Telegram Rodja Official

Didalam As-Sunnah Tidak Ada Qiyas – Prinsip-Prinsip ‘Aqidah Menurut Imam Ahmad

By  |  pukul 11:24 am

Terakhir diperbaharui: Senin, 06 Jumadil akhir 1440 / 11 Februari 2019 pukul 11:24 am

Tautan: https://rodja.id/2aj

Didalam As-Sunnah Tidak Ada Qiyas merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abdurrahman Thoyyib, Lc. Kajian ini disampaikan pada 27 Dzul Hijjah 1439 H / 08 September 2018 M.

Download kajian sebelumnya: Prinsip-Prinsip ‘Aqidah Menurut Imam Ahmad

Kajian Tentang Didalam As-Sunnah Tidak Ada Qiyas – Ustadz Abdurrahman Thoyyib, Lc.

Pada kesempatan yang pertama, kita sudah membahas 6 poin dari kitab Ushulus Sunnah. Sekarang kita sampai kepada poin yang ke-7. Imam Ahmad Rahimahullah berkata:

7. Didalam As-Sunnah Tidak Ada Qiyas

Di sini harus kita pahami bahwasanya Imam Ahmad Rahimahullah tidak mengingkari adanya qiyas secara mutlak. Qiyas adalah menyamakan sesuatu dengan sesuatu yang lain karena adanya suatu sebab persamaan antara keduanya.

Seperti pada masalah bab muamalah. Contoh, Rasul mengatakan:

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ يَدًا بِيَدٍ فَمَنْ زَادَ أَوِ اسْتَزَادَ فَقَدْ أَرْبَى الآخِذُ وَالْمُعْطِى فِيهِ سَوَاءٌ

“Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan (tunai). Barangsiapa menambah atau meminta tambahan, maka ia telah berbuat riba. Orang yang mengambil tambahan tersebut dan orang yang memberinya sama-sama berada dalam dosa.” (HR. Muslim)

Kata para ulama, sekarang ini mata uang diqiaskan dengan emas dan perak tersebut. Karena suatu sebab yang menyamakan antara keduanya. Yaitu dulu emas dijadikan sebagai mata uang untuk jual beli, sekarang memakai mata uang seperti rupiah, dolar dan sebagainya.

Baca Juga:  Kisah Kesabaran Nabi Yaqub 'alaihissalam saat Berpisah dengan Anaknya - Bagian ke-1 - Kitab Ahsanul Bayan (Ustadz Kurnaedi, Lc.)

Maka diqiaskan antara rupiah, dollar, dengan emas karena sebab sama-sama sebagai mata uang. Ini namanya qiyas dalam muamalah. Dan ini sangat diperbolehkan.

Seperti dalam masalah zakat. Misalnya dulu Rasul mengeluarkan zakat kurma atau mungkin gandum. Sekarang diqiyaskan dengan padi atau beras karena satu kesamaan, sama-sama sebagai bahan pokok makanan manusia. Ini namanya qiyas. Dalam masalah muamalah, hal-hal seperti tadi, Imam Ahmad dan juga ulama-ulama lain membolehkan.

Namun apa maksud Imam Ahmad mengatakan, “Didalam As-Sunnah Tidak Ada Qiyas”? Kalau kita baca kitab-kitab para ulama yang mensyarah ucapan Imam Ahmad di sini, ada beberapa penafsiran:

Pertama, tidak ada dalam masalah ‘aqidah itu qiyas. Dalil ‘aqidah harus dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Apalagi yang berkaitan dengan tauhid asma wa sifat misalnya, tauhid uluhiyah, harus berdasarkan dalil Al-Qur’an yang Sunnah Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Kita mengatakan Allah ada di atas langit harus berdasarkan Al-Qur’an. Misalnya Allah mengatakan:

أَأَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاءِ…

Apakah kalian merasa aman dari Dzat yang di atas langit?” (QS. Al-Mulk[67]: 16)

Demikian pula harus dari Sabda Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang shahih. Rasul mengatakan:

أَلَا تَأْمَنُونِي وَأَنَا أَمِينُ مَنْ فِي السَّمَاءِ

Baca Juga:  Mukadimah - Bagian ke-1 - Kitab Kun Salafiyyan 'alal Jaddah (Ustadz Abdullah Taslim, M.A.)

