Telegram Rodja Official

Al-Jam'u Baina As-Sahihain

Apakah Kebaikan Sebelum Masuk Islam Tetap Dicatat Oleh Allah?

By  | 

Apakah Kebaikan Sebelum Masuk Islam Tetap Dicatat Oleh Allah adalah bagian dari kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab الجمع بين صحيحين (Al-Jam’u Baina As-Sahihain) yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. pada 19 Syawwal 1440 H / 23 Juni 2019 M.

Download Kitab Al-Jam’u Baina As-Sahihain – Format PDF di sini

Download mp3 kajian sebelumnya: Pahala Kebaikan Ditulis 10 sampai 700 Kali Lipat

Kajian Hadits Tentang Apakah Kebaikan Sebelum Masuk Islam Tetap Dicatat Oleh Allah?

Yang dimaksud dengan masa jahiliyah yaitu sebelum masuk Islam. Karena jahiliyah apabila dimutlakkan maksudnya adalah sebelum Islam. Adapun setelah masuk Islam maka tidak disebut lagi jahiliyyah. Yang disebut masa jahiliyah itu kalau dia belum masuk Islam.

Makanya sebagian teman-teman yang hijrah berkata “dulu saya ketika masih masa jahiliyah” Kita katakan, “Antum mualaf? Kalau Antum muslim tidak bisa disebut sebagai masa jahiliyah.” Tapi kalau dikatakan, dulu waktu masih jahil, ini tidak masalah.

Orang yang beramal amal kebaikan di masa jahiliyah kemudian masuk Islam, bagaimana? Apakah amalan kebaikannya itu ditulis Allah atau tidak?

Hadits ke-55:

عن حَكِيم بن حِزَامٍ رضي الله عنه أَنَّهُ قَالَ:يَا رَسُولَ اللهِ! أَرَأَيْتَ أُمُورًا كُنْتُ أَتَحَنَّثُ بِهَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ: مِنْ صِلَةٍ وَعَتَاقَةٍ وَصَدَقَةٍ،  هَلْ لِي فِيْهَا مِنْ أَجْرٍ؟  قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: “أَسْلَمْتَ عَلَى مَا سَلَفَ مِنْ خَيْرٍ”.

وفي رواية: عَنْ عُرْوَةَ: أَنَّ حَكِيمًا أَعْتَقَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ مِائة رَقَبَةٍ، وَحَمَلَ عَلَى مِائَة بَعِيرٍ، فَلَمَّا أَسْلَمَ حَمَلَ عَلَى مِائَةِ بَعِيرٍ، وَأَعْتَقَ مِائَةَ رَقَبَةٍ.

Dari Hakim bin Hizam bahwasanya ia berkata: “Wahai Rasulullah! Bagaimana pendapatmu tentang perkara-perkara kebaikan yang dahulu di masa jahiliyah sebelum saya masuk Islam aku melakukannya: berupa menyambung tali silaturahim, memerdekakan budak, bersedekah, Apakah aku mendapatkan pahala hai Rasulullah?”

Baca Juga:
Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah: Hadits ke-759 hingga ke-765 - TPP: Tanda-tanda Hari Kiamat dan Hakikat Wali Allah (Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.)

Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Engkau masuk Islam diatas kebaikan kebaikan yang telah kamu lakukan dahulu”

Dan dalam riwayat dari Urwah: Bahwa Hakim bin Hizam memerdekakan di masa jahiliyah 100 budak dan membantu orang diatas 100 unta. Ketika ia masuk Islam perbuatan itu tetap dilakukan.

Hadits ini menjadi perselisihan para ulama, apakah orang ketika di masa jahiliyah (sebelum Islam), mengamalkan amalan-amalan kebaikan berupa berbuat baik kepada orang lain, kemudian setelah itu dia masuk Islam, apakah amalan tersebut dicatat oleh Allah, diterima atau tidak?

Menjadi 2 pendapat ulama. Sebagian ulama mengatakan tidak diterima. Bagaimana akan diterima -kata mereka-? Bukankah amalan orang kafir itu tidak diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala?

Sebagian mengatakan bahwa kalau ia masuk Islam maka amalan-amalan kebaikan yang dahulu disaat masih jahiliyah itu ia lakukan, berupa sedekah, amal kebaikan, maka tetap dicatat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai karunia yang Allah berikan kepada dia. Dan ini pendapat yang kuat. Dan ini yang dibela oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin Rahimahullah. Dasarnya adalah hadits ini. Karena Hakim bin Hizam bertanya kepada Rasulullah tentang amalan-amalan kebaikan yang ia lakukan dahulu waktu masih masa jahiliyah. Kemudian apa kata Rasulullah? Rasulullah mengatakan:

أَسْلَمْتَ عَلَى مَا سَلَفَ مِنْ خَيْرٍ

“Kamu masuk Islam di atas kebaikan-kebaikan yang telah berlalu yang kamu lakukan”

Artinya kebaikan-kebaikan yang dahulu masa jahiliyah yang kamu lakukan tetap ditulis oleh Allah setelah kamu masuk Islam. Ini menunjukkan akan kasih sayang Allah, karunia Allah yang besar kepada hamba-hambaNya.

