Telegram Rodja Official

Pelajaran Penting Untuk Umat

Ceramah Singkat Tentang Sholat: Penjelasan Bacaan Tahiyat Awal dan Akhir

By  | 

Ceramah Singkat Tentang Sholat: Penjelasan Bacaan Tahiyat Awal dan Akhir adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam dengan pembahasan Kitab الدروس المهمة لعامة الأمة (pelajaran-pelajaran penting untuk segenap umat). Pembahasan ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr pada 15 Sya’ban 1440 H / 21 April 2019 M.

Penerjemah: Ustadz Iqbal Gunawan, M.A.

Download kajian sebelumnya: Doa Tahiyat Akhir

Status Program Kajian Tentang Pelajaran Penting untuk Umat

Status program Kajian Tentang Bagaimana Menjadi Pembuka Pintu Kebaikan: AKTIF. Mari simak program kajian ilmiah ini di Radio Rodja 756AM dan Rodja TV setiap ahad & senin pukul 17.00 - 18.00 WIB.

Ceramah Singkat Tentang Sholat: Penjelasan Bacaan Tahiyat Awal dan Akhir

Untuk menyempurnakan pelajaran kita tentang tahiyat, kita berhenti sebentar untuk mendengarkan faidah yang sangat penting yang disampaikan oleh Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah dalam kitab beliau Ash-Shalah yang berkaitan dengan tasyahud, shalawat ibrahimiyah dan ucapan-ucapan isti’adzah yang kita ucapkan di akhir tahiyat kita.

Berkata Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala bahwa tahiyat adalah penghormatan seorang hamba kepada Dzat Yang Maha Hidup yang tidak akan pernah mati. Yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berhak dengan semua penghormatan-penghormatan dari selainNya.

Baca Juga:
Sifat Kasih Sayang Seorang Mukmin - Aktualisasi Akhlak Muslim (Ustadz Abu Ihsan Al-Atsary, M.A.)

Karena tahiyat ini mengandung makna kehidupan, kekekalan, dan tidak ada yang berhak terhadap tahiyat ini kecuali Dzat Yang Maha Hidup, yang tidak akan pernah mati dan tidak akan hilang kerajaanNya.

Juga perkataan atau bacaan seseorang ketika bertahiyat ini tidak berhak seorang pun kecuali untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak boleh shalat dilakukan untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kata الطَّيِّبَاتُ, adalah sifat dari sesuatu yang disifati akan tetapi dihapus atau tidak kelihatan. Maksudnya adalah thoyyibat (yang baik-baik) dari ucapan-ucapan, perbuatan-perbuatan, sifat-sifat dan nama-nama yang itu hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena Allah adalah Maha Baik, ucapanNya semua baik, sifat-sifatNya adalah sifat yang paling baik, nama-namaNya adalah nama-nama yang paling baik.

Bahkan di antara nama-nama Allah adalah At-Thoyyib. Tidak muncul dari Allah kecuali kebaikan dan tidak naik kepada Allah kecuali yang baik dan tidak mendekat kepada Allah kecuali yang baik, juga tidak akan naik kepada Allah kecuali kata-kata yang baik. Segala perbuatan Allah adalah baik dan amal kebaikan akan naik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Maka semua kebaikan milik Allah Subhanahu wa Ta’ala, disandarkan kepada Allah, datang dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا

“Sesungguhnya Allah Maha baik dan tidak akan menerima kecuali yang baik.” (HR. Muslim)

Baca Juga:
Dzikir Adzan - Bagian ke-1 - Kitab Adz-Dzikr wa Ad-Du'a (Syaikh Prof. Dr. ‘Abdur Razzaq Al-Badr)

Juga dalam hadits yang mengajarkan kepada kita ketika meruqyah orang yang sakit yang dilakukan oleh Abu Dawud dan selainnya:

أَنْتَ رَبُّ الطَّيِّبِينَ

“Engkau adalah Rabb orang-orang yang baik.”

Juga tidak akan dekat kepada Allah kecuali hamba-hambaNya yang baik. Sebagaimana dikatakan kepada penduduk surga:

سَلَامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ ﴿٧٣﴾

Kesejahteraan atas kalian, kalian telah mendapatkan kebaikan dan masuklah ke dalam surga, kalian akan kekal selama-lamanya di surga tersebut.” (QS. Az-Zumar[39]: 73)

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menuliskan dalam syariat dan takdirNya, bahwasanya yang baik-baik untuk orang yang baik-baik juga. Juga Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha terbaik. Kalimat-kalimat yang baik, perbuatan-perbuatan yang baik, sifat-sifat yang baik, nama-nama yang baik, milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak ada yang berhak untuk hal tersebut selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Bahkan segala sesuatu tidak akan menjadi baik kecuali karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan baiknya segala sesuatu adalah pengaruh dari kebaikan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka tahiyat ini tidak ada yang berhak kecuali untuk Allah ‘Azza wa Jalla.

Karena salam adalah jenis dari jenis-jenis penghormatan. Seorang yang memberi salam berarti dia mendo’akan kebaikan kepada orang yang dia ucapkan salam kepadanya. Dan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadanya lah diminta kebaikan dan kesejahteraan untuk hamba-hambaNya. Dan anya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berhak disembah, maka Allah mendahulukan ucapan salam ini kepada hamba yang paling dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala yaitu Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Baca Juga:
Doa Naik Kendaraan - Bagian ke-1 - Kitab Adz-Dzikr wa Ad-Du'a (Syaikh Prof. Dr. ‘Abdur Razzaq Al-Badr)

Maka disyariatkan juga dimulai dengan mengucapkan dua kalimat syahadat yang merupakan pintu masuk ke dalam agama Islam. Dan disyariatkan juga untuk dibaca di akhir shalat seseorang. Maka seseorang ketika shalat, ia memulai dengan takbir, memuji kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mentauhidkan rububiyyah dan uluhiyyah Allah Subhanahu wa Ta’ala, kemudian menutup shalatnya dengan syahadah.

