Telegram Rodja Official

Ilmu Yang Benar Akan Menerangi Hati dan Jiwa Seseorang

By  |  pukul 8:20 am

Terakhir diperbaharui: Jumat, 19 Ramadhan 1440 / 24 Mei 2019 pukul 8:23 am

Tautan: https://rodja.id/2ec

Ilmu Yang Benar Akan Menerangi Hati dan Jiwa Seseorang merupakan rekaman kajian Islam yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan, M.A. dalam pembahasan Syarah Aqidah Thahawiyah karya Imam Ath-Thahawi Rahimahullah. Kajian ini disampaikan pada 29 Rajab 1440 H / 05 April 2019 M.

Status Program Kajian Kitab Syarah Aqidah Thahawiyah

Status program Kajian Syarah Aqidah Thahawiyah: AKTIF. Mari simak program kajian ilmiah ini di Radio Rodja 756AM dan Rodja TV setiap Jum'at pagi, pukul 06:00 - 07:30 WIB.

Download kajian sebelumnya: Beriman Kepada Takdir

Kajian Tentang Ilmu Yang Benar Akan Menerangi Hati dan Jiwa Seseorang – Syarah Aqidah Thahawiyah

Pada kesempatan ini kita akan melanjutkan perkara-perkara yang wajib kita imani berkaitan dengan prinsip-prinsip aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, golongan yang selamat. Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi Rahimahullah mengatakan bahwa semua perkara yang telah disampaikan sebelumnya berkaitan dengan:

  • iman kepada Allah dan meyakini sifat-sifat yang dimiliki oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa menyerupakan Allah dengan sifat makhluk dan tidak mengingkari sifat-sifat tersebut,
  • beriman kepada Rasul, beliau adalah hamba dan Rasul Allah yang dipilih Allah Subhanahu wa Ta’ala, kemudian beliau adalah penutup seluruh para Nabi sehingga tidak ada lagi Nabi setelah beliau. Secara otomatis syariat yang beliau bawa adalah syariat yang terakhir yang menghapuskan hukum-hukum syariat yang sebelumnya,
  • melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala di akhirat kelak di dalam surga,
  • tentang masalah syafa’at,
  • tentang masalah Isra’ dan Mi’raj dan hal-hal yang lain
  • tentang masalah Mizan,

Semua itu adalah perkara yang telah dijelaskan pada pembahasan-pembahasan yang sebelumnya. Ini semua adalah sejumlah prinsip-prinsip dasar yang dibutuhkan oleh seseorang yang diterangi hatinya oleh Allah dari kalangan para wali-wali Allah.

Mengimani dan meyakini hal itu merupakan derajat orang-orang yang sungguh sangat mendalam keilmuannya. Karena ilmu ada dua macam:

  • ilmu yang ada di makhluk, yaitu yang diajarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada manusia (ilmu maujud),
  • ilmu yang tidak dapat diketahui oleh makhluk (ilmu mafqud),

Mengingkari ilmu yang telah diajarkan oleh Allah kepada manusia, yaitu ilmu yang telah diturunkan oleh Allah kepada para Nabi kemudian para Nabi mengajarkan ilmu tersebut, mengingkari hal yang demikian adalah perbuatan kufur. Begitu juga mengklaim bahwa dia mengetahui ilmu yang tidak diajarkan oleh Allah, maka itu juga kekufuran.

Baca Juga:  Tidak Akan Tegak Istiqamah Kecuali karena Allah dan dengan Petolongan Allah - Kitab 10 Kaidah Istiqamah (Ustadz Arman Amri, Lc.)

Tidaklah sah keimanan kecuali menerima ilmu yang telah diajarkan pada manusia lewat para NabiNya dan meninggalkan mencari ilmu yang tidak diketahui atau tidak diajarkan. Dan kita beriman kepada Lauhul Mahfudz, pena dan seluruh apa yang ditulis di Lauhul Mahfudz tersebut.

Apa yang beliau jelaskan sebelumnya tentang iman kepada Allah yang mencakup iman kepada sifat-sifat Allah dan keimanan bahwa Allah yang Maha Esa tidak menyerupai seorangpun dari makhlukNya dan tidak seorangpun dari makhluk yang menyerupai Allah. Allah yang memiliki sifat kesempurnaan dan nama-nama yang terbaik. Mengimani seluruh yang berkaitan dengan diri Allah yang tertera dalam Al-Qur’an dan hadist yang shahih. Baik itu berkaitan dengan Dzat Allah, sifat Allah dan perbuatanNya.

Kemudian menimani apa yang telah tetap di dalam Al-Qur’an dan Sunnah tentang Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, menerima ajaran beliau, kemudian perkara-perkara yang berkaitan dengan syafaat, dengan telaga Nabi, dengan timbangan, Isra dan Mi’raj serta yang lainnya, semua itu adalah hal yang dibutuhkan oleh seorang Mukmin yang masih ada di dalam hatinya cahaya keimanan.

Kita membutuhkan hal itu semua. Wajib kita imani dan kita yakini. Orang-orang yang telah dipilih oleh Allah menjadi kekasihnya, menjadi wali Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu orang-orang yang beriman dan bertakwa.

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّـهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ﴿٦٢﴾ الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ ﴿٦٣﴾

Ketahuilah bahwa para wali Allah tidak ada kekhawatiran bagi mereka dan mereka tidak akan bersedih. Mereka orang-orang yang beriman dan bertakwa.” (QS. Yunus[10]: 62-63)

Mereka sungguh sangat membutuhkan keyakinan dan keimanan tersebut. Karena itulah landasan hidup mereka, Itulah prinsip dasar aqidah dan keyakinan mereka. Tanpa yang demikian itu, tentu tidak akan sah keimanan mereka.