Maka dari itu apabila ada orang kafir, atau orang jahiliyah yang ia melakukan kebaikan dan ia wafat di atas jahiliyahnya dan tidak masuk Islam, maka ini jelas tidak akan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Faidah Hadits ke-55

1. Luasnya Karunia Allah

Dimana karunia Allah sangat luas sekali. Dan karena keluasan karuniaNya, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kepada orang yang masuk Islam amal kebaikan yang dulu ia lakukan di masa jahiliyah tetap dihitung oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Baca Juga:
Ajaran Madzhab Imam Syafi'i yang Ditinggalkan: Memelihara Jenggot dan Haramnya Musik (Ustadz Abu Abdil Muhsin Firanda Andirja, M.A.)

2. Islam hanya menghancurkan dosa-dosa yang dilakukan di masa jahiliyah

Adapun kebaikannya tidak dihancurkan oleh Islam dan tetap ditulis sebagai sebuah kebaikan. Makanya disebutkan dalam hadits:

الْإِسْلَامَ يَجُبُّ مَا قَبْلَهُ

“Islam itu menghancurkan dosa sebelum Islam”. (HR. Muslim)

Berarti yang dihancurkan oleh Islam adalah dosa-dosa yang ia lakukan dahulu di masa jahiliyyah.

Sekarang kalau misalnya ada orang masuk Islam, dulu di masa jahiliyahnya sebelum masuk Islam dia melakukan dosa. Kemudian setelah masuk Islam ternyata ia tetap saja tidak meninggalkan dosa tersebut. Ini ikhtilaf para ulama, apakah dosa-dosa sebelum Islam ditulis juga? Masalahnya adalah dia tidak meninggalkan dosa setelah masuk Islam. Kebanyakan ulama mengatakan tetap ditulis. Contoh, kalau misalnya sebelum Islam dia suka main judi lalu setelah masuk Islam tetap main judi. Maka banyak ulama mengatakan dosa-dosa dulu semasa jahiliyah tetap ditulis oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

3. Keutamaan amalan-amalan yang baik

Bahwasanya Allah tidak mungkin menyia-nyiakan amalan kebaikan. Orang kafir yang tidak masuk Islam, kalau ia berbuat kebaikan tetap Allah berikan balasan. Tapi disebutkan dalam Riwayat Abu Daud bahwa orang yang jahiliyah itu diberikan balasannya hanya di dunia. Kalau dia sedekah, maka Allah balas, tapi di dunia. Kalau ia bersilaturahim, Allah balas tapi di dunia. Di akhirat tidak lagi. Itu kalau ia wafat di atas kekafirannya.

Diantara nama Allah adalah Asy-Syakir atau Asy-Syakur (Yang Maha Berterimakasih). Maka Allah  berterima kasih kepada hamba-hambaNya, padahal Allah tidak butuh kepada hamba. Amalan yang dilakukan di masa jahiliyah setelah masuk Islam tetap ditulis oleh Allah.  Ini  menunjukkan Allah berterima kasih.

Bab Mukmin Pasti Diuji

Siapapun anda yang mengaku mukmin, pasti diuji. Karena itu sudah janji Allah. Dan ujian itu memang menerpa orang-orang yang beriman. Allah sendiri yang mengatakan dalam surat Al-Ankabut:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ ﴿٢﴾

Baca Juga:
Kedudukan Akal dan Wahyu Dalam Islam - Kitab Al-Adab Al-Mufrad

Apakah manusia mengira akan dibiarkan berkata “kami beriman” sementara ia tidak diuji” (QS. Al-Ankabut[29]: 2)

Tidak mungkin! Siapapun anda yang menyatakan dirinya “saya beriman”, pasti diuji oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Apa fungsi ujian itu?

Untuk menyaring.

Maka Allah mengatakan:

وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّـهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ ﴿٣﴾

Sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka. Dengan ujian itu akan terlihat siapa yang jujur imannya, siapa yang dusta.” (QS. Al-Ankabut[29]: 3)

Ada orang yang hijrah, ternyata dikasih sama Allah ujian. Hal ini karena Allah ingin melihat sejauh mana kejujuran ia dalam hijrahnya. Kalau hijrahnya itu bohong (karena mengharapkan dunia), dikasih ujian sama Allah dia akan langsung mundur. Dia akan kembali lagi ke pada masa dahulunya.

