Telegram Rodja Official

Bagaimana Kiat Meraih Cinta Allah ‘Azza wa Jalla

By  |  pukul 10:27 am

Terakhir diperbaharui: Kamis, 09 Jumadil akhir 1440 / 14 Februari 2019 pukul 10:57 am

Tautan: https://rodja.id/2as

Bagaimana Kiat Meraih Cinta Allah ‘Azza wa Jalla merupakan rekaman ceramah agama dan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Haidar As-Sundawy dalam pembahasan Kitab Al-Irsyad Ila Shahihil I’tiqad karya Syaikh Shalih Fauzan Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada 3 Jumadal Akhirah 1440 H / 08 Februari 2019 M.

Status Program Kajian Kitab Al-Irsyad Ila Shahihil I'tiqad

Status program kajian Kitab Al-Irsyad Ila Shahihil I'tiqad: AKTIF. Mari simak program kajian ilmiah ini di Radio Rodja 756AM dan Rodja TV setiap Jum'at, pukul 16:30 - 18:00 WIB.

Download mp3 kajian sebelumnya: Syirik dalam hal Mahabbah (Cinta)

Kajian Tentang Bagaimana Kiat Meraih Cinta Allah ‘Azza wa Jalla – Kitab Al-Irsyad Ila Shahihil I’tiqad

Jumat yang lalu kita sudah membahas ciri-ciri orang yang mencintai Allah. Yaitu:

  • Pertama, orang yang mencintai Allah akan lebih mendahulukan apa yang Allah cintai daripada syahwat dan hawa nafsunya.
  • Kedua, orang yang mencintai Allah itu akan mengikuti sunnah Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
  • Ketiga, orang yang mencintai Allah itu keras kepada orang-orang kafir.
  • Keempat, saling mengasihi dengan sesama muslim.
  • Kelima, mereka berjihad dijalan Allah dengan harta dan jiwa.
  • Keenam, mereka tidak takut terhadap celaan orang-orang yang mencela.

Dalil-dalil tentang semua itu sudah kita terangkan di kajian sebelumnya. Sekarang kita masuk pada pembahasan “Bagaimana kiat meraih cinta Allah ‘Azza wa Jalla“.

Ikhtiar dan usaha apa yang harus kita lakukan agar Allah mencintai kita? Sebelum itu mungkin timbul pertanyaan, Apa keuntungan dari dicintai oleh Allah? Tentu saja keuntungannya luar biasa besar dan banyak. Salah satunya adalah apa yang ditegaskan oleh Allah sendiri dalam salah satu hadits Qudsi, shahih riwayat Imam Al-Bukhari dalam kitab shahihnya. Di pertengahan hadits Qudsi ini Allah berfirman:

فَإِذا أَحبَبْتُه كُنْتُ سمعهُ الَّذي يسْمعُ بِهِ، وبَصره الَّذِي يُبصِرُ بِهِ، ويدَهُ الَّتي يَبْطِش بِهَا، ورِجلَهُ الَّتِي يمْشِي بِهَا، وَإِنْ سأَلنِي أَعْطيْتَه، ولَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لأُعِيذَّنه

“Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya.” (HR. Bukhari)

Inilah keuntungan orang yang dicintai oleh Allah. Dia mendengar dengan pendengaran Allah, dia melihat dengan penglihatan Allah, dia bertindak dan juga berjalan tetap dengan pengawasan bimbingan dari Allah ‘Azza wa Jalla.

Yang dimaksud dia akan melihat dengan penglihatan Allah, mendengar dengan pendengaran Allah, maknanya adalah Allah akan menjaga pendengarannya, penglihatannya, ucapannya, perbuatannya, pemikirannya, seluruh tingkah lakunya dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Maka orang tersebut tidak akan menggunakan telinganya untuk mendengar apa yang Allah haramkan untuk didengar, matanya tidak akan dipakai untuk melihat apa yang Allah haramkan untuk dilihat, lisannya juga tidak akan dipakai mengucapkan apa yang Allah haramkan untuk diucapkan, begitulah seterusnya.

