Telegram Rodja Official

Taatlah Kepada Allah, Taatlah Kepada Rasul dan Ulil Amri

By  |  pukul 9:34 am

Terakhir diperbaharui: Sabtu, 13 Ramadhan 1440 / 18 Mei 2019 pukul 9:34 am

Tautan: https://rodja.id/2e6

Taatlah Kepada Allah, Taatlah Kepada Rasul dan Ulil Amri merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah TaslimM.A. dalam pembahasan Kitab Ar-Risalah At-Tabukiyyah karya Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah Rahimahullah. Kajian ini disampaikan pada 2 Jumadal Akhirah 1440 H / 07 Februari 2019 M.

Status Program Kajian Kitab Ar-Risalah At-Tabukiyyah

Status program kajian kitab Ar-Risalah At-Tabukiyyah: AKTIF. Mari simak program kajian ilmiah ini di Radio Rodja 756AM dan Rodja TV setiap Kamis pagi, pukul 07:00 - 08:00 WIB.

Download juga kajian sebelumnya: Berpegang Teguh dengan Petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Kajian Islam Ilmiah Tentang Taatlah Kepada Allah, Taatlah Kepada Rasul dan Ulil Amri

Kita sedang membahas makna firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّـهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّـهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّـهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا ﴿٥٩﴾

Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan kepada para pemimpin di antara kamu. Kemudian jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan RasulNya, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa[4]: 59)

Ini adalah salah satu tahapan hijrah yang sangat besar kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dipembahasan terakhir kemarin telah kita baca sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam sunan Abu Dawud dengan sanad yang shahih. Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengingatkan bahwa akan ada orang-orang yang nanti ketika datang padanya sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka dia seolah-olah membandingkannya dengan Al-Qur’an. Apa yang dia tidak dapatkan dari Al-Qur’an, maka hadits tersebut ditolak. Ini jelas pemahaman yang sangat keliru dan menyimpang.

Jadi, di dalam Al-Qur’an kita diperintahkan untuk mentaati Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan berpegang teguh dengan hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam selama itu shahih. Maka kita wajib berpegang teguh dengannya meskipun tidak terdapat perintah tersebut secara persis. Karena secara umum Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman di dalam Al-Qur’an:

مَّن يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّـهَ

 “Barangsiapa yang taat kepada Rasul, maka sungguh dia telah taat kepada Allah.” (QS. An-Nisa[4]: 80)

Makanya orang-orang yang menolak hadits yang shahih dengan mengatakan tidak terdapat di dalam Al-Qur’an, ini adalah kedustaan yang justru mendustakan Al-Qur’an itu sendiri.

Pembahasan lanjutan dari ayat yang kita bahas tadi:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّـهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ

Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, dan kepada Ulil Amri.

Ketika menyebutkan “taat kepada Rasul”, diulangi. Menunjukkan taat kepada Rasul itu tersendiri, wajib untuk dilakukan selama ada berita dari hadits yang sahih yang sampai kepada kita.

Adapun Ulil Amri, tidak diulangi “ketaatan kepadanya”, tapi digandengkan dengan perintah ketaatan sebelumnya. Hal ini menunjukkan ketaatan kepada Ulil Amri harus termasuk di dalam ketaatan kepada Rasul. Yakni tidak boleh menyelisihi perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan RasulNya.

Baca Juga:  Menyelisihi Manhaj Salaf Bersifat Menjauhkan Umat dari Agama - Al-Ishbah (Ustadz Kurnaedi, Lc.)

Diterangkan oleh Imam Ibnul Qayyim di sini bahwa adapun pemimpin di sini, maka tidak wajib kita mentaati salah seorang di antara mereka, kecuali kalau termasuk di dalam ketaatan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Jadi, ketaatan kepada Ulil Amri di sini harus sesuai dengan ketaatan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, harus dalam rangka taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan RasulNya. Ini kaidahnya.

Sudah kita bahas tadi, taat kepada Allah, taat kepada Rasul, seandainya ada sebuah perintah di dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak disebutkan di dalam Al-Qur’an secara dzatnya, maka tetap wajib untuk kita taati. Karena taat kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah termasuk ketaatan kepada Allah. Adapun kalau ketaatan kepada Ulil Amri harus benar-benar tercakup di bawah ketaatan kepada Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan bukanlah ketaatan yang berdiri sendiri. Sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits yang shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwasanya beliau bersabda:

عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيْمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ، إِلاَّ أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ، فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ، فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ.

