Telegram Rodja Official

Do’a Menjenguk Orang Sakit – Kitab Al-Adab Al-Mufrad

By  |  pukul 10:47 am

Terakhir diperbaharui: Kamis, 16 Jumadil akhir 1440 / 21 Februari 2019 pukul 10:47 am

Tautan: https://rodja.id/2b8

Do’a Menjenguk Orang Sakit merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A. dalam pembahasan Kajian kitab Adabul Mufrad karya Imam Bukhari Rahimahullah. Kajian ini disampaikan pada 13 Shafar 1440 H / 22 Oktober 2018 M.

Download juga kajian sebelumnya: Menjenguk Orang Yang Pingsan

Program Kajian Kitab Adabul Mufrad - Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A. di Radio Rodja

Simak program ini di Radio Rodja dan Rodja TV setiap:Senin malam, 20:00-21:30 WIB

Status program Kajian Kitab Adabul Mufrad: AKTIF

Kajian Ilmiah Tentang Do’a Menjenguk Orang Sakit – Kitab Al-Adab Al-Mufrad

Kita akan akan membahas lanjutan dari bab tentang membesuk orang-orang yang sakit. Keutamaan apa yang akan didapat bagi orang yang menyempatkan waktunya, menyisihkan umurnya untuk membesuk orang yang sakit? Karena kalau semuanya dihitung dengan harta, terkadang kita memang tidak punya waktu untuk membesuk orang sakit. Tapi kalau semuanya dihitung dengan yang lebih mulia dari harta, maka kita akan membatalkan rapat dan pertemuan kita. Bahkan mungkin kita akan absen dari tempat kerja kita, meminta izin, walaupun harus dipotong gaji, demi untuk meraih sesuatu yang lebih indah daripada dunia dan seisinya ketika membesuk orang yang sakit.

Hadits no. 516

Ahmad bin Ayyub menceritakan kepada kami, ia berkata: Syababah menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-Mughirah bin Muslim menceritakan kepadaku dari Abuz Zubair:

عَنْ جَابِرٍ قَالَ : دَخَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أُمِّ السَّائِبِ ، وَهِيَ تُزَفْزِفُ ، فَقَالَ : مَا لَكِ ؟ قَالَتِ : الْحُمَّى أَخْزَاهَا اللَّهُ ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَهْ ، لَا تَسُبِّيهَا ، فَإِنَّهَا تُذْهِبُ خَطَايَا الْمُؤْمِنِ ، كَمَا يُذْهِبُ الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ

Dari Jabir, ia berkata, “Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengunjugi Ummus Sa’ib saat ia sedang menggigil kedinginan. Beliau lalu bertanya, ‘Apa yang terjadi denganmu?’ Ia menjawab, ‘Demam, semoga Allah menghinakannya.’ Beliau lalu bersabda, ‘Tahanlah, jangan engkau mencacinya, karena demam menghilangkan dosa-dosa orang mukmin sebagaimana alat peniup besi menghilangkan karat besi.'”

Hadits ini riwayat dari Jabir bin Abdillah. Dia menceritakan bahwa suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam masuk untuk membesuk seorang Shahabiyah, seorang wanita dari kalangan Sahabat yang bernama Ummu Sa’ib. Dia dalam kondisi menggigil.

Lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya, “Engkau kenapa?” Apa jawab Ummu Sa’ib? Dia mengatakan, “Demam, semoga Allah menghinakan demam itu.”

Lalu apa kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam? Beliau mengatakan, “Tahanlah, jangan engkau mencacinya, karena demam menghilangkan dosa-dosa orang mukmin sebagaimana alat peniup besi menghilangkan karat besi.”

Baca Juga:  Balasan untuk Kedua Orang Tua dan Durhaka kepada Kedua Orang Tua - Hadits 10-16 - Kitab Adabul Mufrad (Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A.)

Jangan mencaci maki demam. Kalau kita memandang hidup ini dari satu sisi saja, maka kita akan hidup dalam kesengsaraan. Orang yang sakit, kalau kacamata yang dipakai oleh dia adalah kacamata kebencian, yang dia rasakan akan menjadi sesuatu yang penuh derita. Tapi kita bisa melihat bagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan agar kita memandang sesuatu dari semua sudut. Maka beliau mengatakan, “Jangan kau cela demam. Karena demam mengusir dosa-dosa orang yang beriman.” Demam membersihkan seorang yang beriman dari dosa-dosanya. Orang yang terkena demam, panas tubuhnya menggigil, itu dosa-dosa sedang berguguran dari dirinya. Maka jangan dicela penyakit.

