Telegram Rodja Official

Khutbah Jumat Ramadhan: Hikmah Puasa Agar Tidak Mengharapkan Dunia Berlebihan

By  |  pukul 6:56 pm

Terakhir diperbaharui: Sabtu, 06 Ramadhan 1440 / 11 Mei 2019 pukul 5:22 am

Tautan: https://rodja.id/2dy

Khutbah Jumat Ramadhan: Hikmah Puasa Agar Tidak Mengharapkan Dunia Berlebihan ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at,  5 Ramadhan 1440 H / 10 Mei 2019 M.

Khutbah Pertama – Khutbah Jumat Ramadhan: Hikmah Puasa Agar Tidak Mengharapkan Dunia Berlebihan

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه
قال الله تعالى فى كتابه الكريم، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
وقال تعالى، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ، فإِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا ، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ

Ummatal Islam,

Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mendidik kita dengan puasa agar memiliki hati yang hanya mengharapkan kehidupan akhirat semata. Menjadikan hati kita senantiasa yang terbesar adalah kehidupan akhirat, ridho Allah dan surga-Nya. Karena ketika hati mengharapkan dunia dan ternyata pengharapan yang terbesar di hati adalah dunia, seringkali menimbulkan berbagai macam mudzarat yang sangat berat. Diantaranya;

1. Membatalkan Amal

Seseorang yang beramal sementara hatinya mengharapkan dunia, akhirnya keinginan terbesar di hatinya adalah mengharapkan balasan di dunia. Orang yang berinfak misalnya, ternyata harapan terbesar di hatinya agar diganti di dunia ini. Orang yang shalat tahajud misalnya, ternyata tujuan terbesar di hatinya agar dilancarkan rezekinya. Orang yang shalat dhuha misalnya, sementara keinginan terbesar di hatinya adalah rezeki di dunia. Maka semua itu menjadikan amalan yang sia-sia. Allah Ta’ala berfirman dalam surat Hud ayat 15-16:

مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ ﴿١٥﴾

“Barangsiapa yang menginginkan dunia dan perhiasannya maka mereka akan diberikan apa yang mereka inginkan dari amalannya tersebut tanpa dikurangi.” kata Allah.

أُولَـٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ

 “Akan tetapi di akhirat, maka tidak mendapatkan apapun kecuali api neraka.” kata Allah.

وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ ﴿١٦﴾

“Batalah amalan mereka dan sia-sia perbuatan mereka.”

Lihatlah saudaraku.. Allah menyebutkan bahwa orang yang menginginkan dunia dari amalannya, Allah akan berikan apa yang ia inginkan bagi siapa yang Allah kehendaki. Tapi di akhirat ia tidak mendapatkan apapun dari pahala kecuali api neraka saja. Lalu Allah mengatakan, “batal amalnya, sia-sia perbuatannya.” Akibat daripada mengharapkan dunia terlalu besar.

2. Jatuh Kepada Riya’

Orang yang mengharapkan dunia terlalu besar di hatinya seringkali ia jatuh kepada riya’, mengharapkan pujian manusia, mengharapkan agar ia didengar oleh manusia, agar ia tenar, agar dia masyhur dan yang lainnya. Sehingga akhirnya riya’ itu menyebabkan ia termasuk orang yang pertama kali dilemparkan ke dalam api neraka. Sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Muslim:

Baca Juga:  Buah dan Pengaruh Ramadhan terhadap Keluarga (Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.)

إِنَّ اَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Ada tiga orang yang pertama kali diputuskan pada hari kiamat.”

Dalam satu riwayat yang lain, “Ada tiga orang yang pertama kali dibakar dalam api neraka” Yang pertama adalah orang yang alim dan qari’ (pembaca Al-Qur’an yang baik), yang kedua orang yang mati syahid, yang ketiga orang yang berinfak.

Maka orang yang alim dan qari’ dipanggil oleh Allah dan Allah pun mengingatkan nikmatnya atas dia. Lalu Allah berfirman, “Apa yang engkau amalkan.” Si Alim ini berkata, “Ya Allah, dahulu di dunia aku menuntut ilmu dan aku membaca Al-Qur’an karena Engkau, ya Allah.” Maka Allah berfirman:

كَذَبْتَ, وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ وَقَرَأْتَ اْلقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِىءٌٌ ، فَقَدْ قِيْلَ

“Kamu berdusta. Kamu dahulu menuntut ilmu karena ingin disebut alim, kamu dahulu membaca Qur’an karena ingin disebut qari’, dan kamu sudah mendapatkan predikat itu.” Lalu iapun diseret dan dilemparkan ke dalam api neraka, kata Rasulullah.

