Telegram Rodja Official

Al-Adabul Mufrad

Kautamaan Menjenguk Orang Sakit dan Hadits Tentang Sakit

By  | 

Kautamaan Menjenguk Orang Sakit dan Hadits Tentang Sakit  merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A. dalam pembahasan Kajian kitab Adabul Mufrad karya Imam Bukhari Rahimahullah. Kajian ini disampaikan pada 5 Rabbi’ul Awwal 1440 H / 13 November 2018 M.

Download juga kajian sebelumnya: Do’a Menjenguk Orang Sakit

Program Kajian Kitab Adabul Mufrad - Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A. di Radio Rodja

Simak program ini di Radio Rodja dan Rodja TV setiap:Senin malam, 20:00-21:30 WIB

Status program Kajian Kitab Adabul Mufrad: AKTIF

Kajian Ilmiah Tentang Kautamaan Menjenguk Orang Sakit dan Hadits Tentang Sakit – Kitab Al-Adab Al-Mufrad

Kita kembali mengkaji tentang adab dan etika seorang muslim. Kita masuk ke dalam Bab nomor 236 بَابُ فَضْلِ عِيَادَةِ الْمَرِيضِ (Bab tentang keutamaan membesuk orang yang sakit)

Agama kita ini sangat peduli dengan urusan habluminannas, sangat menjaga hubungan baik dengan manusia. Memberikan perhatian yang besar dengan lingkungan, menjaga ukhuwah Islamiyah, menjaga keharmonisan, solidaritas diantara masyarakat. Diantaranya dengan disyariatkannya membesuk orang yang sakit. Ana yakin semua ingin sehat dan tidak ada yang berharap penyakit itu datang. Dan bila penyakit itu datang menimpa, dia ingin segera pergi dan meninggalkan dirinya. Tapi terkadang penyakit itu datang menimpa kita atau menimpa saudara kita.  Apa tugas kita tatkala itu?

Baca Juga:
Larangan Menolak Orang yang Meminta dengan Nama Allah hingga Larangan Mencaci Maki Angin - Kitab Tauhid (Syaikh Prof. Dr. ‘Abdur Razzaq Al-Badr)

Hadits no. 521

Al-Imam Bukhari mengatakan:

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ قَالَ : حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ قَالَ : حَدَّثَنَا عَاصِمٌ ، عَنْ أَبِي قِلَابَةَ ، عَنْ أَبِي الْأَشْعَثِ الصَّنْعَانِيِّ ، عَنْ أَبِي أَسْمَاءَ قَالَ : مَنْ عَادَ أَخَاهُ كَانَ فِي خُرْفَةِ الْجَنَّةِ ، قُلْتُ لِأَبِي قِلَابَةَ : مَا خُرْفَةُ الْجَنَّةِ ؟ قَالَ : جَنَاهَا ، قُلْتُ لِأَبِي قِلَابَةَ : عَنْ مَنْ حَدَّثَهُ أَبُو أَسْمَاءَ ؟ قَالَ : عَنْ ثَوْبَانَ ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَنَا ابْنُ حَبِيبِ بْنِ أَبِي ثَابِتٍ قَالَ : حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ ، عَنِ الْمُثَنَّى – أَظُنُّهُ – ابْنَ سَعِيدٍ قَالَ : حَدَّثَنَا أَبُو قِلَابَةَ ، عَنْ أَبِي الْأَشْعَثِ ، عَنْ أَبِي أَسْمَاءَ الرَّحَبِيِّ ، عَنْ ثَوْبَانَ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، نَحْوَهُ

Musa bin Isma’il menceritakan kepada kami, ia berkata, ‘Abdul Wahid menceritakan kepada kami, ia berkata, ‘Ashim menceritakan kepada kami dari Abu Qilabah, dari Abul Asy’ats ash-Shan’ani, dari Abu Asma’, ia berkata, “Barang siapa mengunjungi sudaranya, maka ia berada di kebun kurma Surga. Aku bertanya kepada Abu Qilabah, ‘Apa (maksud) kebun kurma Surga?’ Ia menjawab, ‘(Maksudnya) memtiknya.’ Aku bertanya kepada Abu Qilabah, ‘Dari siapa Abu Asma’ meriwayatkannya?’ Ia menjawab, ‘Dari Tsauban, dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam'”

