Telegram Rodja Official

Nasihat-Nasihat Para Sahabat

Muqaddimah Pembahasan Kitab Mawa’izh ash-Shahabah (Nasihat-Nasihat Para Sahabat)

By  | 

Muqaddimah Pembahasan Kitab Mawa’izh ash-Shahabah (Nasihat-Nasihat Para Sahabat) merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. pada 13 Dzul Hijjah 1440 H / 14 Agustus 2019 M.

Kajian Muqaddimah Pembahasan Kitab Mawa’izh ash-Shahabah (Nasihat-Nasihat Para Sahabat)

Kitab Mawa’izh ash-Shahabah berarti nasihat-nasihat para sahabat. Para sahabat adalah generasi yang paling utama, generasi yang langsung dipuji oleh Allah dan RasulNya. Allah Ta’ala berfirman dalam surat At-Taubah:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّـهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama masuk Islam dari kalangan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka.” (QS. At-Taubah[9]: 100)

Di sini Allah menyatakan keridhaan kepada para sahabat -terutama muhajirin dan anshar- dan menyatakan keridhaan kepada orang-orang yang mengikuti muhajirin dan anshar. Maka kalau begitu kita sangat butuh sekali kepada nasihat-nasihat dari para sahabat. Karena mereka yang paling paham tentang Islam ini. Mereka yang paling paham tentang Al-Qur’an, mereka yang paling paham tentang hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Bahkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun menyaksikan bahwa para sahabat adalah generasi yang terbaik. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi setelahnya, kemudian generasi setelahnya.” (HR. Bukhari)

Berpegang Kepada Pendapat Sahabat

Maka karena kedudukan mereka yang agung dan semua ulama sepakat akan kedalaman ilmu mereka. Al-Imam Syafi’i Rahimahullah sebagaimana dalam riwayat Rabi’ bin Sulaiman mengatakan, “Pendapat mereka yang paling terpuji untuk kita dan lebih layak kita dahulukan daripada pendapat kita sendiri.”

Baca Juga:
Di Balik Keramat Wali Allah - Bagian ke-2 (Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc.)

Maka Imam Syafi’i Rahimahullah memandang bahwa pendapat sahabat itu hujjah apabila perkataan sahabat tersebut tidak bertabrakan dengan pendapat-pendapat sahabat yang lainnya.

Demikian pula Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Malik bin Anas, Imam Abu Hanifah, semua sepakat dalam kitab-kitab mereka menyatakan bahwasannya perkataan para sahabat itu harus betul-betul kita dahulukan daripada pendapat kita.

Imam Abu Hanifah mengatakan, “Dan apabila datang dari para sahabat Rasulullah, maka di atas mata dan kepala (kita harus terima).”

Imam Ahmad dalam kitab beliau Ashulus Sunnah beliau berkata, “Diantara pokok-pokok sunnah di sisi kami yaitu berpegang kepada apa yang dipegang oleh para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.”

Imam Malik bin Anas berkata, “Urusan umat Islam ini tidak akan beres kecuali dengan perkara yang membereskan generasi pertamanya.”

Saudaraku, kalau kita perhatikan nasihat-nasihat para sahabat itu, Subhanallah.. Karena mereka berguru langsung kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Maka nasihat mereka adalah sebaik-baik nasihat dan sangat kita butuhkan di dalam kehidupan kita, di dalam mendidik diri, mendidik jiwa kita, juga sangat kita butuhkan di dalam memahami Islam ini.

Muqaddimah Pembahasan Kitab Mawa’izh ash-Shahabah (Nasihat-Nasihat Para Sahabat)

Didalam kitab ini, beliau membuka dengan nasihat-nasihat Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terlebih dahulu. Yang tentunya nasihat-nasihat Rasulullah lebih agung karena beliau tidak pernah berbicara dari hawa nafsu. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam disifati oleh Allah:

وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ ﴿٣﴾ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ ﴿٤﴾

Tidaklah Nabi Muhammad berbicara dari hawa nafsunya, akan tetapi ia adalah wahyu yang Allah wahyukan kepadanya.” (QS. An-Najm[53]: 3)

Karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sesekali memberikan nasihat-nasihat. Dalam riwayat Abu Wa’il Syaqiq bin Salamah bahwa Abdullah bin Mas’ud memberikan kajian yang isinya nasihat-nasihat disetiap hari kamis. Lalu kemudian ada seorang laki-laki berkata, ‘Wahai Abu Abdurrahman, aku sekali jika engkau mengingatkan kami disetiap hari.’ Maka Abdullah bin Mas’ud berkata, ‘Ketahuilah, aku sebetulnya mau saja untuk menyampaikan setiap hari, tapi aku khawatir membuat kalian bosan. Dan aku menjarangkan nasihat sebagaimana Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dahulu juga melakukan itu karena khawatir kami bosan.'”

Baca Juga:
Bab Iman Akan Kembali ke Kota Madinah dan Iman Itu Yaman

Mauidzah (nasihat) itu isinya adalah mengingatkan tentang kehidupan akhirat, tentang hakikat kita hidup di dunia. Kalau itu dilakukan setiap hari terus, akhirnya yang seharusnya nasihat itu melunakkan hati dan menjadikan hati kita takut kepada Allah, tapi karena rasa bosan itu akhirnya tidak berpengaruh ke hati. Tentu ini tidak baik.

Maka Abdullah bin Mas’ud ternyata ternyata memberikan mauidzah setiap seminggu hanya sekali saja. Hal ini bukan berarti itu menunjukkan beliau mengkhususkan hari kamis dalam artian mempunyai keutamaan tertentu, tidak. Bisa jadi karena sempatnya beliau di hari kamis. Wallahu a’lam..

Faidah Memperjarang Memberikan Mauidzah (Nasihat)

1. Agar tidak bosan

Faidah yang bisa kita petik yang berhubungan dengan pembahasan buku ini bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan nasihat kepada manusia. Kalau mengajarkan ilmu, setiap hari Nabi lakukan itu. Sebagaimana Umar bin Khattab menceritakan tentang dirinya dan tetangganya yang saling bergantian menuntut ilmu kepada Rasulullah. Sehari tetangganya dan sehari Umar bin Khattab. Tapi untuk yang sifatnya mauidzah (melunakkan hati, mengingatkan tentang surga dan neraka) itu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak lakukan terlalu sering. Hal ini supaya tidak menimbulkan kebosanan.

2. Nasihat berbeda dengan hukum Allah

Mauidzah (nasihat-nasihat) itu berbeda dengan hukum-hukum yang Allah turunkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Adapun yang sifatnya hukum-hukum, batasan-batasan agama, hampir setiap hari Rasulullah sampaikan dan jelaskan. Baik itu dengan ucapan maupun perbuatan.

3. Cara memberikan nasihat

Setelah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam wafat, para sahabat lah yang mengingatkan. Ini dia Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu yang langsung melihat bagaimana cara Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan mauidzah. Ternyata Rasulullah memberikan mauidzah tidak setiap hari.

Baca Juga:
Perintah untuk Menjaga Lisan - Kitabul Iman - Hadits 10-12 - Kitab Shahih Bukhari (Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.)

Hadits Tentang Nasihat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Diantara hadits yang menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga memberikan nasihat-nasihat, yaitu hadits ‘Irbadh bin Sariyah. Dimana ‘Irbadh bin Sariyah berkata:

صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا فَوَعَظَنَا مَوْعِظَةً بَلِيغَةً ذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat mengimami kami suatu hari. Kemudian beliaupun menghadapkan wajahnya kepada kami. Lalu Nabi memberikan nasihat-nasihatnya yang luar biasa yang membuat air mata kami berlinang dan hati kami terasa takut.”

Jadi tujuan mauidzah itu adalah bagaimana supaya hati manusia menjadi takut kepada Allah, menjadi takut akan adzabNya. Itu tujuan mauidzah.

فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَأَنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَمَاذَا تَعْهَدُ إِلَيْنَا

“Lalu ada orang yang berkata, ‘Ya Rasulullah, seakan-akan ini nasihat orang yang ingin berpisah. Lantas apa wasiatmu kepada kami?”