Memang secara naluri manusia tidak tahan sakit. Tugas dia adalah bersabar. Tidak melakukan tindakan-tindakan, ucapan-ucapan yang menunjukkan ketidakridhaan. Jangan sampai kita mengeluarkan ucapan-ucapan yang dimurkai Allah. Ada orang yang menahan sakit, tapi hatinya penuh kebencian, murka kepada Allah.

Yang menjadi tolak-ukur adalah ucapan hati kita dan raga kita juga harus ikut dengan hati kita. Maka jangan pernah mencela penyakit. Namailah penyakit-penyakit itu dengan sesuatu yang indah. Bahkan kalau bisa di Indonesia ini tidak ada rumah sakit. Diganti menjadi rumah sehat atau rumah kesembuhan.

Hadits no. 517

Ishaq menceritakan kepada kami, ia berkata: An-Nadhr bin Syumail mengabarkan kepada kami, ia berkata: Hammad bin Salamah mengabarkan kepada kami dari Tsabit Al-Banani, dari Abu Rafi’:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : يَقُولُ اللَّهُ : اسْتَطْعَمْتُكَ فَلَمْ تُطْعِمَنِي ، قَالَ : فَيَقُولُ : يَا رَبِّ ، وَكَيْفَ اسْتَطْعَمْتَنِي وَلَمْ أُطْعِمْكَ ، وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ ؟ قَالَ : أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ عَبْدِي فُلَانًا اسْتَطْعَمَكَ فَلَمْ تُطْعِمْهُ ؟ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّكَ لَوْ كُنْتَ أَطْعَمْتَهُ لَوَجَدْتَ ذَلِكَ عِنْدِي ؟ ابْنَ آدَمَ ، اسْتَسْقَيْتُكَ فَلَمْ تَسْقِنِي ، فَقَالَ : يَا رَبِّ ، وَكَيْفَ أَسْقِيكَ وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ ؟ فَيَقُولُ : إِنَّ عَبْدِي فُلَانًا اسْتَسْقَاكَ فَلَمْ تَسْقِهِ ، أَمَا عَلِمْتَ أَنَّكَ لَوْ كُنْتَ سَقَيْتَهُ لَوَجَدْتَ ذَلِكَ عِنْدِي ؟ يَا ابْنَ آدَمَ ، مَرِضْتُ فَلَمْ تَعُدْنِي ، قَالَ : يَا رَبِّ ، كَيْفَ أَعُودُكَ ، وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ ؟ قَالَ : أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ عَبْدِي فُلَانًا مَرِضَ ، فَلَوْ كُنْتَ عُدْتَهُ لَوَجَدْتَ ذَلِكَ عِنْدِي ؟ أَوْ وَجَدْتَنِي عِنْدَهُ ؟

“Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda, “Allah berfirman, ‘Aku meminta maka kepadamu tetapi engkau tidak memberiKu makan.’ Ia (seorang hamba) bertanya, ‘Wahai Rabb-ku, bagaimana Engkau tidak aku beri makan padahal Engkau adalah Rabb alam semesta?’ Allah menjawab, ‘Tidaklah engkau tahu bahwa hamba-Ku Fulan meminta makan kepadamu lalu engkau tidak memberinya? Tidakkah engkau tahu kalau sekiranya engkau memberinya makan engkau akan mendapatkan itu di sisiKu?’ (Allah lalu berfirman) ‘Wahai anak Adam, Aku meminta minum kepadamu tetapi engkau tidak memberiKu minum.’ Hamba itu bertanya, ‘Wahai Rabb-ku, bagaimana aku memberiMu minum padahal Engkau adalah Rabb alam semesta?’ Allah lalu menjawab, ‘Sesungguhnya hamba-Ku Fulan meminta minum kepadamu tetapi engkau tidak memberinya minum. Tidakkah engkau tahu kalau sekiranya engkau memberinya minum engkau akan mendapatkan itu di sisiKu? Wahai anak Adan, sesungguhnya Aku sakit tetapi engkau tidak menjenguk-Ku.’ Hamba itu berkata, ‘Wahai Rabbku, bagaimana aku menjengukMu padahal Engkau adalah Rabb alam semesta?’ Allah berfirman, ‘Tidakkah engkau tahu bahwa hambaKu Fulan sakit? Kalau sekiranya engkau menjenguknya, engkau akan mendapatkannya itu di sisiKu atau engkau mendapatiKu padanya.'”

Baca Juga:  Bab Pertanyaan Malaikat Jibril kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tentang Iman, Islam, Ihsan, dan Hari Kiamat - Hadits 50 - Kitab Shahih Bukhari (Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.)

