Telegram Rodja Official

Apakah Kata-Kata, “Aku Sedang Sakit” Merupakan Suatu Keluhan? – Kitab Al-Adab Al-Mufrad

By  |  pukul 7:50 am

Terakhir diperbaharui: Kamis, 16 Jumadil akhir 1440 / 21 Februari 2019 pukul 7:50 am

Tautan: https://rodja.id/2b6

Apakah Kata-Kata, “Aku Sedang Sakit” Merupakan Suatu Keluhan? merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A. dalam pembahasan Kajian kitab Adabul Mufrad karya Imam Bukhari Rahimahullah. Kajian ini disampaikan pada 7 Muharram 1440 H / 17 September 2018 M.

Download juga kajian sebelumnya: Do’a Ketika Sakit

Program Kajian Kitab Adabul Mufrad - Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A. di Radio Rodja

Simak program ini di Radio Rodja dan Rodja TV setiap:Senin malam, 20:00-21:30 WIB

Status program Kajian Kitab Adabul Mufrad: AKTIF

Kajian Ilmiah Tentang Apakah Kata-Kata, “Aku Sedang Sakit” Merupakan Suatu Keluhan? – Kitab Al-Adab Al-Mufrad

Kita akan melanjutkan kajian kita yang berkaitan dengan adab dan etika. Kita sampai ke pembahasan tentang Apakah ucapan orang yang sakit, “Aku Sakit” suatu keluhan atau tidak? Karena terkadang, yang sudah kita pelajari, yang sudah kita lihat di masyarakat, ada orang ketika sakit teriak-teriak. Ada yang teriakannya menunjukkan dia tidak menerima dengan penyakit yang menimpa dia. Atau teriakan itu dikarenakan memang dia merintih, sedang merasakan sakit. Maka ini yang akan dibahas. Apakah boleh seorang mengatakan “aku sakit” ketika sakit?

Al-Imam Bukhari menyebutkan beberapa hadits di sini:

Hadits no. 509

‘Urwah bin Zubair bercerita bahwa suatu hari, “aku bersama Abdullah bin Zubair (kakaknya), membusuk Asma’ putrinya Abu Bakar, istri Zubair bin Awwam Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhum. Sebelum terbunuhnya Abdullah bin Zubair sekitar 10 sekitar 10 hari wajah mereka membusuk ibunda mereka karena kondisi sakit:

فَقَالَ لَهَا عَبْدُ اللَّهِ : كَيْفَ تَجِدِينَكِ ؟ قَالَتْ : وَجِعَةٌ ، قَالَ : إِنِّي فِي الْمَوْتِ ، فَقَالَتْ : لَعَلَّكَ تَشْتَهِي مَوْتِي ، فَلِذَلِكَ تَتَمَنَّاهُ ؟ فَلَا تَفْعَلْ ، فَوَاللَّهِ مَا أَشْتَهِي أَنْ أَمُوتَ حَتَّى يَأْتِيَ عَلَيَّ أَحَدُ طَرَفَيْكَ ، أَوْ تُقْتَلَ فَأَحْتَسِبَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَظْفُرَ فَتَقَرَّ عَيْنِي ، فَإِيَّاكَ أَنْ تُعْرَضَ عَلَيْكَ خُطَّةٌ ، فَلَا تُوَافِقُكَ ، فَتَقْبَلُهَا كَرَاهِيَةَ الْمَوْتِ . وَإِنَّمَا عَنَى ابْنُ الزُّبَيْرِ لِيُقْتَلَ فَيُحْزِنُهَا ذَلِكَ

Baca Juga:  Bab Keutamaan Orang yang Memelihara Agamanya - Hadits 51-52 - Kitab Shahih Bukhari (Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.)

“‘Abdullah berkata kepadanya, ‘Bagaimana keadaanmu?’ Ia menjawab, ‘Aku sakit.’ ‘Abdullah berkata, ‘Sesungguhnya aku berada dalam kematian.’ Asma’ berkata, ‘Mungkin engkau ingin aku mati duluan. Untuk itu engkau menghadapkan kematian? Jangan engkau lakukan. Demi Allah, aku tidak mengharapkan mati hingga kematian datang kepada salah satu pihak, atau engkau terbunuh, maka aku bersabar atas dirimu, atau engkau menang, maka aku merasa senang. jangan sampai dihadapkan pada sesuatu yang sulit lalu tidak cocok denganmu, lalu engkau menerimanya karena tidak menyukai kematian.'” Hanya saja yang dipahami oleh Ibnuz Zubair bahwa ia akan dibunuh sehingga ia membuat Asma sedih itu menyusahkan (ibu)nya.”