Dipanggil orang yang mati syahid, lalu Allah bertanya kepadanya, “Apa amalmu?” Dia (orang yang mati syahid) berkata, “Aku berperang sampai meninggal dunia karena Engkau, ya Allah.” Allah berfirman:

كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ ِلأَنْ يُقَالَ جَرِيْءٌ, فَقَدْ قِيْلَ

“Kamu dusta. Kamu dahulu berperang karena angin disebut pahlawan, kamu berperang karena ingin disebut pemberani, dan kamu sudah mendapatkan predikat itu.” Lalu iapun diseret dan dimasukkan ke neraka.

Demikian pula orang yang dermawan, ternyata ia bukan karena Allah, ia pun diseret ke dalam api neraka.

Lihatlah saudaraku sekalian, akibat terlalu mengharapkan dunia, mengharapkan pujian manusia, mengharapkan ketenaran dan yang lainnya, sehingga akhirnya amalannya pun sia-sia, tidak diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

3. Tidak Peduli Halal Maupun Haram

Orang yang terlalu mengharapkan dunia seringkali tidak peduli halal maupun haram. Tidak peduli apakah itu diharamkan oleh Allah, yang terpenting bagi dia adalah dia bisa mendapatkan kehidupan dunia, dia bisa mendapatkan harta, dia bisa mendapatkan kedudukan. Dan ini yang sangat Rasulullah khawatirkan kepada umatnya. Bahkan Rasulullah menganggap orang seperti ini lebih buruk daripada serigala lapar. Rasul bersabda:

مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ

“Tidaklah dua ekor serigala lapar yang dilepaskan pada sekelompok kambing, lebih merusak agama seseorang dari orang yang tamak dan rakus terhadap harta dan kedudukan.” (HR. Tirmidzi)

Iya, ketika hatinya sangat mengharapkan dunia berupa harta, berupa kedudukan, tidak peduli lagi dengan batasan-batasan Allah, tidak peduli lagi dengan agama Allah. Sehingga akhirnya dia menghalalkan segala cara bahkan ia tidak akan pernah segan untuk membunuh lawannya demi untuk mendapatkan keinginannya tersebut, saudaraku sekalian.

Baca Juga:  Islam Agama Damai dan Kasih Sayang - Tabligh Akbar Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaili

4. Kehilangan Qana’ah

Hati yang senantiasa mengharapkan dunia akan kehilangan qana’ah. Sementara qana’ah adalah merupakan kekayaan hati. Sementara kekayaan hati adalah bekal yang terbaik dalam kehidupan dunia. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan tentang siapa orang yang kaya. Orang yang kaya, kata Rasulullah adalah orang yang kaya hatinya. Suatu ketika Rasulullah bertanya kepada Abu Dzar, “Wahai Abu Dzar, menurut kamu siapa orang kaya itu?” Lalu kata Abu Dzar, “Orang kaya itu orang yang memiliki harta benda, wahai Rasulullah.” Kata Rasulullah, “Bukan, hakikat orang kaya itu adalah orang yang kaya hatinya.” Yaitu yang qana’ah, merasa cukup dengan apa yang dia miliki dari kehidupan dunia.

Orang yang tidak qana’ah, saudaraku, dia tidak akan zuhud dalam kehidupan dunia. Dia selalu mengharap-harapkan apa yang Allah berikan kepada orang lain sehingga akhirnya ia jatuh kepada yang kelima. Yaitu:

5. Hasad Kepada Manusia

Sementara hasad itu merupakan penyakit iblis la’anahullah. Lihatlah iblis, ia hasad kepada Nabi Adam karena iblis mengharapkan sesuatu. Yaitu ia menginginkan kedudukan, ia menginginkan kehormatan, ia ingin dihormati. Orang yang hatinya ingin dihormati oleh manusia, akhirnya ia akan mudah terkena penyakit dengki.

Ummatal Islam,

Oleh karena itulah hati yang terlalu mengharapkan dunia, banyak sekali penyakit-penyakit hati yang ada di hatinya tersebut. Yang mengakibatkan akhirnya seringkali ia tidak mengharapkan kehidupan akhirat. Ia lebih ridha dengan kehidupan dunia. Sementara Allah mengatakan:

إِنَّ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا وَرَضُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاطْمَأَنُّوا بِهَا وَالَّذِينَ هُمْ عَنْ آيَاتِنَا غَافِلُونَ ﴿٧﴾ أُولَـٰئِكَ مَأْوَاهُمُ النَّارُ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ ﴿٨﴾

Orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami dan lebih ridha dengan dunia, bahkan hatinya merasa tenang dengan dunia, dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Yunus[10]: 7-8)

Oleh karena itulah, saudaraku..