“Tidakkah kalian mempercayai diriku sedangkan aku kepercayaan Dzat yang di atas langit?” (HR. Bukhari)

Tidak boleh kita menetapkan ‘aqidah hanya berlandaskan qiyas atau logika semata. Karena bagaimanapun juga akal kita terbatas. Artinya tidak ada didalam ‘aqidah itu qiyas. ‘Aqidah harus berdasarkan dalil Al-Qur’an dan Sunnah Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Tidak boleh juga kita mengqiyaskan antara Allah dengan makhluk. Tidak boleh kita mengatakan Allah punya pendengaran namun sama dengan makhlukNya. Na’udzubillahi mindzalik, ini mengqiaskan Allah dengan makhluk. Ini tidak dibolehkan.

فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّـهِ أَندَادًا

“Jangan kalian menyerupakan, membuat tandingan-tandingan bagi Allah” (QS. Al-Baqarah[2]: 22)

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (QS. Asy-Syura[42]: 11)

Tidak boleh kita menyamakan misalnya seorang wali Allah jangan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam masalah ilmu gaib, mengatakan ada wali yang tahu ilmu gaib. Ini tidak boleh. Karena Allah mengatakan:

قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّـهُ ۚ …

“Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah…” (QS. An-Naml[27]: 65)

Tidak boleh mengqiyaskan Allah dengan makhluk atau mengqiyaskan makhluk dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketika Allah mengatakan:

الرَّحْمَـٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ ﴿٥﴾

(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy.” (QS. Tha-ha[20]: 5)

Kata Mujahid Abul ‘Aliyah dari kalangan Tabi’in, arti اسْتَوَىٰ adalah Allah tinggi. Tidak boleh ketika kita mendengarkan ayat tadi lalu kita mangatakan, “Tingginya Allah sama dengan tingginya lampu di atas kepala kita.” Nauzubillahi min dzalik. Tidak boleh mengqiyaskan Allah dengan makhluk. Itu namanya At-Tamsil (menyerupakan Allah dengan makhluk).

Baca Juga:  Cabang-Cabang Keimanan - Kitab At-Taudhih Wal Bayan Li Syajaratil Iman (Ustadz Abdullah Taslim, M.A.)

Bahkan seorang guru Imam Bukhari yang bernama Nu’aim bin Hammad Rahimahullah mengatakan bahwa barangsiapa yang menyerupakan Allah dengan makhluk, maka dia bisa kafir.

Maka sekali lagi, ليس في السنة قياس. Diantara penafsiran ulama, arti tidak ada dalam sunnah yaitu dalam ‘aqidah.

Contoh yang lain, misalnya:

Nabi ketika masih hidup, para Sahabat minta dido’akan oleh Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ketika Rasulullah sudah meninggal dunia, kemudian mengqiyaskan dengan pada waktu beliau masih masih hidup. Para Sahabat tidak pernah meminta do’a Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika Rasul sudah meninggal dunia.

Simak penjelasannya pada menit ke-11:45

Download Kajian Tentang Didalam As-Sunnah Tidak Ada Qiyas – Ustadz Abdurrahman Thoyyib, Lc.

Mari raih pahala dan kebaikan dengan membagikan tautan ceramah agama ini ke Jejaring Sosial yang Anda miliki seperti Facebook, Twitter, Google+ dan yang lainnya. Semoga Allah Ta’ala membalas kebaikan Anda.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: Rodja Official
Facebook Page: Radio Rodja 756 AM
Twitter: @radiorodja
Instagram: @radiorodja
Website: radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook Page: Rodja TV
Twitter: rodjatv
Instagram: rodjatv
Website: rodja.tv

 

Telegram Rodja Official

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.