Telegram Rodja Official

Serial 'Aqidah Salaf

Prinsip-Prinsip ‘Aqidah Menurut Imam Ahmad

By  | 

Prinsip-Prinsip ‘Aqidah Menurut Imam Ahmad merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abdurrahman Thoyyib, Lc. Kajian ini disampaikan pada 29 Dzul Qa’idah 1439 H / 11 Agustus 2018 M.

Kajian Prinsip-Prinsip ‘Aqidah Menurut Imam Ahmad – Ustadz Abdurrahman Thoyyib, Lc.

Ini adalah ‘aqidah salah satu Imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang tidak asing lagi namanya bagi kita. Yaitu ‘aqidah Imam Ahmad Rahimahullahu Ta’ala. Ini semuanya masih berkaitan dengan tema kita dari awal yaitu membacakan atau serial ‘aqidah Salaf.

Sudah kita sampaikan ‘aqidah Imam Al-Humaidi (gurunya Imam Bukhari), demikian pula ‘aqidahnya Imam Bukhari sendiri, kemudian juga akhirnya Al-Imam Asy-Syafi’i, demikian pula ‘aqidah Imam Sufyan Ats-Tsauri. Ini adalah silsilah ‘aqidah Salafush Shalih yang kita hendaknya betul-betul memahaminya, mempelajarinya dan berpegang teguh dengannya.

Kalau mau mengetahui dimana referensi ‘aqidah Imam Ahmad, bisa dilihat dalam kitab Syarah Ushul I’Tiqad Ahlus Sunah wal Jama’ah karangan Imam Al Lalika’i yang sudah kita sampaikan bahwa disitu ada kumpulan ‘aqidah Imam Imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Diantaranya ‘aqidah Imam Ahmad. Di sini dijelaskan secara panjang lebar. Kurang lebih di sini ada 50 poin ‘aqidah Imam Ahmad atau Ushulus Sunnah karangan Imam Ahmad Rahimahullahu Ta’ala.

Baca Juga:
Contoh Bahwa Islam Agama Yang Mudah Bagian 1 – Prinsip Dasar Islam (Ustadz Fachrudin Nu’man, Lc.)

Ushulus Sunnah karangan Imam Ahmad Rahimahullahu Ta’ala

Prinsip-prinsip ‘aqidah menurut Imam Ahmad adalah sebagai berikut:

1. Berpegang teguh dengan ajaran para Sahabat Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan mengikuti jejak mereka

Kata Sebagian ulama yang mensyarah ucapan Imam Ahmad di sini, Imam Ahmad sebelum jauh-jauh menjelaskan tentang ‘aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, tentang ‘aqidah beliau, beliau ingin menyampaikan bahwasanya ‘aqidah beliau itu diatas Manhajnya para Sahabat.

Dan di sini kita mengetahui bahwasanya ‘aqidah itu adalah masalah keyakinan diantaranya rukun iman yang enam. Adapun manhaj berkaitan dengan metode. Beliau di sini ingin menjelaskan apa metode dalam ber’aqidah. Beliau ingin menyampaikan bahwasanya ‘aqidah beliau itu diatas manhaj, diatas metoda para Sahabat Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Beliau dalam ber’aqidah tidak mengarang sendiri. Beliau hanya meneruskan tongkat estafet para ulama Salaf sebelum beliau dari kalangan Sahabat, Tabi’in maupun Tabi’ut Tabi’in.

Mengikuti jejak para Sahabat dalam segala bidang kehidupan beragama ini hukumnya wajib. Bukan sesuatu yang bisa dipilih, bukan sesuatu yang mustahab (boleh diambil boleh ditinggalkan).

Mengikuti ajaran para Sahabat hukumnya wajib. Karena itu yang diwajibkan oleh Allah dan Rasul. Itu adalah perintah Allah dan perintah Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Banyak dalil tentang wajibnya kita mengikuti ajaran para Sahabat Rasul. Diantaranya ayat yang setiap hari kita baca ketika shalat:

Baca Juga:
Apakah Kata-Kata, “Aku Sedang Sakit” Merupakan Suatu Keluhan? - Kitab Al-Adab Al-Mufrad

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ ﴿٦﴾

Ya Allah tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus.” (Al-Fatihah[1]: 6)

Kata Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala, para ulama Salaf mentafsirkan Ash-Shiratal Mustaqim dengan jalannya Abu Bakar, jalannya Umar, jalannya para Sahabat Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Maka kalau kita mau Shiratal Mustaqim, kita harus mengikuti jalannya para Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Khususnya dalam masalah ‘aqidah.

