Telegram Rodja Official

Anjuran dan Manfaat Musyawarah

By  |  pukul 10:39 am

Terakhir diperbaharui: Kamis, 15 Dzulqa'dah 1440 / 18 Juli 2019 pukul 10:39 am

Tautan: https://rodja.id/2f8

Anjuran dan Manfaat Musyawarah merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. dalam pembahasan Kitab Raudhatul Uqala wa Nuzhatul Fudhala (tamannya orang-orang yang berakal dan tamasyanya orang-orang yang mempunyai keutamaan) karya Abu Hatim Muhammad ibnu Hibban al-Busty Rahimahullah. Kajian ini disampaikan pada 20 Rajab 1440 H / 27 Maret 2019 M.

Download mp3 kajian sebelumnya: Maafkan Kesalahan Saudaramu Agar Allah Maafkan Dosa-Dosamu

Kajian Tentang Anjuran dan Manfaat Musyawarah

Penyebutan tentang musyawarah dalam waktu-waktu yang sangat dibutuhkan sekali. Karena musyawarah adalah perkara yang dianjurkan dan diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman:

وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ

Dan urusan mereka itu musyawarah diantara mereka.” (QS. Asy-Syura[42]: 38)

Allah juga memerintahkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk bermusyawarah dengan para Sahabatnya dalam menyelesaikan berbagai macam urusan. Karena musyawarah itu tiada lain adalah mendatangkan keberkahan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan tentunya tujuan daripada musyawarah untuk sampai kepada kebenaran. Solusi yang paling tepat yang tentunya sesuai dengan Allah dan RasulNya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ الْمُسْتَشَارَ مُؤْتَمَنٌ

“Orang yang diajak musyawarah adalah orang yang diberikan amanah.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah)

Maksudnya kalau kita diajak bicara oleh seseorang karena ia bermusyawarah tentang suatu permasalahan dalam hidupnya, dia meminta kepada kita pendapat kita, karena ia memandang -misalnya- kita lebih pengalaman dan yang lainnya, maka hakikatnya itu adalah amanah untuk menjaga rahasia dia. Tidak boleh kita seenaknya untuk menyebarkan kepada orang lain.

Baca Juga:  Sedekah Melapangkan Dada dan Menentramkan Hati

Kata Ibnu Hibban bahwa seharusnya orang yang memegang rahasia berusaha untuk menyembunyikannya dan merasa sempit dadanya untuk menyebarkan rahasia tersebut. Tidak boleh ia sebarkan kecuali setelah bermusyawarah juga dengan orang-orang yang berakal dan orang-orang yang punya agama. Apakah kira-kira menyebarkannya maslahat atau tidak?

Dan janganlah seseorang juga mengajak musyawarah kecuali orang yang mempunyai tiga perangai tadi. Yaitu:

  • Orang yang memang punya agama/kuat dalam berpegang kepada agama, dia bertakwa kepada Allah, dia shalih, dia mempunyai rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
  • Kuat akalnya
    Sudah kita pernah bahas siapa yang dimaksud dengan orang yang berakal. Yaitu orang yang senantiasa menggunakan akal pikirannya untuk mendapatkan segala macam perkara-perkara kebaikan. Dan ia gunakan akal pikiran untuk memikirkan sesuatu yang bermanfaat dalam kehidupan dunia maupun akhiratnya.
  • Mng mencintai kita.
    Orang yang membenci kita, orang yang tidak sayang kepada kita, kalau kita ajak dia bicara atau musyawarah dengan dia barangkali dia akan menyesatkan kita.

Jika orang yang kita ajak musyawarah tersebut bukan orang yang shalih, bukan orang yang punya agama, ia bisa menghianati kita. Dan jika ia bukan orang yang berakal dan berilmu, barangkali ia akan memberikan pendapat yang salah. Dan apabila ia tidak mencintai, barangkali ia tidak akan memberikan nasihat selayaknya. Hal ini penting sekali. Orang yang kita hendaknya ajak bicara atau ajak musyawarah harus terpenuhi padanya tiga sifat.