Bila dia butuh pertolongan, tanpa diminta Allah akan tolong. Kalau dia butuh perlindungan, Allah akan berikan perlindungan. Dan bila dia meminta sesuatu kepada Allah, pasti akan diberi. Dan inilah keutamaan dari orang yang sudah dicintai oleh Allah. Maka bahagialah mereka yang memperoleh kecintaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Bagaimana caranya agar kita dicintai oleh Allah?

Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah dalam kitab Madarijus Salikin menjelaskan beberapa cara untuk meraih kecintaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ada 10 beliau menjelaskan. Semoga kita bisa mengamalkan ke-10 poin ini, menjaganya dalam kehidupan keseharian kita sampai titik darah penghabisan, sampai hembusan nafas yang paling akhir dari kehidupan kita. Apa sajakah itu?

Baca Juga:  Ahlussunnah wal Jamaah Menyikapi dengan Benar Tentang Sikap Ulama yang Keras - Al-Ishbah (Ustadz Kurnaedi, Lc.)

1. Membaca Al-Qur’an dengan Tadabbur

Membaca Al-Qur’an dengan tadabbur terhadap maknanya, membaca disertai penghayatan terhadap maknanya dan mendalami tafsirnya. Apa yang diinginkan oleh Allah dengan ayat yang kita sedang baca tersebut. Inilah poin yang pertama. Kita tahu Al-Qur’an itu Kallamullah.

Segala sesuatu yang berkaitan dengan Al-Qur’an, baik orang, waktu, tempat, atau makhluk lain selain manusia, kalau berkaitan erat dengan Al-Qur’an pasti mulia, pasti dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla.

Siapa Malaikat yang paling mulia? Malaikat Jibril. Saking mulianya Allah menyebut beliau secara khusus.

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ ﴿٤﴾

Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.” (QS. Al-Qadr[97]: 4)

Malaikat Jibril termasuk kelompok Malaikat. Tapi dipisahkan dari umumnya malaikat. Disebut secara khusus karena kemuliaan beliau. Kenapa beliau menjadi para malaikat yang paling mulia? Karena beliaulah yang menerima Al-Qur’an dari Allah untuk disampaikan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Maka jadilah beliau malaikat yang paling mulia.

Kapan Al-Qur’an diturunkan? Dibulan Ramadan. Karena itulah Ramadan menjadi bulan yang paling mulia dibanding bulan-bulan yang lainnya. Terus di bulan Ramadan itu malam kapan Al-Qur’an turun? Malam Lailatul Qadar. Sebagaimana firman Allah:

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ ﴿١﴾

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.“(QS. Al-Qadr[97]: 1)

Karena Al-Qur’an turun dimalam itu, jadilah Lailatul Qadar sebaik-baik malam. Lebih baik dari 1000 malam di luar Lailatul Qadar. Allah berfirman:

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ ﴿٣﴾

Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.“(QS. Al-Qadr[97]: 3)

Lebih dari 1000 bulan kebaikan Lailatul Qadar, karena didalamnya diturunkan Al Qur’anul Karim.

Kepada siapa Al-Qur’an ini diturunkan di kalangan manusia? Kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Maka beliau menjadi sebaik-baik Nabi, seutama-utama Nabi dibanding Nabi manapun yang pernah turun ke alam dunia ini.

Lalu Al-Qur’an ini diturunkan ke umat yang mana? Ke umat Islam. Maka umat ini adalah umat pilihan Allah. Allah sendiri yang menyatakan hal ini dalam Al-Qur’an:

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا

“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami” (QS. Fatir[35]: 32)

Ternyata Kitab Al-Qur’an diturunkan kepada umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai umat pilihan Allah. Maka tak heran bila umat ini kemudian menjadi umat terbaik dibanding umat manapun yang pernah hidup di alam jagat raya ini. Allah berfirman:

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ

Kalian Allah sebaik-baik umat yang dilahirkan ke tengah manusia” (QS. Ali-Imran[3]: 110)

Itu salah satu penyebabnya adalah karena Al-Qur’an diturunkan kepada mereka. Umat lain tidak menerima Al-Qur’an sebagaimana umat Islam ini. Jadi mulialah mereka karena Al-Qur’an.