Subhanallah, langkah yang dijalani oleh seorang ketika membesuk saudaranya yang sakit, dia sedang melangkah menuju surga Allah Jalla Jalaluhu. Memetik buah-buahan di surga yang tidak pernah putus buahnya, tidak ada larangan bagi hamba untuk memetik dan menikmatinya. Ketika kit amengetahui keutamanaan yang besar yang Allah berikan kepada orang yang membesuk orang sakit, maka apa yang kita lakukan? Apakah kita menunggu punya waktu luang atau kita memang menyempatkan diri disela-sela kesibukan kita, di sela-sela banyaknya aktivitas yang terkadang membuat kita jadi tidak bisa membesuk orang yang sakit? Tapi ketika seseorang mengetahui fadhilahnya, dia akan berusaha untuk mencari waktu membesuk orang yang sakit.

Baca Juga:
Tafsir Surat At-Takwir - Bagian ke-2 - Kitab Tafsir Al-Muyassar (Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.)

Subhanallah, ‘Ashim berkata kepada Abu Qilabah (gurunya):

عَنْ مَنْ حَدَّثَهُ أَبُو أَسْمَاءَ ؟

“Dari siapa Abu Asma’ meriwayatkannya?”

Subhanallah, seseorang ketika menuntut ilmu dia harus berhati-hati dengan ilmu yang dia terima. Jangan sampai dia menerima sebuah hadits, kemudian dia yakini atau dia amalkan dalam kehidupan, ternyata haditsnya dha’if, tidak sampai kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, terputus. Maka ‘Ashim bertanya kepada Abu Qilabah.

Artinya, ketika kita mendapatkan sebuah amalan, fadilah yang terkadang disebarkan lewat broadcast, kemudian kita termotivasi untuk menyebarkannya. Apalagi tatkala di bawah tulisan tersebut yang menyebarkan kepada sepuluh orang akan mendapatkan ini dan itu. Kita MasyaAllah ingin menyebarkannya. Jangan disebarkan dulu. Takut ternyata informasi yang disampaikan tidak ada landasannya. Hanya katanya, katanya, katanya. Apalagi kalau mengatasnamakan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ini sebuah kedustaan yang kata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa berdusta terhadapku, maka hendaklah ia persiapkan tempat duduknya dalam neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka ingat, ini keutamaan yang dipastikan keshahihannya. Bahwasannya seseorang yang membesuk orang yang sakit, dia sedang berada dalam jalan memetik buah-buah di surga.

Al-Imam An-Nawawi mengatakan tentang khurfatul jannah, bahwa orang yang membesuk orang yang sakit itu, amalan dia akan mengantarkan dia menuju ke dalam surga Allah sehingga dia di situ bisa memetik buah-buah sesuai yang dia inginkan. Subhanallah.

Baca Juga:
Mulia dengan Manhaj Salaf (Ustadz Yazid Abdul Qadir Jawas - Masjid Jami' Al-Mu'min Bandar Lampung)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bukan hanya menyuruh, tapi beliau sendiri datang dan membesuk orang yang sakit. Sudah berlalu beberapa hadits, bagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membesuk fulan, membesuk fulan, membesuk fulan, membesuk anak-anak, membusuk Jabir bin ‘Abdillah, Saad bin Abi Waqqash, Ummu Sa’ib, ada juga orang Yahudi.

Di sini Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan contoh. Tidak hanya pandai berucap dengan lisannya, tapi beliau berusaha untuk mengamalkannya. Karena banyak manusia yang tidak tergerak hatinya dengan ucapan. Tapi tatkala melihat perbuatan, dia termotivasi untuk mengamalkannya.