Hadits ke-56

عَنْ حُذَيْفَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ : قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اكْتُبُوا لِي مَنْ تَلَفَّظَ بِالإِسْلاَمِ مِنَ النَّاسِ، فَكَتَبْنَا لَهُ (أَلْفًا وَخَمْسَ مِائَةِ رَجُلٍ، فَقُلْنَا: نَخَافُ وَنَحْنُ أَلْفٌ وَخَمْسُ مِائَةٍ؟) فَلَقَدْ رَأَيْتُنَا ابْتُلِينَا، حَتَّى إِنَّ الرَّجُلَ لَيُصَلِّي وَحْدَهُ وَهُوَ خَائِفٌ.

Dari Hudzaifah -seorang sahabat Nabi yang banyak diberitahu oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hadits-hadits tentang fitnah. Makanya sahabat yang paling tahu tentang hadits-hadits fitnah itu Hudzaifah ibnul Yaman- Nabi Sallallahu Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Tolong tulis siapa saja manusia yang telah masuk Islam”. Kamipun mencatatnya dan ternyata ada 1.500 orang yang sudah masuk Islam saat itu. Lalu kami berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah apakah engkau khawatir sementara jumlah kami banyak ada 1.500?

Dalam salah satu riwayat Muslim, “Apakah engkau mengkhawatirkan kami wahai Rasulullah? Sementara jumlah kami ada sekitar 600 sampai 700” Maka Rasulullah bersabda: “Kalian tidak tahu barangkali kalian nanti akan diuji oleh Allah” Kata Hudzaifah, “Ternyata benar, kami diuji oleh Allah sepeninggal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sampai-sampai ada diantara kami ketakutan ketika shalat sendirian.”

Faidah Hadits ke-56

1. Ujian pasti akan menimpa seorang mukmin

Baca Juga:
Istiqomah, Konsekuen dan Konsisten Menetapi Jalan Ketaatan - Surabaya 1437 / 2016 (Ustadz Yazid Abdul Qadir Jawas)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَا يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ

“Ujian itu akan terus-menerus dihadapi oleh seorang mukmin atau mukminah” (HR. Tirmidzi)

Ujian berupa kesenangan, kesusahan, ketakutan. Makanya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan:

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ﴿١٥٥﴾

Sungguh Kami akan uji  kalian dengan sedikit rasa takut, rasa lapar, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah[2]: 155)

2. Jangan merasa bangga dengan jumlah yang banyak

Lihat, para sahabat mengatakan, ” Wahai Rasulullah, apakah engkau mengkhawatirkan kami sementara jumlah kami banyak? Ada 1.500.” Kata Rasulullah, “Kalian tidak tahu barang kali kalian akan diuji oleh Allah.”

Makanya jangan kita merasa bangga, jumlahnya banyak. Di perang Hunain saja kita kalah gara-gara merasa bangga dengan jumlah kita yang banyak. Di saat perang Hunain waktu itu kaum muslimin jumlahnya 12.000. Sedangkan pasukan musuh jumlahnya hanya 4.000, berarti 3 kali lipat jumlah pasukan musuh. Rupanya diantara pasukan kaum muslimin ada yang mengatakan, “Tidak mungkin kita kalah karena kita lebih banyak jumlahnya.”

Ternyata ketika terjadi peperangan, kaum Muslimin kalah di putaran pertama. Sampai kaum Muslimin  lari tunggang langgang. Setelah itu mereka bertaubat kepada Allah, baru Allah berikan kepada mereka kemenangan. Dan Allah abadikan itu dalam surat At-Taubah. Allah berfirman:

لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّـهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ ۙ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ ۙ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُم مُّدْبِرِينَ ﴿٢٥﴾

Sungguh Kami telah menolong kalian di tempat yang banyak dan di perang Hunain. Ingatlah, di saat itu kalian merasa bangga dengan jumlah kalian yang banyak. Jumlah yang banyak itu tidak ada manfaatnya sama sekali buat kalian. Maka bumi yang luas menjadi terasa sempit atas kalian dan kalian pun lari tunggang langgang ke belakang.” (QS. At-Taubah[9]: 25)

Makanya saudaraku, kita tidak boleh merasa bangga kalau kajian kita banyak, itu bukan sifat orang alim. Orang alim tidak pernah bangga dengan yang hadirnya banyak. Al-Auza’i berkata bahwa Atha’ bin Abi Rabah meninggal dunia dalam keadaan dia manusia yang paling diridhai oleh manusia, sementara kajiannya hanya dihadiri 8 orang saja.