Bertanyalah kepada orang yang berilmu tentang yang kamu tidak tahu. Karena bertanya kepada ahli ilmu adalah obat kebodohan. Tentu kita bertanya kepada orang yang kita tahu dia mempunyai ilmu yang memadai. Dan jangan sekali-kali kamu bermusyawarah atau mengajak musyawarah orang yang kamu khawatirkan penghianatannya. Tidak pula kamu ajak bicara atau musyawarah orang yang pandir, bodoh, tidak berakal. Jika kamu tetap bermusyawarah dengan orang-orang seperti tadi, maka kamu berada di atas bahaya.

Baca Juga:  Cara Untuk Meraih Akhlak Mulia Bagian 5 - Aktualisasi Akhlak Muslim (Ustadz Abu Ihsan Al-Atsary, M.A.)

Dari itulah saudaraku sekalian, kita penting untuk bermusyawarah. Tapi orang-orang yang kita ajak musyawarah ini bukan orang yang fasik, bukan pula orang yang tidak menggunakan akal pikirannya untuk kebaikan, bukan pula orang yang bodoh yang tidak memiliki ilmu. Dan orang yang diajak musyawarah ini telah memegang amanah. Jangan sampai ia menyebarkan rahasia orang yang mengajaknya musyawarah.

Kewajiban orang yang berakal yang harus dipahami adalah bahwa kalau kita bermusyawarah dengan seseorang itu sebetulnya kita membuka rahasia diri kita. Maka dari itu kita jangan bermusyawarah kecuali dengan orang yang berakal, yang memberi nasehat, yang benar-benar sayang dan cinta kepada kita dan dia punya agama. Dan orang yang diajak bicara ketika memberikan bimbingan kepada orang yang mengajaknya musyawarah itu adalah merupakan melaksanakan hak kenikmatan di dalam pendapat.

Ketika seseorang datang kepada kita lalu bermusyawarah tentang urusannya, itu adalah nikmat yang Allah berikan kepada kita. Artinya ada orang yang memandang kita bahwa kita ini adalah orang yang berhak untuk diajak musyawarah.

Musyawarah juga tidak lepas dari keberkahan jika yang kita ajak musyawarah itu orang-orang yang memiliki sifat-sifat yang kita sebutkan tadi. Dan kewajiban orang yang berakal kalau ada orang yang bermusyawarah dengan sejumlah orang, maka usahakan dia yang terakhir memberikan pendapatnya. Sebab jika ia terakhir yang memberikan pendapatnya, itu lebih memungkinkan kesempatan yang panjang untuk berpikir, lebih jauh dari kesalahan, dan tentunya lebih kuat di dalam memberikan pertimbangan.

Baca Juga:  Mengenal Nama Allah Al-Mu'min - Kitab Mausu'ah Fiqh Al-Qulub (Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.)

Maka orang yang bermusyawarah dan mengajak bermusyawarah hendaklah bersungguh-sungguh dan jangan sampai ia mengajak musyawarah orang yang lemah sebagaimana orang yang bersungguh-sungguh pun juga jangan menggunakan orang yang suka malas-malasan dalam bermusyawarah.

Inilah hal-hal yang harus diperhatikan dalam masalah musyawarah. Tidak setiap orang bisa kita ajak musyawarah, tidak setiap orang bisa kita minta pendapatnya. Orang yang kita mintai pendapatnya adalah orang-orang yang kita sebutkan tadi. Yaitu orang yang punya agama, orang yang punya ilmu dan akal pikiran yang kuat. Demikian pula orang yang cinta, sayang dan mempunyai perhatian.

Simak penjelasan lengkapnya pada menit ke-12:22

Download Kajian Tentang Anjuran dan Manfaat Musyawarah

Mari raih pahala dan kebaikan dengan membagikan tautan ceramah agama ini ke Jejaring Sosial yang Anda miliki seperti Facebook, Twitter, Google+ dan yang lainnya. Semoga Allah Ta’ala membalas kebaikan Anda.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: Rodja Official
Facebook Page: Radio Rodja 756 AM
Twitter: @radiorodja
Instagram: @radiorodja
Website: radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook Page: Rodja TV
Twitter: rodjatv
Instagram: rodjatv
Website: rodja.tv

Download: Khutbah Jumat, Ceramah Agama, Khutbah Idul Adha, kultum, ceramah singkat

Telegram Rodja Official

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.