Telegram Rodja Official

Al-Jam'u Baina As-Sahihain

Bab Berkata Baik Atau Diam

By  | 

Bab Berkata Baik Atau Diam adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan الجمع بين صحيحين (Al-Jam’u Baina As-Sahihain), sebuah kitab yang berisi Kumpulan shahih Bukhari dan Muslim karya Syaikh Yahya bin Abdul Aziz Al-Yahya. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. pada 20 Jumadal Awwal 1440 H / 27 Januari 2019 M.

Download Kitab Al-Jam’u Baina As-Sahihain – Format PDF di sini

Download mp3 kajian sebelumnya: Hadits Tentang Malu Sebagian Dari Iman

Kajian Hadits Tentang Berkata Baik Atau Diam – Al-Jam’u Baina As-Sahihain

Pembahasan kali ini sampai pada hadits ke-26 halaman 13 pada  kitab Al-Jam’u Baina As-Sahihain. Dari Abu Syuraikh dia berkata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ جَائِزَتَهُ قَالَ وَمَا جَائِزَتُهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ يَوْمٌ وَلَيْلَةٌ وَالضِّيَافَةُ ثَلَاثَةُ أَيَّامٍ فَمَا كَانَ وَرَاءَ ذَلِكَ فَهُوَ صَدَقَةٌ عَلَيْهِ

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya ia memuliakan tetangganya, dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir hendaknya ia memuliakan tamunya, dan menjamunya” dia bertanya; ‘Apa yang dimaksud dengan menjamunya wahai Rasulullah?” beliau menjawab: “yaitu pada siang dan malam harinya, bertamu itu tiga hari, lebih dari itu adalah sedekah bagi tamu tersebut.”

Baca Juga:
Penjelasan tentang Nafkah kepada Bayi (Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.)

Dan dalam satu riwayat:

وَلَا يَحِلُّ لَهُ أَنْ يَثْوِيَ عِنْدَهُ حَتَّى يُحْرِجَهُ – ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Dan tidak halal baginya untuk tinggal di sisinya sampai ia mengeluarkannya. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, hendaklah ia berkata baik atau diam.”

Dan dalam hadits Abu Hurairah:

فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Hendaklah ia menyambung silaturahmi”

Ini beliau membawakan bab barangsiapa yang beriman kepada Allah dan akhirat hendaklah ia berkata baik atau diam.

Dalam hadits ini Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan tentang sifat orang yang beriman kepada Allah dan kehidupan akhirat. Kenapa Nabi mengatakan begitu? Karena ini hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang beriman kepada Allah dan kehidupan akhirat. Adapun orang yang tidak beriman atau kurang imannya, dia sulit untuk melakukan ini.

Apa yang pertama?

فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ

“Hendaklah ia menghormati tetangganya.”

Bagaimana cara menghormati tetangga?

Pernah kita sampaikan bahwa tetangga itu ada tiga macam. Yang pertama, tetangga muslim yang ada hubungan kerabat dengan kita. Baik paman, kakak atau kerabat kita. Yang kedua, tetangga muslim yang tidak ada hubungan kekerabatan dengan kita. Yang ketiga, tetangga non muslim.

Adapun yang pertama, punya tiga hak; hak tetangga, hak sesama muslim dan hak kekerabatan. Adapun yang kedua, kalau dia tetangga muslim tapi bukan kerabat kita, maka memiliki dua hak saja; hak sesama muslim dan hak tetangga. Adapun kalau tetangga kita non muslim, maka ia mempunyai satu hak saja. Yaitu hak tetangga.

Baca Juga:
Adab Berpakaian - Fiqih Pendidikan Anak (Ustadz Abdullah Zaen, M.A.)

Apa hak tetangga?

Yang pertama, tidak boleh mengganggunya baik dengan lisan maupun dengan perbuatan. Adapun dengan lisan sebagaimana ditunjukkan oleh hadits yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad. Bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang seorang wanita yang banyak shalah malamnya, banyak puasa sunnahnya, banyak sedekahnya, tapi lisannya menyakiti tetangganya”, Maka kata Rasulullah:

هِيَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ

“Dia termasuk penduduk api neraka.”

Wanita ini banyak shalat sunnahnya, dia tidak pernah meninggalkan shalat sunnah, banyak puasa sunnahnya, banyak sedekahnya, tapi sayang lisannya selalu menyakiti tetangga.

Adapun dengan perbuatan, sebagaimana dalam hadits yang akan disebutkan nanti. Dimana Rasulullah bersabda:

واللَّهِ لا يُؤْمِنُ، واللَّهِ لا يُؤْمِنُ، واللَّهِ لا يُؤْمِنُ، قِيلَ: مَنْ يا رسولَ اللَّهِ؟ قَالَ: الَّذي لا يأْمنُ جارُهُ بَوَائِقَهُ

“Demi Allah, tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman.” Ditanyakan kepada beliau; “Siapa yang tidak beriman wahai Rasulullah?” beliau bersabda: “Yaitu orang yang tetangganya tidak merasa aman dengan gangguannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Gangguan dengan apa? Macam-macam. Mengganggu dengan murotal. Mungkin Antum niatnya biar tetangga dengar. Atau misalnya sengaja mengencangkan suara ceramah di Rodja dengan niat supaya tetangga dengerin, kita katakan perbuatan ini salah meskipun isinya dakwah.

