Telegram Rodja Official

Haruskan Anak Dipukul?

By  |  pukul 8:41 am

Terakhir diperbaharui: Senin, 06 Jumadil akhir 1440 / 11 Februari 2019 pukul 8:41 am

Tautan: https://rodja.id/2af

Haruskan Anak Dipukul? adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan tentang cara mendidik anak secara Islami (fiqih pendidikan anak). Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. pada 28 Muharram 1440 H / 08 Oktober 2018 M.

Program Kajian Keluarga - Ustadz Abdullah Zaen, M.A.

Status program Kajian Keluarga: AKTIF. Simak program ini di Radio Rodja dan Rodja TV setiap: Senin pagi, pukul 10:00-11:00 WIB, 2 pekan sekali, bergantian dengan Kajian Fiqih Doa dan Dzikir.

Download mp3 kajian sebelumnya: Norma-Norma dan Cara Menjatuhkan Hukuman Kepada Anak Menurut Islam

Kajian Tentang Haruskan Anak Dipukul?

Tidak sedikit orang tua yang terbiasa untuk menggunakan kekuatan fisiknya supaya anaknya mau tunduk. Ini realita yang sering kita lihat di rumah-rumah, banyak diantara orang tua yang mengandalkan kekuatan fisiknya, yang mengandalkan kekerasan dengan dalih supaya anak menurut, supaya anak ini tunduk.

Sering diantara mereka lupa bahwa kekuatan fisik itu ada batasnya. Orang yang ketika masa mudanya bertubuh kekar, saat usianya lanjut maka kekekaran tubuhnya akan berubah menjadi keringkihan.

Kalau dahulu jalannya tegap, sekarang jalannya bungkuk. Orang yang dahulu bisa menggenggam tangannya dengan kuat dan dengan mudahnya dia melayangkan pukulan, sekarang ketika sudah lanjut usia membawa gelas saja gemetaran. Orang yang ketika masa mudanya suaranya tinggi melengking dan bisa membentak, ketika sudah lanjut usia mengangkat suara sedikit sudah terbatuk-batuk. Orang yang ketika masih mudanya matanya bisa awas melotot tajam, begitu sudah tua matanya rabun, tidak jelas untuk melihat apa yang ada di hadapannya.

Baca Juga:  Dia Tidak Melahirkan dan Tidak Pula Dilahirkan - Khutbah Jum'at

Tidak sedikit anak yang melihat orang tuanya seperti algojo. Tidak sedikit anak yang melihat orang tuanya sebagai sosok yang seram dan mengerikan. Sedangkan dia sendiri merasa tubuhnya kecil, kekuatannya tidak akan bisa digunakan untuk melawan kekuatan orang tuanya. Sehingga mau tidak mau anak akan mengikuti keinginan orang tuanya apapun keinginan tersebut. Bukan karena dia patuh dengan orang tuanya, tapi karena perasaan takut terhadap orang tuanya.

Sebagian orang tua merasa itu adalah kesuksesan dalam mendidik anak. Sebagian orang tua mengatakan, “Itu buktinya anak saya nurut sekali kepada saya. Jangankan melanggar perintah, mau bergeser saja tidak akan berani kalau saya tidak menyuruhnya.” Jadi merasa itu adalah sebuah keberhasilan dalam mendidik anak.

Anda jangan lihat sekarang! Akan tetapi coba Anda perkirakan dua puluh tahun kedepan. Apa yang terjadi dengan dua puluh tahun kedepan? Fisik Anda yang sekarang kuat perkasa akan semakin lemah, akan semakin berkurang. Sedangkan fisik dari anak Anda yang sekarang kecil akan semakin besar dan semakin kuat.

Baca Juga:  Kiat Islam Agar Kesucian dan Kehormatan Wanita Terjaga

Ketika kondisi itu berbalik, Anda yang sekarang kuat, dua puluh tahun kemudian menjadi lemah. Anak Anda yang sekarang lemah, dua puluh tahun kemudian menjadi berada diatas puncak kekuatannya. Apa yang akan terjadi? Apakah anak akan nurut seperti dahulu ketika masih kecil dan lemah? Atau sebaliknya, anak merasa inilah kesempatan untuk balas dendam.

“Dahulu orang tua saya memperlakukan saya dengan kekerasan. Sekarang tiba saatnya saya memperlakukan orang tua saya seperti dahulu orang tua saya memperlakukan saya.” Naudzubillahi min dzalik.

Ketahuilah bahwa didalam agama kita, hukuman diperbolehkan baik dalam pendidikan anak maupun dalam hal-hal yang lain. Keliru seandainya ada pemahaman yang mengira Islam melarang hukuman. Di dalam agama kita ada hukuman. Akan tetapi satu hal yang harus kita ingat, hukuman didalam agama Islam ada tujuannya.

Kenapa ada hukuman? Ini yang harus kita pahami. Tujuan hukuman didalam agama kita adalah untuk nasihat dan untuk perbaikan. Sehingga ketika hukuman itu dijatuhkan lalu tujuannya melenceng dari tujuan nasihat dan perbaikan, berarti hukuman itu sudah tidak diatas rel yang benar.

Baca Juga:  Sedekah Melapangkan Dada dan Menentramkan Hati

Contoh, orang yang menghukum tujuannya untuk melampiaskan kemarahan. Sehingga hukuman yang seperti itu tujuannya cenderung untuk membuat orang yang dihukum kesakitan. Orang-orang yang menghukum dengan tujuan melampiaskan kemarahan, ciri-cirinya kalau yang dihukum belum ampun-ampun belum berhenti. Kalau yang dihukum belum nangis, belum berhenti. Ini ciri orang-orang yang menghukum dengan tujuan untuk melampiaskan kemarahan dan emosi.

Simak penjelasannya pada menit ke-10:49

Download mp3 Kajian Tentang Haruskan Anak Dipukul?

Mari turut membagikan hasil rekaman ataupun link ceramah agama ini melalui jejaring sosial Facebook, TwitterGoogle+ dan yang lainnya agar orang lain bisa turut mengambil manfaatnya. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala membalas kebaikan Anda.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: Rodja Official
Facebook Page: Radio Rodja 756 AM
Twitter: @radiorodja
Instagram: @radiorodja
Website: radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook Page: Rodja TV
Twitter: rodjatv
Instagram: rodjatv
Website: rodja.tv

Telegram Rodja Official

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.