Telegram Rodja Official

Rambu-Rambu Dalam Mendidik Anak Menggunakan Hukuman

By  |  pukul 5:51 pm

Terakhir diperbaharui: Minggu, 05 Jumadil akhir 1440 / 10 Februari 2019 pukul 5:51 pm

Tautan: https://rodja.id/2ad

Rambu-Rambu Dalam Mendidik Anak Menggunakan Hukuman adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan tentang cara mendidik anak secara Islami (fiqih pendidikan anak). Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. pada 17 Dzul Qa’idah 1439 H / 30 Juli 2018 M.

Program Kajian Keluarga - Ustadz Abdullah Zaen, M.A.

Status program Kajian Keluarga: AKTIF. Simak program ini di Radio Rodja dan Rodja TV setiap: Senin pagi, pukul 10:00-11:00 WIB, 2 pekan sekali, bergantian dengan Kajian Fiqih Doa dan Dzikir.

Download mp3 kajian sebelumnya: Hadiah Untuk Anak Tidak Identik dengan Materi

Kajian Tentang Rambu-Rambu Dalam Mendidik Anak Menggunakan Hukuman

Penggunaan hukuman tanpa rambu-rambu bisa menjadikan anak justru kebal hukuman. Ketika hukuman itu dijatuhkan, tidak memberikan efek. Bahkan ada anak yang ketika dihukum malah ketawa-ketawa. Seakan-akan anak ini sudah kebal dengan hukuman.

Maka kita harus waspada. Ada anak yang sudah dijatuhi hukuman berkali-kali, bahkan levelnya sudah dinaikkan. Ternyata kesalahannya tetap dilakukan. Ini berarti anak sudah kebal hukuman. Atau juga ada anak yang tidak mau melakukan sesuatu atau meninggalkan sesuatu kalau belum dihukum. Ini berarti anak sudah kebal hukum. Kita tentunya tidak mau. Seandainya hukuman akan mengakibatkan anak seperti itu.

Baca Juga:  Ibadah Yang Benar Akan Melahirkan Buah Yang Benar - Kitab Al-'Ubudiyah (Ustadz Abdullah Taslim, M.A.)

Bagaimana caranya?

Caranya tentunya ketika kita akan menjatuhkan hukuman, ada rambu-rambunya, ada aturannya, ada kaidahnya, bukan sekedar menjatuhkanmu hukuman. Kenapa bisa terjadi kebal hukuman seperti itu? Diantara pemicunya adalah karena ada sebagian orang tua mempunyai pemahaman bahwa metode satu-satunya mendidik anak adalah dengan hukuman. Ini salah. Sehingga anak selalu hari-harinya dipenuhi dengan hukuman. Karena terlalu sering menggunakan hukuman, akhirnya lama-lama anak itu menjadi kebal. Dan ini harus diluruskan. Bahwa hukuman adalah salah satu metode dan bukan satu-satunya metode. Ada hadiah, ada pendekatan, ini adalah metode yang ke-7.

Karena adanya sebagian orang tua yang hanya memakai hukuman didalam mendidik anaknya, akhirnya akibat yang ditimbulkan anak menjadi kebal terhadap hukuman. Jadi jangan sampai kita hanya memegang artikel ini saja. Pegang juga artikel sebelumnya supaya kita tahu bahwasanya metode pembelajaran anak itu bukan hanya hukuman.

Kalau kita tetap memegang prinsip bahwa metode mendidik anak hanya satu yaitu hukuman, lama-lama jangan salahkan kalau anak menjadi kebal terhadap hukuman.

Baca Juga:  Bagian Tubuh Bayi yang Boleh Dihias (Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.)

Rambu-Rambu Dalam Mendidik Anak Menggunakan Hukuman

Pertama, proporsionalkan antara hukuman dengan hadiah. Proporsional itu artinya seimbang. Seimbangkan antara hadiah dengan hukuman. Ketika kita mendengar kata seimbang, itu tidak harus 50 / 50. Seperti adil yang tidak perlu sama. Adil adalah sesuai dengan kebutuhan.

Proporsional tidak harus sama, tapi yang penting seimbang. Seimbangnya adalah hadiah harus lebih banyak dibandingkan hukuman. Perhatikan baik-baik. Didalam agama kita, ada lembut ada keras. Lembut maupun keras, didalam agama kita sama-sama dipakai. Lembut pada tempatnya, kelas pada tempat.

Antara lembut dengan keras ini, di dalam agama kita mana yang lebih banyak? Lebih banyak lembutnya. Walaupun keras suatu saat dibutuhkan. Kita analogikan dengan hadiah dan hukuman. Hadiah itu sesuatu yang lembut sedangkan hukuman sesuatu yang keras.

Maka kalau lebih banyak daripada keras, berarti hadiah juga lebih banyak daripada keras. Dan ingat bahwa hadiah tidak identik dengan materi. Bahkan kita sampaikan bahwa hadiah yang bentuknya duit itu kurang mendidik. Yang lebih mendidik adalah hadiah yang sifatnya perhatian. Ujian, kata-kata yang baik, kemudian sentuhan kasih sayang, pelukan, senyuman, elusan sayang, ciuman di kening anak, ini adalah hadiah.

Baca Juga:  Sifat Kasar - Bab 221 - Hadits 475-477 - Kitab Al-Adab Al-Mufrad (Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A.)

Jadi, seimbang antara hukuman dengan hadiah artinya bahwa hadiah harus lebih banyak daripada hukuman. Masalah yang sering timbul didalam pendidikan anak adalah ketika ini dibalik. Hukuman lebih banyak daripada hadiah. Ini yang sering jadi masalah.

Ketika orang tua lebih suka memakai hukuman dibandingkan hadiah, timbulah permasalahan-permasalahan yang tadi sudah disampaikan. Yaitu anak menjadi kebal.

Simak penjelasannya pada menit ke-12:49

Download mp3 Kajian Tentang Rambu-Rambu Dalam Mendidik Anak Menggunakan Hukuman

Mari turut membagikan hasil rekaman ataupun link ceramah agama ini melalui jejaring sosial Facebook, TwitterGoogle+ dan yang lainnya agar orang lain bisa turut mengambil manfaatnya. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala membalas kebaikan Anda.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: Rodja Official
Facebook Page: Radio Rodja 756 AM
Twitter: @radiorodja
Instagram: @radiorodja
Website: radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook Page: Rodja TV
Twitter: rodjatv
Instagram: rodjatv
Website: rodja.tv

Telegram Rodja Official

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.