Termasuk orang di kalangan umat Islam, kemuliaan mereka berbeda-beda, tergantung amal. Dan ternyata amal yang menyebabkan mereka mulia adalah karena Quran. Hadits shahih riwayat Imam Muslim menyatakan:

إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ

“Sesungguhnya Allah mengangkat derajat seseorang dengan kitab ini (Al Qur’an) dan merendahkan yang lain dengan kitab ini.” (HR. Muslim)

Al-Qur’an ini dibaca, difahami, diyakini, diamalkan, diajarkan, diperjuangkan, dibela. Maka Allah angkat kemuliaannya. Karena Al-Qur’an, karena sikap mereka kepada Al-Qur’an dan Allah menghinakan kaum lain karena mereka juga mengabaikan Al-Qur’an.

Sampai-sampai baik buruknya manusia dikalangan kaum Muslimin diukur atau ditentukan oleh seberapa sering mereka berinteraksi dengan Al-Qur’an baik belajar ataupun mengajarkannya. Dalam hadits shahih riwayat Imam Muslim Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyatakan:

Baca Juga:  Tafsir Surat Al-Haqah - Bagian ke-3 dan Surat Al-Ma'arij - Bagian ke-1 - Kitab Tafsir Al-Muyassar (Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.)

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan yang mengajarkannya.” (HR. Muslim)

Jadi, aktivitas yang berkaitan dengan Al-Qur’an itu menyebabkan pelaku dari aktivitas itu menjadi manusia terbaik. Coba lihat penjelasan tadi, apa pun yang berkaitan dengan Al-Qur’an baik waktu seperti Lailatul Qadar, seperti Ramadhan ataupun makhluk dikalangan para Malaikat seperti Malaikat Jibril, ataupun manusia baik Nabi Muhammad termasuk umatnya, mereka meraih kemuliaan itu karena Al-Qur’anul Karim.

Al-Quran lah yang menjadi sumber dan penyebab kemuliaan setiap manusia. Maka kemuliaan yang Allah berikan kepada orang yang berinteraksi secara benar dengan Al-Qur’an, itu buktinya tak cinta dan kasih sayang Allah kepada orang-orang yang membaca Al-Qur’an, mentadaburi maknanya dan memahami tafsirannya, serta mengaplikasikannya dalam kehidupan keseharian kita.

Inilah cara pertama untuk meraih cinta Allah ‘Azza wa Jalla.

2. Bertaqarrub Kepada Allah dengan Ibadah-Ibadah Sunnah

Kata Imam Ibnul Qayyim, bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah dengan ibadah-ibadah sunnah setelah melakukan yang fardhu. Dengan melakukan berbagai macam ibadah. Tidak sekedar yang fardhu, tapi juga yang sunnah. Allah berfirman dalam Hadits Qudsi:

مَنْ عَادَى لِـيْ وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْـحَرْبِ

“Barangsiapa memusuhi wali-Ku, sungguh Aku mengumumkan perang kepadanya.” (HR. Bukhari)

Allah mengajak perang kepada orang-orang yang memusuhi kekasih-kekasih Allah. Lalu dirinci, siapa kekasih Allah itu? Allah menyatakan, “Tidaklah seorang hamba mendekatkan dirinya kepadaKu dengan suatu amalan yang lebih aku cintai dibanding amalan yang fardhu.”

