Telegram Rodja Official

Al-Adabul Mufrad

Do’a Ketika Sakit – Kitab Al-Adab Al-Mufrad

By  | 

Do’a Ketika Sakit merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A. dalam pembahasan Kajian kitab Adabul Mufrad karya Imam Bukhari Rahimahullah. Kajian ini disampaikan pada 1 Dzul Hijjah 1439 H / 13 Agustus 2018 M.

Download juga kajian sebelumnya: Sakit Penggugur Dosa

Program Kajian Kitab Adabul Mufrad - Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A. di Radio Rodja

Simak program ini di Radio Rodja dan Rodja TV setiap:Senin malam, 20:00-21:30 WIB

Status program Kajian Kitab Adabul Mufrad: AKTIF

Kajian Ilmiah Tentang Do’a Ketika Sakit – Kitab Al-Adab Al-Mufrad

Orang yang sakit, akan ditulis kebaikan-kebaikan dia seperti ketika dia sehat. Orang yang sakit kemudian tidak bisa membaca Al-Qur’an, orang yang sakit kemudian tidak bisa shalat berjama’ah ke masjid, orang yang sakit kemudian tidak bisa berpuasa sunnah, orang yang sakit kemudian tidak bisa berhaji, orang yang sakit sehingga dia tidak bisa berpuasa dihari arafah, dia tidak bisa Qiyamul Lail, ada banyak amalan-amalan yang tidak bisa diamalkan ketika dia sakit, maka apabila orang ini terbiasa mengamalkannya disaat sehat, maka dia akan tetap mendapatkan pahalanya. Ini adalah karunia dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Baca Juga:
Tafsir Surat Al-Qiyamah Ayat 1-25 - Kitab Tafsir Al-Muyassar (Ustadz Badrusalam, Lc.)

Hadits no. 503

Abu Hurairah pernah mengutarakan kepada muridnya, ‘Atha. Bahwa:

مَا مِنْ مَرَضٍ يُصِيبُنِي أَحَبَّ إِلَيَّ مِنَ الْحُمَّى، لِأَنَّهَا تَدْخُلُ فِي كُلِّ عُضْوٍ مِنِّي، وَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُعْطِي كُلَّ عُضْوٍ قِسْطَهُ مِنَ الْأَجْرِ

“Tidak ada satu penyakit pun yang menimpaku lebih aku sukai daripada demam. Karena penyakit itu masuk keseluruh anggota tubuhku, dan sesungguhnya Allah memberi kepada setiap anggota tubuh bagian pahala.”

Seperti yang pernah kita bahas. Bahwa besarnya pahala yang Allah berikan itu sepadan dengan besarnya musibah yang menimpa seseorang. Penyakit yang menimpa hamba Allah, berbeda-beda. Ada penyakit yang hanya dirasakan di ujung tangannya, ada penyakit yang hanya luka, duri mungkin yang menusuk dia, ada penyakit yang mungkin membuat kepalanya pening, tapi ada penyakit yang membuat seluruh tubuhnya merasakan sakit. Pahalanya sesuai. Allah Jalla Jalaluhu adalah yang adil, yang pengasih dan penyayang.

Sehingga hadits ini menjadi pelipur lara untuk saudara-saudara kita yang sakit. Saudara-saudara kita yang di Lombok. Semoga Allah membantu mereka dan membesarkan pahala bagi mereka serta menghapuskan dosa-dosa mereka. Yang terdampak dengan gempa di sana tidak sama. Ada yang rumahnya hancur, ada yang hanya terasnya yang hancur, ada yang rumahnya hancur dan semua anggota keluarga meninggal dunia bahkan dia pun harus diamputasi kakinya. Maka berbeda dengan orang lain yang mungkin hanya rumahnya yang hancur tapi keluarganya tidak meninggal dunia. Yang jelas semua ada hitungannya sama Allah Jalla Jalaluhu.

Baca Juga:
Ahlussunnah Mendakwahkan Islam dengan Akhlaqul Karimah

Kita dalam kehidupan yang fana ini, di sini kita beramal. Ada pahala-pahala yang sulit diraih dengan amalan kita. Maka Allah memberikan cobaan kepada kita. Saudara-saudara kita yang mendapatkan bala’ dan petaka di tubuhnya, dihartanya, dikeluarganya, kemudian mereka bersabar, mereka akan mendapatkan derajat yang tinggi di sisi Allah Jalla Jalaluhu. Dan orang yang sabar akan mendapatkan pahala tanpa hisab.