Tidak setiap orang bisa mendengar. Bisa jadi dia butuh istirahat, bisa jadi dia lagi sakit dan yang lainnya. Makanya disebutkan dalam hadits, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam masuk ke dalam Masjid dan didapati para Sahabat masing-masing sedang shalat sunnah. Dan rupanya masing-masing mereka mengeraskan bacaannya dan mengganggu yang lain. Apa kata Rasulullah?

Baca Juga:
Tata Cara Pengambilan Dalil Bagian 2 - Syarah 'Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah (Ustadz Yazid 'Abdul Qadir Jawas)

أَلَا إِنَّ كُلَّكُمْ مُنَاجٍ رَبَّهُ فَلَا يُؤْذِيَنَّ بَعْضُكُمْ بَعْضًا وَلَا يَرْفَعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الْقِرَاءَةِ

“Ketahuilah, sesungguhnya kalian tengah berdialog dengan Rabb, oleh karena itu janganlah sebagian yang satu mengganggu sebagian yang lain dan jangan pula sebagian yang satu mengeraskan terhadap sebagian yang lain di dalam membaca (Al Qur’an)” (HR. Abu Dawud)

Meskipun dengan bacaan Al-Qur’an, kalau itu mengganggu tetangga, tidak boleh. Bagaimana dengan di masjid-masjid yang mengganggu tetangganya dengan nyanyian-nyanyian, dengan shalawatan-shalawatan, dengan baca Al-Qur’an?

Padahal ini jelas mengganggu tetangga. Terkadang tetangga bisa jadi dia sedang sakit dan yang lainnya. Apalagi dibulan Ramadhan, terkadang 24 jam mengganggu tetangga. Dengan alasan bahwa ini adalah Al-Qur’an. Ini hak yang pertama.

Hak yang kedua, berbuat baik kepadanya. Nabi ditanya, “Wahai Rasulullah, siapa orang yang paling berhak untuk saya berbuat baik kepadanya dari tetanggaku?” Kata Rasulullah, “Yang paling dekat pintunya kepada kamu.” Bahkan Rasulullah menyuruh kalau kita lagi masak untuk memperbanyak kuahnya. Jangan sampai tetangga hanya mencium aromanya saja.

Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ جَائِزَتَهُ

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir hendaknya ia memuliakan tamunya”

Kata Ibnul Qayyim, menjamu tamu itu ada tiga hukum; wajib, mustahab, sedekah. Adapun hukum yang wajib adalah sehari semalam. Adapun hukum yang kedua, kesempurnaan yaitu tiga hari. Adapun hukum yang ketiga adalah sedekah yaitu lebih dari tiga hari. Namun kata para ulama ini khusus untuk tamu yang berasal dari luar kota, yang mereka memang sangat butuh bantuan.

Baca Juga:
Memuji Temannya hingga Pujian dalam Puisi - Bab 154-156 - Hadits 338-342 - Kitab Al-Adab Al-Mufrad (Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A.)

Disebutkan dalam dalam ayat, Allah mengatakan:

وَإِن قِيلَ لَكُمُ ارْجِعُوا فَارْجِعُوا ۖ هُوَ أَزْكَىٰ لَكُمْ

Dan jika dikatakan kepadamu: “Pulang (saja)lah, maka hendaklah kamu pulang.” (QS. An-Nur[24]: 28)

Lalu Rasul bersabda, “Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia mengucapkan yang baik atau diam.” Ini yang diinginkan dari bab. Yaitu barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat hendaklah berkata baik.

Makna berkata baik adalah yang pertama ucapannya itu bermanfaat. Bukan ucapan yang sia-sia apalagi menyakiti. Allah Subhanahu wa Ta’ala mensifati orang yang beriman adalah yang berusaha berpaling dari perbuatan yang sia-sia. Allah mengatakan:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ﴿١﴾ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ ﴿٢﴾ وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ ﴿٣﴾

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna,” (QS. Al-Mu’minun[23]: 3)

Berarti ucapan yang baik itu adalah yang bermanfaat. Seperti perkataan yang isinya ilmu, isinya menyuruh orang kepada kebaikan atau melarang dari kemungkaran, isinya mengajak kepada perkara yang baik.

Simak penjelasannya pada menit ke – 15:11

Download MP3 Kajian Hadits Tentang Berkata Baik Atau Diam – Al-Jam’u Baina As-Sahihain

Baca Juga:
Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah: Hadits ke-759 hingga ke-765 - TPP: Tanda-tanda Hari Kiamat dan Hakikat Wali Allah (Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.)

Jangan lupa untuk turut membagikan link download kajian ini ke akun media sosial yang Anda miliki, baik Facebook, Twitter, Google+, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahufiikum

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: Rodja Official
Facebook Page: Radio Rodja 756 AM
Twitter: @radiorodja
Instagram: @radiorodja
Website: radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook Page: Rodja TV
Twitter: rodjatv
Instagram: rodjatv
Website: rodja.tv

Lihat Juga: Radio Streaming, Khutbah Jumat, Ceramah Agama, Ceramah Lucu, Khutbah Idul Adha, Kultum, Ceramah Singkat, Shalawat, Shalat JenazahRukun IslamRukun Iman, Ziarah Kubur, Shalat Berjamaah, Amar Ma’ruf Nahi Munkar, Belajar Bahasa Arab,

Telegram Rodja Official

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.