Ini hadits qudsi yang sangat dahsyat sekali. Abu Hurairah meriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa Allah berfirman. Di riwayat Imam Muslim dikatakan pada hari kiamat nanti. Ini peristiwa yang diceritakan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang hari kiamat. Dan ini bukan ramalan. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menceritakan dan semua yang diceritakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang hari kiamat itu benar.

Kalau engkau tidak percaya, kalau engkau ragu, Allah sudah sebutkan:

وَإِن كُنتُمْ فِي رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِّن مِّثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُم مِّن دُونِ اللَّـهِ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ ﴿٢٣﴾

Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” (QS. Al-Baqarah[2]: 23)

Maka peristiwa ini terjadi tentang hari kiamat, an percaya dan orang-orang beriman percaya. Ini bukan karangan dan bukan ramalan. Allah mengatakan pada hari kiamat:

اسْتَطْعَمْتُكَ فَلَمْ تُطْعِمَنِي

“Aku meminta maka kepadamu tetapi engkau tidak memberiKu makan.”

Ini ketika hisab pada hari kiamat. Hamba ini mengatakan:

يَا رَبِّ ، وَكَيْفَ اسْتَطْعَمْتَنِي وَلَمْ أُطْعِمْكَ ، وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ ؟

“Wahai Rabb-ku, bagaimana Engkau tidak aku beri makan padahal Engkau adalah Rabb alam semesta?”

Ingat, diharta kita ada hak orang lain. Orang-orang yang masuk surga, apa kata Allah?

وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِّلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ ﴿١٩﴾

Baca Juga:  Kasih Sayang kepada Keluarga hingga Menyayangi Binatang - Bab 175-176 - Hadits 376-378 - Kitab Al-Adab Al-Mufrad (Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A.)

Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” (QS. Adz-Dzariyat[51]: 19)

Maka hati-hati, Allah akan tanya. Agama kita adalah agama yang peduli dengan orang lain. Kita diajarkan dalam agama kita, jangan bertanya apa yang diberikan orang lain kepadaku tapi tanyakan apa yang kau berikan kepada orang lain? Karena sejatinya sejak lahir kita itu dibantu orang lain. Pakai baju dibantu orang lain, makan dibantu orang lain, berdiri dibantu orang lain, sekolah dibantu orang lain, mati pun dibantu orang lain. Islam mengajarkan agar kita berbagi dengan orang lain, peduli sama orang lain, karena tanpa orang lain kita bukan siapa-siapa.

Orang lain ternyata punya peran besar atas keberadaan kita, atas kesuksesan-kesuksesan kita. Dan tatkala ada orang lain meminta bantuan kita, ini kesempatan buat kita untuk membantu diri kita sendiri. Jadi kalau kita memberi makan orang lain, sejatinya kita itu sedang membantu diri kita sendiri pada hari kiamat. Kita akan ditanya. “Kalau engkau memberi makan dia, engkau akan mendapatkan pahalanya di sisiKu.” kata Allah.

Maka hamba ini tidak bisa berkata apa-apa karena hari-hari itu telah berlalu. Dan yang ada di padang mahsyar itu hisab. TIdak ada kesempatan untuk kembali.

Sehingga kalau kita lihat orang-orang pada masa dihisab mengatakan ketika mereka melihat api neraka didatangkan di padang mahsyar:

وَجِيءَ يَوْمَئِذٍ بِجَهَنَّمَ ۚ يَوْمَئِذٍ يَتَذَكَّرُ الْإِنسَانُ وَأَنَّىٰ لَهُ الذِّكْرَىٰ ﴿٢٣﴾

Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya.” (QS. Al-Fajr[89]: 23)

Sekarang waktunya beramal. Membantu orang lain tidak harus kaya, tapi harus orang yang beriman. Jangan dikira para Sahabat Nabi adalah orang yang kaya raya, mereka kelebihan harta. Allah menyebutkan tentang mereka:

وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ

mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.” (QS. Al-Hasyr[59]: 9)

Simak pada menit ke-24:34

Download mp3 kajian ilmiah tentang Do’a Menjenguk Orang Sakit – Kitab Al-Adab Al-Mufrad


Jangan lupa untuk membagikan rekaman kajian ini ke saudara-saudara kita atau teman-teman kita baik itu melalui Facebook, Twitter, Google+, atau media yang lainnya agar kebaikan ini tidak berhenti begitu saja. Jazakumullahu khairan
[stumble]

Telegram Rodja Official

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.