Hadits no. 504

Muhammad bin Yusuf menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan menceritakan kepada kami dari al-A’masy, dari Abu Wa’il, ia berkata:

عَنْ أَبِي نُحَيْلَةَ، قِيْلَ لَهُ: ادْعُ اللهَ، قَالَ: اللَّهُمَّ انْقُصْ مِنَ الْمَرَضِ، وَلَا تُنْقِصْ مِنَ الْأَجْرِ، فَقِيْلَ لَهُ: ادْعُ، ادْعُ، فَقَالَ : اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ الْمُقَرَّبِيْنَ، وَاجْعَلْ أُمِّي مِنَ الْحَوْرِ الْعِيْنِ.

Dari Abu Nuhailah, ia berkata, “Dikatakan kepadanya, ‘Berdo’alah kepada Allah.’ la menjawab, ‘Ya Allah, kurangilah sakit dan jangan Engkau kurangi pahala. Lalu dikatakan kepadanya, Berdo’alah, berdo’alah. la lalu berkata, ‘Ya Allah, jadikanlah aku termasuk golongan muqarrabin dan jadikanlah ibuku bidadari.”

Bahwasannya suatu saat Abu Nuhailah ini mungkin dalam satu peperangan. Dia terkena anak panah yang menembus di tubuhnya. Mau tidak mau anak panah itu mau dicabut. Orang ketika mau mencabut anak panah itu, mereka menyampaikan kepada Abu Nuhailah, “Berdo’alah kepada Allah.”

Maka Abu Nuhailah berdo’a. Apa yang dia panjarkan? Dia berkata:

Baca Juga:
Ciri-Ciri Orang yang Beriman - Kitab At-Taudhih Wal Bayan Li Syajaratil Iman (Ustadz Abdullah Taslim, M.A.)

اللَّهُمَّ انْقُصْ مِنَ الْمَرَضِ، وَلَا تُنْقِصْ مِنَ الْأَجْرِ

“Ya Allah, kurangi penyakitnya tapi pahalanya jangan dikurangi.”

Dicabutnya anak panah itu sangat sakit. Sehingga dengan orang berdo’a, ada sugesti di dalam dirinya. Apalagi ketika dia berdo’a dengan khusyu’ memohon kepada Allah, maka tiba-tiba anak panahnya sudah lepas. Ketika seseorang khusyu’, konsentrasi dengan sesuatu, dia akan lupa dengan penyakit yang sedang dialami. Maka orang-orang mengatakan kepada dia:

ادْعُ، ادْعُ،

“Berdo’alah, berdo’alah”

Lalu dia berdo’a:

اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ الْمُقَرَّبِيْنَ

“Ya Allah jadikan aku hambaMu termasuk yang muqarrabin.”

Muqarrabin adalah hamba Allah yang dekat dengan Allah yang dia tahu Allah dekat dengan dirinya. Dan dia akan mendapatkan pahala yang spesial. Karena manusia dibagi menjadi tiga. Al-Muqarrabin, Ashabul Yamin, Ashabusy Syimal. Kata Allah:

ثُلَّةٌ مِّنَ الْأَوَّلِينَ ﴿١٣﴾ وَقَلِيلٌ مِّنَ الْآخِرِينَ ﴿١٤﴾

Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu, dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian” (QS. Al-Waqi’ah[56]: 14)

Maka di sini dia mengatakan, “Ya Allah jadikan hamba termasuk hamba yg dekat kepadaMu.”

Lalu dia berdo’a:

وَاجْعَلْ أُمِّي مِنَ الْحَوْرِ الْعِيْنِ

“Dan jadikan ibundaku termasuk bidadari surga.”

Kebaktian seorang anak, ketika dia sakit dia ingat sama ibunya, dia do’akan ibunya. Wallahi, tidak ada keindahan dan kelezatan seorang hidup ketika dia durhaka kepada orang tuanya. Ada seorang yang jarang mendo’akan kedua orang tuanya. Do’a saja jarang apalagi mau berbagi yang lainnya? Maka disini kita lihat, ada orang orang yang sakit, ada orang-orang yang Allah memberikan kepadanya cobaan, tapi cobaan yang diterima dia menyebabkan dirinya semakin dekat sama Allah.