‘Abdullah bertanya kepada ibundanya, “Bagaimana engkau mendapati dirimu?” Ini etika pertama ketika kita membesuk orang sakit, tanyakan bagaimana kondisinya? Bagaimana perkembangannya? Apa yang dirasakan?

Jadi ada hal-hal yang sebenarnya membantu si sakit ini untuk bisa pulih atau paling tidak ada yang peduli sama dia. Jawaban Asma’, “Aku sakit.” Terkadang ada orang yang ketika dibesuk dan ditanya kondisinya dia mengatakan sudah membaik, tapi ada juga yang memang sakit.

Kata Asma’, “Mungkin engkau ingin aku mati duluan. Untuk itu engkau menghadapkan kematian?” Seorang anak, kalau dia mati duluan dan ibunya masih hidup, sang Bunda akan kehilangan sebagian jantungnya. Karena anak adalah buah hati orang tuanya, belahan jiwa ibunya. Maka ‘Abdullah bin Zubair takut ibunya akan bersedih dengan kematian dia.

Kata ibundanya, “Jangan lakukan itu. Demi Allah aku tidak bernafsu untuk mati sampai aku melihat apa yang terjadi dengan dirimu.” Artinya orang tua ini ingin melihat apa yang akan terjadi dengan anaknya. “Mungkin engkau akan terbunuh dan aku akan berharap pahala dengan bersabar ditinggal mati oleh dirimu. Atau engkau beruntung sehingga engkau akan menunjukkan pandanganku.”

Dalam dua kondisi untuk ‘Asma binti Abu Bakar. Anaknya terbunuh, dia akan bersabar dan berharap pahala Ilahi. Anaknya menang, beruntung, dia akan bergembira, bersyukur kepada Allah Jalla Jalaluhu.

Baca Juga:  Hak-Hak Pemimpin dan Rakyat - Bagian ke-3 - Tabshiratul Anam bil Huquqi fil Islam (Ustadz Abu Ya'la Kurnaedi, Lc.)

“Hati-hati anakku, jangan sampai mereka memberikan penawaran kepadamu yang penawaran itu sejatinya tidak sesuai dengan dirimu, tapi engkau menyetujuinya karena takut mati.” Subhanallah..

Wanita-wanita Muslimah yang dididik dibawah naungan Al-Quran, dibawah arahan sunah-sunah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak menjadi wanita yang cengeng, tidak menjadi wanita yang mudah berputus asa, Asma’ benar-benar Subhanallah. Dia mendidik anaknya hidup mulia atau mati syahid.

Akhirnya ‘Abdullah bin Zubair meninggal dunia. Dibunuh oleh Hajjaj, disalib, kepalanya dipenggal, dikirimkan ke Damaskus, Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhum. Sahabat Nabi, anak Sahabat Nabi yang merupakan salah satu cucunya Abu Bakar As-Shiddiq Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhum.

Apakah Kata-Kata, “Aku Sedang Sakit” Merupakan Suatu Keluhan?

Kita masuk ke pembahasan kita yang berkaitan dengan apakah orang yang mengatakan “Aku sakit” termasuk mengeluh? Atau itu hanya melaporkan saja dengan harapan mungkin orang itu punya obat?

Ada hadits atau riwayat dari Abu Bakar as-Shiddiq, bahwa Abdurrahman bin ‘Auf pernah membusuk Abu Bakar As-hiddiq Radhiyallahu ‘Anhu ketika sakit yang akhirnya dia meninggal dengan penyakit yang dideritanya. Abu Bakar bertanya, “Bagaimana kondisimu pagi ini?” Abu Bakar mengatakan, “Aku sembuh insyaAllha, tapi sebagaimana engkau lihat, kondisiku masih sakit.”

Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah mengatakan, “Sakit kepalaku.” Dan itu tidak ada masalah. Para ulama menjelaskan bahwasanya mengadukan atau melaporkan kondisi diri dengan tujuan mungkin ada yang punya obat. Terkadang ketika kita ngobrol lagi sakit di punggung, lalu teman kita menawarkan untuk memijat. Di sini dia bukan mengeluh mengadukan Allah atas apa yang dia derita. Atau dia mengadu supaya dido’akan. Atau dia mengadu itu melaporkan hal itu untuk menjelaskan kenapa dia tidak bisa hadir shalat berjamaah. Sehingga orang-orang tidak bertanya-tanya. Maka dalam kondisi seperti ini kita harus tahu mana yang hanya untuk menunjukkan kondisi diri dan mana yang tujuannya memang untuk mengeluhkan apa yang dia derita.