Lihatlah, ini menunjukkan bahwa Rasulullah ketika memberikan nasihat itu betul-betul merasuk ke hati orang yang mendengarnya. Sampai-sampai sahabat ini berkata, “Wahai Rasulullah, seakan-akan ini nasihat orang yang ingin berpisah.”

Maka Rasulullah bersabda:

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

“Aku wasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat kepada pemimpin kamu walaupun pemimpin itu hamba sahaya Ethiopia. Karena sesungguhnya orang yang hidup di antara kamu nanti akan melihat perpecahan yang banyak. Maka di saat kalian melihat perpecahan itu, yang harus kalian lakukan adalah berpegang kepada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang tertunjuki, peganglah ia kuat-kuat, gigit ia dengan gigi graham, jauhi oleh kalian perkara-perkara yang diada-adakan. Karena setiap yang diada-adakan itu bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat.” (HR. Abu Dawud)

Baca Juga:
Allah Maha Tahu (Ustadz Abdullah Zaen, M.A.)

Lihatlah saudaraku, isi wasiat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini. Ketika Rasulullah memberikan nasihat luar biasa yang membuat para sahabat menangis, yang membuat hati para sahabat takut sekali. Lantas seorang sahabat meminta kepada Rasulullah wasiat.

1. Bertaqwa kepada Allah

Hakikat takwa itu adalah berusaha untuk menjalankan perintah Allah menjauhi laranganNya. Umar bin Khaththab pernah bertanya kepada Ubay bin Ka’ab, “Wahai Ubay, coba jelaskan kepada kami apa itu taqwa?” Kata Ubay, “Wahai Amirul Mukminin, bila engkau melewati suatu jalan yang penuh dengan duri, apa yang engkau lakukan?” Kata Umar, “Aku akan berusaha meletakkan kakiku di tempat yang tidak ada durinya dan aku berhati-hati.” Kata Ubay, “Itulah taqwa, berhati-hati dalam berjalan di muka bumi ini. Jangan sampai kita meletakkan kaki kita dalam perkara yang dimurkai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Itulah taqwa.

Maka kata Rasulullah:

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ

“Aku wasiatkan kalian untuk bertaqwa kepada Allah.”

2. Mendengar dan Taat Kepada Pemimpin

وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا

“Mendengar dan taatlah kamu kepada pemimpinmu walaupun ia hamba sahaya Ethiopia.”

Padahal hamba sahaya Ethiopia didalam Islam tidak mungkin terpilih menjadi pemimpin. Karena seluruh ulama sepakat bahwa syarat pemimpin dalam Islam yaitu dia harus merdeka (bukan hamba sahaya). Nah, kalau ternyata ada hamba sahaya menjadi pemimpin, pasti caranya tidak benar, pasti dengan cara -misalnya- revolusi atau yang semisalnya yang itu semua dilarang dalam Islam.

Tapi ternyata walaupun caranya tidak benar namun si hamba sahaya ini menjadi pemimpin, tetap Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengakui hasilnya. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan, “tetaplah mendengar dan taat walaupun kepada hamba sahaya Ethiopia.” Dalam satu riwayat, “Yang hidung dan telinganya itu putus.” Padahal seluruh ulama sepakat bahwa orang yang merdeka namun ternyata cacat tidak boleh menjadi pemimpin juga. Lalu bagaimana ini hamba sahaya.

Baca Juga:
Tawadhu - Bagian ke-2 - Bimbingan Islam (Ustadz Jazuli, Lc.)

Dan dalam satu riwayat yang lain dengan lafadz:

يَقُودُكُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ

“Si hamba sahaya itu membawa kalian kepada kitabullah.”

Namun lafadz ini tidak mampunyai mafhum dalam artian kalau ada pemimpin yang tidak berhukum dengan hukum Allah berarti kita tidak boleh akui dia sebagai seorang pemimpin. Tidak demikian. Hal ini karena mafhum seperti itu bertabrakan dengan hadits yang lain. Karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengabarkan dalam satu riwayat bahwa akan ada pemimpin-pemimpin yang mengambil sunnah selain sunnahku dan mengambil petunjuk selain petunjukku.