Bab 237 بَابُ الْحَدِيثِ لِلْمَرِيضِ وَالْعَائِدِ

Imam Bukhari mengatakan بَابُ الْحَدِيثِ لِلْمَرِيضِ وَالْعَائِدِ. Allahu akbar. Ana kalau membaca bab-bab ini ana semakin yakin dan semakin bangga dengan agama Islam. Sampai dibahas didalamnya tentang bagaimana berbicara buat orang yang sakit dan bagaimana berbicara buat orang yang sedang membesuk orang yang sakit? Kalau mungkin ini dibikin di rumah sakit sebagai aturan tidak boleh teriak-teriak, tidak boleh keras-keras berbicara, ada jam besuknya, kemudian dimana berdirinya orang yang sakit, dalam Islam 1440 tahun yang lalu sudah diatur. Tinggal banyak dari kalangan umat Islam yang tidak paham dengan agamanya, yang tidak belajar agamanya. Sehingga dia beranggapan ada hal-hal baru, padahal Islam sudah bahas. Kamu saja yang sibuk dengan dunia. Banyak kitab yang dibaca tapi bukan kitab agama, banyak jurnal yang dia kaji tapi bukan jurnal agama, urusan dunia.

Baca Juga:
Hadits Tentang Kesempurnaan Islam - Prinsip Dasar Islam (Ustadz Fachrudin Nu’man, Lc.)

Berkaitan dengan berbicara dengan orang yang sakit atau orang yang sakit sedang berbicara atau bagaimana orang yang sedang membesuk orang yang sakit? Ada adab dan etikanya. Imam Bukhari mengatakan:

حَدَّثَنَا قَيْسُ بْنُ حَفْصٍ قَالَ : حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ الْحَارِثِ قَالَ : حَدَّثَنَا عَبْدُ الْحَمِيدِ بْنُ جَعْفَرٍ قَالَ : أَخْبَرَنِي أَبِي ، أَنَّ أَبَا بَكْرِ بْنَ حَزْمٍ ، وَمُحَمَّدُ بْنُ الْمُنْكَدِرِ ، فِي نَاسٍ مِنْ أَهْلِ الْمَسْجِدِ ، عَادُوا عُمَرَ بْنَ الْحَكَمِ بْنِ رَافِعٍ الْأَنْصَارِيَّ ، قَالُوا : يَا أَبَا حَفْصٍ ، حَدِّثْنَا ، قَالَ : سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ : سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : مَنْ عَادَ مَرِيضًا خَاضَ فِي الرَّحْمَةِ ، حَتَّى إِذَا قَعَدَ اسْتَقَرَّ فِيهَا

Qais bin Hafsh menceritakan kepada kami, ia berkata: Khalid bin al-Harits menceritakan kepada kami, ia berkata, ‘Abdul Hamid bin Ja’far menceritakan kepada kami, ia berkata, Ayahku menceritakan kepadaku bahwa Abu Bakar bin Hazm dan Muhammad bin al-Munkadir bersama sejumlah orang jama’ah masjid, menjenguk ‘Umar bin al-Hakam bin Rafi’ al-Anshari. Mereka berkata, “Wahai Abu Hafsh, sampaikanlah (hadits) kepada kami.” lalu ia berkata, “Aku mendengar Jabir bin ‘Abdillah berkata, ‘Aku mendengar Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Barang siapa mengunjungi orang sakit, maka ia senantiasa masuk dalam rahmat (Allah), hingga apabila ia telah duduk, ia menetap padanya.'”

Baca Juga:
Khutbah Jum'at: Iman dan Amal Sholeh

Simak pada menit ke-14:08

Download mp3 kajian ilmiah tentang Kautamaan Menjenguk Orang Sakit dan Hadits Tentang Sakit – Kitab Al-Adab Al-Mufrad


Jangan lupa untuk membagikan rekaman kajian ini ke saudara-saudara kita atau teman-teman kita baik itu melalui Facebook, Twitter, Google+, atau media yang lainnya agar kebaikan ini tidak berhenti begitu saja. Jazakumullahu khairan
[stumble]

Telegram Rodja Official

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.