“Wajib bagi seorang manusia untuk selalu mendengarkan dan taat kepada pemimpin kaum Muslimin dalam hal-hal yang disukainya atau dibencinya selama tidak diperintahkan berbuat maksiat kepada Allah, maka jika dia diperintahkan untuk berbuat maksiat kepada Allah, jangan dia dengar dan jangan dia taat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jadi, ketaatan kepada pemimpin harus terikat dengan ketaatan dalam perkara yang dibenarkan dalam syariat, bukan dalam perkara yang merupakan maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Inilah rahasianya kenapa kalimat perintah di dalam ayat disebutkan:

أَطِيعُوا اللَّـهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ

Taatlah kepada Allah, (lalu diulang lagi) dan taatlah kepada Rasul. Setelah itu ketika mengatakan Ulil Amri tidak disebutkan lagi “taatlah kepada Ulil Amri”, tapi langsung digandengankan saja tanpa kata perintah “taatlah kepada pemimpin”. Ini menunjukkan ketaatan kepada pemimpin mengikuti ketaatan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yakni tidak boleh dalam maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan RasulNya.

Maka perhatikan bagaimana di firman Allah berikutnya, konsekuensi makna ini diulang kembali di dalam firmanNya:

فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّـهِ وَالرَّسُولِ

Dan jika kalian berselisih pendapat tentang suatu masalah, kembalikanlah kepada Allah dan RasulNya.” (QS. An-Nisa[4]: 59)

Nanti kita akan bahas bahwa Ulil Amri di sini mencakup pemerintah dan para ulama (orang-orang yang berilmu) yang mereka adalah pemimpin manusia. Jika mereka berselisih pendapat, kembalikan kepada dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah. Bukan kembalikan kepada pendapat semata-mata. Inilah konsekuensi orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir.

Dalam ayat ini Allah berfirman, “maka kembalikanlah kepada Allah dan kepada RasulNya.” Allah tidak berfirman, “Dan kembalikanlah kepada RasulNya”. Karena kalau kita mengembalikan permasalahan kepada Al-Qur’an, berarti kita kembalikan kepada Allah dan RasulNya. Al-Qur’an diturunkan oleh Allah kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan yang menyampaikan Al-Qur’an kepada kita adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, wahyu yang Allah turunkan kepada beliau.

Baca Juga:  Peran Nasihat dalam Pendidikan - Fiqhul Usrah (Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.)

Maka mengembalikan kepada Al-Qur’an berarti mengembalikan kepada Allah dan RasulNya. Sebagaimana mengembalikan kepada Sunnah juga berarti mengembalikan kepada Allah dan RasulNya.

Maka ketentuan hukum yang ditetapkan oleh Allah, pada dzatnya merupakan hukum RasulNya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sebagaimana ketentuan hukum yang ditetapkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka hukum itu pada dzatnya juga merupakan hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Jadi, tidak boleh kita membedakan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan RasulNya. Ayat-ayat Al-Qur’an yang menyebutkan tentang kewajiban taat kepada Allah dan RasulNya sudah pernah kita terangkan demikian banyak, lebih dari puluhan ayat.

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا

Apa yang diberikan oleh Rasul kepadamu maka ambillah dan apa yang dilarang oleh Rasul maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr[59]: 7)

Kemudian ayat yang tadi kita bacakan:

مَّن يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّـهَ

 “Barangsiapa yang taat kepada Rasul, maka sungguh dia telah taat kepada Allah.” (QS. An-Nisa[4]: 80)

Ini semua menggambarkan kepada kita tentang keharusan mentaati Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang itu merupakan inti dari ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri.

Maka jika engkau dalam sesuatu yang kalian perselisihkan, engkau kembalikan kepada Allah (Al-Qur’an), maka berarti kamu telah mengembalikannya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Demikian pula jika kalian mengembalikan kepada Rasul, kepada hadits yang shahih, kepada sunnah beliau, maka berarti kalian telah mengembalikan kepada Allah dan RasulNya. Ini termasuk rahasia kandungan Al-Qur’an, hikmah yang sangat tinggi dari makna Al-Qur’an yang kita dapatkan dari ayat yang sedang kita bahas ini.

Subhanallah, ini juga menunjukkan kepada kita bahwa ketika ada permasalahan, kita harus kembalikan kepada dalil. Karena ketika di sini diperintahkan taatlah kepada Allah taatlah kepada RasulNya dan kepada Ulil Amri. Yakni pemimpin dan para ulama. Kita taati mereka karena mereka yang membawa agama. Tapi kalau terjadi perselisihan pendapat, kembalikannya kepada dalil, bukan kembali kepada pendapat.