Baca Juga:  Penjelasan tentang Sifat Istiwa Allah - Bagian ke-2 - Kitab Aqidah As-Salaf Ashabul Hadits (Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan, M.A.)

Kata Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi, menerima serta meyakini apa yang telah diutarakan sebelumnya dari perkara-perkara yang berkaitan dengan prinsip-prinsip aqidah Ahlus Sunnah merupakan perkara yang sungguh sangat tinggi derajatnya. Bahkan itulah derajat kedudukan orang-orang yang sangat dalam keilmuannya tentang ilmu agama ini.

Orang-orang yang dalam keilmuannya, orang-orang yang mereka telah dipilih oleh Allah, dimuliakan dengan ilmu, mereka tidak akan ragu-ragu menerima apa yang telah tetap di dalam Al-Qur’an dan hadits berupa perkara-perkara aqidah yang telah dijelaskan.

Adapun orang yang jahil, orang yang jauh dari ilmu, maka kebodohan mereka menyebabkan mereka menolak kebenaran yang datang dari Allah dan RasulNya. Itulah bahaya kebodohan. Karena kebodohan merupakan sumber segala kejahatan sebagaimana ilmu sumber kebaikan.

Oleh karena itu, kita harus membekali diri kita dengan ilmu. Karena ilmu akan membuat hati kita semakin bersih, jiwa kita semakin suci, pemikiran semakin cemerlang, fitrah kita semakin lurus.

Bila kondisi seorang hamba memiliki iman yang kuat terpatri dalam hatinya, memiliki jiwa yang suci, memiliki hati yang bersih, pemikiran yang cemerlang dan fitrah yang lurus, maka semua yang datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan RasulNya akan dia terima. Kendati akal dan logikanya tidak bisa memahami dan mencerna semua hikmah dari penciptaan dan perintah atau larangan tersebut. Tapi dia yakin! Karena ilmu yang mendalam akan melahirkan keyakinan yang mendalam pula.

Adapun orang yang jahil, orang yang bodoh, inilah musibah kebodohan tadi. Maka ketahuilah bahwa setiap yang menolak kebenaran karena kejahilan seorang tadi, kalau dia mengetahui itu kebenaran, dia akan menerima. Tapi karena kejahilan dia ditambah lagi dengan hawa nafsu, maka dia akan menolak.

Ada sebagian orang yang terpelajar. Bahkan juga telah melewati jenjang pendidikan secara formal, tapi tatkala berbicara tentang ilmu yang berbicara masalah keyakinan, masalah aqidah, tatkala membaca ayat-ayat Allah, membaca hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tatkala kandungan dari ayat dan hadits tersebut tidak sesuai dengan prinsip, aqidah dan keyakinan dia, dia tolak. Ini bukan karena dia tidak belajar, tapi karena terkena hawa nafsu.

Baca Juga:  Sebab-Sebab Seseorang Berpaling dari Kebenaran

Maka ilmu yang benar akan menerangi hati dan jiwa seseorang. Dan itulah yang menjadi penyebab utama dia menerima apa yang datang dari Allah. Karena orang-orang berilmu yang sesungguhnya adalah orang-orang yang tunduk dan pasrah kepada keputusan Allah.

Orang berilmu yang sesungguhnya bukan orang yang ahli dalam berorasi, yang bisa menyihir dan mengalihkan perhatian para pemirsa atau para pendengar. Atau dia ahli dalam merangkai-rangkaian kata dan kalimat demi kalimat sehingga terdengar menyentuh hati atau mungkin masuk ke dalam pikiran sehingga membuat orang terkesima, terlena, tertipu dengan omongannya, itu bukan orang yang alim. Karena keilmuan tidak dinilai dan diukur dengan hal yang seperti itu. Tapi kita melihat sejauh mana ketundukan dan kepasrahan dia tatkala datang perintah Allah atau juga datang larangan Allah. Ketundukan kepada al-Haq tatkala datang aqidah yang benar.

Sungguh sangat aneh ketika mendengar kita membaca begitu banyak ayat-ayat yang menjelaskan tentang sifat-sifat Allah, tapi tatkala ditanya tentang sifat-sifat seperti itu malah dia menolak dengan logikanya, dengan akalnya, lalu dia tinggalkan ayat-ayat Al-Qur’an yang begitu banyak menjelaskan tentang sifat-sifat Allah. Apakah ini namanya taslim (berserah diri) kepada keputusan Allah dan kepada keputusan RasulNya?

Simak pada menit ke – 21:32

Download MP3 Kajian Tentang Ilmu Yang Benar Akan Menerangi Hati dan Jiwa Seseorang – Syarah Aqidah Thahawiyah

Raihlah pahala dan kebaikan dengan membagikan hasil rekaman ataupun link kajian yang bermanfaat ini, melalui jejaring sosial Facebook, Twitter, dan Google+ yang Anda miliki. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala membalas kebaikan Anda.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: Rodja Official
Facebook Page: Radio Rodja 756 AM
Twitter: @radiorodja
Instagram: @radiorodja
Website: radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook Page: Rodja TV
Twitter: rodjatv
Instagram: rodjatv
Website: rodja.tv

Telegram Rodja Official

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.