Baca Juga:
Metode Pembelajaran Anak di Rumah dengan Keteladanan

Hadits no. 505

Kemudian yang selanjutnya Imam Bukhari mengatakan bahwa Musaddad menceritakan kepada kami, ia berkata: Yahya menceritakan kepada kami dari ‘Imran bin Muslim Abu Bakar , berkata:

حَدَّثَنِي عَطَاءُ بْنُ أَبِي رَبَاحٍ، قَالَ: قَالَ لِي ابْنُ عَبَّاسٍ: أَلاَ أُرِيكَ امْرَأَةً مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ؟ قُلْتُ: بَلَى، قَالَ: هَذِهِ المَرْأَةُ السَّوْدَاءُ، أَتَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ: إِنِّي أُصْرَعُ، وَإِنِّي أَتَكَشَّفُ، فَادْعُ اللَّهَ لِي، قَالَ: «إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الجَنَّةُ، وَإِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُعَافِيَكِ» فَقَالَتْ: أَصْبِرُ، فَقَالَتْ: إِنِّي أَتَكَشَّفُ، فَادْعُ اللَّهَ لِي أَنْ لاَ أَتَكَشَّفَ، فَدَعَا لَهَا

‘Atha’ bin Abi Rabah menceritakan kepadaku, ia berkata, “Ibnu ‘Abbas berkata kepadaku, ‘Maukah engkau aku tunjukkan salah seorang wanita penghuni surga?’ Aku menjawab, ‘Mau.’ Lalu ia berkata, ‘Wanita berkulit hitam ini mendatangi Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lalu berkata, ‘Aku menderita penyakit ayan dan (saat kambuh)(auratku) terbuka, maka berdo’alah kepada Allah untukku.’ Beliau bersabda, ‘Jika engkau mau, bersabarlah dan untukmu Surga. Dan jika engkau mau, aku akan berdo’a kepada Allah agar menyembuhkanmu.’ Ia berkata, ‘Aku akan bersabar.’ Lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya (auratku) tersingkap, maka berdo’alah kepada Allah agar (auratku) tidak tersingkap.’ Maka beliau mendo’akannya.”

Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, kita tidak boleh memberikan kesaksian kepada seorang Muslim bahwa dia termasuk penghuni surga kecuali yang memang ada kesaksian dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Siapapun mereka. Apabila Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang memberikan kesaksian, maka kita percaya. Tapi kalau hanya berharap, tentu semua berharap.

Baca Juga:
Tidak Akan Tegak Istiqamah Kecuali karena Allah dan dengan Petolongan Allah - Kitab 10 Kaidah Istiqamah (Ustadz Arman Amri, Lc.)

Maka di sini kenapa ucapan “almarhum” dibahas oleh para ulama sebagian membolehkan sebagian melarang. Yang melarang mengatakan bahwasannya dari mana engkau tahu dia almarhum (orang yang dirahmati)? Mungkin dia di neraka, mungkin dia alMaluun (yang terlaknat) dengan amalannya. Yang membolehkan mengatakan bahwasannya yang dimaksud dengan almarhum adalah do’a semoga dia dirahmati. Jadi maknanya do’a, bukan berita.

Apabila menjadikan almarhum sebagai berita, maka hal ini tidak boleh. Karena kita tidak bisa menginformasikan Fulan ini almarhum kecuali Allah yang memberikan informasi kepada kita atau Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Di sini Abdullah bin ‘Abbas memberikan kesaksian bahwa Fulanah termasuk penghuni surga.

Simak pada menit ke-18:21

Download mp3 kajian ilmiah tentang Do’a Ketika Sakit – Kitab Al-Adab Al-Mufrad


Jangan lupa untuk membagikan rekaman kajian ini ke saudara-saudara kita atau teman-teman kita baik itu melalui Facebook, Twitter, Google+, atau media yang lainnya agar kebaikan ini tidak berhenti begitu saja. Jazakumullahu khairan
[stumble]

Telegram Rodja Official

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.