Jadi amalan yang Allah syariatkan kepada kita yang paling Allah cintai adalah amalan-amalan yang fardhu, yang wajib. Seperti shalat yang lima waktu, seperti puasa Ramadhan, seperti zakat dan haji bagi orang yang sudah berkemampuan untuk melakukan itu, seperti thalabul ilmi, mengkaji ilmu syar’i, bukan ilmu umum.

Itu amalan pendekatan diri kepada Allah yang paling Allah cintai. Lalu Allah melanjutkan:

وَمَا يَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَـيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ

“Hamba-Ku tidak henti-hentinya mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya.” (HR. Bukhari)

Kalau shalat; shalat rawatib, shalat tahajud, duha, istikharah, syukrul wudhu dan yang sejenisnya. Kalau puasa; ada senin kamis, ada dawud, ada ayyamul bidh, ada saum arafah, asyura, itu juga ibadah-ibadah nawafil yang bisa mendekatkan diri pelakunya kepada Allah.

Apa efeknya? Allah mencintai. Oleh karena itulah maka taqarrub kepada Allah dengan yang fardhu plus ditambah yang sunnah merupakan salah satu cara untuk meraih kecintaan Allah ‘Azza wa Jalla bagi kita. Inilah cara yang kedua.

3. Mendawamkan Dzikir Dalam Setiap Keadaan

Yang ketiga adalah mendawamkan dzikir kepada Allah dalam setiap keadaan. Baik dengan lisan, dzikir dengan hati dan juga dzikir  dengan seluruh anggota badan. Dzikir termasuk salah satu cara untuk menghidupkan hati dan menyehatkan hati. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengumpamakan orang yang berdzikir dengan orang yang tidak berdzikir itu seperti orang yang hidup dengan orang yang mati.

مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لاَ يَذْكُرُ مَثَلُ الْحَىِّ وَالْمَيِّتِ

“Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Rabbnya dan tidak berdzikir bagaikan orang hidup dan orang mati.” (HR. Bukhari)

Dan ini bukan sekedar ruh, juga obat bagi penyakit hati. Berkata Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu:

عَلَيْكُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ فَإِنَّهُ شِفَاءٌ وَإِيَّاكُمْ وَذِكْرَ النَّاسِ فَإِنَّهُ دَاءٌ

“Berdzikirlah kamu kepada Allah karena itu adalah obat dan jauhilah oleh kalian membicarakan orang, karena itu penyakit.”

Kalau ada orang membicarakan Allah, tidak akan mungkin berbicara keburukanNya. Walaupun orang fasik, orang durhaka, kalau berbicara tentang Allah pasti tentang kebaikan-kebaikan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sebutlah nama Allah karena menyebut nama Allah itu adalah obat dan hindarkan kalian menyebut-nyebut orang karena itu adalah penyakit. Kalau membicarakan orang rata-rata keburukannya yang dibicarakan.

Bahkan berkata Muadz bin Jabal Radhiyallahu ‘Anhu ketika menerangkan tentang keutamaan dzikir, bahwa tidak ada sesuatupun yang lebih bisa menyelamatkan dari adzab Allah selain dzikrullah. Dzikrullah adalah amalan yang paling menyelamatkan seorang hamba dari adzab Allah ‘Azza wa Jalla. Karena orang yang berdzikir itu dengan dzikirnya dia memperoleh dua modal untuk hidup bahagia di akhirat. Yaitu satu pahala, satu lagi ampunan. Ampunan fungsinya menghapus dosa. Bahagia atau sengsaranya manusia di akhirat tergantung dosa dan pahala. Kalau pahalanya lebih banyak daripada dosanya, dia selamat.

Baca Juga:  Bolehkah Menanyakan Dimanan Allah? - Kitab Al-Ibanah (Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan, M.A.)