Kalau hanya untuk menunjukkan kondisi diri, maka tidak mengapa. Tapi kalau untuk mengeluhkan Allah atas apa yang diderita sehingga sebagian ulama pernah mendapatkan aduan dari temannya, maka dia mengatakan:

تشكو من يرحمك إلى من لا يرحمك؟

Baca Juga:  Menukar Dinar dan Dirham

“Engkau mengadukan Allah yang Maha Pengasih kepada hamba seperti aku yang tidak dapat mengasihi?”

Maka hati-hati berucap ketika menjelaskan kondisi dirinya. Perbaiki niatnya. Kenapa engkau mengatakan itu? Apakah karena mengeluhkan Allah yang memberikan dan menurunkan bala’? Atau bukan itu? Engkau hanya berharap ada yang punya obat, ada yang mau mendo’akan, ada yang memaklumi dirinya kenapa dia tidak masuk kerja, kenapa dia tidak hadir berjamaah?

Hadits no. 510

Ahmad bin ‘Isa menceritakan kepada kami, ia berkata, ‘Abdullah bin Wahb menceritakan kepada kami, ia berkata: Hisyam bin Sa’d mengabarkan kepadaku dari Zaid bin Aslam, dari ‘Atha’ bin Yasar:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ ، أَنَّهُ دَخَلَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ مَوْعُوكٌ ، عَلَيْهِ قَطِيفَةٌ ، فَوَضَعَ يَدَهُ عَلَيْهِ ، فَوَجَدَ حَرَارَتَهَا فَوْقَ الْقَطِيفَةِ ، فَقَالَ أَبُو سَعِيدٍ : مَا أَشَدَّ حُمَّاكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، قَالَ : إِنَّا كَذَلِكَ ، يَشْتَدُّ عَلَيْنَا الْبَلَاءُ ، وَيُضَاعَفُ لَنَا الْأَجْرُ ، فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً ؟ قَالَ : الْأَنْبِيَاءُ ، ثُمَّ الصَّالِحُونَ ، وَقَدْ كَانَ أَحَدُهُمْ يُبْتَلَى بِالْفَقْرِ حَتَّى مَا يَجِدُ إِلَّا الْعَبَاءَةَ يَجُوبُهَا فَيَلْبَسُهَا ، وَيُبْتَلَى بِالْقُمَّلِ حَتَّى يَقْتُلَهُ ، وَلَأَحَدُهُمْ كَانَ أَشَدَّ فَرَحًا بِالْبَلَاءِ مِنْ أَحَدِكُمْ بِالْعَطَاءِ

“Dari Abu Sa’id al-Khudri bahwa ia pernah menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sementara beliau sedang mengalami demam dan beliau diselimuti kain. Abu Sa’id lalu meletakkan tangannya pada beliau dan merasakan panasnya di atas selimut. Maka Abu Sa’id berkata, “Alangkah panasnya demammu wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Kami memang begitu. Bala’ untuk kami sangatlah berat dan pahala dilipatgandakan untuk kami.” Lalu Abu Sa’id berkata, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang cobaannya paling besar?” Beliau menjawab, “Para Nabi, lalu orang-orang shalih. Salah seorang dari mereka diuji dengan kemiskinan sampai-sampai ia tidak mempunyai apa-apa selain jubah lusuh yang ia pungut lalu dipakainya. Salah seorang dari mereka sungguh lebih senang mendapat cobaan daripada kalian mendapat suatu pemberian.'”

Simak pada menit ke-19:40

Download mp3 kajian ilmiah tentang Apakah Kata-Kata, “Aku Sedang Sakit” Merupakan Suatu Keluhan? – Kitab Al-Adab Al-Mufrad


Jangan lupa untuk membagikan rekaman kajian ini ke saudara-saudara kita atau teman-teman kita baik itu melalui Facebook, Twitter, Google+, atau media yang lainnya agar kebaikan ini tidak berhenti begitu saja. Jazakumullahu khairan
[stumble]

Telegram Rodja Official

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.