Allah menyebutkan dalam Al-Qur’an, bahwa orang yang mampu mengikuti Rasulullah atau yang menjadikan Rasulullah sebagai suri tauladan dalam hidupnya hanyalah orang-orang yang hatinya sangat mengharapkan kehidupan akhirat. Allah berfirman:

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّـهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sungguh telah ada pada diri Rasulullah suri tauladan yang baik.”

Tapi apakah setiap manusia bisa menjadikan Rasul sebagai suri tauladan? Tidak! Allah menyebutkan siapa yang bisa menjadikan Rasulullah sebagai suri tauladan:

لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّـهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّـهَ كَثِيرًا

“Bagi orang yang mengharapkan Allah dan kehidupan akhirat.”

Artinya, hanya mereka yang bisa menjadikan Rasulullah sebagai suri tauladan dalam hidupnya. Adapun orang yang hatinya penuh dengan keinginan dunia dan harapan dunia yang terbesar di hatinya, jangan harap ia bisa mengikuti Rasulullah, jangan harap dia bisa menjadikan Rasulullah sebagai suri tauladan dalam hidupnya.

Maka berhati-hatilah saudaraku sekalian, pandanglah dunia dengan pandangan yang hina. Jangan pandang dunia dengan pandangan yang mulia. Pandanglah dunia bagaikan bangkai yang tidak punya harga sama sekali. Karena memang demikian yang Rasulullah kabarkan kepada kita.

Baca Juga:  Keistimewaan Bulan Al-Muharram - Khutbah Jumat (Ustadz Badrusalam, Lc.)

أقول قولي هذا واستغفر الله لي ولكم

Khutbah kedua – Khutbah Jumat Ramadhan: Hikmah Puasa Agar Tidak Mengharapkan Dunia Berlebihan

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، نبينا محمد و آله وصحبه ومن والاه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أنَّ محمّداً عبده ورسولهُ

Ummatal Islam,

Inilah bulan Ramadhan, mendidik kita demikian. Dengan kita berpuasa sebulan penuh, kita menjadi orang yang senantiasa mengharapkan kehidupan akhirat, kita mengharapkan apa yang ada di sisi Allah berupa pahala yang besar, kita pun juga merasakan bahwa dunia itu sesuatu yang hina. Sehingga orang yang diwaktu siangnya ia berpuasa, diwaktu malamnya ia shalat tarawih, lalu waktu-waktunya ia gunakan untuk membaca Al-Qur’an dan beribadah. Maka disaat itu hatinya akan menjadi hati yang cinta kepada kehidupan akhirat, menjadi hati yang memandang dunia adalah sesuatu yang hina. Ia pun hidup di dunia bagaikan pelayar yang berlayar di atas lautan.

Lihatlah perahu yang berlayar di atas lautan itu. Apabila perahu itu dipenuhi oleh air laut, ia akan tenggelam. Tapi selama perahu itu tidak dipenuhi oleh air laut, ia akan terus berlayar, saudaraku sekalian. Demikian pula hati kalau sudah dipenuhi oleh cinta dunia, maka hati akan tenggelam dalam kehidupan dunia ini dan berpaling daripada kehidupan akhirat. Tapi selama hati itu tidak dipenuhi dengan cinta dunia, InsyaAllah dia kan bisa berlayar menuju pantai akhirat yang ia inginkan.

إِنَّ اللَّـهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

 اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ

اللهم تقبل صيامنا وقيامنا و جميعا عباره يا رب العالمين

اللهم اصلح ولاه امور المسلمين في هذا البلد وفي سائر بلاد المسلمين يا رب العالمين اللهم انصر المسلمين في كل مكان يا رب العالمين اللهم واتوب علينا انك انت التواب الرحيم

عباد الله:

إِنَّ اللَّـهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
فَاذْكُرُوا الله العَظِيْمَ يَذْكُرْكُم، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُم، ولذِكرُ الله أكبَر.

Download Khutbah Jumat Ramadhan: Hikmah Puasa Agar Tidak Mengharapkan Dunia Berlebihan

Jangan lupa untuk ikut membagikan link download khutbah Jum’at ini, kepada saudara Muslimin kita baik itu melalui Facebook, Twitter, atau Google+ Anda. Semoga Allah membalas kebaikan Anda.

Telegram Rodja Official

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.