Ada sebagian orang ketika dia mendapati permasalahan dalam agama, dia mencari pendapat yang sesuai dengan keinginannya kemudian dia mengatasnamakan bahwa ada ulama yang berkata demikian, ini ada ustadz yang berpendapat demikian. Kita diperintahkan untuk mengembalikan kepada dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah. Ini konsekuensi iman kepada Allah dan hari akhir, konsekuensi iman yang benar dalam diri manusia.

فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّـهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّـهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ

“Kembalikanlah perselisihan pendapat itu kepada Allah dan RasulNya jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir.”

Siapa itu Ulil Amri?

Siapakah yang dimaksud dengan “para pemimpin di antara kamu”? Diterangkan oleh Imam Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala bahwa dari penjelasan Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullahu Ta’ala imam besar Ahlus Sunnah.

Dalam menjelaskan makna Ulil Amri ada dua riwayat yang dinukil dari pernyataan Imam Ahmad; Pertama, mereka adalah orang-orang yang berilmu (para ulama) karena mereka memimpin umat dalam ilmu, dalam pengajaran dan bimbingan agama. Kedua, mereka adalah para penguasa, para pemimpin, pemerintah. Karena pemerintah adalah pemimpin manusia dalam urusan yang berhubungan dengan kenegaraan, keamanan, pengamalan dari hal-hal yang berhubungan dengan kemaslahatan hidup manusia, penjagaan atau penegakan hukum di kalangan mereka.

Baca Juga:  Mengenal Nama Allah Al-'Adzim dan Asy-Syakur - Kitab Mausu'ah Fiqh Al-Qulub (Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.)

Kata Imam Ibnul Qayyim bahwa dua pendapat atau dua perkataan dari Imam Ahmad ini kedua-duanya disebutkan dari ucapan Sahabat ketika menafsirkan ayat ini. Jadi sebagian Sahabat ada yang mengartikan Al-Umara’, ada juga yang mengartikan Al-Ulama.

Kata Ibnul Qayyim bahwa pendapat yang shahih dalam pengertian Ulil Amri yaitu mencakup gua golongan manusia ini. Karena orang-orang yang berilmu (para ulama) dan para penguasa/para pemimpin/pemerintah, mereka adalah pemerintah yang memegang urusan manusia yang Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus RasulNya dengan hal itu.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kita ketahui di Madinah adalah sekaligus sebagai pemimpin dan sebagai pendidik atau pembimbing manusia dalam urusan agama mereka sewaktu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah berhijrah ke Madinah. Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai sebaik-baik pemimpin dan sebaik-baik pembimbing manusia dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam urusan agama mereka.

Makanya kedua makna ini, Al-Ulama dan Umara adalah makna yang benar yang dimaksud dengan ayat ini dan makna Ulil amri dalam ayat ini mencakup dua golongan manusia tersebut.

Maka para ulama adalah pemegang urusan manusia dalam hal menjaga agama, menjelaskan agama, menyampaikan agama, membelanya dan menyanggah orang yang menyimpang dan menyeleweng dalam memahaminya. Allah telah mewakilkan urusan penjagaan agama ini kepada para ulama sebagaimana dalam FirmanNya di surat Al-An’am ayat 89 Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أُولَـٰئِكَ الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ۚ فَإِن يَكْفُرْ بِهَا هَـٰؤُلَاءِ فَقَدْ وَكَّلْنَا بِهَا قَوْمًا لَّيْسُوا بِهَا بِكَافِرِينَ ﴿٨٩﴾

Mereka itulah orang-orang yang telah Kami berikan kitab, hikmat dan kenabian Jika orang-orang kafir itu mengingkarinya, maka sesungguhnya Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang sekali-kali tidak akan mengingkarinya.” (QS. Al-An’am[6]: 89)

Inilah para ulama yang telah diwakilkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk membela dan menjaga agama ini.

Simak penjelasannya pada menit ke – 21:17

Download dan Sebarkan mp3 Ceramah Agama Islam Tentang Taatlah Kepada Allah, Taatlah Kepada Rasul dan Ulil Amri

Mari raih pahala dan kebaikan dengan membagikan tautan ceramah agama ini ke Jejaring Sosial yang Anda miliki seperti Facebook, Twitter, Google+ dan yang lainnya. Semoga Allah Ta’ala membalas kebaikan Anda.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: Rodja Official
Facebook Page: Radio Rodja 756 AM
Twitter: @radiorodja
Instagram: @radiorodja
Website: radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook Page: Rodja TV
Twitter: rodjatv
Instagram: rodjatv
Website: rodja.tv

Telegram Rodja Official

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.