Baca Juga:
Dalil Bahwa Al-Qur'an Kalamullah Dan Bukan Makhluk - Kitab Al-Ibanah

Terkadang kita kalau yang datangnya banyak merasa gembira. Kalau yang  hadirnya sedikit kita sedih. Orang yang berilmu melihatnya bukan kuantitas, tapi mereka melihat kualitas. Berbangga dengan jumlah yang banyak itu sudah diingatakan oleh Allah bahwa itu sangat berbahaya. Buktinya diperang Hunain kalah. Buktinya dalam hadits ini ketika sahabat berkata, “Wahai Rasulullah apakah engkau mengkhawatirkan kami sementara jumlah kami banyak ada 1.500?” Tapi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan, “Kalian tidak tahu, barangkali kalian diuji oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, walaupun jumlah kalian banyak.”

3. Tidak boleh merasa aman dari fitnah

Tidak boleh seorang muslim merasa aman dari fitnah. Jangan sekali kali seorang mukmin merasa aman dari fitnah. Kadang kita merasa bahwa insya Allah iman kita sudah tebal, sudah gede, tidak mungkin tergoda dengan akhwat, akhirnya bermudah-mudahan berhubungan dengan akhwat, akhirnya terjerumus.

Ada orang tua yang mempunyai anak sudah hafal Qur’an, kemudian dia PD (percaya diri) bahwa iman anaknya sudah bagus lalu dimasukkan kesekolahan umum, ternyata berubah anaknya. Anaknya yang tadinya rajin shalat, jadi malas-malasan, yang tadinya rajin ngaji jadi malas-malasan, hafalan Qur’anya banyak yang hilang, setelah itu baru ngadu dengan ustadz bahwa anaknya berubah.

Maka jangan merasa yakin bahwa iman anak kita ini sudah hebat. Kata siapa? Rasulullah saja tidak percaya diri kepada para sahabat. Padahal para sahabat imannya tahu sendiri. Rasulullah saja masih mengkhawatirkan para sahabat. Bahkan sampai sahabat ini mengatakan, “Apakah engkau mengkhawatirkan kami wahai Rasulullah, sementara jumlah kami ada 1.500.” Dan Anda tahu sendiri bagaimana keimanan para sahabat yang luar biasa. Tetap Rasulullah tidak PD. Rasulullah mengatakan, “Kalian tidak tahu barangkali kalian diuji oleh Allah.”

Makanya saudaraku, jangan kita merasa PD dengan keimanan kita. Jangan kita merasa aman dari fitnah. Selalu kita tadharu’ kepada Allah, minta kepada Allah, kita mohon kepada Allah supaya dijauhkan dari fitnah. Dan kita juga berusaha untuk lari dari fitnah, lari dari tempat-tempat fitnah. Makanya kata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

Baca Juga:
Ahlussunnah wal Jamaah Loyal dan Membenci Karena Allah - Al-Ishbah (Ustadz Kurnaedi, Lc.)

يُوشِكَ أَنْ يَكُونَ خَيْرَ مَالِ الرَّجُلِ غَنَمٌ يَتْبَعُ بِهَا شَعَفَ الْجِبَالِ وَمَوَاقِعَ الْقَطْرِ يَفِرُّ بِدِينِهِ مِنْ الْفِتَنِ

Hampir-hampir harta seseorang yang paling baik adalah kambing yang ia pelihara di

يُوشِكُ أَنْ يَكُونَ خَيْرَ مَالِ الْمُسْلِمِ غَنَمٌ يَتْبَعُ بِهَا شَعَفَ الْجِبَالِ وَمَوَاقِعَ الْقَطْرِ يَفِرُّ بِدِينِهِ مِنْ الْفِتَن

“Hampir hampir nanti harta yang terbaik yang dimiliki seorang mukmin adalah kambing yang dipelihara di puncak-puncak gunung dan di lembah-lembah, ia lari membawa agamanya dari fitnah” (HR. Muslim)

Memang kita harus lari dari fitnah, jangan sampai kita mencampakan diri kepada fitnah. Kenali fitnah sedini mungkin sebelum terjadinya. Dan tidak mungkin kita mengenali fitnah kecuali dengan menuntut ilmu.

Bab Kaifa Badil wahyi ila Rasulillah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (Bab bagaimana permulaan wahyu kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam)

Simak pada menit ke-22:33

Download MP3 Kajian Hadits Tentang Kebaikan Di Masa Jahiliyyah Atau Sebelum Masuk Islam

Jangan lupa untuk turut membagikan link download kajian ini ke akun media sosial yang Anda miliki, baik Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahufiikum

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: Rodja Official
Facebook Page: Radio Rodja 756 AM
Twitter: @radiorodja
Instagram: @radiorodja
Website: radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook Page: Rodja TV
Twitter: rodjatv
Instagram: rodjatv
Website: rodja.tv

Download: Khutbah Jumat, Ceramah Agama, Khutbah Idul Adha, kultum, ceramah singkat, shalawat, shalat jenazahrukun Islamrukun Iman, ziarah kubur, shalat berjamaah, Amar Ma’ruf Nahi Munkar,

Telegram Rodja Official

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.