mereka mengusap dinding-dinding Ka’bah. Padahal ketika tawaf, seharusnya yang diusap ada dua saja. Hajar Aswad ketika tidak bisa mencium dan Rukun Yamani.

Rukun Yamani sebelum Hajar Aswad. Yang dari Rukun Yamani kemudian Hajar Aswad ketika tawaf, disunahkan membaca:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka” (QS. Al-Baqarah[2]: 201)

Sebagian saudara kita, karena ketidaktahuan, mereka mengusap dinding-dinding yang ada di sekitar Ka’bah. Perbuatan mereka ini, tidak mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Juga mengikuti petunjuk beliau dan ini merupakan bid’ah dan penyimpangan dari sunnah.

Lihat, bandingkan antara Umar bin Khattab dengan apa yang dilakukan oleh sebagian saudara kita yang belum memahami sunnah Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Contoh 3: Abdullah bin Umar

Contoh kejujuran dan kebenaran dalam memegang sunnah Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

Baca Juga:  Allah Bersemayam Di Atas 'Arsy

 عَنْ سَالِمُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمْ الْمَسَاجِدَ إِذَا اسْتَأْذَنَّكُمْ إِلَيْهَا قَالَ فَقَالَ بِلَالُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ وَاللَّهِ لَنَمْنَعُهُنَّ قَالَ فَأَقْبَلَ عَلَيْهِ عَبْدُ اللَّهِ فَسَبَّهُ سَبًّا سَيِّئًا مَا سَمِعْتُهُ سَبَّهُ مِثْلَهُ قَطُّ وَقَالَ أُخْبِرُكَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَقُولُ وَاللَّهِ لَنَمْنَعُهُنَّ

“Dari Salim bin Abdullah bahwa Abdullah bin Umar berkata, “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Janganlah kalian menghalangi istri-istri kalian ke masjid apabila mereka meminta izin kepadanya.” Perawi berkata, “Bilal bin Abdullah berkata, ‘Demi Allah, sungguh kami akan melarang mereka’.” Perawi berkata, “Maka Abdullah menghadapnya, lalu mencelanya dengan celaan yang jelek yang aku tidak pernah mendengarnya mencelanya seperti itu sama sekali, seraya dia berkata, ‘Aku mengabarkan kepadamu dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tetapi kamu malah (menentang) dengan berkata, ‘Demi Allah, kami akan menghalangi mereka’.” (HR. Muslim)

Contoh 4: Ibnu Abbas

Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu ketika berfatwa bolehnya tamattu’. Beliau memegang perkataan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Kemudian manusia, ketika beliau berfatwa dengan fatwa tamattu’ mengatakan bahwa Abu Bakar As-Siddiq dan Umar bin Al Khattab Radhiyallahu ‘Anhuma, mereka berpendapat berbeda dengan pendapat Ibnu Abbas.

Maka Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma marah semarah marahnya dan beliau berkata:

أراهم سيهلكون أقول قال النبي صلى الله عليه و سلم ويقول نهى أبو بكر وعمر

“Mereka akan binasa, aku berkata kepada kalian, ‘Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,’ kemudian kalian bantah dengan perkataan ‘Abu Bakar dan Umar’?”

Ibnu ‘Abbas mengajarkan kepada kita bahwa perkataan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak boleh kita bantah.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّـهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّـهَ ۚ إِنَّ اللَّـهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ ﴿١﴾

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Hujurat[49]: 1)

Padahal Abu Bakar dan Umar, bagaimana dengan perkataan manusia dibawah Abu Bakar dan Umar? Bagaimana dengan perkataan Ustadz, Kyai, Habib atau siapapun zaman sekarang.

Pertakaan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak boleh dibantah. Kalau ada hadits shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka tidak boleh dibantah dengan perkataan siapapun. Walaupun itu perkataan orang yang paling mulia. Dan tidak ada manusia yang paling mulia di atas muka bumi ini setelah para Nabi dan Rasul kecuali Abu Bakar dan Umar. Ketika perkataan Abu Bakar dan Umar dihadapkan dengan perkataan Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Ibnu Abbas marah.

Baca Juga:  Khutbah Jum'at: Cara Mendapatkan Ridho Allah

Oleh karena itu tidak boleh kita bantah hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan ra’yu kita, dengan akal kita, dengan perkataan kita, dengan perkataan siapapun dari perkataan manusia.

Sesungguhnya hal ini merupakan At-Tamasuk. Yakni berpegang teguh dengan sunnah dan berittiba’ kepada petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Wahai saudara-saudaraku kaum muslimin. Berapa banyak dari kalangan manusia zaman ini, jika engkau katakan kepada dia, “membiarkan jenggot tumbuh wajib dan mencukur jenggot haram.” Apa yang didapatkan? Orang itu akan menuduh dengan berbagai macam tuduhan dan diantaranya dia akan berkata, “Lihatlah Kiayi Fulan, Syaikh Fulan, Ustadz Fulan, mereka keluar tanpa menumbuhkan jenggot.” Kemudian terus berkata, “Syaikh tadi berkata memelihara jenggot sunnah saja.”

Ini yang terjadi dizaman sekarang. Muncul seseorang pendakwah tanpa lihyah (jenggot). Padahal Rasul kita Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan lisannya yang mulia bersabda:

وَأَعْفُوا اللِّحَى

“biarkan jenggot.” (HR. Muslim)

Ini perkataan Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dibantah dengan perkataan, “Ustadz Fulan tidak pakai jenggot, Syaikh Fulan tidak pakai jenggot.” Ini yang terjadi sekarang.  Berhadapan dengan Sabda Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kemudian membuat alasan-alasan yang semuanya alasan tersebut ingin lari dari sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dengan alasan apapun, intinya tidak ingin memakai sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Sebaik-baik kita, ketika Rasul kita Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, maka sami’na wa atha’na (kami dengar dan kami taat)

Ketika kita berkata kepada sebagian mereka bahwa jilbab wajib untuk wanita. Kemudian ada yang berkata kepada kita, “Ada Fulan, seorang da’i tampil di televisi, dia berkata bahwa hijab tidak wajib. Bahkan lebih parah lagi merupakan adat istiadat orang Arab.”

Apakah ada perkataan yang bisa menghadapi perkataan Allah dan sabda RasulNya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam? Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّـهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّـهَ ۚ إِنَّ اللَّـهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ ﴿١﴾

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Hujurat[49]: 1)

Contoh 5: Abdullah bin Mughaffal

Abdullah bin Mughaffal, dia melihat seseorang yang bermain semacam ketapel. Melempar dengan batu kecil.

Menit ke – 22:09

Simak Kisah Lengkap dan Download Kajian Tentang Kejujuran dalam Mengikuti Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam – Kitab Ahsanul Bayan

Mari raih pahala dan kebaikan dengan membagikan tautan ceramah agama ini ke Jejaring Sosial yang Anda miliki seperti Facebook, Twitter, Google+ dan yang lainnya. Semoga Allah Ta’ala membalas kebaikan Anda.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: Rodja Official
Facebook Page: Radio Rodja 756 AM
Twitter: @radiorodja
Instagram: @radiorodja
Website: radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook Page: Rodja TV
Twitter: rodjatv
Instagram: rodjatv
Website: rodja.tv

Download: Khutbah Jumat, Ceramah Agama, Khutbah Idul Adha, kultum, ceramah singkat

Telegram Rodja Official

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.