Juga disyariatkan untuk bertahiyat di tengah-tengah shalat. Ini adalah istirahatnya seorang yang sedang shalat untuk menghadapi dua rakaat yang berikutnya dengan penuh semangat dan penuh kekuatan. Karena apabila dia meneruskan 4 rakaat terus-menerus tanpa istirahat, maka dia akan merasa capek.

Oleh karena itu, yang afdhol adalah seseorang lebih utama ketika seorang melakukan shalat sunah yaitu melaksanakannya dengan dua rakaat, dua rakaat. Dan apabila dia melaksanakan shalat sunat 4 rakaat, maka dianjurkan untuk duduk di tengah empat rakaat tersebut.

Dijadikan tahiyat ini di akhir shalat seperti dengan khutbatul hajah yang diucapkan seseorang ketika ingin melakukan atau mengucapkan sesuatu. Karena seorang yang sedang shalat apabila dia telah selesai melaksanakan shalatnya, diakhir shalatnya dia duduk, mengharap dan takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, meminta, memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka sebelum dia berdo’a meminta kepada Allah, disyariatkan untuk mengucapkan kalimat tahiyat ini sebagai pendahuluan sebelum ia berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Baca Juga:
Nasihat Para Salafush Shalih Untuk Berpegang Teguh Kepada Sunnah

Setelah mengucapkan tahiyat, ia mengikutinya dengan shalawat kepada Nabi yang telah mendapatkan nikmat disebabkan perjuangan beliau. Maka seorang yang sedang shalat seakan-akan dia bertawassul kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan penghambaan dia kepada Allah, kemudian dia mengucapkan pujian-pujian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menyaksikan bahwasanya hanya Allah yang berhak disembah dan Rasulullah adalah penyampai risalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kemudian dia bershalawat kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Setelah semua hal itu dia ucapkan, dikatakan kepadanya, “silahkan pilih do’a apa saja engkau ingin meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena ini adalah hakmu sebagai mana hak atasmu sebagaimana ini juga hak untuk dirimu.”

Juga disyariatkan untuk bershalawat kepada keluarga Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Shalawat yang diminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah shalawat yang diminta kepada bapak Nabi kita, yaitu Nabi Ibrahim dan kepada keluarganya. Dan seluruh Nabi Nabi setelah Nabi Ibrahim adalah keluarga beliau. Oleh karena itu yang diminta untuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah shalawat seperti yang diminta untuk Nabi Ibrahim dan keluarganya. Karena ini adalah shalawat yang paling sempurna dan paling afdhol.

Baca juga: Bacaan Shalawat Nabi Yang Paling Utama

Maka apabila seseorang yang shalat telah mengucapkan shalawat kepada Nabi kita dan meminta kepada Allah shalawat kepada Nabi kita sebagaimana shalawat yang diminta kepada Nabi Ibrahim, dia diperintahkan untuk meminta perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari segala keburukan. Karena keburukan itu ada dua; yaitu keburukan adzab akhirat dan sebab-sebabnya. Tidak ada keburukan kecuali adzab akhirat dan sebab-sebab seseorang mendapatkan adzab di akhirat.

Baca Juga:
Sunnah-Sunnah Shalat

Adzab ada dua jenis; adzab di alam barzakh yaitu di kuburan dan adzab di akhirat. Juga sebab-sebab fitnah ini ada dua; fitnah yang besar dan fitnah yang kecil. Fitnah yang besar adalah fitnah Dajjal dan fitnah kematian. Adapun fitnah yang kecil yaitu fitnah kehidupan yang seorang bisa saja selamat dari fitnah tersebut dengan bertaubat. Adapun fitnah kematian dan fitnah Dajjal, maka seseorang yang terfitnah dengan dua fitnah tersebut tidak akan bisa selamat lagi. Kemudian setelahnya disyariatkan seorang untuk berdo’a memilih do’a apa saja yang ia inginkan dari kebaikan dunia dan akhiratnya. Karena berdo’a diwaktu ini (diakhir tahiyat sebelum salam) lebih afdhol dan lebih baik daripada do’a yang diucapkan dan dipanjatkan setelah salam dan lebih bermanfaat bagi seorang yang berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sampai akhir perkataan beliau dalam kitab Ash-Shalah Rahimahullah.

Downlod MP3 Ceramah Singkat Tentang Sholat: Penjelasan Bacaan Tahiyat Awal dan Akhir

Jangan lupa untuk turut menyebarkan link download kajian ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, google+, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahu fiikum

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: Rodja Official
Facebook Page: Radio Rodja 756 AM
Twitter: @radiorodja
Instagram: @radiorodja
Website: radiorodja.com

Baca Juga:
Khutbah Jum'at: Bahaya Meremehkan Dosa dan Menganggap Kecil Amalan

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook Page: Rodja TV
Twitter: rodjatv
Instagram: rodjatv
Website: rodja.tv

Download: Khutbah Jumat, Ceramah Agama, Khutbah Idul Adha, kultum, ceramah singkat, shalawat, shalat jenazahrukun Islamrukun Iman, ziarah kubur,

Pencarian:

Telegram Rodja Official

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.