Demikian pula Allah berfirman:

فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنتُم بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوا…

Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk…” (QS. Al-Baqarah[2]: 137)

Jika manusia itu beriman sebagaimana imannya kalian (para Sahabat), maka mereka manusia akan mendapatkan petunjuk. Tidak ada jalan petunjuk kecuali mengikuti jalannya para Sahabat Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Allah mengatakan:

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ…

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia…” (QS. Ali-Imran[3]: 110)

Kata Abdullah bin ‘Abbas, ayat ini berkaitan dengan para Sahabat Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kalau kita mau baik, kalau umat ini mau baik, harus mengikuti jalannya para Sahabat Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Demikian pula Allah berfirman:

وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا ﴿١١٥﴾

Baca Juga:
Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 62 - 64 (Ustadz Badrusalam, Lc.)

Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin (para Sahabat), Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa'[4]: 115)

Kewajiban seorang muslim harus mengikuti jejak para Sahabat Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kalau tidak, dia akan tersesat. Demikian pula Allah mengatakan:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّـهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ ﴿١٠٠﴾

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah[9]: 100)

Allah mengatakan bahwa ridhaNya hanya diberikan kepada yang mengikuti jejak kaum Muhajirin dan kaum Anshar, para Sahabat Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Bahkan Allah mengatakan, kalau mau surgaNya, harus melewati jalannya para Sahabat Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Demikian pula Allah mengatakan dalam surat At-Taubah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّـهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ ﴿١١٩﴾

Baca Juga:
Kesalahan Memahami Makna dan Realisasi Laa Ilaa ha Illallah - Kitab Al-'Ubudiyah

Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah[9]: 119)

Dan para Sahabat dikatakan:

…أُولَـٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ ﴿١٥﴾

“…Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hujurat[49]: 15)

Maka wajib mengikuti jejak para Sahabat.

Demikian pula Allah mengatakan dalam surat Luqman:

…وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ…

“…Ikutilah jalan orang yang bertobat kepadaKu…” (QS. Luqman[31]: 15)

kata Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah, setiap Sahabat adalah orang yang bertaubat kepada Allah. Maka inilah perintah Allah untuk kita mengikuti jejak para Sahabat Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam semua bidang agama ini terutama dalam masalah ‘aqidah. Dan itupun yang Rasul tegaskan:

Pertama, hadits perpecahan umat. Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

اِفْتَرَقَتِ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً فَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَسَبْعُوْنَ فِي النَّارِ، وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً فَإِحْدَى وَسَبْعُوْنَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ، وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَتَفْتَرِقَنَّ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَثِنْتَانِ وَسَبْعُوْنَ فِيْ النَّارِ. قِيْلَ يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ هُمْ؟ قَالَ: اَلْجَمَاعَةُ

“Umat Yahudi berpecah-belah menjadi 71 (tujuh puluh satu) golongan, maka hanya satu golongan yang masuk surga dan 70 (tujuh puluh) golongan masuk neraka. Umat Nasrani berpecah-belah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan dan 71 (tujuh puluh satu) golongan masuk neraka dan hanya satu golongan yang masuk surga. Dan demi jiwa Muhammad yang berada di tanganNya, sungguh akan berpecah-belah umatku menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, hanya satu (golongan) masuk surga dan 72 (tujuh puluh dua) golongan masuk neraka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallamditanya, “Wahai Rasulullah, siapakah mereka (satu golongan yang selamat) itu?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, Al-Jama’ah.” (HR Ibnu Mâjah, Ibnu Abi Ashim, Al-Lalikai)

Baca Juga:
Bab Larangan Berdoa dengan "Ya Allah, Ampunilah Aku jika Engkau Menghendaki" - Bagian ke-1 - Kitab Al-Qaulul Mufid (Ustadz Abu Haidar As-Sundawy)

Ini adalah perintah. Kalau kita mau selamat, tidak ada jalan lain kecuali jalannya Rasul, jalannya para Sahabat Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Simak penjelasannya pada menit ke-11:45

Simak Penjelasan Lengkap dan Download Kajian Prinsip-Prinsip ‘Aqidah Menurut Imam Ahmad – Ustadz Abdurrahman Thoyyib, Lc.

Mari raih pahala dan kebaikan dengan membagikan tautan ceramah agama ini ke Jejaring Sosial yang Anda miliki seperti Facebook, Twitter, Google+ dan yang lainnya. Semoga Allah Ta’ala membalas kebaikan Anda.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: Rodja Official
Facebook Page: Radio Rodja 756 AM
Twitter: @radiorodja
Instagram: @radiorodja
Website: radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook Page: Rodja TV
Twitter: rodjatv
Instagram: rodjatv
Website: rodja.tv

Lihat Juga: Radio Streaming, Khutbah Jumat, Ceramah Agama, Ceramah Lucu, Khutbah Idul Adha, Kultum, Ceramah Singkat, Shalawat, Shalat JenazahRukun IslamRukun Iman, Ziarah Kubur, Shalat Berjamaah, Amar Ma’ruf Nahi Munkar, Belajar Bahasa Arab,

 

Telegram Rodja Official

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.