Telegram Rodja Official

Raudhatul Uqala wa Nuzhatul Fudhala

Maafkan Kesalahan Saudaramu Agar Allah Maafkan Dosa-Dosamu

By  | 

Maafkan Kesalahan Saudaramu Agar Allah Maafkan Dosa-Dosamu merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. dalam pembahasan Kitab Raudhatul Uqala wa Nuzhatul Fudhala (tamannya orang-orang yang berakal dan tamasyanya orang-orang yang mempunyai keutamaan) karya Abu Hatim Muhammad ibnu Hibban al-Busty Rahimahullah. Kajian ini disampaikan pada 15 Ramadhan 1440 H / 20 Mei 2019 M.

Download mp3 kajian sebelumnya: Larangan Keras Menerima Perkataan Orang Yang Mengadu-Domba

Kajian Tentang Maafkan Kesalahan Saudaramu Agar Allah Maafkan Dosa-Dosamu

Disunnahkan atau disukai menerima permohonan maaf dari orang yang meminta maaf. Kemudian beliau membawakan hadits Jaudan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ اعْتَذَرَ إِلَى أَخِيهِ بِمَعْذِرَةٍ ، فَلَمْ يَقْبَلْهَا كَانَ عَلَيْهِ مِثْلُ خَطِيئَةِ صَاحِبِ مَكْسٍ

“Siapa yang meminta maaf kepada saudaranya namun ia tidak memaafkan dan tidak menerima permohonan maafnya, maka ia mendapatkan dosa seperti dosa orang yang mengambil pajak.”

Akan tetapi hadits ini dhaif karena ada dua penyakit; (1) Ibnu Juraij di sini mudallis, (2) Jaudan bukan Sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Tapi dia adalah seorang Tabi’in, sehingga sanadnya mursal.

Kata beliau bahwa kewajiban orang yang berakal adalah apabila saudaranya meminta maaf kepadanya akibat kesalahan yang telah lalu, hendaklah ia menerima permintaan maafnya tersebut dan menjadikannya seperti tidak berdosa. Artinya kalau saudara kita, teman kita, pasangan hidup kita, meminta maaf kepada kita terhadap kesalahan yang telah ia lakukan dahulu, maka kita berusaha untuk memaafkan ia kemudian kita lupakan dosa-dosa dia. Kita lupakan kesalahan dia kepada kita. Jangan sampai setelah kita maafkan, lali kita ungkit-ungkit lagi kesalahan itu.

Baca Juga:
Melihat Akibat dari Perbuatan - Kitab Shaidul Khathir (Ustadz Badrusalam, Lc.)

Seperti yang terjadi, terkadang seorang istri yang mendapati suaminya berbuat salah, kemudian suaminya tersebut minta maaf, si istri pun memaafkan. Tapi kemudian si istri masih saja mengungkit-ungkit kesalahan suami tersebut di masa waktu lampau. Maka ini tidak benar. Ini artinya dia belum memaafkannya.

Orang yang meminta maaf kepada saudaranya, lalu orang atau saudaranya tersebut tidak mau memaafkan, saya khawatir -saudaranya yang tidak memaafkan- nanti tidak bisa minum dari telaga haudh. Beliau di sini mengisyaratkan kepada sebuah hadits:

من اعتذر إليه فلم يقبل لم يرد علي الحوض

“Siapa yang minta maaf kepadanya tapi ia tidak menerima maafnya, ia tidak akan minum dari telaga haudh.”

Namun Al-Haitami berkata di dalam sanadnya ada seorang perawi yang dzaif yang bernama Ali bin Utbah Ar-Rifai.

Ibnu Hibban berkata bahwa siapa yang melakukan kesalahan kepada saudaranya, kewajiban dia meminta maaf kepada saudaranya tersebut. Dan saudaranya tersebut berusaha untuk memaafkannya. Karena orang yang memaafkan diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala keutamaan yang besar. Yaitu Allah pun nanti pada hari kiamat akan memaafkan dia. Dan memaafkan akan menambah kemuliaan dirinya.

Ketika kita memaafkan saudara kita yang salah kepada kita, sama sekali tidak mengurangi harkat kita. Hal itu justru kata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa orang yang memaafkan itu tidak menambah dia kecuali keperkasaan dan kemuliaan. Demikian pula orang yang memaafkan saudaranya yang salah kepadanya, Allah pun akan memaafkan.

Baca Juga:
Sebab Pengekor Hawa Nafsu Terlena dengan Perbuatannya - Kitab Al-'Ubudiyah (Ustadz Abdullah Taslim, M.A.)

Hal ini sebagaimana disebutkan disebutkan dalam kisah bahwasannya ada saudaranya Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu yang senantiasa Abu Bakar memberikan kepadanya makanan. Namun ternyata saudaranya itu ikut-ikutan menyebarkan berita dusta tentang ‘Aisyah dan menuduh ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha berzina. Lalu kemudian Allah turunkan ayat yang mensucikan ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha. Maka Abu Bakar marah sekali kepada Mistah dan bersumpah untuk tidak lagi memberi makan kepada Mistah. Tapi ternyata Allah Subhanahu wa Ta’ala menganjurkan Abu Bakar untuk memaafkan. Allah berfirman:

أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللَّـهُ لَكُمْ

Tidakkah kamu suka Allah memaafkan dosa kamu?” (QS. An-Nur[24]: 22)

Artinya kalau kita memaafkan kesalahan orang lain, Allah pun akan memaafkan kesalahan kita. Maka tidakkah kita lebih kita lebih suka Allah memaafkan kita?

Simak penjelasan lengkapnya pada menit ke-6:31

Download Kajian Tentang Maafkan Kesalahan Saudaramu Agar Allah Maafkan Dosa-Dosamu

Mari raih pahala dan kebaikan dengan membagikan tautan ceramah agama ini ke Jejaring Sosial yang Anda miliki seperti Facebook, Twitter, Google+ dan yang lainnya. Semoga Allah Ta’ala membalas kebaikan Anda.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: Rodja Official
Facebook Page: Radio Rodja 756 AM
Twitter: @radiorodja
Instagram: @radiorodja
Website: radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Baca Juga:
Syirik Pada Zaman Jahiliyah dan Tindakan Pencegahannya

Facebook Page: Rodja TV
Twitter: rodjatv
Instagram: rodjatv
Website: rodja.tv

Lihat Juga: Radio Streaming, Khutbah Jumat, Ceramah Agama, Ceramah Lucu, Khutbah Idul Adha, Kultum, Ceramah Singkat, Shalawat, Shalat JenazahRukun IslamRukun Iman, Ziarah Kubur, Shalat Berjamaah, Amar Ma’ruf Nahi Munkar, Belajar Bahasa Arab,

Telegram Rodja Official

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.