Berarti sunnah buatan siapa yang diikuti oleh pemimpin itu? Tentu petunjuk buatan manusia. Bahkan Nabi kemudian bersabda lagi bahwa di antara mereka akan ada pemimpin-pemimpin yang hati mereka berhati setan dalam tubuh manusia.

Mendengar itu seorang sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang engkau perintahkan kepada kami terhadap pemimpin seperti itu?” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

اسْمَعْ وَأَطِعْ

“Tetaplah mendengar dan taat (tentunya dalam perkara yang ma’ruf.) walaupun kamu dipukul dan diambil hartamu.”

Lafadz “walaupun diambil hartamu” di dzaifkan oleh sebagian ulama. Namun lafadz ini diriwayatkan oleh Muslim dalam shahihnya. Dan saya menganggap heran dengan orang yang mendzaifkan hanya karena tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka dan mencari-cari kelemahannya. Padahal riwayat ini mempunyai beberapa jalan dan penguat. Lafadz ini juga sesuai dengan nasihat-nasihat Salafush Shalih dari kalangan sahabat. Juga sesuai dengan kaidah-kaidah Islam. Dimana kalau kita baca kitab-kitab para ulama seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan yang lainnya. Mereka mengharamkan untuk memberontak ketika kita melihat pemimpin yang dzalim. Karena pemberontakan itu jauh lebih besar mudharatnya dibandingkan dengan kedzaliman daripada pemimpin tersebut.

Kita lihat dalam sejarah, berapa banyak pemberontakan itu hanya menimbulkan kekacauan dan tidak memperbaiki dunia, tidak pula juga menegakkan agama. Yang ada adalah fitnah,  keburukan dan yang lainnya. Na’udzubillah, Nas’alullah as salamah wal ‘afiah..

3. Melihat Perpecahan Yang Banyak

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا

Baca Juga:
Kesalahan Memaknai Kedekatan Hamba Dengan Rabbnya - Kitab Al-'Ubudiyah (Ustadz Abdullah Taslim, M.A.)

“Sesungguhnya orang yang hidup di antara kalian nanti setelahku akan melihat perpecahan yang banyak.”

Dalam hadits ini Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengabarkan bahwa nanti orang yang hidup setelahku akan melihat perpecahan yang banyak. Ternyata yang Rasulullah ucapkan benar. Dalam riwayat yang lain bahwa umat Islam terpecah belah menjadi 73 golongan.

Namun saudaraku, yang sangat kita butuhkan adalah petunjuk Rasulullah disaat-saat terjadi perselisihan dan perpecahan. Ini yang kita butuhkan. Karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sangat sayang kepada umatnya. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengabarkan bahwasanya umat Islam akan terpecah belah, maka dengarkan perintah Rasul dimasa perpecahan itu. Kata Rasulullah:

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ

“Peganglah sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali).” Dalam satu riwayat yang lain:

مَا أَنَا عَلَيْهِ وَ أَصْحَابِي

“Yang aku dan para sahabatku diatasnya.”

Mengapa Nabi menyuruh pada saat perpecahan itu untuk berpegang kepada sunnah Rasul dan Sunnah Khulafaur Rasyidin?

Simak pada menit ke-20:51

Download mp3 Kajian Muqaddimah Pembahasan Kitab Mawa’izh ash-Shahabah (Nasihat-Nasihat Para Sahabat)

Mari raih pahala dan kebaikan dengan membagikan tautan ceramah agama ini ke Jejaring Sosial yang Anda miliki seperti Facebook, Twitter dan yang lainnya. Semoga Allah Ta’ala membalas kebaikan Anda.

Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui :

Telegram: Rodja Official
Facebook Page: Radio Rodja 756 AM
Twitter: @radiorodja
Instagram: @radiorodja
Website: radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook Page: Rodja TV
Twitter: rodjatv
Instagram: rodjatv
Website: rodja.tv

Lihat Juga: Radio Streaming, Khutbah Jumat, Ceramah Agama, Ceramah Lucu, Khutbah Idul Adha, Kultum, Ceramah Singkat, Shalawat, Shalat JenazahRukun IslamRukun Iman, Ziarah Kubur, Shalat Berjamaah, Amar Ma’ruf Nahi Munkar, Belajar Bahasa Arab,

Telegram Rodja Official

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.