فَأَمَّا مَن ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ ﴿٦﴾ فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَّاضِيَةٍ ﴿٧﴾

Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya,maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan.” (QS. Al-Qariah[101]: 6-7)

Bahwa orang yang lebih berat timbangan amal kebaikannya, pahalanya daripada dosanya, dia akan berada dalam kehidupan yang diridhoi oleh Allah ‘Azza wa Jalla, dia berada dalam kehidupan yang menyenangkan, membuat dia bahagia, di surga Allah ‘Azza wa Jalla. Tapi sebaliknya, kalau dosanya yang lebih banyak daripada pahalanya, ini celaka. Pahalanya ada tapi sedikit, dosa yang lebih besar.

وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ ﴿٨﴾ فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ ﴿٩﴾

Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya,maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.” (QS. Al-Qariah[101]: 8-9)

Orang yang banyak berdzikir kepada Allah akan mendapat pahala yang besar dan ampunan yang besar. Allah berfirman dalam Al-Qur’an, dalam salah satu ayat yang panjang. Kalimat terakhir dari ayat ini adalah:

وَالذَّاكِرِينَ اللَّـهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّـهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab[33]: 35)

Ampunan menyebabkan banyak dosa terhapus dari dirinya. Paling bisa menyelamatkan orang dari adzab Allah. Maka dari itu dzikir paling bisa menyelamatkan orang dari adzab Allah:

Pertama, karena mendapat pahala yang besar dan mendapat ampunan yang juga besar. Ampunan menghapus dosa. Sebagai penyebab turunnya adzab adalah dosa. Kemudian dosanya dihapus oleh ampunan tadi karena dzikir yang dilakukannya.

Kedua, dzikir ini pengundang turunnya hidayah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dzikir ini adalah salah satu bentuk qaulan sadida Allah berfirman:

وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ﴿٧٠﴾

dan katakanlah perkataan yang benar,” (QS. Al-Ahzab[33]: 70)

Kata Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya ketika menafsirkan ayat ini, ucapan yang baik itu membaca Al-Qur’an, dzikrullah, nasihat kepada sesama kaum muslimin. Dzikrullah termasuk ucapan yang baik, ucapan yang lurus, dan ini Allah perintahkan. Apa akibatnya?

يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu.” (QS. Al-Ahzab[33]: 71)

Simak penjelasannya pada menit ke – 28:20

Download dan Sebarkan mp3 Ceramah Agama Islam Tentang Meraih Cinta Allah – Kitab Al-Irsyad Ila Shahihil I’tiqad

Mari raih pahala dan kebaikan dengan membagikan tautan ceramah agama ini ke Jejaring Sosial yang Anda miliki seperti Facebook, Twitter, Google+ dan yang lainnya. Semoga Allah Ta’ala membalas kebaikan Anda.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: Rodja Official
Facebook Page: Radio Rodja 756 AM
Twitter: @radiorodja
Instagram: @radiorodja
Website: radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook Page: Rodja TV
Twitter: rodjatv
Instagram: rodjatv
Website: rodja.tv

Download: Khutbah Jumat, Ceramah Agama, Khutbah Idul Adha, kultum, ceramah singkat

Pencarian:

menggapai cinta allah, bukti cinta allah kepada hambanya, kata cinta allah, mencari cinta allah, cinta allah swt, cara mendapatkan cinta allah, saya cinta allah, kata mutiara cinta allah, kata kata cinta allah, jika cinta allah, ayat cinta allah, aku cinta allah swt, cara meraih cinta allah, cinta allah kepada manusia, mendapatkan cinta allah, kata2 cinta allah, kata bijak cinta allah, tanda cinta allah, cinta allah lebih dari cinta manusia, meraih cinta allah swt, aku cinta allah, cinta allah cinta rasul, cara menggapai cinta allah, cara menggapai cinta allah, cinta allah cinta abadi, wali cinta allah, cinta allah dan rasul, kata kata mutiara cinta allah, syair cinta allah, doa cinta allah, kata kata aku cinta allah, hadist tentang cinta allah, mencari cinta allah dan rasul, mencari cinta allah dan rasul

Telegram Rodja Official

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.